belitong : cerita pantai di antara hujan

cover

Rumah hanya rumah
terukur dengan langkah
pantai masih pantai
batas bertemu batas bercerai
cinta tetap cinta
meski berpaling meski tak setia

~Isma Sawitri

Mungkin aku termasuk mainstream karena tahu Pulau Belitong karena buku yang diadaptasi menjadi film Laskar Pelangi yang terkenal beberapa tahun silam. Terus terang saja, film tersebut kutonton melalui Youtube dua hari menjelang keberangkatanku ke pulau penghasil timah ini atau beberapa kali menonton sepotong-sepotong di televisi. Ditambah sekitar setahun yang lalu, aku beruntung mendapat tiket gratis menonton pertunjukan musikal Laskar Pelangi. Potongan tempat-tempat yang ditampilkan membuatku ingin mengunjungi pulau yang kini berada di bawah propinsi Bangka Belitung ini.

Sebenarnya aku sudah pernah sedikit tahu pulau ini karena pernah punya teman sekantor yang berasal dari Belitong. Masa kecil hingga SMPnya dihabiskan di pulau kecil itu mulai dari bersepeda sampai mandi di sungai yang masih jernih airnya. Namun Belitong yang saat itu masih di bawah pemerintahan Sumatera Selatan itu tidak banyak dieksplor potensi wisatanya sehingga belum ramai sebagai tempat mudiknya. Belitong dalam bahasa lokal, atau Belitung sebagai nama resminya, atau Billiton dalam bahasa Inggris, lebih dikenal sebagai daerah penghasil timah yang selalu muncul di buku-buku pelajaran geografi.

peta belitong dan sebagian keindahannya

peta belitong dan sebagian keindahannya

kota dan masyarakat
Agak disayangkan karena pemilihan waktu berangkat di awal tahun oleh kami bertiga, aku, Steffy, dan Devi, yang berkenalan di jejaring backpacker, membuat cuaca cerah kurang menemani hari-hari di sana. Dengan penerbangan Batavia Air (yang ketika itu masih ada) kami meninggalkan tanah Jawa untuk mengudara selama enam puluh menit dan disambut hujan deras di bandara Tanjung Pandan. Kami berangkat berombongan 23 orang yang menginap di sebuah hotel di kawasan Tanjung Pendam, sekitar 20 menit dari Bandara.

Tanjung Pendam ini berlokasi cukup strategis, dekat dengan pusat kota, namun tetap berada di tepi laut. Dari hotel kami yang memiliki akses langsung dengan pantai, bisa berjalan kaki ke alun-alun kota untuk melihat keramaian. Sepanjang area pantai yang ditanggul, terdapat perkerasan untuk jogging track yang cukup nyaman dilalui. Ada juga tempat bermain anak yang dibuat dengan modifikasi beberapa tokoh kartun dan naga.

taman bermain

taman bermain

jalan tepi Tanjung Pendam

jalan tepi Tanjung Pendam

Alun-alun tak hanya ramai di pagi hari, namun juga malam. Rentengan lampu bergantungan di pohon dan tiang menambah semarak suasana. Menurut Pak Buyung, guide kami di sana, beberapa kali diadakan konser musik di situ, dan selalu ramai dikunjungi warga sekitar. Di tepi alun-alun yang tak berbentuk kotak itu (mungkin kurang lebih seperti trapesium) ada kios-kios kerajinan dan oleh-oleh Belitong.

Tak jauh dari alun-alun, bisa ditemukan pelabuhan yang sering didarati kapal-kapal dari Bangka, Sumatera, Singapura, atau kapal penumpang dari kepulauan sekitar. Juga ada pelabuhan industri di sebelahnya yang mengangkut hasil tambang Belitong yaitu timah dan kaolin.

pelabuhan Belitong

pelabuhan Belitong

Memasuki kota Tanjung Pandan, kami melihat lokasi yang dulu menjadi kediaman Direktur PN Timah. Inilah tempat tinggal orang yang menjalankan perekonomian timah hingga masa depresi timah di akhir tahun 80-an. Dulu, sewaktu timah masih berjaya, seluruh kota dikelilingi pagar besi, jelas Pak Buyung, pemandu kami di sana yang tinggal di pulau ini sejak tahun 1962. Hanya karyawan PN Timah saja yang bisa menggunakan fasilitas-fasilitas di dalam area. Jam 6 sore, pintu yg menghubungkan area PN Timah dengan bagian lain Pulau Belitong ditutup sehingga warga sekitar tak bisa masuk ke kompleks PN Timah. Saat Belitong masih di bawah pemerintahan Sumatera Selatan, seluruh perangkat pemerintahan didatangkan dari Sumatera. Tak ada celah untuk penduduk lokal bersaing menunjukkan bahwa dirinya bisa memimpin pulau ini. Sekarang, rumah dinas itu hanya tersisa kemegahannya. Di bagian belakang dibuat mess dan rumah tamu untuk tempat tinggal staf instansi pemerintahan apabila berkunjung ke Belitong. Di seberang rumah dinas tersebut terdapat kantor PN Timah yang sekarang digunakan untuk kantor Dinas Kebudayaan.

papan nama rumah eks kepala timah

papan nama rumah eks kepala timah

rumah dinas jaman dahulu

rumah dinas jaman dahulu

sekarang menjadi kantor dinas kebudayaan

kantor PN Timah sekarang menjadi kantor dinas kebudayaan

Di dekat rumah dinas itu juga ada sekolah dasar. Menariknya, walau lay-outnya sama saja dengan SD lain yang ruang-ruang kelasnya mengelilingi lapangan, terdapat satu bangunan besar yang mengadaptasi bentuk rumah adat setempat. Atap seng merah yang mendominasi dibentuk dengan overstek teras yang menjorok ke bawah dengan langit-langit yang tinggi untuk sirkulasi udara yang baik. Karena saat aku, Steffy dan Devi ke sana hari Minggu, maka tak ada aktivitas anak-anak sekolah di situ.

sekolah dasar

sekolah dasar

langit-langit yang tinggi

langit-langit yang tinggi

Menuju tengah kota ada satu persimpangan lima di yang di tengahnya terdapat satu tugu air mancur dengan patung tunas kelapa yang sangat besar. Tunas kelapa ini tidaklah menarik perhatian kami jika saja kami tidak melaluinya lebih dari 3 x sehari. Rasanya ke manapun kami berputar-putar di Tanjung Pandan, pasti melalui tugu tunas kelapa ini. Tak jauh dari situ ada masakan yang terkenal dari Belitong, yaitu Mie Atep. Mie yang dibuat sendiri oleh penjualnya ini berukuran bulat-bulat agak besar, dengan kuah kental seperti rasa udang. Menyantapnya di kala hujan gerimis turun memberi rasa nyaman di perut. Apalagi ditambah segelas jeruk hangat sesudah menyantapnya. Harganya tidak terlalu mahal, hanya Rp.15.000,- disajikan di piring biasa.

foto9c-fin

pantai dan laut
Keunggulan utama Belitong adalah pantai-pantainya yang indah dengan pasir putih menghampar dan laut yang biru jernih bila ditimpa sinar matahari. Agaknya karena kami datang di musim penghujan, kebiruan laut tersebut tidak terlalu kelihatan. Namun ada pantai-pantai yang tetap indah dipandang dengan kenikannya.

Sore itu, kami berkunjung ke pantai Tanjung Tinggi. Pantai yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Tanjung Pandan ini ternyata berjarak sekitar 2 jam dari Gantong, tempat SD Muhammadiyah sekolah Laskar Pelangi itu berdiri. Di sini juga terdapat rumah yang disebut sebagai ‘Rumah Lintang’ salah satu tokoh anak di dalam cerita Laskar Pelangi yang digambarkan sebagai anak pintar yang tinggal di pesisir pantai. Aku terbayang jauhnya jarak bersepeda yang harus ditempuh Lintang dari Tanjung Tinggi sampai Gantong sewaktu ia kecil dulu.

papan nama Laskar Pelangi

papan nama Laskar Pelangi

bebatuan granit raksasa di pantai

bebatuan granit raksasa di pantai

Yang menarik dari pantai Tanjung Tinggi ini adalah bebatuannya yang berukuran ekstra besar. Sejak dipakai di beberapa adegan film Laskar Pelangi, tempat ini tak pernah dilewatkan wisatawan yang datang ke Belitong. Aku, Steffy dan Devi saling membantu naik dan turun di antara batu-batu ini. Beberapa bagian yang selalu basah agak sulit didaki sehingga harus jalan agak memutar. Devi pertama kali sampai di satu bongkahan batu yang posisinya cukup tinggi namun permukaannya cukup lebar. Aku menyusulnya sambil berhati-hati membawa kamera. Setelah memotret kami dari seberang batu, Steffy pun menyusul. Nyaman sekali berada di ketinggian dan memandang laut lepas dengan hamparan batu sebagai latar depan. Sayang, laut tidak terlalu jernih sisa hujan siangnya. Awan pun menaungi langit sepenuh penglihatan sehingga bola jingga yang terbenam hanya terbias cahayanya saja. Sudah merembang malam ketika kami akhirnya meninggalkan pantai berbatu itu.

devi  di salah satu batu besar

devi di salah satu batu besar

pantai berbatu

pantai berbatu

walau banyak batu namun tak banyak karang. relatif dangkal di tepian

walau banyak batu namun tak banyak karang. relatif dangkal di tepian

pulau dan bebatuan
Sebenarnya, salah satu tempat asyik yang bisa didatangi di Belitong adalah pulau-pulau di sekitarnya. Sayangnya (sekali lagi) matahari sepertinya enggan bertemu dengan kami ketika kami bertolak dari pantai Tanjung Kelayang. Keterlambatan berangkat ke laut di keesokan harinya oleh panitia tour membuat kami tidak sempat menyaksikan Gosong Pasir karena sudah kembali ditenggelamkan oleh air pasang. Pak Buyung bercerita, seandainya tadi pagi-pagi sudah melaut, mungkin sempat melihat tempat ini. Hanya terlihat gelembung-gelembung air di tengah air laut yang beberapa jam sebelumnya adalah daratan pulau pasir putih belaka.

Hujan mulai turun lagi menderas. Saat singgah di pulau Burung, hujan turun begitu derasnya hingga kami merasa enggan turun dari perahu dan hanya duduk-duduk di perahu tanpa mengeksplor pulau. Beberapa anggota rombongan sudah takut akan badai yang mungkin terjadi. Hujan terus menderu. Panitia pun gamang untuk memutuskan apa yang harus dilakukan dalam cuaca begini. Untunglah tak lama udara mulai melunak. Pak Buyung mengatakan akan terus melanjutkan perjalanan. Yeaa… tak sia-sia datang jauh-jauh. Maka diiringi gerimis tipis, kapal kami meninggalkan pulau Burung.
Tak berapa lama kemudian setelah terombang-ambing di lautan yang baru terkena hujan, kami berada di perairan yang banyak batu-batunya. Beberapa gugusan batu granit seperti di Tanjung Tinggi berderet cantik. Sepintas seperti di Halong Bay, Vietnam. Kami berhenti untuk mengambil foto. Di titik ini juga perairan cukup dangkal sehingga bisa turun snorkeling. Air agak keruh juga sehingga kecantikan terumbu karangnya kurang terlihat. Setelah berputar-putar selama hampir setengah jam, aku naik lagi ke kapal. Kami melanjutkan perjalanan lagi ke pulau Lengkuas.

bebatuan di tengah laut

bebatuan di tengah laut

Keunikan dari pulau Lengkuas ini adalah terdapat mercu suar di tengah pulaunya. Sementara peserta lain bersantai di pantai, aku, Steffy dan Devi melongok kompleks mercusuar. Sekali lagi sayangnya, karena cuaca buruk, kami tidak diperkenankan naik ke puncak mercusuar. Kilat dan petir yang sesekali menyambar agak membuat gentar. Menurut penjaga areanya, mercusuar di pulau Lengkuas dipakai sebagai panduan kapal-kapal untuk menjauh dari situ karena lautnya dangkal oleh bebatuan dan bisa membuat kandas kapal besar yang melintas.

mercu suar

mercu suar

Kami berfoto-foto di kaki mercusuar berumur yang dibangun sejak tahun 1882 itu. Di kompleks mercusuar ini tidak hanya mercusuar saja, namun juga dikelilingi oleh bangunan yang difungsikan untuk mengakomodasi kegiatan sehari-hari si penjaga mercusuar. Kan tidak setiap hari penjaga itu pulang ke Belitong menemui keluarganya. Setiap satu minggu, ada pergantian kelompok penjaga.

ujung, badan, dan pintu mercusuar

ujung, badan, dan pintu mercusuar

Di sekeliling pantai gerimis masih rintik-rintik. Kami bertiga nekat menuju bagian ujung pulau yang banyak terdapat batu-batu besar seperti di Tanjung Tinggi. Sedikit kurang hati-hati, Steffy tergelincir masuk air ketika hendak naik ke salah satu batu. Untung ia sedang tidak membawa kamera. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menaiki batu-batu ini, hanya harus menapakkan di posisi yang pas.

pualu yang juga berbatu di ujungnya

pualu yang juga berbatu di ujungnya

batu-batu di pulau lengkuas

batu-batu di pulau lengkuas

Tak lama panitia kembali memanggil untuk kembali melaut kembali. Perut sudah mulai agak lapar bermain air terus-terusan. Tiba kembali di spot bebatuan, panitia memberi waktu kami untuk snorkeling lagi selama 15 menit. Memang agak kurang waktunya, tapi melihat sebagian peserta ada yang mabuk laut juga, sehingga aku tak lama-lama menceburkan diri di perairan dengan latar belakang. Sempat juga kami bertemu bintang laut yang kemudian kami lepas kembali. Sekitar jam setengah dua siang, kami kembali lagi ke pantai Tanjung Kelayang untuk makan siang ikan bakar dan melahap buah durian.

tanjung kelayang

tanjung kelayang

perahu yang berderet

perahu yang berderet

Di beberapa tempat, hujan memang bisa ditoleransi. Namun di Belitong, usahakan berada di pantai-pantai indah ini jika matahari lebih banyak berlimpah. Karena apa yang terlihat amat indah di foto-foto tak akan ditemui jika terus menerus diguyur hujan. Air yang seharusnya terlihat bening akan keruh sehingga mengaburkan pantulan cantik dari warna warni terumbu karang di bawahnya. Kurasa aku akan kembali lagi ke sini dalam beberapa bulan lagi.

Perjalanan 4-6 Januari 2013
teras rumah kentang : 02 Juni 2013 : 15.16

cerita berlanjut ke : belitong : cinta dalam gelas kopi andrea hirata

foto20

Advertisements

8 thoughts on “belitong : cerita pantai di antara hujan

  1. noengki says:

    Bagus bgt, ceritanya runtut, foto2nya seru. Kapan2 kabari dong klo mau backpackeran lg, siapa tahu waktunya pas. Thanks Dik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s