ramadhan itu istimewa

masjid istiqlal

Malam ini, seperti kebiasaanku di tahun-tahun sebelumnya sejak 12 tahun yang lalu mengadu nasib di ibukota, aku pulang terburu-buru untuk menunaikan ibadah sholat tarawih pertama bersama keluarga. Buatku pribadi, sholat tarawih pertama menjadi penting sebagai penanda masuknya bulan Ramadhan yang menjadi bulan yang istimewa.

Sejak pertama kali diperkenalkan dengan bulan Ramadhan sewaktu kecil, aku merasa bulan ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya sepanjang tahun. Pikiran anak kecil yang sederhana ini hanyalah kalau bulan puasa, mama tak akan ribut menyuruh aku makan (itulah kenapa badanku kecil). Setiap sore selalu ada penganan dan minuman segar lezat yang dihidangkan. Kami sekeluarga akan menunggu adzan magrib untuk berbuka bersama dan sholat magrib bersama-sama. Lalu aku akan bergerombol dengan teman-teman menuju masjid untuk (niatnya) sholat isya dan tarawih, walaupun kadang lebih sering bermain-main ketika orang dewasa sholat, dan hanya menghampiri penceramah untuk meminta tanda tangan dan cap masjid. Jika tidak lengkap, bisa-bisa nilai agamaku jatuh.

Yang lebih istimewa dari bulan puasa ini, biasanya sekolah libur 1-2 minggu. Jadi puaslah aku bangun siang setiap hari sesudah terkantuk-kantuk bangun sahur, makan banyak, menunggu waktu subuh, hingga tertidur lagi sampai jam delapan pagi. Sekitar jam sepuluh aku mengikuti kegiatan pesantren kilat di masjid sekitar. Apalagi jika waktunya pulang kampung, ke Tulung Agung atau Cirebon, banyak aktivitas khas daerah yang bisa diikuti di sana.

Ketika menginjak bangku kuliah, perlahan bulan puasa mulai menjadi tidak istimewa. Ini dimulai dengan jadwal kuliah yang sama sekali tak berubah, dan tugas-tugas menumpuk yang tetap harus diselesaikan. Kadang-kadang teman-teman ngabuburit dengan mengajak jogging keliling stadion, dengan harapan selesai olahraga tibalah waktu berbuka. Di masa-masa inilah aku mulai jarang pulang untuk berbuka, lebih sering berkumpul dengan teman-teman, dan tak lagi sempat mencicipi kolak buatan mama. Apalagi tak lagi ada kewajiban mengumpulkan tanda tangan penceramah tarawih, sehingga sholat sunnah ini juga kerap kutinggalkan.

Aku sempat mengikuti kegiatan penelitian ke pemukiman transmigrasi di Lampung yang berlangsung saat bulan puasa. Sebenarnya hanya survey, namun karena jarak antar rumah yang kami ambil datanya cukup jauh satu sama lain, dan dengan sinar matahari Lampung yang terik, sehingga kegiatan ini cukup menguras tenaga. Saat itu aku merasakan berpuasa di kampung orang, dengan makanan secukupnya untuk buka maupun sahur. Rasanya tak beda dengan penelitian sehari-hari, cuma ini harus menahan lapar saja.

Apalagi, sahabat-sahabatku yang lima orang itu semuanya non muslim, sehingga kadang aku ikut menemani mereka makan sementara aku tetap berpuasa. Bukan, mereka tidak akan mengajakku membatalkan puasa atau menghormati mereka yang tak berpuasa, namun tenggang rasa sewajarnya. Di kala lain, ketika mereka sedang beribadah dengan agamanya masing-masing pun kami tak saling ganggu.

Di masa-masa kuliah, ada banyak kegiatan yang tetap berjalan sebagaimana biasa walaupun di bulan Ramadhan. Tugas-tugas yang sering membuatku tidak tidur tiga hari pun tidak punya dispensasi apabila waktunya presentasi. Selain kegiatan musik dan lalala, di Senat Mahasiswa pun semua kegiatan kepanitiaan tetap berjalan. Bahkan aku sempat membuat pooling tentang Kerja Sosial (acara rutinnya Fakultas Teknik) tentang tetap menyelenggarakan Kersos yang menguras fisik di bulan Ramadhan. Bayangkan, kalau begini, apa beda Ramadhan dengan bulan-bulan lain? Bagaimana aku menganggapnya istimewa?

Ketika mulai bekerja, mulai terasa lelahnya. Jika dulu sewaktu kuliah jika ingin buka di rumah aku tinggal pulang sore dan makan penganan, ketika berkantor di Jakarta, bagaimana bisa sampai cepat di rumah? (catatan : Depok dan Jakarta timur itu beda propinsi). Jam kerja yang tak berubah, mendengar adzan magrib dari bus yang berdesakan, di mana aku berhimpitan di dalam, beringsut-ingsut membuka ta’jil dua tiga kue, dan segelas air mineral untuk membatalkan puasa. Belum lagi cerita mengantuknya di pagi hari karena tidur malam terpotong waktu sahur.

Tapi mau bagaimana lagi? Hingga bertahun-tahun kemudian di beberapa kantor tempat aku bekerja tidak pernah menjadikan bulan Ramadhan ini istimewa. Jam kerja tidak berubah, kesibukan tetap berjalan, dan tetap berlarian mengejar kereta atau bis untuk berdesakan di dalamnya tepat ketika adzan magrib berkumandang. Aku tak pernah lagi menonton kultum ataupun sekadar melihat iklan sirup yang marak ditayangkan. Seberapa istimewa aku menyambutnya dengan tarawih perdana, selanjutnya akan kembali lagi ke aktivitas biasa. Bahkan dua tahun terakhir ini, aku tetap traveling di bulan puasa, dengan kegiatan yang sama, bedanya cuma tidak makan di siang harinya saja.

Minggu lalu satu klienku yang berasal dari Tiongkok dan muslim bertanya, “Are there any holiday for you during Ramadhan?” Aku menjawab tidak. Anak sekolah mungkin iya, tapi pekerja kantoran tidak. Kami harus tetap menjalankan pekerjaan kami, begitu jawabku. Ia terkejut dan bercerita bahwa ia mengambil cuti liburan satu bulan untuk pulang ke Tiongkok dan berkonsentrasi ibadah di bulan Ramadhan. Wah, tentu saja aku iri mendengarnya.

Tentu saja sesudah ditempa berpuasa setiap tahun, tidak membuat diri menjadi manja. Jika ia bisa membuat bulan puasanya istimewa, kenapa aku tidak? Karena itu aku masih mengejar untuk sholat tarawih di rumah, untuk merasakan pengalaman waktu yang cuma setahun sekali itu. Tetap bekerja, menunaikan ilmu pengetahuan, dan mengatur waktu pulang. Ya, aku sudah tak terikat lagi oleh yang mesin absen yang bisa memotong gajimu tanpa sadar. Mungkin Allah memberi kesempatan untukku tetap berkarya dan mengistimewakan Ramadhan. Bulan ketika kita lebih mengekang hawa nafsu dan menahan diri dari emosi. Tidak mempersulit diri supaya tidak juga melelahkan hati.

Tahun ini, aku memutuskan untuk melewatkan Ramadhan di kantor dan di rumah. Membantu mama menyiapkan sahur, merencanakan untuk memasak menu-menu baru untuk berbuka (yes, tadi siang berhasil menemukan resep pindang patin palembang), belajar mengaji lagi, dan tidak merencanakan traveling. Tahun ini aku kembali ingin mengistimewakan Ramadhan seperti masa aku kecil dulu, menjadikannya bulan yang berarti. Seperti senyum ceriaku waktu kecil dulu, kali ini harus tetap tersenyum, untuk keikhlasan (atas kehilangan-kehilangan yang sudah lewat). Melepas semua pikiran-pikiran buruk, dan menenangkan hati, seperti perasaan nyaman ketika menunaikan ibadah di masjid. Ramadhan ini ingin dinikmati tanpa banyak ambisi, dengan sederhana dan tentu, istimewa.

Bila diumpamakan dengan ruang, Ramadhan adalah dimensi waktu, di mana semua yang baik-baik semestinya hadir. Dan memang seharusnya sepanjang waktu sehingga tak lagi hal-hal negatif muncul. Tapi memang hidup perlu keseimbangan.

Selamat berpuasa bagi yang menjalankan juga. Damai, ya.
1 Ramadhan 1436 H

Advertisements

27 thoughts on “ramadhan itu istimewa

  1. Gara says:

    Buat saya yang tidak berpuasa pun, Ramadhan juga memberi makna berbeda di masa-masa kecil itu. Yah, bentuknya sih makan sembunyi-sembunyi dan bisa tidur sepuasnya karena kalau libur kan, kita juga ikutan libur :hehe. Selain itu, bulan puasa berarti kerja ekstra karena membantu bunda yang berjualan di pasar. Oke, diklat sebagai kasir berarti siap dengan sepuluh tangan demi memberi uang kembalian :haha.
    Buat sekarang, mungkin saya harus bersyukur masih bisa ketemu dengan Ramadhan. Soalnya masih dikasih kesempatan lagi buat merasakan mudik, meski tentu menghabiskan libur dengan keluarga masih menjadi impian (hah, kapan masa kecil itu akan terulang lagi?). Satu hal yang pasti, Ramadhan selalu punya kenangan untuk setiap orang!

    Selamat menunaikan ibadah puasa, Mbak!

  2. semberani rental (@rentmobil_jogja) says:

    Bagus sekali artikelnya mbak…amat menyentuh, bener. Ramadhan istimewa.. sulit ya menjadikannya istimewa jika kita terlalu mengejar aktivitas duniawi (karena tuntutan atau deadline pekerjaan juga siih). Tapi semoga ada masa itu..masa di mana Ramadhan begitu ISTIMEWA seperti Ramadhan saat kecil dulu.

    • indrijuwono says:

      Iya, aku pernah terperangkap terus menerus pada pekerjaan, akibatnya waktu berlalu begitu saja. Tapi ternyata kalau dianggap istimewa, jadi memperlakukan waktu lebih istimewa..

  3. Rifqy Faiza Rahman says:

    Kita sama Mbak Indri, terkadang rindu masa-masa kecil dan sekolah dulu, ketika ramadan sangat diistimewakan karena berlimpahnya pahala-pahala. Bulan suci, yang membuat segala duniawi tunduk padanya.

    Tapi saat kuliah saya juga kerap merasa kosong, selalu merasa ramadan tahun ini tidak sebaik tahun sebelumnya. Semoga kita bisa istiqomah dan berbuat lebih baik di bulan ini, selamat berpuasa Mbak Indri 🙂

    • indrijuwono says:

      semoga bisa membuat ramadan menjadi istimewa, ya!
      aku mengalami masa kosong itu cukup lama, kadang sedih karena berlalu begitu saja, kalah oleh kepentingan-kepentingan duniawi. tantangannya adalah, bagaimana kepentingan ini bisa tetap sejalan dengan bagimana kita mengistimewakan ramadan. 🙂

  4. Arie Okta says:

    Aku juga rindu suasana ramadhan masa kecil Mbak Indri. Rajin Tarawih ke Masjid walaupun cuma untuk minta tanda tangan penceramah. Ketika libur sekolah bulan ramadhan, setelah sahur menjelang subuh menghabiskan waktu bermain petasan. Sekarang ketika semakin beranjak tua, ramadhan terasa tak lagi istimewa.
    Selamat berpuasa Mbak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s