awal mula yang selalu berputar

Apa yang berubah dari diriku selama empat tahun ini? Yang jelas banyak. Sepertinya aku jadi lebih tenang, tidak sering marah-marah dan lebih menguasai diri. Memang tidak semua hal terjadi tanpa sebab, dan aku tahu ada satu penyebab besar yang membuat ini semua berubah. Terlalu rumit, tak perlu lah diceritakan panjang lebar di sini.

Lalu aku menjadi tergila-gila pada buku. Pada sesuatu yang dinamakan jendela dunia. Pada kata-kata yang membiusku untuk melompat ke dalamnya. Buku-buku yang semula hanya menjadi penghuni rakku, bermain-main di pikiranku, kini menarikku untuk bertualang bersamanya. Iya, benar. Aku harus mulai berjalan untuk menemukan harapan-harapan yang terbaca dari huruf-huruf yang menari itu.

“Hallo Jesse, ikut aku!” seru setumpuk buku Balada si Roy yang menghuni kamarku. Koleksi yang membuatku jatuh cinta pada sosok pemuda bandel yang kukenal sejak masa remajaku. Dulu aku hanya mengaguminya hingga timbul keinginan untuk menapaktilasi perjalanannya hingga ke India, yang rupanya saat ini masih menjadi angan-angan belaka.
Continue reading

Advertisements

kumpul teman dalam kenangan semarang

10418227_10203860254051805_4965597518530738603_n

To attract good fortune, spend a new coin on an old friend, share an old pleasure with a new friend, and lift up the heart of a true friend by writing his name on the wings of a dragon. (Chinese Proverb)

Hampir jam empat pagi ketika aku dan Jay melangkahkan kaki keluar dari stasiun Tawang, Semarang. “Astin mana, In?” tanyanya. Kami berdua baru tiba dari Jakarta sesudah perjalanan selama hampir 6 jam dengan kereta Argo Bromo Anggrek. “Kalau belum datang, kita bisa mancing dulu,” candaku sambil tertawa. Stasiun Tawang adalah salah satu bangunan bersejarah di kota Semarang karena merupakan titik hubung jalur transportasi darat yang menghubungkan barat dan timur. Di depan stasiun terdapat polder besar yang menampung air sebagai waduk penyeimbang agar tidak banjir. Entah bagaimana, setiap musim hujan besar, stasiun ini selalu kebanjiran dan mengakibatkan perjalanan kereta sering terhambat.

“Hei, itu dia si Astin!” seruku melihat sosok sahabatku itu berdiri di samping Taruna merahnya. Aku dan Jay langsung menuju mobil dan memasukkan barang-barang kami ke dalam. “Sendirian, Tin?”

“Iya, nih. Kasihan si Lutfi sepertinya kecapaian habis terbang dari Riau,” sambil menyetir mobilnya keluar dari area stasiun. “Rhea juga dari Surabaya baru sampai rumahku jam 11 malam, pakai nyasar pula,” sambungnya. Aku membuka ponselku. Ada beberapa pesan dari teman-teman dari Jakarta yang sudah tiba lebih dulu dan bergerak ke Masjid Agung Jawa Tengah. Sementara teman-teman dari Bandung masih dalam di dalam kereta Harina menuju Semarang.

Continue reading

mengejar merah di pecinan semarang

cover

If there is beauty in character, there will be harmony in the home. If there is harmony in the home, there will be order in the nation. If there is order in the nation, there will be peace in the world. (Chinese Proverb)

“Aku pernah tinggal lima tahun di kota ini!” begitu selalu kubilang setiap orang bertanya, kenapa aku tahu jalan-jalan kota Semarang. Sejak TK hingga kelas tiga SD, aku tinggal di kawasan Karang Ayu, di Semarang Barat, tak jauh dari bandar udara Ahmad Yani. Masa yang cukup lama tinggal di kota ini, membuatku memiliki banyak kenangan menarik di sini.

Seperti pernah aku baca di beberapa buku sejarah, Semarang adalah salah satu kota pelabuhan yang boleh didarati oleh pedagang dari Cina, selain kota Lasem di sebelah timurnya. Mengawali acara jalan-jalan di kota Semarang untuk mempelajari jejak-jejak Cina di kota ini, bisa diawali dengan mengunjungi Klenteng Sam Poo Kong, yang terletak tak jauh dari Tugu Muda Semarang.

Sewaktu kecil, aku sering diajak ayahku untuk bermain-main di halaman klenteng ini. Aku ingat, dulu aku selalu girang kalau diajak ke Gedung Batu, nama lain dari Klenteng Sam Po Kong. Tempat ini adalah salah satu tempat kenangan masa kecilku. Karena itu, ketika teman-teman dari goodreads Semarang dan Jogja janjian untuk bertemu di klenteng ini pada tahun 2011 lalu, aku senang sekali. Jam 10 pagi terasa panas terik ketika kami mulai berkeliling masuk halaman klenteng ini.

Continue reading

jatuh cinta kepada hijau

Suatu pagi di tengah liburanku di Jogja, aku memilih untuk bersepeda berkeliling daerah tempatku menginap, alih-alih menyusuri kota yang makin ramai. Udara pagi sejuk sisa hujan semalam. Lokasi ini tidak terlalu jauh dari kota, hanya beberapa ratus meter dari ringroad. Banyak hal-hal yang sudah lama tidak kulihat di kota melintas, dan membuatku berpikir banyak. Alangkah hidupnya tempat ini.

sawah
Aku mulai dari meninggalkan kompleks perumahan menemukan persawahan luas membentang. Di sekitar sawah itu selalu terdapat pohon pisang, sementara tepian jalan diteduhi dengan pohon lamtoro. Pelan kukayuh sepedaku, sambil menghirup udara yang masih segar walaupun waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Sawah-sawah yang baru tumbuh beberapa bulan itu seakan menyapa, “Hai, sudah lama kami tidak menyapamu. Ayo turun dan bermain dengan kami.”

sawah di godean, sleman.

sawah di godean, sleman.

Sudah lama aku tidak melihat sawah kecuali dalam perjalanan ke luar kota. Di Jakarta sudah tidak ada sawah lagi yang ditemukan. Daerah penyangganya seperti Bekasi dan Karawang, yang dulu dikenal sebagai lumbung padi, sudah berganti wujud sebagai ladang industri, yang memerah jengkal lahannya menjadi berpenghasilan berkali lipat yang masuk kantong pengusaha.
Continue reading