omo niha di keramahan desa tumori : ya’ahowu nias #2

foto cover

Masih ada sebuah rumah di sana
yang tak pernah mengharap seseorang
datang mengunjunginya.
Masih ada dinding-dinding kusam,
ruang bersih terang, jendela-jendela putih
tempat senja berpendaran
dengan rambutnya yang keemasan.
Masih ada si kecil lagi asyik menggambar
pada tembok penuh coretan.
[Ziarah~Joko Pinurbo]

menuju Nias : sebuah mimpi ke nusa seribu gelombang : yaahowu nias #1

Selepas bandara Binaka, bangunan pertama yang kami kunjungi adalah satu rumah adat Nias Tengah yang berada tak jauh dari situ. Rumah oval ini tampak kosong dan pagarnya terkunci. Aku dan Lanny mengambil gambar sementara Java menjelaskan bagian-bagiannya. Sayang sekali, kami tidak dapat masuk untuk menyentuhnya. Java berkata, nanti di desa Tumori yang akan dikunjungi, banyak rumah-rumah adat yang bisa kami lihat, bahkan kami tinggali.

Kami berkendara menyusuri tepian timur pulau Nias. Udara terasa panas menyengat di luar. Jalan raya yang mulus itu hanya selebar 6-7 meter, cukup untuk 2 mobil berpapasan. Jalanan cukup lengang, seperti umumnya jalan-jalan di luar kota. Menurut Java, ketika gempa melanda tahun 2005, jalanan rusak parah sehingga menyulitkan transportasi bahkan untuk menyalurkan bantuan. Adanya bantuan dari banyak pihak membuat jalan menjadi mulus seperti sekarang.
Continue reading

Advertisements

sebuah mimpi ke nusa seribu gelombang : ya’ahowu nias #1

IMG_0948

kalau pernah kamu bertemu dulu, apa yang
kau inginkan nanti? sepi. kalau nanti kau
dapatkan cinta, bagaimana kau tempatkan
waktu? sendiri. bila hari tak lagi berani
munculkan diri, dan kau tinggal untuk
menanti? cari. andai bumi sembunyi saat
kau berlari? mimpi.
[Percakapan Dua Ranting ~ Radhar Panca Dahana]

Yaahowu!
Sapaan halo dari orang Nias apabila bertemu. Bisa juga ini yang membuat imajinasi menari, mengira bahwa pendiri portal Yahoo! pernah berkunjung ke Nias dan memberikan kata sapaan ini pada situsnya. Nias juga terkenal ombak-ombaknya ke seluruh dunia, sehingga menjadi destinasi selancar favorit dari pengendara-pengendara gelombang air top dunia. Surfing, itu istilahnya. Sama dengan istilah yang kemudian populer berarti menjelajah dengan internet. Jangan-jangan, yang mempopulerkan kata itu pun pernah merasakan terpaan gelombang di pantai Sorake di ujung selatan Nias. Barangkali…

Tentu bukan itu yang membuat aku tertarik ke pulau yang berada di tengah samudera seberang barat Sumatera Utara ini. Rumah-rumah tradisional Nias yang disebutkan sebagai salah satu kebudayaan tertua di Indonesia, lokasinya yang berada dari gunung berbukit hingga laut, juga tradisi lompat batunya yang amat terkenal membuatku menetapkan sebagai salah satu tujuan impianku untuk menyusuri jejak-jejak kebudayaan Indonesia. Pulau ini juga pernah menjadi salah satu tujuan ekskursi oleh jurusan Arsitektur UI pada tahun 2000, yang sayangnya tidak kuikuti. Penyesalan itu yang menghantuiku dan bertekad suatu saat harus menjejakkan kaki di sini.
Continue reading

kampung naga dalam uraian uriya

cover
“Tiap orang harus berani mengembara, mematangkan diri, memetik tiap pengalaman menjadi guru, yang akan memberi makna hidup lebih dalam, dan boleh pulang kelak, bila ia sudah cukup paham akan apa arti hidup. Dan itu semua hanya akan diperoleh di tempat yang jauh dari kampung halaman, yang tak pernah punya janji masa depan.”
-Mohammad Sobary

Ini adalah kali keduaku ke Kampung Naga. Hampir tiga tahun yang lalu aku tiba di pemukiman tradisional ini ketika matahari hampir tenggelam sehingga tak banyak menggali tentang tempat ini karena keburu gelap. Saat matahari kembali ke peraduannya, gelap seakan jatuh di desa ini. Tak ada terang lampu yang menengahi rembang petang. Satu dua obor dihidupkan di depan rumah-rumah yang membujur arah timur barat. Suara bedug mesjid besar dipukul tiga kali, diikuti kumandang adzan maghrib tanpa pengeras suara. Angin lembah menyelisip di sela-sela rumah, memberi sedikit gigil pada yang berdiri di luar rumah. Suara tenggerek bersahut-sahutan dari hutan di balik sungai. Merdu seperti berirama khas pedesaan. Satu tempat yang tak jauh dari peradaban kota. Ah, beradab adalah satu makna relatif dalam satu habitat. Tak semua harus mengikuti satu parameter bukan?

Sebenarnya Kampung Naga berada hanya sekitar 30-an km dari kota Garut. Namun karena berada dalam kabupaten Tasikmalaya, maka sering orang tersesat hingga dikira Kampung Naga berada di jalur Garut Tasikmalaya yang melalui Malangbong, satu jalan propinsi di jalur selatan yang populer sebagai alternatif menuju Timur. Padahal Kampung Naga berada di jalur Garut Tasikmalaya via Singaparna, jadi agak ke sebelah baratnya kota Garut menuju selatan. Bila berada di kota Garut, ambillah arah petunjuk jalan yang menuliskan kecamatan Salawu atau Singaparna. Dari terminal Garut juga bisa naik bis 3/4 atau elf yang melaluinya. Jangan khawatir kelewatan, supir atau kenek jalur itu pasti menurunkan di depan gerbang Kampung Naga.
Continue reading

tak cuma ada dodol di garut

CDMA/GSM smartphone 5"

CDMA/GSM smartphone 5″

The Caller: If you have to ask, you’re not ready to know yet.
– Phonebooth [Movie-2002]

Seberapa penting sih smartphone buat kamu? Buat aku yang lebih sering mematikan ponsel ketika bepergian merasa nggak terlalu perlu juga sih. Apalagi kalau pergi ke tempat terpencil yang mungkin sinyal juga tiada. Agak-agak bingung juga apa yang akan aku perbuat ketika aku mendapat Smartfren AndromaxV ketika diundang datang ke acara buka puasa bersama. Iya, setelah beberapa kejadian smartphoneku tidak bisa berfungsi maksimal ketika dibawa jalan-jalan, fitur lain apa yang sebenarnya bisa digunakan?

Dua minggu lalu aku berjalan-jalan ke Kampung Naga Tasikmalaya bersama Bintang, lalu menjemput Lanny dan Fadi dari Jakarta, dan Sanjaya yang datang dari Jogja. Jalur Kampung Naga ini ada di daerah Singaparna yang termasuk dalam Kabupaten Tasikmalaya, namun harus dicapai dengan melalui kota Garut. Kebetulan saat itu Smartfren AndromaxV-nya terbawa, sehingga fitur-fiturnya dicoba oleh diriku yang sebenarnya agak gaptek ini.
Continue reading

terminal : titik silang ganti yang gagal di depok

terminal1

Cab Driver: Where you wanna go?
Viktor Navorski: I am going home.
~ The Terminal [movie-2004]

Dulu, tahun 2002, ketika aku masih rutin sebagai pengguna bis Patas AC 84, hampir setiap hari aku memasuki Terminal Depok. Ketika itu, terminal Depok dibagi menjadi dua, bagian depan dan belakang. Bagian depan untuk tujuan antarkota, bagian belakang untuk tujuan dalam kota. Karena Depok bukan bagian dari Jakarta, maka berbagai bis dari beberapa tujuan terminal di Jakarta akan memasuki terminal Depok di bagian depan. Penumpang yang sampai terminal Depok bisa turun di pelataran terminal kemudian berjalan kaki ke terminal belakang untuk naik kendaraan umum dalam kota Depok ke tempat tujuannya.

Kendaraan umum ini yang biasa disebut angkot, akan keluar melalui pintu terminal yang sebelah utara. Di sini sering terjadi titik macet yang luar biasa. Rute-rute angkot ke arah Depok bagian timur akan berbelok kanan memotong jalur jalan Arif Rahman Hakim untuk menuju persimpangan Ramanda. Sedangkan rute-rute angkot yang ke arah Depok bagian Barat akan berbelok kiri dan langsung dihadang oleh persimpangan kereta KRL yang tertutup hampir setiap 5 menit sekali. Dengan kemacetan ini, orang lebih suka naik angkot di ujung dekat persimpangan kereta, atau yang ke arah Timur akan menunggu di seberang jalan sesudah angkot tersebut menyeberang jalan Arif Rahman Hakim. Praktis fungsi terminal sebagai titik silang ganti gagal karena tidak ada kegiatan menaikkan penumpang di dalam terminal, karena menunggu penumpang akan tertahan lama di dalam angkot untuk berusaha keluar dari terminal.
Continue reading