ketika museum pusaka nias bertemu debur samudera : ya’ahowu nias #3

cover

Real museums are places where Time is transformed into Space.
[Orhan Pamuk, The Museum of Innocence]

sesudah menghabiskan siang di : omo niha di keramahan desa tumori : yaahowu nias #2

Beberapa tahun terakhir ini jika berkunjung ke suatu daerah, museum selalu menjadi salah satu tujuanku untuk mempelajari daerah tersebut. Jika tidak bisa mencapai pelosok-pelosok, setidaknya terwakilkan dengan mengunjungi museum, yang banyak menceritakan sejarah tempat. Sering kali hobiku ini mendapat pandangan aneh dari orang-orang dekat yang mengenalku. Tapi tetap museum menyenangkan, karena sering mendapat banyak ilmu dengan bertandang ke dalamnya.

Museum Pusaka Nias terletak tak jauh dari pusat kota Gunungsitoli. Uniknya, museum ini terletak di tepi laut sehingga pelatarannya sering menjadi area wisata penduduk sekitar yang mencari hiburan di sore hari. Di sini terdapat dua bangunan rumah adat, satu kantor pengelola, satu bangunan museum utama, satu bangunan kegiatan bersama, area kebun binatang mini, dan gazebo tepi laut untuk memandang samudera di kejauhan.

ruang pertemuan bersama

ruang pertemuan bersama

Beruntungnya kami, Java ‘menginapkan’ kami di rumah adat yang di kawasan Museum ini. Sebenarnya kami mau saja tinggal di desa Tumori di dalam rumah adat juga, namun melihat kondisi museum yang menarik dengan akses ke tepi laut langsung membuat kemi berbinar-binar. Sama sekali tak dikhawatirkan cerita horor night at the museum yang biasanya menghantui. tempat ini asri, hijau, dan menyenangkan untuk belajar budaya.

Kami turun dari mobil dan dihembus udara segar laut yang agak meringankan siang panas yang kami lalui. Sudah pukul 5 sore namun matahari masih bersinar terang di atas sana. Tentu saja, sebagai salah satu pulau dengan gugusan terbarat Indonesia, matahari terbenam lebih lambat. Kami meletakkan ransel-ransel di dalam satu rumah adat, dan beristirahat sejenak.

Di museum ini ada dua rumah adat yang tidak mampu dipelihara pemiliknya, kemudian dipindahkan dinas kebudayaan ke museum, dan dirawat rapi dengan pembiayaan juga dari sewa rumah adat itu dari wisatawan yang berkunjung. Jika keluarga mantan pemilik rumah itu sedang berkunjung ke Gunungsitoli, ia bisa menginap gratis di situ.

rumah adat nias dengan teras di sampingnya

rumah adat nias dengan teras di sampingnya

Seperti di desa adat Tumori, bangunan ini menghadap utara selatan dengan satu teras di depan. Di dalamnya terdapat ruang bersama yang cukup lapang dengan dua ketinggian. Tak lupa juga bangku memanjang di bagian ovalnya. Empat tiangnya di tengah menahan atap dibatasi oleh langit-langit. Ada tingkap udara sebagai salah satu ornamen fungsional.

Hanya ada satu kamar tidur dengan dua tempat tidur di dalam. Aku dan Lanny meletakkan barang-barang kami di kamar, sementara Fadi dan Sanjaya menggelar kasur di ruang bersama. Dari pintu belakang kamar langsung ada tangga turun menuju kamar mandi yang berada di bawah terpisah dari bangunan.

kuda-kuda tampak dari atap tanpa langit-langit

kuda-kuda tampak dari atap tanpa langit-langit

jendela samping dan isi rumah yang mirip dengan di tumori

jendela samping dan isi rumah yang mirip dengan di tumori

Cuaca cerah sore itu masih sempat mengunjungi bangunan museum yang memang baru tutup jam 6. Pintu kayu besar menyambut kami ke area koleksi. Terdapat berbagai macam maket rumah adat Nias yang dipamerkan. Setelah beberapa kali mengambil gambar dengan kamera, aku ditegur oleh pemandu museumnya. Rupanya di sini tidak diperkenankan mengambil gambar untuk melindungi koleksi.

pintu masuk museum

pintu masuk museum

replika rumah adat oval

replika rumah adat oval

Bangunan ini unik sebenarnya. Terdiri dari dua bangunan yang dihubungkan dengam pintu-pintu besar. Yang pertama banyak terdapat koleksi rumah adat, bangunan kedua banyak berisi alat budaya yang digunakan masyarakat Nias di masa lalu, misalnya baju perang, peralatan memasak, peralatan berburu, bahkan peti mati. Juga ada beberapa benda yang dibawa pada saat pernikahan.

Aku menatap langit-langit miring yang menaungi ruangan ini. Dengan tinggi ruangan hampir 5 m, atap seng di luar tidak terasa panas karena ditahan oleh insulasi polynum big net yang warna alumuniumnya tampak jelas dari bawah. Untuk menjaga keawetan materi museum, di dalam menggunakan pengudaraan buatan yang agak terasa sepoi-sepoi sesudah siang hari yang panas itu.

deretan bangunan museum

deretan bangunan museum

Di bagian tengah terdapat atrium besar dengan atap polycarbonate transparan yang memajang koleksi batuan. Beberapa macam pahatan dan menhir dipamerkan di sini. Di sisi-sisinya juga ada beberapa ukiran lisplang yang biasa menghiasi rumah tokoh-tokoh adat terkemuka di Nias.

Hari beranjak gelap ketika kami meninggalkan gedung museum. Kami berempat menuju tepi laut yang berwarna lembayung karena senja turun. Tidak ada pantai di sini. Namun uniknya, air laut ini dibendung dengan karang menjadi laguna yang bisa direnangi dengan aman tanpa takut terhempas ombak besar. Rasanya gatal kepengin berendam, tapi kepengin menikmati senja juga.

Jadilah kami hanya berfoto-foto ditemani langit yang perlahan menggelap ditelan warna ungu. Kami menghadap ke arah timur, sehingga tak terlihat bola matahari yang tenggelam ke laut sambil diiringi debur air laut.

Namun keesokan harinya, impian di malam sebelumnya tercapai juga. Sejak mentari mulai menanjak, kami mencemplungkan diri di laguna itu. Tinggi air yang hanya sedada membuat asik hanya untuk cecipratan plus berenang sambil menunggu matahari naik ke angkasa. Di kejauhan tampak kota Gunungsitoli yang memanjang sepanjang pesisir.

pagi di gunungsitoli

pagi di gunungsitoli

laguna yang berbatas karang dan bisa direnangi

laguna yang berbatas karang dan bisa direnangi

gazebo tepi laut

gazebo tepi laut

Semburat warna ungu dan jingga berkejaran di cakrawala lapis demi lapis dengan latar perairan tenang berwarna biru laut. Kapal-kapal mulai bergerak melintasi dalam gerakan lambat di kejauhan.

Ombak menderu berkecipak malu-malu. Posisi perairan di teluk ini membuat tak ada gelombang besar yang mencapai karang-karang pembentuk laguna. Rasanya seperti berenang di laut namun tak di laut. Pasir putih di bawah telapak kaki terlihat jelas dan bersih dari permukaan. Pagi itu, sebelum berangkat ke Pantai Pink di Afulu dan Ture Loto, badan kami sudah basah dibilas laut perairan Nias.

perjalanan 6-7 Juni 2013
ditulis di depok 23 oktober 2013

langsung ke : kecup pantai gawu soyo dan ture loto : ya’ahowu nias #4

Advertisements

8 thoughts on “ketika museum pusaka nias bertemu debur samudera : ya’ahowu nias #3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s