baduy dalam: mengembalikan energi positif dalam diri

5370_97317799132_2031769_n

“Kebudayaan yang benar dilahirkan di alam, sederhana, rendah hati, dan murni”
~ Masanobu Fukuoka

lari dari Jakarta
Ingin menenangkan pikiran? Self healing? Kembali pada alam? Macam-macam alasanku kenapa aku melakukan perjalanan ke Kanekes, Baduy Dalam ini. Lokasi ini adalah salah satu wishlist sejak remaja karena keunikan karakter kehidup. Entah mengapa selalu tertunda, karena sewaktu kuliah juga tidak kunjung ada yang mengajak ke sana,  padahal aku sudah hampir keliling Jawa Barat. Akhirnya aku setengah nekat saja. Ketika milis traveling Jejak Kaki yang kuikuti mengadakan perjalanan ke Baduy Dalam, aku memutuskan ikut.

Kesan pertama perjalanan ini adalah, persahabatan, teman baru. Karena aku ikut sendiri dengan tim Jejak Kaki yang sama sekali nggak ada yang kukenal, tapi ternyata karena semua punya sifat dasar yang sama, yaitu gokil dan doyan becanda dan juga banyak teman senasib, maksudnya solitaire dan baru kenal disitu, jadilah perjalanan ini seru-seru saja.

Kanekes ditempuh dengan bis selama 5 jam perjalanan. Kami berangkat dari Jakarta jam 9 malam ke arah Serang, lalu masuk ke arah pedalaman Banten, yang jalannya rusak parah, sehingga badan pegal di jalan, hingga sampai di Ciboleger jam 2 pagi. Dimana disitu sinyal Telkomsel hilang sama sekali hanya sinyal Indosat yang tampak plangnya sangat besar di depan Tugu Selamat datang. Menginap sejenak di satu rumah kosong dimana kita menghampar ramai-ramai, dengan udara dingin yang cukup menusuk dari jam 2 pagi sampai jam 6 (nyesel juga nggak bawa sleeping bag). Bangun pagi ada MCK umum yang kita ngantri bergantian sambil ngobrol di muka KMnya, airnya agak butek tapi ya entah lah, gelap ini, sehingga warna air tak lagi diindahkan.

Sesudah acara makan pagi dan foto-foto, kita mulai menanjak untuk menuju tanah ulayat Baduy. Untung dalam perjalanan ini tas2 dibawakan oleh porter jadi aku bisa lenggang dengan air minum dan bekal seadanya, sambil jalan yang tak lupa banyak berfoto. Gak heran, anak-anak Jejak Kaki yang katanya doyan jalan ini luar biasa narsisnya, sampai kayaknya tiap tikungan difoto.

Tak berapa lama jalan kita ketemu dengan perkampungan Baduy Luar, desa Kaduketuk. Rumah khas Baduy tampak disini adalah rumah panggung yang berdinding anyaman bambu. Sebenarnya rumah bentuk ini adalah khas masyarakat pedesaan di kaki gunung di kawasan Jawa Barat, jadi tidak dimonopoli suku Baduy saja. Rumah berdinding gedek ini menahan angin cukup kuat, sehingga kalau malam udara di dalam terasa hangat. Coba bandingkan kalau anda bertandang ke kaki gunung dan memilih menginap di rumah berdinding batu, niscaya anda akan kedinginan.

rumah baduy luar

rumah baduy luar

Keluar dari desa ini kita memilih jalan yang sebelah kiri, yang berarti kita akan melewati dandang ageng, atau danau besar. Pemandangan melintasi hutan dengan tanaman yang tinggi-tinggi, punggungan bukit, perkebunan jagung, dilalui dengan riang gembira. Memang kalau perjalanan seperti ini harus dibawa senang, kalau tidak, pasti akan sebel sendiri. Mengingat aku sudah lama tidak jalan kaki jauh, (terakhir tahun 2001 ke Curug Cibeureum kalau gak salah), maka aku mengambil posisi safe, di tengah-tengah, jalan barengan sama guide kita dari WABI. Perjalanan melintasi punggungan ini banyak candanya, seperti ada yang jakan duluan tapi kecapekan, akhirnya kesusul sama yang di belakang.. Kalau pemandangannya, jangan tanya.. Subhanallah, indah sekali kalau kamu lihat dari cekungan-cekungan, bukaan-bukaan antar kanopi pohon. Bukit-bukit hijau berarak si kejauhan, dan cuaca sangat cerah sekali sampai-sampai mukaku merah karena kepanasan.

hutan rimbun

hutan yang dilalui

jalan setapak

jalan setapak

masuk kampung demi kampung

masuk kampung demi kampung

menyusur perjalanan

menyusur perjalanan

setiap ada turunan, pasti ada tanjakan lagi
Kita melewati kurang lebih 5 bukit hingga sampai Baduy Dalam. Setiap ada tanjakan, cukup landai, lalu ‘bonus’ track yang datar dan kita bisa berjalan agak cepat, lalu turunan…. ketemu sungai, lalu tanjakan lagi, lalu ‘bonus’ track lagi, lalu turunan lagi.. melewati desa Baduy luar terakhir.

Desa ini berada di punggungan turun. Penduduknya memakai baju hitam-hitam, dan anak-anak mereka tidak mau difoto . “Ulah dipoto. Pamali,” katanya waktu kita akan mengambil gambar serangkaian anak kecil yang sedang mejeng di depan rumah mereka sambil merangkai gelang. Lalu kita jalan terus turun di jalan batu-batuan yang cukup licin sampai di tepian sungai kecil dimana disitu diumumkan :

PERALATAN ELEKTRONIK HARAP DIMATIKAN. KAMERA TIDAK BOLEH DIPERGUNAKAN. BARANG SIAPA YANG MELANGGAR BISA-BISA TINGGAL NAMA.

Wah, tentu saja kita langsung mentaati peraturan tersebut, sebelumnya kita foto-foto dulu di tepi sungai dan minum-minum air karena perjalanan rupanya masih 2.5 jam lagi. Hah.. masih jalan kaki???

perbatasan dengan baduy dalam

perbatasan dengan baduy dalam

Kita berjalan sampai kira-kira 1 jam melewati satu punggungan (tanjakan dan turunan) lalu istirahat di rumah Pak (aduh lupa) minum, makan pisang sambil memandang tanjakan yang akan ditempuh yaitu “tanjakan penyesalan” yaitu tanjakan yang cukup panjaaaang dan menguras tenaga. Bayangkan, di jam 12 siang hari bolong menanjak di tanah merah selama kira-kira 30 menit . Terbayar sih dengan pemandangan indah di depan mata ketika mencapai puncaknya yang terengah-engah. Tapi jalan harus terus, terlalu banyak istirahat malah menghabiskan tenaga. Jadilah jalan terus dengan melewati satu turunan lagi, satu tanjakan lagi (sayang tidak boleh difoto) dan turunan di tengah kanopi bambu dan tanaman tropis yang dingin.. sejuk.. serasa masuk goa.., (bayangkankah anda ada di tengah hutan dengan tanamannya yang lebat hingga sinar matahari tak tembus) kita mulai berpapasan dengan orang-orang berbaju putih-putih, bertelanjang kaki, dan tersenyum ramah. Tak lama kemudian, Jembatan bambu, melintasi sungai yang tidak tercemar sama sekali oleh deterjen, dan tibalah desa Cibeo.

sederhana bukan berarti tak mampu
Orang Baduy percaya pada nabi Adam, sebagai utusan Gusti Allah, yang memberi kehidupan pada mereka. Mata pencaharian sehari-hari adalah bercocok tanam. Anak-anak Baduy tidak sekolah, sejak kecil mereka diajarkan bercocok tanam. Tidak heran ada anak perempuan umur 10 tahun sudah mahir mengayunkan golok.

Kebetulan pada waktu kita kesana sedang ada kerja bakti, mengganti dinding rumah gedek dan atap rumbia yang sudah berumur 5 tahun yang sudah dimakan lembab dengan yang baru. Ternyata hari itu mereka menyelesaikan 20 rumah. Rumah-rumah disana dibangun dengan gotong royong, dan konstruksinya hanya ditopang oleh pasak dan tali ikatan. Sistem konstruksi yang sudah mereka kenal bertahun-tahun ini tidak melukai batang pohon, yang mereka anggap sebagai sumber kehidupan. Rumahnya juga rumah panggung, sayangnya karena lokasinya di cekungan sehingga sinar mataharinya kurang, dan jarak antar rumah hanya 2 meter, tidak adanya jendela samasekali, membuat sanitasi rumah-rumah ini sangat buruk. Dalam rumah yang kami tinggali, ada seorang anak kecil yang batuk berkepanjangan tiada henti.  Sepertinya karena dalam rumah itu lembab.

Orang Baduy menyalakan tungkunya di dalam rumah. Setiap keluarga memiliki 1 tungku dalam areanya di rumah tersebut. Jadi apabila ada seorang ibu dan dua anaknya yang sudah menikah tinggal di satu rumah maka tiap akan ada 3 kamar, satu untuk si ibu, 2 untuk anak dan keluarganya, di tiap-tiap ruangan itu ada tungku sendiri.  Peralatan makan beling mereka punya, hanya gelasnya mereka masih memakai gelas bambu. Tungku di dalam ruangan ini memanaskan rumah dari kelembaban. Menurut mereka, belum pernah ada kebakaran karena tungku. Kebakaran pernah terjadi karena pelita penerangan yang lupa dimatikan sebelum tidur.

Pakaian orang Baduy dalam adalah putih-putih, dan memakai ikat kepala putih. Mereka berjalan kaki ke mana-mana dengan bertelanjang kaki. Ke Jakarta ditempuh 3 hari, ke Bandung 1 minggu. Kalau anda meninggalkan alamat pada mereka di Jakarta, mereka pasti bisa menemukannya. Teman saya di Bintaro sudah mengalami hal ini. Setahun sekali mereka ke kota Banten untuk memberikan upeti pada Bupati (sekarang Gubernur) berupa hasil bumi yang mereka tanam. Menurut cerita, Abdurahman Wahid pernah sampai di desa Cibeo ini, namun Ratu Atut belum. Pada masa jabatannya, Yogi S Memet juga pernah sampai ke Baduy Dalam.

damai
Itu yang aku rasakan di desa Cibeo ini. Keramahan warganya, kesederhanaan mereka, dan rasa aman dan saling percaya yang tumbuh dalam suatu kumpulan masyarakat. Mereka hanya berpikir positif, jangan mengotori alam, jangan merusak alam, jangan bertengkar, semua dibicarakan dengan baik-baik. Mereka saling percaya satu sama lain. Tidak ada harta yang mereka saling irikan, karena tidak boleh pakai emas. Bahkan untuk mas kawin pun syaratnya dengan perlengkapan makan. Larangan memakai odol, shampoo, dan sabun, membuat sungainya mengalir bersih. Mandi di mata air dan buang air di hilir sungai. Mereka memakai merang untuk mencuci rambut.

Sungguh, serasa kembali ke jaman tahun 50-an.

pulang sama berjuangnya dengan berangkat
Perjalanan pulang tidak sama dengan arah berangkat, Kali ini kami mengambil jalur memutar sehingga mendapat pemandangan yang berbeda. Setelah melewati jalan yang relatif datar beberapa lama lalu menemui turunan curam yang lama dan seram, sampai-sampai kita harus berpegangan pada tali, dan jalan super hati-hati kalau tidak bisa jatuh terguling-guling. Sumpah, jalan turun ini lebih membuat kaki pegal karena harus menahan berat badan.

Setelah melintasi hutan-hutan bambu dan jalan menurun yang panjang, akhirnya sampailah kita di jembatan bambu  di sungai yang mana kita boleh berfoto-foto lagi. Menyalakan ponsel boleh, asal dapat sinyal maka kita boleh menelepon.

perbatasan keluar

perbatasan keluar

Dan seperti waktu berangkat, dimana ada turunan, disana ada tanjakan lagi… maka kita menanjak dengan sangat terengah-engah. Kayaknya salah menamakan tanjakan penyesalan untuk yang waktu berangkat. Tepatnya sih, semuanya “Penyesalan!!!”. Karena tanjakan pas pulang ini panjang-panjang semua..

Sampai di puncak bukit berjalan aku cuma berdua aja dengan seorang porter Baduy, mana panas banget lagi, di belakang masih jauh, di depan belum kelihatan.  Pemandangan di puncak bukit yang gersang itu sangat kering, dengan tanaman ilalang yang panas. Lalu tibalah kita di desa Cicakal dan disitu ada warung tempat ketemu lagi dengan anak2 Saipem. Jadilah jalan lagi kita beramai2 berenam.

puncak punggungan

puncak punggungan

cicakal

cicakal

Keluar dari sana jalan di pinggiran sungai sampai ketemu desa Gajeboh, istirahat, dan melalui desa-desa Baduy luar. Di desa-desa ini konstruksi rumahnya sudah menggunakan paku dan jarak antar rumahnya cukup berjauhan. Selain itu juga rumah2nya berjendela, sehingga tidak terkesan sumpek seperti di Baduy dalam. Mungkin karena lokasi tanahnya yang cukup lebar, sehingga memnungkinkan untuk perluasan area des, juga memberi jarak antar rumah. Bedakan dengan desa Cibeo yang berada di tengah lembah, sehingga tak mungkin lagi dimekarkan.

Tak terasa jalan sambil bernyanyi-nyanyi riang gembira selama 1 jam dati desa Gajeboh melalui tanjakan turunan sampai ketemu lagi dengan kampung Ciboleger. Kami istirahat, belanja-belanja, lalu persiapan pulang.

anak baduy

anak baduy

Perjalanan selalu menimbulkan kesan, mungkin aku tidak kembali, namun mencoba untuk menjelajah yang lain.

Dari perjalanan  12-14 Juni 2009, Baduy, Kanekes,Banten
ditulis 29 Agustus 2009
pindahan dan diedit ulang dari blog indri yang lama

Kalau suka tulisan-tulisanku, bisa vote TindakTandukArsitek di Indonesia Travel Blogger Award sampai 17 Agustus 2013. Terima kasih. 🙂

Advertisements

6 thoughts on “baduy dalam: mengembalikan energi positif dalam diri

  1. Dessy iriany says:

    Ada desa Gajeboh ya kak.. gajeboh itu bahasa minangkabau untuk jeroan sapi…. jd penasaran sama asal nama desa itu,hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s