jati meranggas #2: pesisir, jati, dan kopi

foto1

the long and winding road
that leads to your door
will never disappear
I’ve seen that road before
it always leads me here
leads me to your door
-the Beatles-

cerita sebelumnya : jati meranggas #1 : matahari di atas bromo lautan pasir

Kenapa kami memilih Ijen sebagai tujuan selanjutnya? Pertama karena jangkauan gunung ini dengan berjalan kaki tidak terlalu jauh, menurut informasi hanya sekitar 2 jam saja. Karena kami tidak terlalu berpengalaman naik gunung, maka alih-alih ke Semeru dari Bromo, kami memilih Ijen di Jawa yang lebih Timur, dan juga lebih rendah, hanya 2386 mdpl. Selain itu, kami pikir jalur Bromo sampai Ijen sejauh 7 jam perjalanan itu pasti banyak yang bisa dilihat, kekhasan kota, tepi laut, juga hutan. Dengan formasi duduk aku di depan, Sansan dan Adhib di jok tengah, sementara Herdian di belakang, kami meninggalkan desa Ngadisari jam 1 siang, turun ke Probolinggo diantar hujan deras.

lalu lewat hutan
Siang menuju sore itu, cuaca cerah-cerah basah. Turun dari Bromo, kami menyusuri kota Probolinggo yang beberapa dari kami baru pertama kali melewati seumur hidup. Sewaktu kecil dulu aku pernah beberapa kali melintas sewaktu bolak balik ke Situbondo. Tapi ternyata kotanya sudah jauh berbeda. Patok-patok jalan yang didominasi warnya jingga cerah, dengan rel kereta yang menyusur di sebelah kiri kita sepanjang perjalanan kami menjauhi arah terbenam matahari. Ngobrol-ngobrol dengan mas Gitar yang saat itu sudah berganti kaus biru (mungkin supaya senada dengan warna mobilnya), ternyata ia pun belum pernah ke daerah Ijen. Ia hanya berbekal petunjuk arah dari temannya. Wah, asyik nih, berarti perjalanan kita lebih bernuansa petualangan lagi, secara semuanya adalah tour perdana. Nyasar-nyasar sedikit, bolehlah.

Kami juga melewati Pembangkit Listrik Paiton yang besar sekali di tepi laut. Salah satu sumber tenaga di Pulau Jawa ini berdiri megah di tepi laut dengan kapal-kapal tongkang pengangkut batubara yang bersandar di dermaganya. Selewat instalasi pembangkit yang besar itu, terdapat gunungan batubara yang terserak di pelabuhannya. Pembangkit bertenaga uap ini yang melayani tenaga listrik Jawa Bali ini masih terdapat di area kabupaten Probolinggo.

Cuaca cerah berubah menjadi hujan ketika sore itu kami memasuki kawasan Situbondo. Laut dan hutan bakau sudah tampak di sebelah kiri. Rumah-rumah penduduk dengan tambak di belakangnya juga menghiasi perjalanan sore itu. Karena banyak penduduk pesisir pantai ini yang datang dari Madura, tak heran jika bahasa sehari-harinya adalah bahasa Madura yang kami dengarkan sekilas ketika sedang mengisi bensin sambil sholat Dhuhur. Kami mengikuti jalan terus melihat plang penunjuk jalan ke Pantai Pasir Putih. Apa kira-kira sempat mampir ke sana ya? Tidak berapa lama perjalanan, kami melewati satu pertigaan ke kanan. Mas Gitar menghentikan mobilnya. Rupanya ia ragu kalau jalan yang kami tempuh adalah yang lurus. Ia menanyakan sebentar ke warung. Benar saja, ternyata kami harus memutar untuk berbelok ke arah selatan di pertigaan itu untuk ke arah Bondowoso. Nah, kan. Kami dapat bonus nyasar.

hutan jati

hutan jati

Memasuki jalan itu ke arah Bondowoso, ternyata kami mendapati suasana jalan yang berbeda. Di kiri dan kanan terdapat lembah dan bukit yang berhutan jati. Di sinilah asal kami mulai melulu membicarakan jati. Coba apa yang kamu ingat ketika ada kata jati? Meranggas, dong. Pertanyaan IPS jaman SD dulu, pohon apa yang meranggas di musim kemarau? Jawabannya pasti jati. Padahal banyak pohon-pohon lain yang juga meranggas di musim kemarau. Terutama pohon berbatang kayu, semisal mahoni atau damar. Itulah hebatnya kurikulum SD kita. Sampai-sampai kami cuma kenal jati saja yang meranggas.

Mendung menggantung ketika kami memasuki kota Bondowoso, sebuah kota yang cukup ramai berada di kaki pegunungan Ijen. Kota ini mengingatkan pada legenda Bandung Bondowoso, yang jatuh cinta pada Loro Jonggrang, dan ditantang mendirikan candi Prambanan dalam semalam. Ketika melewati kota Universitas Bondowoso, Sansan nyeletuk, “Ini ada jurusan Arsitekturnya nggak ya? Pasti pada rajin begadang semua kayak Bandung Bondowoso,” ujarnya jahil. Hahaha, bisa-bisa jadi tingkat DO-nya tinggi karena deadline-nya pada saat ayam jantan berkokok. Tahu saja kita anak arsitek sering banget menyelesaikan semua sampai mepet waktu.

Kota Bondowoso ini agak mirip juga dengan Probolinggo, namun lebih sejuk, teduh dan rimbun. Cocoklah sebagai kota peristirahatan di kaki pegunungan. Lalu lintasnya tidak terlalu ramai mobil, hanya saja seperti banyak kota-kota kecil lain di Jawa di kota ini motornya cukup melimpah. Menurut mas Gitar, orang sini membeli motor sebagai satu kebutuhan. Begitu punya pekerjaan pasti yang dilakukan pertama adalah mencicil motor. Sudah menjadi gaya hidup untuk naik motor ke sana ke mari. Saking banyaknya motor yang seenaknya, sampai kami menemukan papan peringatan ini di satu sudut kota.

papan peringatan atau sindiran?

papan peringatan atau sindiran?

mendaki kawasan
Setelah keluar lagi dari kota dan mengikuti semua plang penunjuk bertuliskan Ijen, juga tak lupa mengecek ke peta Jawa Timur yang menjadi salah satu pedoman, mobil berbelok di kecamatan Wonosari masuk ke jalan yang ke kawasan Ijen. Di kiri hutan jati lagi dan di kanan ladang jagung. Jalanan ini sepi sekali hanya mobil kami saja yang lewat di situ. Ada pohon-pohon asem di tepi jalan yang meneduhi jalan, jadi tak terasa lagi panas, lagipula hari sudah sore dan sejak tadi suasananya memang mendung gerimis saja..

menuju ijen dari bondowoso

menuju ijen dari bondowoso

Kami memasuki desa demi desa. Sepanjang jalan di daerah desa marak dengan baliho-baliho pimpinan daerah. Rupanya, pilkada sedang marak di sini. Lama kelamaan pemukiman-pemukiman yang kami lalui semakin sedikit, sampai akhirnya mobil kami berkendara cukup lama di tengah hutan. Jalanan aspalnya masih lumayan bagus, tidak banyak bolong-bolongnya, namun suasananya sepi, hanya terdengar sahut-sahutan teriakan burung di atas sana. Kami terus mengikuti arah plang hijau menuju Sempol, yang merupakan pos di kaki Ijen. Hari sudah semakin surup, dan hutan juga makin lebat dan tertutup. Seperti berada in the middle of nowhere. Sinyal ponsel sudah tak ada. Rasanya, satu-satunya mobil yang melintas adalah mobil kami. Tiba-tiba, ada satu mobil Kijang Innova dari arah depan. Mas Gitar membuka jendelanya dan melambaikan tangan kepada mereka. Usai melintas, Herdian mendengat suara bayi menangis di bagian belakang mobil. Ternyata, Sansan dan Adhib juga dengar. Aku tidak. Di tengah hutan lebat itu, bayi siapa? Hiyy….

gerbang sempol

gerbang sempol

Akhirnya, kami menemukan gapura bertuliskan Sempol, Jampit. Horee, sudah hampir sampai. Di jalan juga menemukan plang belok kiri menunjukkan ke air terjun Blawan. Karena menurut informasi penginapan kami dekat air terjun Blawan, aku sempat ragu ingin berbelok, tapi kok jalannya jelek? Tapi mas Gitar tetap saja langsung lurus mengikuti jalan utama. Pada jam 17.20 kami sampai di pos Kawasan PTPN XII (PT Perkebunan Nusantara). Huaahh, akhirnyaa.. Semua turun dari mobil untuk meregangkan kaki. Di pos ini, kami diminta mengisi buku tamu dan diminta memberikan uang serelanya. Karena tak tahu menahu, aku meninggalkan uang Rp 20.000,- di situ. Tanya pada petugas pos, “Penginapan Catimor masih jauh, Pak?” Ternyata kedengarannya tidak jauh, “Oh, lurus saja sesudah ketemu pos kedua.”

pos masuk PTPN XII Ijen

pos masuk PTPN XII Ijen

peta kawasan wisata ijen (foto oleh sansan)

peta kawasan wisata ijen (foto oleh sansan)

pemandangan kawasan dari pos I

pemandangan kawasan dari pos I

Hari mulai menggelap. Di kiri kanan tampak perkebunan kopi yang merupakan komoditi PTPN Ijen. Pantas saja, nama pengelola penginapannya yang dua buah itu bernuansa kopi. Arabica dan Catimor. Aku merencanakan untuk menginap di Catimor, karena menurut hasil browsing, itulah yang lebih dekat dengan start point Gunung Ijen. Selain itu, di Catimor juga dekat dengan air terjun Belawan dan juga ada sumber air panas alami.

Tak lama berkendara lintas perkebunan, kami memasuki sebuah desa dengan rumah-rumah yang mirip sama yang kami pikir adalah rumah-rumah dinas pegawai PTPN. Kemudian bertemu dengan persimpangan menuju penginapan Arabica. Ketika gelap benar-benar turun, baru kami bertanya pada orang-orang sekitar di manakah penginapan Catimor berada? Ternyata memang masih lumayan jauh dari situ. Jam 17.55 kami tiba di pos kedua dan kembali meninggalkan Rp.10.000 sebagai sumbangan. Jalan sudah mulai tak mulus lagi, berbatu-batu dan tergoncang-goncang di dalam. Lamat-lamat terdengar suara orang shalat magrib berjamaah dari masjid yang terletak di pemukiman penduduk di sekitar. Setiap melewati pos, kami harus mengisi buku tamu dan mencatatkan waktu kedatangan. Akhirnya, ketika kami benar-benar sampai pos keempat yang terakhir waktu menunjukkan pukul 18.15.

catimor
“Catimor sudah dekat, mbak. Lurus saja memutari jalan ini nanti belok kiri di ujung,” jelas petugas di pos terakhir yang sudah langsung kuberi Rp.10.000 sebelum diminta. “Terima kasih, Pak,” ujarku sambil tersenyum.

Benat saja, 10 menit kemudian kami sudah sampai di penginapan Catimor. Berhubung kami belum booking kamar sama sekali karena semua nomor kontak yang kudapat di internet salah atau tidak nyambung, maka aku buru-buru ke resepsionis menanyakan kamar.

“Cuma tinggal satu kamar, mbak. No 18. Ada tiga bed di situ. Harga kamarnya Rp. 180.000,-,” ujar mbak-mbak berjilbab hitam yang ramah itu, yang kemudian diketahui bernama mbak Ningrum. Mau tidak mau kami terima saja sih, “Tapi ada extra-bed kan, mbak?”

Syukurlah extra-bed masih ada tersisa satu seharga Rp 45.000,- sehingga paslah kalau untuk kami berempat di kamar. Aku curhat ke mbak Ningrum itu bahwa aku sudah mencari info ke sana ke mari soal penginapan Catimor ini tapi malah nyasar ke nomor Arabica, dan satu lagi petugasnya sudah pensiun.
“Kalau makan bisa pesan kan, mbak?”
“Bisa, ini ada set menu, karena sendiri, jadi masing-masing Rp. 35.000,-. Kalau ada supirnya bisa langsung ke belakang sini aja, kita kasih free.”
Okelah, karena tak ada pilihan lain dan sudah capek dan lapar juga, kami mengiyakan saja tawaran itu. Imbang-imbang juga dengan penghematan biaya kamar, makannya agak mahal sedikit, bolehlah.

Kami langsung masuk kamar yang berisi tiga tempat tidur single yang kecil beserta satu extra bed dan berbaring-baring sejenak sambil bergantian mandi sesudah perjalanan hampir 6 jam dari Bromo itu. Suasana penginapan ini sepi, lebih banyak bule-bule yang sebagai tamu daripada turis domestik seperti kami. Celingak-celinguk, sepertinya kok turis domestiknya cuma kami berempat saja.

Ketika dipanggil untuk makan malam, waw, rupanya porsinya banyak sekali dan enak sekali. Apa ini karena perut kami yang sudah lapar, ya? Delapan potong ayam goreng, sepuluh potong perkedel, sepuluh potong rolade, tempe, sayur sop, dan sepiring besar bakmi goreng. Langsung saja kami lahap dengan cepat tanpa malu-malu. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang makan. Hampir semua meja berisi bule. Jadi benaran nih yang lokal kita doang? Eih, ternyata tak lama kami makan datang sekitar 8 orang berkulit sawo matang ke ruang makan. Mereka mengobrol dalam bahasa Indonesia dan Jawa! Syukurlah, ternyata yang menikmati keindahan Indonesia ini bukan cuma orang bule juga, namun banyak juga orang Indonesia yang sudi menempuh jarak sejauh ini untuk menikmati kekayaan alamnya sendiri.

makan malam

makan malam (foto oleh sansan)

Ternyata, di penginapan ini seperti aku lihat di internet ada kolam renangnya dan kolam rendam air panasnya. Ukuran kolam utamanya cukup besar. Namun ketika melihat seorang tamu bule yang sedang asyik berendam di kolam air panas berdiameter 2 m itu, kami mengurungkan niat untuk berendam juga di situ. Kan bakal kepenuhan kalau kami nekat nyemplung. Kolam renang? Karena airnya dingin, pilihan itu tidak kami ambil.

mandi air panas
Dari salah seorang petugas kamar kami dapat info kalau pemandian air panas tak jauh dari penginapan, jalan kaki hanya 10 menit saja. Hmm, the night is still young, fellas!
“Yuk, kita mandi air panas!” Sayang juga sudah jauh-jauh sampai sini tak semua dicoba. Aku memasukkan pakaian ganti ke daypack deuter hijauku juga baju teman-teman yang lain.

Perjalanan pendek itu melintasi seruas jalan yang berderet rumah-rumah kompleks PTPN XII Ijen. Rumah-rumah itu nampak asri dengan tanaman-tanaman gantung di depannya. Samar terdengat suara televisi dari dalam, namun suasananya sepi sekali. Padahal itu baru jam 8 malam lho. Apa bapak-bapak di sini nggak ada yang main karambol di depan sambil bersosialisasi malam hari? Tak terdengar juga suara ibu-ibu ngerumpi atau anak muda nongkrong di pojokan. Terus kami melintasi jalan sampai masuk jalan di antara hutan yang gelap gulita. Kami sempat bertemu dengan pemburu yang hendak berangkat membawa senapan dan tombak. Lama-lama, suasana makin sepi, dan kami mulai merasa takut di tepian desa itu.

“Balik saja yuk?”, usul Adhib. Kami menyorotkan senter tapi tak tampak apa-apa selain keremangan malam. Memang ada atap bangunan di bawah yang kami kira itulah atap pemandiannya, namun karena ragu, kami memutuskan untuk kembali. Daripada kecewa karena tak berhasil menemukan sumber air panas, kami berniat berputar-putar di desa pemukiman karyawan PTPN itu. Suasananya benar-benar tenang dan damai, mengingatkan pada masa kecil di rumah kakek. Masih terdengar suara jangkerik, dan penerangan pun hanya seadanya saja. Rumah-rumah ini berjarak 3-4 meter antar rumah, yang diisi dengan pekarangan yang ditanami tanaman hias ataupun tanaman obat, dengan tiang-tiang kayu bercat biru dan dinding berwarna putih. Agak-agak mirip dengan sinetron di TVRI tahun 1985-an, tentang pemukiman transmigrasi. Kami sempat menemukan jalan kecil di antara dua rumah, dan olala.. ternyata di sinilah warga bersosialisasi. Jarak antar belakang rumah yang hanya dua meter ini yang dimanfaatkan untuk ngobrol-ngobrol antar warganya. Jadi antar dapur-dapur ini mereka biasanya bisa saling berhubungan sehari-hari. Dan di jalan kecil itu tak sengaja mendengar lagu Separuh Aku-nya Noah. Hiyaa ampun,sudah jauh-jauh suasana begini, masih saja suara Ariel sampai juga.

Kami memutuskan untuk berjalan-jalan sampai depan pabrik kopi. Eh, akhirnya ketemu juga dengan seorang anak muda yang nongkrong. Rupanya ia bukan sekadar nongkrong, namun menjaga pintu air yang rumah pompa dan dinamo sebagai pembangkit listrik kawasan. Kami banyak ngobrol-ngobrol tentang kawasan desa ini. Ia bercerita bahwa kalau ada tamu di sini harus menginap di Catimor. Apabila sudah kepenuhan, barulah bisa homestay ke rumah penduduk. Jadi yang menentukan rumah penduduk mana yang diinapi itu adalah pihak Catimor, penduduk tidak bisa menawar-nawarkan rumahnya untuk diinapi pendatang. Wajar adanya karena kawasan ini adalah pemukiman terpadu, di tengah perkebunan, bukan pemukiman wisata seperti yang kami datangi di Bromo. Pantas saja, memang informasi demikian tidak kami dapat dari websitenya Wisata Agro PTPN XII tapi sempat juga aku baca di salah satu situs travel perjalanan.

“Sebenarnya, tadi kami mau ke pemandian air panas, tapi nggak ketemu. Sudah jalan sampai ke belakang SD sana, tapi gelap banget, jadi nggak berani turun juga,” ujar Herdian yang logat Jawanya jadi kuat muncul.
“Lho, mas. Kalau pemandian air panas yang alami ada di dekat sini. Catimor juga ambil airnya disalurkan dari situ.”
“Hah, masak? Yang tadi kami cari, ya?”
“Bukan, mas. Ada di dekat sungai ini. Kalau mau saya antar ke sana. Cuma lima menit dari sini.”

Setelah menimbang-nimbang, apa salahnya dicoba? Sewaktu jalan ke sana sempat melalui semak-semak, Adhib agak takut. Tapi ternyata benar, pemandian air panas itu dekat sekali, kosong dan nyaman banget. Dinding-dinding kolamnya masih berupa batu-batu. Airnya hangat berbau belerang. Enak sekali mencelupkan kaki di situ.

“Kalau siang ramai, mbak. Karena malam jadi sepi,” tukas mas Rahmat. Seperti berendam di pemandian desa di Jepang yang sering ada di film-film. Di tepi pemandian itu ada air mengalir. Maka lengkaplah, berendam air hangat di malam yang dingin, ditemani suara air sungai yang bergericik mengalir melompati batu-batu. Kolam selebar 4 x 4 m itu tentu tidak kami renangi, karena dalamnya hanya sekitar 70 cm. Namun duduk di undakannya dengan menyisakan leher saja di udara benar-benar melepas pegal sesudah 6 jam duduk di mobil. Sebenarnya ada kolam laki-laki dan kolam perempuan, tapi karena aku dan Adhib takut berdua di kolam perempuan yang terpisah, maka kami berempat pun berendam di kolam yang sama.

Usai puas berendam selama 20 menitan, kami mentas dan mengucapkan terima kasih pada mas Rahmat yang sudah menunjukkan lokasi menarik itu. Untung kami berjalan-jalan keliling desa dan ketemu penduduk asli. Kalau lewat tour group belum tentu dapat pengalaman menarik ini. Malam itu, kami berpisah sesudah dipesan oleh mas Rahmat,
”Jam setengah 4 saja berangkatnya ke Ijen kalau mau dapat matahari terbit.“

Sebelum tidur kami mencari mas Gitar dan berpesan untuk mengantar dini hari esok. Sambil mengobrol di kamar, kurang dari sejam Herdian tahu-tahu terdengar sudah mengorok, sementara aku, Sansan dan Adhib masih asyik bercerita waktu sudah makin larut.
Heih, tinggal tiga jam lagi waktu untuk tidur sebelum berangkat ke kawah Ijen!

perjalanan tanggal 16 nopember 2012.
ditulis di jakarta-bandung-jakarta. tol cikampek km 31.
17.49. 20/01/13. foto koleksi pribadi & sansan

bersambung ke jati meranggas #3: warna-warni ijen

peta perjalanan

peta perjalanan surabaya-bromo-ijen

Advertisements

18 thoughts on “jati meranggas #2: pesisir, jati, dan kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s