jati meranggas #4 : air terjun sampai ke laut

cover-herd

I beg your pardon, Owl, but I th-th-th-think we coming to a fatterfall… a flutterfall…
a very big waterfall!
~ Piglet

cerita sebelumnya : jati meranggas #3: warna warni ijen

Setiap keterlambatan awal pasti menghasilkan keterlambatan-keterlambatan berikutnya. Namun, karena ini di perjalanan, alih-alih menyesal, lebih baik menikmati keterlambatan itu dan mendapatkan hal-hal berharga yang bisa kita lihat.

Dalam perjalanan melintasinya PTPN XII Ijen , kami melalui beberapa kelompok hutan, kelompok kebun dan kelompok permukiman. Daerah ini puluhan kilometer jauhnya dari kota, terbatasi oleh ketinggian pegunungan dan punya ritme sendiri untuk menjalani hari-harinya. Kota terdekat Bondowoso di sebelah barat, dan Banyuwangi di sebelah timur. Kemarin kami datang dari Bondowoso, hari ini kami turun lewat Banyuwangi. Keterlambatan berangkat dari Bromo berakibat kami kemalaman sampai Ijen. Terlambat berangkat dari Ijen pula membuat kami mengalami petualangan lain. Tetapi kami memilih untuk mendapatkan lebih banyak daripada jalan terburu-buru.

Pagi itu, sepulang dari kawah Ijen ke Catimor, kami melihat orang-orang sudah melakukan pekerjaannya di kebun. Ada yang menyiangi tanaman, menyemprot hama, menyemai tanaman di lahan-lahan baru. Masuk daerah pemukiman sudah terlihat sepi. Sepertinya orang dewasa bekerja ke kebun. Lalu di manakah anak-anak? Semula aku kira anak-anak ikut orang tuanya bekerja di kebun, lalu kemudian baru teringat, ini kan hari Sabtu, mungkin mereka sekolah. Ternyata benar, ada sebuah TK tak jauh dari wisma Catimor yang beraktivitas. Pagi hari itu, kami bisa melihat dengan jelas daerah permukiman yang termasuk kawasan afdeling Blawan. Di tengah permukiman, tepat di depan pabrik pengolahan kopi, terdapat pembangkit listrik mikrohidro yang memberi energi listrik untuk seluruh permukiman, mengambil tenaga dari sebuah sungai selebar 4-5 m yang mengalir di tengah permukiman. Pembangkit ini yang ditemui di malam sebelumnya dijaga oleh mas Rahman yang mengantar kami ke sumber air panas alami.

kebun blawan

kebun blawan

pembangkit listrik mikrohidro

pembangkit listrik mikrohidro

Satu wilayah perkebunan dinamakan afdeling yang dipimpin oleh sinder, kedudukannya seperti lurah. Beberapa sinder ini dikepalai oleh sinder kepala, yang bertanggung jawab kepada administratur perkebunan. Dalam satu kebun besar seperti Ijen, terdapat beberapa administratur yang mengelola kawasannya. Wisma Catimor termasuk dalam area Blawan yang memiliki beberapa afdeling di dalamnya. Luas Blawan sendiri sebesar 5521,42 ha, meliputi kawasan kebun dan permukiman.

bertinggal sementara
Catimor adalah nama salah satu penginapan yang dikelola oleh PTPN XII di kawasan Blawan, Ijen. Sebenarnya penginapan ini bisa direservasi lewat internet di sini. Namun entah, reservasiku tidak berhasil sama sekali. Semua nomor telepon yang kuhubungi untuk konfirmasi tidak ada yang tersambung. Setelah ke sana dua bulan silam, baru aku dapat nomor teleponnya.

Bangunan ini berdiri tahun 1845 sebagai tempat peristirahatan tamu administratur perkebunan kopi di masa itu. Arsitektur bangunannya yang masih asli di jaman Belanda masih dipertahankan. Lagi pula, memang di daerah sejauh 65 km dari Bondowoso itu tak ada mode arsitektur yang harus diikuti. Di sini memiliki kamar bed double dan kamar bed triple dengan kamar mandi dalam. Fasilitasnya sederhana saja, namun cukup wah untuk sebuah kawasan terpencil. Di sini ada kolam renang dan kolam berendam air hangat, masakan yang cukup enak, taman yang luas.

lengkung fascia di depan koridor kamar

lengkung fascia di depan koridor kamar

bangunan serbaguna di bagian depan

bangunan serbaguna di bagian depan

halaman yang cukup luas

halaman yang cukup luas (foto-adhib)

Catimor berdiri bersebelahan dengan pabrik pengolahan kopi yang bisa dikunjungi dengan biaya kunjung sebesar Rp. 20.000,-. Dari sini hanya 30 menit perjalanan mobil ke Paltuding, pos terakhir sebelum pendakian ke Ijen, cuma 10 menit ke Air terjun Blawan dan pemandian air panas. Karena itu, Catimor menjadi favorit tamu-tamu mancanegara yang berkunjung ke Ijen. Selain Catimor, juga ada Arabica yang berada dalam pengelolaan PTPN X. Namun jarak Arabica ke Paltuding lebih jauh walaupun di sana pun punya pesonanya sendiri.

Sembari packing, Mas Gitar, supir kami yang handal itu ternyata rajin mencari info ke supir-supir lainnya yang ia temui di Catimor tentang jeep yang akan membawa kami ke Meru Betiri. Akhirnya ia dapat kabar bahwa ada jeep di daerah Licin, Banyuwangi yang supirnya sudah biasa ke pantai Sukamade, Meru Betiri. Setelah tawar menawar, didapat harga Rp. 1,4 juta untuk kami dijemput di Erek-erek, karena di situ titik jalan baru yang sedang dibuat dan tak ada mobil yang bisa melewatinya. Kami harus berjalan kaki kurang lebih 1 km melintasi proyek pembangunan jalan itu, infonya sambil kami sarapan nasi goreng yang disediakan gratis oleh pihak Wisma.

Usai berkemas dan menyelesaikan administrasi, sebenarnya kami berniat untuk berjalan-jalan ke pabrik pengolahan kopi di samping Catimor. Namun karena keterbatasan waktu, saat itu sudah hampir jam 11 siang, maka acara singgah ke bangunan sebelah itu terpaksa di-skip supaya tidak kemalaman sampai di Sukamade.

air terjun
Dasar tidak mau rugi, kami tetap memutuskan untuk mengunjungi air terjun Blawan yang katanya hanya 5 menit naik mobil dan 5 menit jalan kaki. Setelah semua barang dan orang masuk mobil, kami melintasi daerah pemukiman yang kemarin malam dilewati. Kali ini ada beberapa aktivitas yang dilakukan warga di depan rumah-rumah dinas pegawai perkebunan itu. Di ujung jalan ada masjid yang cukup besar, berhadapan dengan satu Sekolah Dasar. Di setiap satu administratur terdapat satu Sekolah Dasar, sementara di kawasan perkebunan Ijen sendiri ada satu SMP. Biasanya lulusan SMP ini melanjutkan SMA ke Banyuwangi atau Jember.

kawasan permukiman di blawan

kawasan permukiman di blawan

rumah pekerja perkebunan

rumah pekerja perkebunan

rumah yang asri di ijen

rumah yang asri di ijen

aktivitas di depan rumah

aktivitas di depan rumah (foto-sansan)

Mobil melalui jalan berbatu-batu yang gagal dilewati semalam karena takut. Sekarang pun sebenarnya takut terjadi apa-apa dengan ban mobilnya karena selain berbatu, jalannya pun menurun. Namun seperti disebutkan sebelumnya bahwa supir kami sangat handal baik dalam urusan mengatur transportasi sampai mengemudi dalam kondisi jelek, jarak yang ternyata benar-benar 5 menit itu bisa terlewati dengan baik.

Ternyata, info dari petugas penginapan kemarin malam bahwa di ujung jalan ini terdapat pemandian air panas benar adanya. Tidak seperti pemandian alami yang kami masuki malam sebelumnya, tempat pemandian yang masuk daftar obyek wisata ini cukup besar ketika kami lihat dari atas jalan. Hanya saja, tempat ini hanya buka di siang hari. Terdapat kolam untuk laki-laki dan perempuan, juga bangunan ruang ganti. Kami hanya melewati bagian depannya yang cukup luas untuk parkir beberapa mobil, kemudian terus menuju air terjun Blawan tak jauh dari situ.

Sesudah memarkir mobil, kami menemukan papan penunjuk ke air terjun, alih-alih bertuliskan WATERFALL, ini bertuliskan WATERFULL. Semua tertawa terbahak membaca papan petunjuk ini. Setelah membayar karcis masuk Rp 2.000,- per orang, kami naik tangga beton yang pegangannya sudah tidak terawat dan lepas di sana sini. Untung kondisi anak tangga kering sehingga tidak kuatir terpeleset walaupun sudah banyak bagian yang gompal.

waterfull ??

waterfull ??

melalui jalan becek

melalui jalan becek

Sempat di jalanan menurun kami bertemu pipa yang mengalirkan air panas, airnya berbau belerang sebelum melewati tanah becek rawa-rawa sehingga kami harus berjalan di atas kayu. Kemudian tampaklah celah lebar di antara dua tebing, dan di baliknya, air terjun Blawan yang mengalir dengan indah.

Kami menyaksikan air terjun Blawan ini dari sisi sampingnya, jadi bukan dari depan seperti biasa air terjun di tempat-tempat lainnya. Ketinggian air terjun ini hanya sekitar 8-10 meter, namun arus jatuhan yang sangat deras membuat tak seorang pun berani mandi-mandi di bawahnya. Air terjun ini mengalir terus berbelok ke sungai di bawahnya.

air terjun blawan

air terjun blawan

latar air terjun

latar air terjun

Posisi melihat air terjun kami berada di tengah-tengah, kira-kira 5 meter dari atas dan 5 meter dari bawah, terdapat area luas. Agak gamang karena tidak terdapat pagar pengaman di sekitarnya ketika kami melongok-longok melihat bagian bawah air terjun yang menderu memecah dasar. Tidak terlihat apakah di bawah itu batu tajam atau entah apa yang membuat air menghempas dengan keras dan menimbulkan percikan-percikan sampai tempat kami berdiri.

Keistimewaan berada di samping air terjun ini adalah kami bisa melihat ceruk di baliknya. Kadang-kadang kalau di air terjun lain, ada goa yang tak nampak berada di balik air terjun. Tapi karena tak ada pijakan ke arah ceruk tersebut, tak satupun dari kami yang berani mengeksplor lebih jauh. Keistimewaan lain, kalau kami berada tepat di sisi air terjun dan melongok ke bawah, akan nampak pelangi yang terbias dari jatuhan air dan sinar matahari yang membias. Aku yang sudah lama sekali tidak melihat pelangi merasa girang bukan kepalang sehingga cuma bisa terpana dan memotret pelangi itu. Apabila sinar matahari dan air terjun itu ada, pasti pelangi itu akan abadi berdiam di situ.

rainbow waterfall

rainbow waterfall

Usai puas memandang air terjun, kami kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan panjang itu. Waktu belum menunjukkan jam 12 siang, sehingga kami masih optimis sore akan tiba di Meru Betiri. Sementara itu mas Gitar sudah menghubungi jeep yang akan membawa kami ke pantai Sukamade, Meru Betiri, untuk menunggu di Erek-erek. Bapak Zulkadri, kontakku di Meru Betiri juga sudah mengingatkan agar tiba jangan terlalu malam, karena perjalanannya masuk hutan selama 2 jam. Wah, sepertinya seru juga ada acara masuk hutan naik jeep, seperti safari hutan saja! Kami tak sabar dengan perjalanan ke Meru Betiri.

Keluar dari kawasan Blawan kami kembali melalui jalan raya yang tadi pagi ditempuh ke kawah Ijen. Kalau tadi pagi jalan ke Paltuding itu dilewati dalam gelap, sekarang cerah dan terlihat banyak kontur perbukitan yang indah. Ada hutan-hutan cemara, anak sungai kecil, savana, sampai akhirnya kami melewati pos Paltuding.

hutan mendung (foto-adhib)

hutan mendung (foto-adhib)

dasar hutan  yang kering

dasar hutan yang kering

Suasana perjalanan turun dari pegunungan Ijen ke arah Banyuwangi tak banyak beda dengan ketika kami naik kemarin dari arah Bondowoso. Hutan di kiri kanan cukup pekat sebagai hutan hujan tropis, menjadikan suasana siang itu teduh. Kemudian ditambah dengan gerimis sedang, cocoklah siang itu untuk tertidur sejenak dua jenak walaupun kondisi jalan berlubang-lubang. Untung Mitsubishi Maven kami berada di tangan yang tepat sehingga goncangan itu tak terasa atau mungkin kami sudah terlalu lelah sehingga tidur saja.

jalan turun

jalan turun

Sekitar satu jam lebih berkendara di tengah hutan akhirnya kami tiba di satu titik yang tidak bisa dilewati lagi. Seorang bapak berambut keriting tampak duduk di sebuah batang pohon yang rebah. Ketika kami parkir di sebelahnya, ia langsung bertanya, “Yang mau ke Sukamade ya, Mas? Empat orang?”

Ooh, rupanya ini supir jeep yang akan membawa kita ke Meru Betiri. Pak Haryo namanya. Alih-alih menunggu di jalan ujung yang diperbaiki di sana, ia malah menyusul di sini. Jadi di situlah titik perpisahan kami dengan mas Gitar, supir hebat yang sudah menemani kita bertualang. Ia juga gembira menemani kami sambil sekalian survey tripnya sendiri rupanya. Semua bergantian bersalaman dengan mas Gitar sambil berjanji mempromosikan jasanya pada teman-teman yang lain.

jalan sehat
Kami mengangkat semua ransel sendiri-sendiri, kemudian mulai berjalan kaki sejauh kurang lebih 1 km. Tidak terlalu banyak aktivitas yang dilakukan di proyek, setum (sepur tumbuk) penghalus jalan pun berhenti di samping jalan.
Separuh badan jalan sudah dicor dan separuhnya lagi belum. Kami berjalan sambil memerhatikan pekerja yang sedang menyusun batu. Sesekali terdengar siulan usil dari mereka. Menurut Pak Haryo, jalanan ini diperbaiki untuk menyambut Tour de Ijen, acara bersepeda yang akan digelar Desember 2012 kelak. Dengan packing ransel yang benar, jarak yang lumayan itu tidak terlalu membebani pundak. Apalagi sebagian besar persediaan makanan kami sudah habis, sehingga makin tak berbeban.

jalan separuh dicor

jalan separuh dicor

cor jalan sebagian bisa dilalui motor

cor jalan sebagian bisa dilalui motor

ayo semangat, angkat beban!

ayo semangat, angkat beban!(foto-sansan)

turis tengah hutan

turis tengah hutan

Walaupun mobil tak bisa lewat, namun ada beberapa motor yang bisa lewat kemudian melewati hutan yang dibilang Pak Haryo sebagai ‘jalan lama’. Sesudah lewat jalan separuh beton itu, proyek jalan berlanjut pada jalur yang membelah bukit sedalam 15 m. Jalanan masih dipadatkan dengan susunan batu kali. Perlu hati-hati supaya tidak terpeleset. Bekas hujan beberapa jam yang lalu masih tampak di tanah merah di samping kiri dan kanan jalan. Aku mencoba berjalan di tanah, namun lebih licin daripada batu. Akhirnya setelah sempat hampir terpeleset, aku kembali ke jalan bebatuan tetapi melangkah pelan-pelan. Herdian sudah jauh di depan sementara aku dan Sansan masih berfoto-foto di jalan. Untung saja kami ada jalan diperbaiki sehingga kami sempat berjalan kaki membawa ransel. Nggak sahih rasanya kalau ransel-ransel itu cuma nongkrong di bagasi. Apa bedanya dengan kopor?

jalan berbatu

jalan berbatu

sepur tumbuk menunggu di belakang

sepur tumbuk menunggu di belakang

sampai finish duluan

sampai finish duluan

Di ujung jalan itu tampak jeep Daihatsu Taft Hiline warna hitam. Wah, tampaknya cukup nyaman dikendarai. Kami yang tadinya berpikir bakal naik jeep Toyota Hardtop lagi langsung gembira karena mendapat mobil yang lebih nyaman untuk perjalanan lebih jauh. Herdian aku minta duduk di depan karena bahasa Jawanya paling fasih untuk mengobrol dengan Pak Haryo. Padahal sih aku yang mengantuk berat sehingga memilih duduk di tengah bersama Sansan dan Adhib. Ransel-ransel kami tumpuk di jok belakang.

jeep
Perjalanan turun dari Ijen menuju Licin siang itu cerah dan sejuk. Di kiri kanan masih bertemu perkebunan kakao dan tentunya, jati. Perut kami sudah mulai kelaparan karena terakhir makan jam 10 pagi. Sampai Licin kami langsung mampir rumah makan di tepi sawah yang menyajikan pecel ayam dan bebek yang cukup enak. Dasar kelaparan, sebentar saja sudah habis makanan itu.

Rupanya perjalanan ini bukan tanpa gangguan lagi. Ketika kami makan, Pak Haryo mengatakan bahwa oli power steeringnya bocor, sehingga tidak bisa membawa kami ke Sukamade. Tapi ternyata Pak Haryo dan teman-temannya sering ke Sukamade, sehingga ada mobil pengganti. Tak berapa lama datanglah Pak Yono, dengan Daihatsu Taft Hiline juga, namun tahunnya lebih muda dan juga dilengkapi dengan AC!

“Nggak apa-apa, mbak. Nanti kalau mobilnya kenapa-napa di Sukamade bakal kami rescue, kok. Bulan lalu saja ada jeep yang hanyut terbawa sungai kami pakai 2 mobil buat nyelametin,” jelas Pak Yono.

Weiw, kami agak jeri mendengar pengalaman ke Sukamade yang harus melalui sungai menggunakan jeep itu dengan risiko. Tapi sudah kepalang tanggung, lagipula bukannya impianku memang mencapai salah satu pantai di timur Jawa itu?

Jam tiga sore kami mulai bertolak ke Meru Betiri. Seperti umumnya jalan di Jawa Timur, jalannya lurus dan lebar, dengan sawah di kiri kanan dan hutan jati yang menemani perjalanan, juga desa-desa yang berada di tepian jalan. Rupanya masih ada ketidakberuntungan yang menyertai kami. Di sekitar Jajag, mobil tersendat-sendat dan akhirnya berhenti. Wah, ada apa gerangan? Ternyata bahan bakar habis. Terpaksalah Pak Yono sempat pergi sekitar 20 menitan naik ojek membawa jeriken (yang selalu ada di mobilnya) untuk membeli solar. Usai mengisi, Pak Yono dengan lincah dan ngebut membawa mobilnya menuju selatan. Kami yang sudah kelelahan tak sanggup lagi untuk membuka mata melihat jalanan. Lamat-lamat kudengar Herdian masih mengobrol dengan Pak Yono.

Tak lama hari makin surup saja, tentu karena ini di daerah timur sehingga matahari terbenam lebih cepat. Mobil berbelok di Pesanggaran, masuk kawasan perkebunan dengan kondisi jalan yang lumayan berlubang-lubang. Sudah masuk magrib ketika kami melihat tumpukan kerikil, pasir dan drum aspal di tepian jalan. Wah, di manapun kita jalan, selalu ada perbaikan jalan, ya.

“Biasa, sudah mau akhir tahun maka apa yang dianggarkan harus cepat-cepat dikerjakan,” tukas Sansan yang abdi negara itu. Kami sudah tidak mengantuk lagi. Mata mulai mencari-cari apa yang bisa ditemukan di keremangan malam. Aku menyalakan ponselku untuk mengabarkan pada Pak Zulkadri bahwa kami sudah sampai di Pesanggaran. Beliau langsung membalas, supirnya tahu jalan ke Sukamade? Ternyata aku sudah tidak bisa membalas karena sinyal timbul tenggelam. Akhirnya kuputuskan ponsel dimatikan lagi saja.

Di kawasan perkebunan ini yang juga masih masuk PTPN XII hanya beda area, beberapa kali bertemu permukiman, perkebunan, permukiman, perkebunan lagi, yang kami sudah tidak bisa mengenali itu di mana karena gelap dan sulit membaca papan nama lokasi. Beda dengan di Ijen yang bergunung-gunung, kawasan ini relatif datar dengan jalanan berbatu-batu juga. Varietas yang ditanam di sini juga kopi dan coklat, juga karet. Petunjuk arah ke Sukamade juga cukup jelas, sehingga kami tidak tersesat di kegelapan itu.

hutan
Satu area di tengah kebun coklat, mobil kami bertemu dengan sebuah Toyota Land Cruiser yang akan memutar. Eh, ternyata mereka mencari jalan ke Sukamade dan tersesat. Akhirnya mereka minta ijin untuk mengikuti mobil kami. Di sepanjang jalan kami juga bertemu dengan beberapa pos-pos penjagaan seperti di Ijen kemarin. Baru di situlah aku bertemu dengan sebagian isi mobil yang mengikuti kami itu. Yang turun melapor adalah anak terbesarnya yang masih berusia belasan tahun dengan kaus berlapis kemeja kotak-kotak dan celana pendek. Raut wajah capek dan jemu di jalan tampak dari wajahnya.

Pak Yono sempat khawatir apakah mobil belakang sanggup mengikuti mobil kami atau tidak. Tapi ternyata supir mobil belakang juga menyetirnya secanggih Pak Yono, sehingga benar-benar sama sekali tak lepas dari kami, paling jauh hanya 10 m!

Seperti diperkirakan sebelumnya, kami melintasi sungai pertama yang ternyata pendek saja, hanya selebar 5 m dan tidak terlalu dalam. Sesudah itu kami mulai masuk hutan yang tidak ada pemukimannya lagi, hanya pohon-pohon kayu yang besar-besar melingkupi. Jalan sudah menyempit, hanya bisa dilalui satu mobil saja dan hanya batu-batu belaka dan ada bekas ban pertanda bahwa itu jalanan. Cahaya hanya berasal dari lampu mobil kami saja. Rupanya memang ini kekhawatiran Pak Yono, apabila mobil belakang terlepas dari jejak kami, pasti ia akan tersesat di tengah hutan ini.
Setelah hampir satu jam terguncang-guncang di dalam mobil, baru tampak mobil melewati tantangan sesungguhnya : sungai! Di depan kami ternyata adalah muara sungai yang sudah tak jauh dari laut, selebar 20-30 m yang mau tak mau harus kami lintasi apabila mau sampai di Sukamade, yang sudah di seberang. Pak Yono memerhatikan sungai itu yang menurut dia tampak tidak banjir, sehingga aman untuk dilalui. Kami berdoa dalam-dalam di mobil, sebelum Pak Yono mulai menceburkan mobil ke sungai tersebut.

Byur! Aku membuka kaca jendela melihat sekeliling bawah. Roda terendam sedikit demi sedikit, sampai akhirnya setengah ban lebih sedikit. Untunglah muka air sedang tidak terlalu tinggi, sehingga tidak sampai sasis bukaan pintu tempat duduk kami. Dengan tangguh Pak Yono melewati dasar sungai yang berbatu-batu itu. Mobil belakang masih di seberang, menunggu kondisi aman untuk menyusul. Di seberang tampak tanjakan yang cukup berumput. Sekeluar sungai, kami menahan napas lagi karena takut mobil tergelincir licin ketika naik ke daratan lagi. Alhamdulillah, akhirnya mobil bisa melewati tanjakan dan sampai ke jalan datar lagi. Kami menunggu mobil belakang menyeberang sampai posisi aman. Sepuluh menit kemudian, mobil belakang memberikan lampu tanda ia sudah siap mengikuti.

Ternyata jalan ini sudah dekat ke Sukamade. Lima belas menit dari situ kami sudah bertemu dengan persimpangan yang menunjukkan ke kanan permukiman dan perkebunan, ke kiri wisma dan pantai. Pak Yono membelokkan mobil ke kiri dan tak lama kami tiba di depan wisma tamu Pantai Sukamade. Masih tak terdengar suara ombak. Saat itu sudah pukul delapan malam. Ada seorang bapak yang sedang menonton TV di wisma dan mengatakan, “Aduh, kemalaman sekali. Ranger penyunya sudah berangkat 15 menit yang lalu. Bisa menyusul saja ke pantai?”

perjalanan 17 Nopember 2012
commuterline.rumahkentang. 23.02.2013 : 08.34
foto cover oleh Herdian

cerita selanjutnya : jati meranggas #5 : meru betiri, surga bersembunyi

Advertisements

13 thoughts on “jati meranggas #4 : air terjun sampai ke laut

  1. Yoga says:

    Petualangan yang seru, ya Ndri.. Water full haha… :)) Btw Catimor itu nama sebuah varietas kopi, persilangan antara kopi Timor dan Catura, cantik ya namanya. 🙂

    • indrijuwono says:

      hai Raymond. no telp jeepnya nt aku cari dulu yaa.. dulu sewa dari Banyuwangi 1.4 jt.
      kalau di meru betiri ada no telp jagawananya. kamar yg ekonomi 100rb ( ada 4 kmr) dan wisma 200rb.
      nanti aku email. nomornya ada di rumah. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s