jati meranggas #4 : air terjun sampai ke laut

cover-herd

I beg your pardon, Owl, but I th-th-th-think we coming to a fatterfall… a flutterfall…
a very big waterfall!
~ Piglet

cerita sebelumnya : jati meranggas #3: warna warni ijen

Setiap keterlambatan awal pasti menghasilkan keterlambatan-keterlambatan berikutnya. Namun, karena ini di perjalanan, alih-alih menyesal, lebih baik menikmati keterlambatan itu dan mendapatkan hal-hal berharga yang bisa kita lihat.

Dalam perjalanan melintasinya PTPN XII Ijen , kami melalui beberapa kelompok hutan, kelompok kebun dan kelompok permukiman. Daerah ini puluhan kilometer jauhnya dari kota, terbatasi oleh ketinggian pegunungan dan punya ritme sendiri untuk menjalani hari-harinya. Kota terdekat Bondowoso di sebelah barat, dan Banyuwangi di sebelah timur. Kemarin kami datang dari Bondowoso, hari ini kami turun lewat Banyuwangi. Keterlambatan berangkat dari Bromo berakibat kami kemalaman sampai Ijen. Terlambat berangkat dari Ijen pula membuat kami mengalami petualangan lain. Tetapi kami memilih untuk mendapatkan lebih banyak daripada jalan terburu-buru.

Pagi itu, sepulang dari kawah Ijen ke Catimor, kami melihat orang-orang sudah melakukan pekerjaannya di kebun. Ada yang menyiangi tanaman, menyemprot hama, menyemai tanaman di lahan-lahan baru. Masuk daerah pemukiman sudah terlihat sepi. Sepertinya orang dewasa bekerja ke kebun. Lalu di manakah anak-anak? Semula aku kira anak-anak ikut orang tuanya bekerja di kebun, lalu kemudian baru teringat, ini kan hari Sabtu, mungkin mereka sekolah. Ternyata benar, ada sebuah TK tak jauh dari wisma Catimor yang beraktivitas. Pagi hari itu, kami bisa melihat dengan jelas daerah permukiman yang termasuk kawasan afdeling Blawan. Di tengah permukiman, tepat di depan pabrik pengolahan kopi, terdapat pembangkit listrik mikrohidro yang memberi energi listrik untuk seluruh permukiman, mengambil tenaga dari sebuah sungai selebar 4-5 m yang mengalir di tengah permukiman. Pembangkit ini yang ditemui di malam sebelumnya dijaga oleh mas Rahman yang mengantar kami ke sumber air panas alami.
Continue reading

Advertisements

jati meranggas #3 : warna warni ijen

cover

Bagiku waktu selalu pagi. Di antara seluruh potongan 24 jam sehari, bagiku pagi adalah waktu terindah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan, ketika harapan-harapan baru merekah seirng kabut yang mengambang di pesawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan.
~Tere Liye

cerita sebelumnya : jati meranggas #2 : pesisir, jati, dan kopi

Bagi kebanyakan orang, pemandangan yang paling dicari ketika mendaki gunung adalah saat matahari terbit. Saat berada di ketinggian ribuan dpl dan melihat saat sang bagaskara muncul di timur perlahan-lahan benar-benar membuat terpana dan hanya diam, mengagumi kebesaran-Nya. Sinar matahari pagi dengan pemandangan yang indah memberikan perasaan haru dan energi positif yang menyeruak ke seluruh tubuh.

Gunung Ijen dengan puncak 2386 mdpl, salah satu gunung tertimur di pulau Jawa, sebagian masuk di Banyuwangi dan sebagian di Bondowoso, menyongsong fajar lebih dulu daripada daerah-daerah lain di Jawa. Sebenarnya tidak terlalu sulit mencapai tempat ini. Jika memiliki kendaraan pribadi, lewat Bondowoso bisa melewati jalan tengah hutan kami lalui yang sudah aku ceritakan. Kalau melalui Banyuwangi, bisa naik dari daerah Licin terus ke atas sampai Paltuding, start point tempat kita harus mulai berjalan kaki sampai kawah. Kondisi jalan cukup bagus tidak banyak lubangnya, naik mobil biasa (tidak perlu jeep) atau motor bisa terus sampai Paltuding. Apabila tidak naik kendaraan pribadi, bisa ikut dengan truk pengangkut belerang dari Banyuwangi yang akan naik ke Paltuding, atau naik ojek selama hampir 2 jam juga tersedia di desa Licin, Banyuwangi.

Ada beberapa alternatif menginap sebelum naik ke gunung Ijen. Apabila ingin lebih dekat ke starting point, di Paltuding juga tersedia wisma yang bisa diinapi oleh tamu dari jauh, juga ada tanah lapang apabila ingin menggelar tenda di situ. Atau di kawasan perkebunan PTPN XII di wisma Arabica atau di wisma Catimor tempat kami tinggal yang juga bisa melihat proses pengolahan kopi dari dekat. Apabila wisma ini penuh, pihak penginapan akan mendistribusikan tamu-tamu untuk homestay di rumah penduduk, yang merupakan rumah pegawai PTPN XII juga. Pilihan kami menginap di Catimor karena ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di dekat situ, seperti air panas, pengolahan kopi, melihat pemukiman perkebunan, juga air terjun Belawan yang tak jauh dari situ.
Continue reading

jati meranggas #2: pesisir, jati, dan kopi

foto1

the long and winding road
that leads to your door
will never disappear
I’ve seen that road before
it always leads me here
leads me to your door
-the Beatles-

cerita sebelumnya : jati meranggas #1 : matahari di atas bromo lautan pasir

Kenapa kami memilih Ijen sebagai tujuan selanjutnya? Pertama karena jangkauan gunung ini dengan berjalan kaki tidak terlalu jauh, menurut informasi hanya sekitar 2 jam saja. Karena kami tidak terlalu berpengalaman naik gunung, maka alih-alih ke Semeru dari Bromo, kami memilih Ijen di Jawa yang lebih Timur, dan juga lebih rendah, hanya 2386 mdpl. Selain itu, kami pikir jalur Bromo sampai Ijen sejauh 7 jam perjalanan itu pasti banyak yang bisa dilihat, kekhasan kota, tepi laut, juga hutan. Dengan formasi duduk aku di depan, Sansan dan Adhib di jok tengah, sementara Herdian di belakang, kami meninggalkan desa Ngadisari jam 1 siang, turun ke Probolinggo diantar hujan deras.

lalu lewat hutan
Siang menuju sore itu, cuaca cerah-cerah basah. Turun dari Bromo, kami menyusuri kota Probolinggo yang beberapa dari kami baru pertama kali melewati seumur hidup. Sewaktu kecil dulu aku pernah beberapa kali melintas sewaktu bolak balik ke Situbondo. Tapi ternyata kotanya sudah jauh berbeda. Patok-patok jalan yang didominasi warnya jingga cerah, dengan rel kereta yang menyusur di sebelah kiri kita sepanjang perjalanan kami menjauhi arah terbenam matahari. Ngobrol-ngobrol dengan mas Gitar yang saat itu sudah berganti kaus biru (mungkin supaya senada dengan warna mobilnya), ternyata ia pun belum pernah ke daerah Ijen. Ia hanya berbekal petunjuk arah dari temannya. Wah, asyik nih, berarti perjalanan kita lebih bernuansa petualangan lagi, secara semuanya adalah tour perdana. Nyasar-nyasar sedikit, bolehlah.
Continue reading