traveloka : melekatkan sahabat

image

They say nothing lasts forever…
…dreams change, trends come and go, but friendships never go out of style.
~ Carrie Bradshaw, Sex & The City

Bagaimana rasanya punya sahabat karib yang senantiasa bersama selama bertahun-tahun? Kami berenam hingga sekarang masih suka berbagi canda dan tawa. Aku, Despin, Iin, Tiwi, Vina, dan Selvie sudah bersahabat hampir dua dekade. Aneka kegembiraan dan cobaan tentu kami lalui bersama. Dulu kami sama-sama sering menginap di rumah Tiwi untuk mengerjakan tugas kuliah, mengikuti Kerja Sosial menginap di tenda peleton berhari-hari, saling dukung jika salah dua (mungkin salah tiga) dari kami tidak lulus studio arsitektur di semester.

Kegiatan selain kuliah kami tidak sama, tapi entah kenapa kami merasa cocok satu sama lain. Mungkin inilah yang namanya chemistry persahabatan. Iin dan Tiwi tidak mengganggu ketika aku dan Despin asyik nongkrong di kegiatan kecintaalaman. Kami tetap suka menunggu Vina yang sempat kuliah dobel di fakultas sebelah. Dan Selvie yang rajin sering membantu tugas-tugas kami yang studionya tertinggal dua semester (termasuk aku tentunya). Mungkin satu-satunya hobi kami yang menyatukan benar adalah kecintaan kami pada buku. Kami selalu mampir ke toko buku, atau menghabiskan waktu membuka-buka koleksi Iin.
Continue reading

Advertisements

menjelajah eropa lewat @EuropeOnScreen

europe-on-screen-ticket

The whole of life is just like watching a film. Only it’s as though you always get in ten minutes after the big picture has started, and no-one will tell you the plot, so you have to work it out all yourself from the clues.
― Terry Pratchett, Moving Pictures

Gelaran Europe on Screen atau Festival Film Eropa baru saja usai dan menyisakan pengalaman-pengalaman menjelajah visual lewat mata dan layar lebar. Film memang sering membangkitkan keinginan terpendam untuk mengunjungi tempat-tempat yang disinemakan. Dalam beberapa kali perjalananku pun lebih kurang terinspirasi oleh film. Walau pun tak meniatkan dengan betul, ternyata film-film yang kutonton di Festival ini adalah film traveling tentang ruang, kota, dan kekhasan lokal di daerah-daerahnya.

Kalau ditanya oleh teman, kenapa harus menonton di Festival? Bukankah unduhannya banyak tersedia di internet? Alasanku sebenarnya sederhana, film-film Eropa banyak yang tidak masuk di jaringan besar bioskop di Indonesia. Dan ketika ada kesempatan untuk menontonnya sambil mengintip isi beberapa Pusat Kebudayaan di Jakarta, kenapa tidak? Bangunan-bangunan ini punya fasilitas audio visual yang cukup menarik, selain pengalaman serasa memasuki area negara itu sendiri.
Continue reading

gramedia central park : guilty pleasure

cover-logo-gramedia

Books loved anyone who opened them, they gave you security and friendship and didn’t ask for anything in return; they never went away, never, not even when you treated them badly.
― Cornelia Funke, Inkheart

Aku tercenung mendengar penjelasan mas Adit di Restoran Penang Bistro Central Park siang itu di acara peluncuran Gramedia Konsep Baru, Inspirasi yang Menghidupkan Ide Kamu. Gramedia Central Park tak lagi menjadi Toko Buku Gramedia, melainkan berubah konsep menjadi Toko Gramedia. Zaman yang telah berubah membuat gaya hidup masyarakat pun berubah. Gramedia kini tak lagi sekadar toko buku, namun juga mengembangkan suasana yang mendukung untuk menarik pengunjung lebih banyak lagi. Isi Gramedia pun dibuat selain menarik pembeli buku, juga produk-produk lain yang berkaitan dengan buku.

Dulu aku pernah membaca satu cerita di majalah Bobo, tentang seseorang yang membuka usahanya dengan menjual buku. Lama-lama ia juga menjual alat-alat tulis, keperluan lain-lain, hingga tokonya penuh dan jarang menjual buku. Pada suatu hari datanglah seseorang ke toko buku itu dan menanyakan satu buku tertentu. Penjualnya mengatakan ia tidak menjual buku itu, sehingga pengunjung tadi mempertanyakan, kenapa ia masih menamakan tokonya toko buku?

Cerita ini begitu kuat ada di benakku sampai-sampai langsung terlintas di pikiranku ketika Toko Buku Gramedia akan berubah konsep menjadi Toko Gramedia. Akankah nasibnya menjadi seperti ini? Pikiranku menjadi semacam tidak rela mendengar toko ini menjual panci di samping buku memasak, atau sepeda di samping buku-buku olahraga.
Continue reading

lima tahun tindak tanduk arsitek

cover-tindak-tanduk-arsitek

Katanya angka lima ataupun kelipatan lima itu mudah diingat. Lima dikali dua menjadi sepuluh, dan kelipatannya banyak dijadikan angka nominal yang berulang di mata uang. Lima menjadi setengah dari sepuluh, yang menjadi angka sempurna. Peringkat pun dihitung sampai lima besar. Masa emas anak-anak dan harus dipantau tumbuh kembangnya, lima tahun, ditandai dengan program posyandu dan balita. Maka dari itu, sebagai media tulis pribadi, blog yang ternyata mencapai angka lima tahun ini, dengan 160 post, ratusan komentar dan puluhan ribu pengunjung, sebenarnya masih harus belajar banyak lagi dari blog-blog yang lebih konsisten.

Awalnya membuat blog ini untuk menampung kegemaranku me-review. Karena sebelumnya aku suka sekali me-review buku di goodreads, berkaitan dengan profesiku, kenapa tidak aku mencoba me-review bangunan bukan seperti tulisan ala majalah, tapi lebih ke opini pribadi dan pendekatan personal. Karena itu yang menarik dari blog, pribadinya itu, ala-ala Indri begitu. Maka lahirlah Tindak Tanduk Arsitek ini. Meluas ke opini tentang ruang kota dan kegiatannya, juga transportasi umum yang menjadi moda berpindah sehari-hari, aku menemukan passion untuk menulis tentang hal-hal yang memang menarik perhatianku ini, karena bertahun-tahun aku pelajari.
Continue reading

Koran Tempo : Menyusuri Jejak Budaya Lasem

DSC_5240

Minggu pagi itu, sambil memandangi pegunungan Gede Pangrango dan pegunungan Salak dari sudut-sudut hotel 101 Suryakancana Bogor, aku membaca Koran Tempo sambil menyesap teh hangat sesudah berenang pagi, dan menemukan salah satu artikelku tentang Lasem, dimuat di harian ini. Sudah dua minggu berlalu, sekarang aku akan berbagi yang aku ceritakan tentang Lasem.

Sejarah terulur begitu panjang di kota kecil ini.
Kebiasaan baru yang muncul masih beraroma kultural.

Panas menggigit menerpa kulit kami begitu turun dari bis AC, padahal belum lagi tengah hari. Tapi tak ada waktu untuk berkeluh-kesah, karena penjelajahan di Kota Lasem ini segera kami mulai. Tujuan pertama sudah ditetapkan: Rumah Candu Lawang Amba!

Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, persis menempel di pesisir Pantai Utara Jawa Tengah. Posisi geografis itulah sumber suhu menyengat yang kami rasakan kini. Apa yang menarik dari kota tua yang selama ini hanya menjadi perlintasan jalur Semarang-Surabaya ini? Sebagai titik pendaratan orang Cina dalam penjelajahannya ke tanah Jawa, ratusan tahun silam, tentu banyak jejak sejarah yang layak dinikmati. Dan itulah alasan kami, saya dan beberapa orang teman, menyambangi Lasem.

Belakangan kota ini juga mendapat julukan Little Tiongkok, barangkali karena pemukiman bergaya Cina banyak tersebar di wilayah ini. Salah satunya, Rumah Candu Lawang Amba. Tentu saja dari namanya sudah dipahami, rumah ini dulu menjadi salah satu titik persebaran candu alias opium ke pelbagai penjuru Jawa. Dan itu memang terlihat dari sebuah lubang di belakang runah yang langsung menerus ke Sungai Lasem. Dari lubang itulah candu dikirim. “Rumah ini dulu milik Kapten Liem,” jelas Pak Gandor, salah satu pemuka masyarakat Tionghoa yang menemani kami.
Continue reading

9 trik (tidak) tersesat di Lasem

0-cover-rumah-candu-lasem[1]

“Sudah sampai mana?”
“Baru lepas Terboyo 5 menit yang lalu.”

Jam 6 pagi itu, ketika matahari baru beranjak naik ke angkasa, bersama dengan orang-orang berangkat bekerja, dan anak-anak belasan tahun berangkat ke sekolah, alih-alih kembali ke Jakarta, aku malah melanjutkan akhir pekan di Semarang dengan melanjutkan perjalanan ke jalur Pantura Jawa Tengah. Ghana menjemputku jam 5 pagi di Semarang dan menitipkan motor di stasiun, kemudian lanjut ke terminal Terboyo. Drama pertama pagi ini, kami salah naik bis. Ternyata bis yang kami naiki tidak ke terminal, melainkan tujuan Salatiga! Untunglah kemarin aku baru mengantar kak Tekno Bolang ke terminal ini, jadi langsung menyadari begitu bisnya beda arah.

 

Pastikan bis yang kamu naiki tujuannya benar.

“Duh, Ghana. Untung kamu bareng aku pagi ini. Coba aku berangkat duluan semalam, pasti kamu nggak sampai-sampai.”
“Emm, aku biasa nyasar gitu kok, Mbak,” kilah mahasiswa yang membolos pagi itu. Tidak heran, nama blog-nya saja lostinparadise.web.id. Rupanya nyasar memang salah satu kurikulumnya.
Continue reading