semarang dalam cerita semarjawi

cover-semarjawi-semarang

@semarjawi: Dear Bebs, FYI, besok pagi muter reguler #Semarjawi di-close dl ya. Soalnya besok dicarter Bebeb² dr @TravelNBlogID

Grenggg… Bis merah bertingkat itu meninggalkan halaman Taman Srigunting, Gereja Blenduk. Warna yang kontras dengan lingkungan sekitarnya ini menjadikan bis ini menjadi ikon menarik ketika melalui jalan-jalan di kota Semarang. Matahari jam sembilan pagi di kota Semarang bersinar cerah sekali di atas kota atlas ini, tapi seluruh peserta #TravelNBlog 3 yang sudah mengikuti workshop sehari sebelumnya tetap bersemangat untuk naik bis istimewa ini. Untung Lestari, adek ketemu gede yang tinggal di Semarang sampai di titik awal tepat waktu, sehingga tidak ketinggalan.

Iya, istimewa dong! Seingatku, Semarang sudah lama tidak punya bis tingkat. Dulu memang sewaktu aku masih kecil masih sering nail bis tingkat dari jalan Pemuda hingga Simpang Lima, tapi beberapa kali aku pulang atau lewat kota ini, bis-bis itu sudah tidak beroperasi lagi. Kabarnya sih dipindahkan ke Solo, tapi sekarang pun entah masih beroperasi atau tidak. Jadi, keberadaan Semarjawi ini istimewa, karena bentuknya bis tingkat. Serunya lagi, bis ini akan membawa jalan-jalan keliling kota lama Semarang, dan kita bisa melihat dan belajar sekaligus tentang sejarah kota Semarang di masa lalu, yang peninggalannya tersebar di satu jalur tertentu. Lebih asyik lagi, bis ini tidak menggunakan pengudaraan buatan, melainkan alami karena sisi-sisinya yang terbuka, bahkan atapnya pun terbuka! Menyenangkan sekali melewatkan satu jam dengan naik moda transportasi ini.
Continue reading

Advertisements

ke mana air ciliwung mengalir?

jakarta-river-ciliwung-aryaduta

Sungai menjadi jalan pulangnya ke rumah tak berwadak, tapi ia selalu tahu di mana harus mengetuk pintu
― Dee, Supernova: Akar

Setiap musim hujan dan air mulai menggenangi Jakarta, ada tiga tempat yang selalu dipantengi status airnya oleh warga Jakatra. Pertama adalah Bendungan Katulampa di Bogor, Pintu Air Ratujaya Depok, dan Pintu Air Manggarai. Ketiga tempat itu dialiri oleh Sungai Ciliwung, yang bermata air di Gunung Gede. Ketinggian muka air di tempat-tempat itu selalu menjadi informasi siaga banjir di Jakarta. Jika tinggi muka air di Bendungan Katulampa sudah tinggi, siap-siaplah yang berada di hilir untuk menerima limpahan air dengan debit tinggi walaupun volume sungai di Jakarta tidak memenuhi. Akibatnya air meluap dan terjadilah banjir langganan di beberapa titik.

Kemudian musim hujan menjadi akrab dengan terminologi ‘banjir kiriman’. Kabupaten Bogor menjadi kambing hitam sebagai titik hulu sungai yang bercurah hujan tinggi, dan mengalirkan air dalam jumlah besar dalam satu musim dan membanjiri Jakarta. Pembangunan-pembangunan di kawasan Bogor, Puncak, Cianjur, atau dikenal sebagai Bopunjur dituding menjadi biang keladi kurangnya penyerapan air ke dalam tanah. Air yang seharusnya ditampung oleh akar-akar pepohonan tidak menemukan peresapnya dan berlalu saja ke sungai, dan menaikkan debit air di aliran sungai.

Lalu siapa yang harus disalahkan?
Pengembang? Pemerintah? Arsitek?
Tentu, pelaku konstruksilah yang paling sering dimintai tanggung jawab.

Continue reading

itinerary : flores flow

flores-udara

Jika mendadak punya tiket promo ke Denpasar dengan selang waktu pulang pergi 9 hari, maka Overland Flores, melintas jalur darat bisa diperhitungkan. Rencanakan berangkat Sabtu pagi dan pulang Minggu di pekan selanjutnya. Alam Flores yang berubah-ubah dari hijau, ke tandus, dan hijau basah, di tengah sinar matahari yang berlimpah, memberikan pengalaman harian yang senantiasa berubah, naik turun, menggeliat, mengelabui ilusi.

Hari 1: Denpasar – Ende – Moni
Pilih penerbangan Denpasar-Ende atau Denpasar-Maumere untuk menuju destinasi pertama, Moni. Penerbangan dilayani oleh Wings Air atau Trans Nusa dengan pesawat ATR baling-baling. Ambil jadwal siang sehingga sampai di bandara tak lebih dari jam 5 sore. Tak usah terburu-buru booking tiket karena harga tiket 4 bulan, 2 bulan, bahkan 2 hari sebelum terbang relatif tak jauh beda, sekali jalan. Trans Nusa lebih murah, namun harus ditanya kepastian terbangnya. Jika tiba di Maumere, bisa naik bis menuju Moni, sementara jika memilih tiba di Ende, naik mobil sewaan ke terminal, lalu naik omprengan sampai Moni. Desa peristirahatan ini terletak di antara Ende dan Maumere.
Continue reading

flores flow #13 : tentang laut, kapal, dan hati

1-labuan bajo-harbour

dan orang-orang yang turun dari perahu
membayangkan suatu kerajaan ringkik kuda
di lembah-lembah perbukitan
~ Sapardi Djoko Damono

Berlayar dari Labuan Bajo? Susuri jalan sepanjang tepian laut dan temukan banyak tawaran menggoda dari berbagai agen yang membuka jasanya. Mau kapal phinisi, kapal besar, kapal kecil, tergantung berapa jumlah rekan yang kamu bawa. Ingin berenang, snorkeling, diving, atau hanya berbaring-baring saja di geladak kapal, semua bisa disediakan.

Jalur pelayaran juga beraneka ragam. Jika punya waktu satu hari, bisa ke Pulau Rinca saja atau pulau Komodo saja. Dua hari satu malam, bisa mampir ke kedua pulau habitat kadal raksasa Komodo itu. Tambah satu hari lagi, bisa mampir Pulau Padar yang lengkungannya indah. Titik snorkeling dan diving yang menarik juga akan ditunjukkan oleh pemandu-pemandunya.
Continue reading

flores flow #12 : bukit-bukit kering pulau rinca-komodo

rinca-11

If the bite doesn’t kill the prey outright, the venom will.

Matahari bersinar cukup terik ketika kami tiba di Pulau Rinca, yang termasuk dalam pengelolaan Taman Nasional Pulau Komodo. Dermaga Pulau Rinca hanya berisi empat perahu berukuran sedang. Mungkin sudah sejak pagi turis-turis ini tiba, sehingga menjelang jam 11 begini sudah tidak terlalu ramai. Menyusuri dermaga hingga ke pintu gerbang, ternyata tak ada satu pun ranger yang menyambut di situ. Lho, bagaimana ini? Tapi ada jalan setapak yang bagus ke arah kanan. Bersama dua pasang turis, kami menyusuri perkerasan jalan setapak itu, hingga bertemu gerbang dan satu padang besar kosong di mana jalan setapak ini seperti melayang di atasnya. Sequence yang indah sebagai jalan masuk!

Perbukitan berwarna keemasan terhampar di depan mata. Musim kemarau yang lambat berakhir di sini hanya menyisakan sedikit kehijauan pada pohon-pohon. Langit biru yang membentang di angkasa memberikan kontras ditengarai gugusan mega. Berjalan di tengah padang itu, di ujungnya baru ditemui kantor-kantor pengelola Taman Nasional ini.
Continue reading

flores flow #11 : seputar lingkar sawah cancar

spider-web-rice-flores-1

“Nanti jalan terus saja, lalu naik bukit, dari atas sana bisa melihat sawah berbentuk jaring laba-laba,” pesan Pak Supir Harapan Bersama sebelum aku turun.

Hari panas terik.
Di pertigaan banyak orang-orang yang menawarkan jasa ojek menuju bukit.
Aku tetap berjalan dengan ransel 40 liter di punggung dan daypack di dada.
Matahari masih bersinar dengan garang.

    But you already here. Ingat dong perjuangan kamu tadi pagi hingga tiba di sini.

Sebelum belokan ke kiri, aku sudah melihat bukit. Kuikuti saja di mana lembahnya sehingga aku bisa mulai menapaki. Rumah-rumah di kiri dan kanan. Anak sekolah yang berjalan ringan di depanku. Kukejar.
Continue reading

flores flow #10 : pulang dari wae rebo naik apa?

bis 8-tampak samping

because he had no place he could stay in without getting tired of it and because there was nowhere to go but everywhere, keep rolling under the stars…
― Jack Kerouac, On the Road

Aku merogoh daypack hijauku sambil memastikan apakah semua peralatan elektronik yang semalam sempat di-charge di rumah Pak Blasius Monta sebelum genset mati sudah kubawa semua. Otokol yang meninggalkan desa Denge satu jam yang lalu masih terguncang-guncang di jalanan berbatu. Udara dini hari yang dingin menghembus dari samping. Hutan-hutan yang dilewati pun masih menyiratkan sepi.

Glek!
Mana charger kameraku? Lalu bagaimana aku memotret dalam tiga hari mendatang? Aku mulai sedikit panik (namun dalam hati panik beneran). Sementara waktu masih menunjukkan jam 4 pagi, hari masih gelap, dan kami semua masih di jalan antara Denge menuju Ruteng, in the middle of nowhere, tidak tahu di mana tepatnya kami berada.

Charger kameraku nggak ada…”
“Kemarin di meja tempat nge-charge iPad dan handphone, sudah kuambil semua.”
“Iya, tapi charger-nya ada di ujung dekat pintu, sedang mengisi baterai cadangan, yang satu sudah kumasukkan di kamera, satu lagi ku-charge.”
Continue reading

flores flow #9 : anak-anak wae rebo

anak-anak-wae-rebo-8-j

Lihatlah wajah-wajah polos mereka dengan ingus yang beleleran asyik bermain di pelataran tanpa beban, mengingatkan pada masa kecil yang pernah kau punya. Ketika jungkir walik tak karuan tak mendapat teguran, ketika berdekatan dengan lawan jenis tak meninggalkan kesan. Bahkan juga ketika tak berbaju pun dianggap wajar.

Ingatlah kepada masa di mana rasa ingin tahu selalu menebal, melihat orang baru tanpa rasa gentar, memperkenalkan diri merasa selalu benar. Menari tanpa aturan mengikuti suara hati, melintasi padang sambil berlari, tak malu jika badan masih bau karena belum mandi.
Continue reading