Tag Archives: batu

rammang-rammang : berdialog dengan batu

0-cover-rammang-rammang-maros

Aku tak ingat sejak kapan aku punya perasaan berbeda setiap kali melihat batu. Bukan sekadar batu kecil tapi sebongkah batu, sebukit batu, bongkahan besar hasil sedimentasi dari magma gunung berapi ratusan tahun yang lalu dan membentuk bentang alam yang keras. Sahabatku Felicia hafal sekali kesukaanku ini ketika kami mendaki ke Sesar Lembang di Bandung, atau ketika kami menyusuri jalan di Ngarai Sianok dan berlama-lama di Lembah Harau.

Padahal perkenalanku dengan batu besar untuk pertama dan terakhir kalinya hanya di tahun ’98 ketika mendaki tebing Munara di Rumpin, Bogor sebelum memilih untuk mengenali batu-batu dengan keluar masuk goa. Selain itu, yang kuingat paling ketika nongkrong tiga hari di bawah Tebing Parang tower 2, itu pun jadi tim darat pendaki. Sepertinya aku lebih tertarik dengan batu besar sesudah berkenalan dengan Parang Jati di novel Bilangan Fu, si pemanjat tebing yang memilih untuk tidak menggunakan alat yang merusak batu untuk memanjat tebing. Tapi selebihnya, sepertinya aku cuma menikmati saat-saat memandang batu-batu besar yang terlihat indah itu.

Karena itu ketika ditanya kenapa harus mampir ke Rammang-rammang, jawabanku cuma satu :

Mau melihat batu.  Continue reading rammang-rammang : berdialog dengan batu

earthday2015 : dilema batu kapur

tebing-karst-citatah

The harder you fall, the heavier your heart; the heavier your heart, the stronger you climb; the stronger you climb, the higher your pedestal.
― Criss Jami, Killosophy

Kira-kira sepuluh tahun lebih yang lalu, ketika aku masih kuliah, aku cukup sering berkunjung ke daerah Citeureup, kabupaten Bogor, karena di sana banyak sekali goa-goa kapur yang bisa dikunjungi. Yang kuingat adalah goa Keraton yang bisa masuk horisontal dengan ornamen-ornamen yang indah. Stalagtit yang menggantung, yang terbentuk dari endapan air kapur, disinari cahaya senter kami. Lalu ada beberapa goa vertikal yang sempat kami turuni sebagai latihan menggunakan menggunakan tali statik dibantu dengan jummar untuk naik kembali.

    Beberapa tahun yang lalu aku bertanya lagi pada junior-juniorku tim caving, masih sering ke Citeureup?
    Goanya sudah runtuh, kak.

Continue reading earthday2015 : dilema batu kapur

candi gedong songo : menapaki jalan batu bersusun pagi hari

candi-gedong-songo-3-d

    salamku matahari, wangi pohon, dedaunan, kupu-kupu menari,
    embun di pucuk-pucuk rerumputan.
    ikutlah bersama dan menyapa batu-batu, cukup kuatkan kakimu.

Jam ponselku menunjukkan pukul enam pagi ketika kami tiba di pelataran kompleks candi Gedong Songo. Sesudah berada dalam mobil selama hampir satu jam, angin pegunungan berhembus menggigit tulang seketika pintu terbuka. “Wah, tukang karcisnya belum buka. Sarapan dulu, yuk!” ajak Astin yang menyetir mobil sejak jam lima pagi tadi di Semarang mengeluh lapar. Beruntunglah ada satu warung yang menjual mi instan rebus yang mampu mengganjal perut sebelum mulai mendaki.

Candi Gedong Songo terletak tidak jauh dari kota Semarang. Dari Banyumanik, kawasan atas kota Semarang bisa ditempuh dalam waktu satu jam mengendarai mobil menuju arah Ambarawa, kemudian berbelok ke arah barat dan terus mendaki sampai daerah Bandungan. Daerah dataran tinggi yang sering menjadi tempat peristirahatan warga Semarang ini jalannya tidak terlalu lebar sehingga membutuhkan skill yang cukup untuk menyetir belok sambil mendaki begini. Untung Astin cukup piawai mengemudikan mobilnya sampai-sampai tidak mau kugantikan. Mungkin dia tidak percaya pada kemampuan anak kota sepertiku. Setelah beberapa kali berbelak-belok melewati villa-villa asyik dan Pasar Bandungan, kami tiba di pelataran parkir Kompleks Candi Gedong Songo. Untung tadi Astin masih ingat dengan jalannya, sehingga kami bisa sampai. Daripada mengandalkan googlemaps yang sinyalnya timbul tenggelam, lebih disarankan bertanya pada penduduk setempat apabila menemukan persimpangan meragukan.
Continue reading candi gedong songo : menapaki jalan batu bersusun pagi hari

flores flow #5 : loka, batu dan bena

DSC_0849

    Pernahkah kamu berbicara pada batu? Pernahkah kamu tanya bagaimana rasanya menjadi tumpuan, menjadi sesuatu yang dikuatkan, menjadi tahanan agar beban di atasnya tidak runtuh?

Barangkali kau perlu bertanya pada bebatuan di kampung Bena, yang bisa dicapai dalam satu jam perjalanan dengan kendara bermesin dari Bajawa, sejak kapan mereka berada di sana. Di sini batu tidak hanya diperlakukan sebagai tumpuan, namun juga sebagai pelindung. Bukan sekadar batu kecil untuk melempar anjing, tapi bongkahan sesuatu yang melingkari, mengitari.

Melihat kampung Bena dari ketinggian gerbang masuk, yang tampak adalah dua garis lengkung yang saling bertemu seperti daun, dengan pinggiran meliuk dan tulang tengah yang kuat, demikian, seperti sehelai daun yang menggeliat di genggaman tangan. Tepian itu adalah rumah-rumah yang berderet rapi, tempat kehidupan sehari-hari dijalankan, untuk pulang setiap petang dari ladang.
Continue reading flores flow #5 : loka, batu dan bena

flores flow #3 : debu lintas trans ende – bajawa

DSC_0482

This is a roadside attraction,’ said Wednesday. ‘One of the finest. Which means it is a place of power.’
― Neil Gaiman, American Gods

Kadang-kadang keberuntungan itu memang begitu saja datangnya. Tiba-tiba saja aku ditawari supir yang kendaraannya kosong seusai mengantar tamu ke Maumere dan akan kembali lagi ke Labuan Bajo. Dengan harga lumayan miring, aku deal satu mobil dan supir yang akan mengantar kami siang ini ke Ende dan menginap di Bajawa hingga Denge start point Wae Rebo, besok. Naik mobil sewaan menaikkan budget kami menjadi dua kali lipat daripada rencana naik kendaraan umum, tapi perjalanan menjadi lebih santai dan bisa mampir tempat-tempat menarik yang dilewati.

Aku duduk di samping mas Agus, supir kami yang mengendarai mobilnya dengan tangkas. Seperti biasa di perjalanan, aku selalu suka duduk di depan, supaya pandangan mata lebih luas juga sambil mengobrol macam-macam dengan supirnya. Aku memang cerewet.
“Jalanan di Flores sudah lama bagus seperti ini, Mas?” tanyaku.
“Ini sudah kira-kira lima tahunan. Jalannya sendiri sudah sejak tahun 1925,” ceritanya. Ia menunjukkan batu yang dipasangi penanda pembangunan jalan Trans Flores ini selepas bukit-bukit batu dari Moni.
Continue reading flores flow #3 : debu lintas trans ende – bajawa

mencari sepi di istana ratu boko

cover

… Segala yang rupa ini membantu kita mencapai yang tanpa rupa. ― Ayu Utami, Lalita

Membayangkan hanya punya satu hari santai di Jogja di tengah liburan pendekku, aku memilih untuk mengunjungi situs-situs budaya di jalur jalan menuju Solo. Jogja merupakan salah satu kota yang sering kukunjungi, dipermudah dengan adanya layanan Traveloka yang membantu dalam mendapatkan tiket penerbangan dan juga hotel budget dengan cepat, seperti Zodiak dan Whiz Hotel di kota Jogja. Kunjungan ke Jogja ini sebenarnya sudah beberapa kali, tapi banyak alasan ingin terus berkunjung ke sana. Mungkin karena kota ini kental dengan peninggalan kebudayaannya, karena setelah kenal Borobudur dan Prambanan di kunjungan beberapa tahun sebelumnya, aku ingin mengunjungi Istana Ratu Boko yang ternyata masih dalam pengelolaan Borobudur Park.

Pada waktu itu, motor yang kunaiki merayap pelan menaiki tanjakan di jalan aspal menuju kompleks istana Ratu Boko. Aku membayangkan cerita beberapa teman yang bersusah payah mengayuh sepedanya dari tengah kota Jogja sampai tiba di gerbang masuknya. Lokasi Situs Istana Ratu Boko terletak di (Dusun Samberwatu, Desa Sambirejo) dan (Dusun Dawung, Desa Bokoharjo) Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kira-kira 3-4 km sebelah selatan candi Prambanan, menuju jalan raya ke Piyungan. Petunjuk jalan membuat belokan jalan kecil ke tempat ini mudah dikenali. Continue reading mencari sepi di istana ratu boko

rendang minang #7: cadas batu lembah harau

cover

“Adieu to disappointment and spleen. What are men to rocks and mountains?”
― Jane Austen, Pride and Prejudice

cerita sebelumnya : rendang minang #6: rumah gadang di tepi jalan

Salah satu tempat akhir yang aku dan Felicia datangi di Sumatera Barat adalah Lembah Harau. Jujur saja, sebelumnya tak ada ekspektasi apa-apa dengan tempat ini. Ketika dicari di google, tidak terlalu banyak terekam dalam jejak blog. Ada juga yang mengatakan bahwa Lembah Harau ini seperti tebing-tebing Yosemite di Amerika. Dengan pemikiran bahwa Lembah Harau ini agak-agak mirip dengan Ngarai Sianok, kami menuju ke sana.

Kami memasuki Kota Harau yang terletak di sebelah timur Payakumbuh, di jalan utama yang menuju Pekanbaru, Riau. Supir mobil kami agak-agak lupa lokasi lembah Harau, tapi tak berapa lama kami menemukan gapura menuju lokasi tersebut. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp.20.000,- untuk tiga orang dan mobil, kami melalui jalan selebar 6 meter di tengah dua persawahan. Udaranya cukup panas terik. Wajar sih, karena waktu juga menunjukkan sudah hampir tengah hari kami tiba di sana.

Dari kejauhan sudah tampak bukit batu, yang lama kelamaan dilihat dari dekat besaaaarrr sekali. Tebing-tebing batu ini membentang ratusan meter dengan kemiringan hampir 90 derajat. Lamat-lamat dari jauh kami melihat air terjun yang jatuh di antara tebing-tebing itu. Tidak cuma satu, hingga kami menyisip dengan mobil di jalan di antara tebing-tebing batu itu, kami sudah melihat tiga air terjun yang berjatuhan. Aku berpikir, seandainya Parang Jati, tokoh sacred climbing di novel Bilangan Fu-nya Ayu Utami ke Lembah Harau, pasti ia sudah jatuh cinta pada bentangan batu ini.
Continue reading rendang minang #7: cadas batu lembah harau