wayang, upaya memperkuat nilai-nilai luhur bangsa

IMG_2994 

Sehabis lesat pasopati, senja datang tergesa, perang terhenti. Seorang ibu meraihmu dalam gugu yang nyeri. Gelombang rindu tak sampai-sampai. Betapapun telah deras berbadai-badai hujan di batinnya, untukmu Karna cukuplah kiranya gerimis wangi ini. Kami dilarang menangisi.‪ #‎karnatandhing_020315‬

Di panggung Mahakarya Indonesia, Nanang Hape mengangkat Karna di tangannya, si ksatria dari Hastina yang dipisahkan dengan kelima saudara-saudaranya Pandawa Lima, dan terpaksa bertarung melawan mereka karena setianya pada sang guru, Duryudana. Lelaki ini, yang berusaha untuk bercerita tentang wayang untuk generasi muda yang sudah mulai melupakan kebiasaan-kebiasaan lama ini.

Aku ingat dulu sewaktu kecil, sering ada pertunjukan wayang kulit di kampung kakekku yang dipentaskan hingga semalam suntuk. Waktu itu aku tidak banyak tahu tentang cerita-cerita ini, tapi pelajaran bahasa Jawa berhasil membuatku penasaran untuk mengetahui lebih banyak kisah-kisah mereka. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Gatotkaca, putera Bima yang perkasa, atau keanggunan Abimanyu yang mewarisi ketampanan Arjuna dan cantiknya Dewi Subadra. Mulailah aku banyak membaca tentang kisah-kisah Pandawa Lima yang semua berakhir dengan perang besar di Kurusetra.

Meski selalu mengetahui bahwa Pandawa menang melawan Kurawa, tidak pernah menyurutkan minat untuk membaca cerita-cerita pendek tentang keteladanan hidup yang diajarkan lewat tokoh-tokoh wayang ini. Lama kelamaan aku tertarik dengan wayang kulit yang merupakan satu bentuk penceritaan yang halus, dengan bahasa setara lantunan lagu. Dalang yang memperlakukan layarnya seperti rumah, akan menjajarkan tokoh-tokohnya dari samping untuk dikeluarkan satu-satu, diawali dan diakhiri dengan gunungan.

“Meskipun cerita wayang sering digambarkan hitam putih, namun sebenarnya ada alasan yang menjadikan perwatakan itu. Misalnya Rahwana yang selalu mengejar-ngejar Sinta, padahal ia sudah tahu kodratnya sebagai raksasa tak mungkin mendapatkan bidadari,” jelas mas Nanang, si  dalang. Mas JJ Rizal yang juga hadir sebagai pembicara menambahkan, “Wayang kulit itu ada dua sisi, kan? Sisi yang menghadap penonton, dan sisi yang menghadap dalang. Jadi tidak semua kisah itu hitam putih.”

Nilai keluhuran bangsa Indonesia berupa kerendahan hati dan kesabaran bisa dilihat dari tokoh Bima, si tokoh gagah perkasa yang tidak pernah menyombongkan kekuatannya, tidak banyak bicara, namun berani maju di medan laga mengayunkan gadanya. Tokoh Karna, yang berada di sisi lawan menunjukkan nilai kegigihan untuk bertarung sampai titik penghabisan, gugur di anak panah pasopati Arjuna, ksatria yang ia tantang juga untuk memperebutkan Drupadi. Selama berhari-hari, Pandawa Lima bekerja sama untuk memenangkan perang di padang Kurusetra ini.

Mahakarya Indonesia berusaha memperkenalkan nilai-nilai bangsa, yang seharusnya senantiasa dimiliki oleh putera puteri generasi muda. Cerita wayang yang menjadi salah satu kekayaan budaya bangsa menjadi satu warisan istimewa yang bisa terus dipupuk untuk keluhuran nilai-nilai yang tertanam kuat.

karakter-karakter wayang yang dijelaskan Nanang Hape

karakter-karakter wayang yang dijelaskan Nanang Hape

Generasi muda yang belajar mendalang, semangat mas cumi!

Generasi muda yang belajar mendalang, semangat mas cumi!

Wayang kulit, warisan bangsa

Wayang kulit, warisan bangsa

Tulisan ini diikutsertakan dalam Live Writing Competition – Maha Karya Indonesia – Jiwa Indonesia

Advertisements

7 thoughts on “wayang, upaya memperkuat nilai-nilai luhur bangsa

  1. sutiknyo says:

    KARNA, adalah ksatria idolaku di tokoh pewayangan. Terlahir dengan nama Basusena sering pula dijuluki sutaputra yang berarti anak kusir. Putra dari batara surya yang di buang kesungai oleh ibunya sendiri, sampai ditemukan oleh Adirata sang kusir kereta. Sayembara untuk memperistri draupadi yang jelas2 sudah ia menangkan pun di tolak mentah2 karena Karna berasal dari Kasta rendahan. Tapi siapa sangka akhirnya ia muncul sebagai ksatria di medan laga. Duh kangen nonton wayang lagi

    • indrijuwono says:

      Karna juga favoritku, punya kemampuan sama dengan Arjuna, juga diam-diam dicintai Drupadi. Lahir dari telinga dewi Kunti, ia belajar ilmu sangat ahli sehingga menyamai ilmu-ilmu Pandawa Lima. Ia ksatria yang sangat tegar…

  2. Gara says:

    Saya cuma sempat mencicipi wayang saat saya masih kecil, tatkala saya belum mengerti bahasa Bali yang digunakan di pewayangan. Setelah agak besar baru bisa nonton wayang, tapi juga wayang komedi, yang ketawa terus dari awal sampai akhir :haha.
    Membaca tulisan ini membuat saya kangen dengan lelucon para punakawan dan ketakjuban sang dalang mengubah suara. Seru!
    Tentang Karna… kadang saya merasa hidup terlalu kejam untuk putra sang fajar ini. Ah, tapi sebagaimana kata Mas JJ Rizal, wayang punya dua sisi, jadi mungkin saya belum tahu bagaimana sisi sebelahnya…

    • indrijuwono says:

      aku suka banget cerita-cerita pewayangan, yang banyak kudapatkan dari… buku.
      buatku yang orang jawa juga aku nggak terlalu ngerti bahasanya, tapi setelah gede teman-teman di kantor kok banyak yang suka wayang ya, hehe..

      • Gara says:

        Mungkin karena bagi sebagian orang, wayang dianggap kuno, konsumsi orang tua, dan tidak bisa terpadu dengan kemajuan teknologi dan budaya modern, karena anggapan kekunoannya? :)).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s