serba-serbi berkereta api di india dalam 2804 km

“The trains always arrive at your station. The question is which one to take?”
― Mehmet Murat ildan

Buat yang sering menyimak berita-berita transportasi India, pasti tahu bahwa kereta api adalah transportasi utama yang menjadi favorit banyak warga di negeri ini. Jalur kereta membentang dari dataran rendah Kerala hingga Darjeeling di atap dunia. Yang paling umum digunakan turis adalah Kolkata-Varanasi-Agra-Delhi, jalur yang sudah berfungsi sejak tahun 1860. Atau bisa juga melipir ke sisi-sisi lain dari ujung-ujung kota, hampir selalu bisa dicapai dengan kereta.

Kereta di India ditarik sebagian besar dengan lokomotif diesel dan menggunakan gerbong jenis broad track gauge dengan lebar rel 5 ft 6 in/​1,676 mm seperti yang digunakan untuk BART system di San Fransisco, lebih besar daripada yang biasa digunakan di Indonesia. Karena itu, lebar gerbongnya cukup besar untuk diisi dengan susunan kursi yang cukup besar dalam semi kompartemen dalam gerbongnya.

Dengan dataran kontinen yang cukup besar, kereta api menjadi alat angkut utama yang bisa membawa penduduk India berpindah dari satu propinsi ke propinsi lainnya. Jalur kereta ini lebih utama sebagai jalur perdagangan dari daerah Rajahstan hingga Bengali dan sebaliknya. Setelah mengalami masa yang panjang sebagai angkutan rakyat yang bisa membawa siapa saja semaksimal mungkin, sekarang dinas perkereta apian India sudah jauh lebih teratur sehingga perjalanan dengan kereta bisa dilakukan dengan nyaman, bahkan untuk turis sekali pun.


memesan tiket kereta di India

Untungnya tiket bisa dipesan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan dengan sistem online, paling lambat hingga tiga bulan sebelum tanggal keberangkatan. Namun, memesan tiket ini agak susah-susah gampang. Pertama, harus mendaftar dulu melalui situs IRCTC (India Railways Catering And Tourism Corporation) untuk mendapatkan user ID. Bagi warga India, hal ini mudah saja, karena kode verifikasinya akan dikirimkan melalui nomor ponsel lokal dan email. Namun bagi warga non India sepertiku, sesudah mendaftarkan diri melalui situs IRCTC, maka harus mengirim scan paspor dan keterangan ke care@irctc.co.in. Setelah menunggu harap-harap cemas mulai tiga hingga empat belas hari, customer care ini akan membalas dengan kiriman kode verifikasi yang harus diisikan pada saat used ID IRCTC diaktifkan.

Jika user ID IRCTC sudah aktif, maka untuk memilih kereta bisa menggunakan situs CLEARTRIP. Kan, agak ribet? Nah, dengan Cleartrip ini lebih mudah, karena agak mirip dengan situsnya PT KAI, di mana tinggal memasukkan kota asal, tujuan, serta kelas yang diinginkan, lalu keluarlah pilihan kereta yang bisa dinaiki hingga ke tujuan. Tinggal dipilih tempat duduknya, masukkan nomor paspor, dilanjutkan ke pembayaran dan bisa dibayar dengan kartu kredit seperti halnya kalau membeli barang-barang online.

Dalam beberapa menit sesudah pembayaran selesai, maka akan masuk e-ticket ke email dari Cleartrip, yang menandakan pembelian sudah sah, dan bisa dicetak untuk keperluan mengajukan visa (jika diperlukan itinerari) atau untuk dibawa apabila diperiksa petugas nanti. Sesudah itu, pembelian bisa dilanjutkan hingga 10 tiket berikutnya, karena India mengenakan kuota sebesar 10 tiket per bulan untuk pemesanan dengan user ID IRCTC yang sama. Untunglah aku hanya melakukan 5 perjalanan dengan kereta api sehingga kuota ini pas benar terpakai.

Tapi jangan lupa untuk benar-benar memesan jauh hari sebelum keberangkatan, untuk amannya maksimal 3 minggu sebelumnya, karena seperti yang sudah diceritakan di atas bahwa kereta ini adalah transportasi favorit, maka ketersediaan kursi pun terbatas.

stasiun-stasiun

Nama stasiun harus sangat diperhatikan ketika memesan tiket kereta, harus cukup dekat dengan penginapan atau destinasi wisata yang hendak dituju. Beberapa kota tidak hanya memiliki satu stasiun, sebutlah Kolkata dengan Howrah Junction, Sealdah, dan Chitpur, tergantung relasi yang akan dituju. Bahkan kota wisata seperti Agra juga terdapat dua stasiun seperti Agra Fort dan Agra Cantt. Apalagi kota besar sekali seperti Delhi, harus sangat tahu stasiun mana yang dituju, jangan sampai kelewatan dan harus memutar jauh. Jarak stasiun dan penginapan ini bisa dengan mudah dilihat dengan google map.

Karena stasiun ini mungkin cukup jauh dari kota-kota di sekitarnya, maka tak heran di depan stasiun sering sekali ditemukan orang tertidur hanya dengan beralaskan koran di samping barang bawaanya, seperti terlihat di stasiun Howrah Junction. Mungkin ia sedang menunggu kereta yang akan tiba pada beberapa jam lagi, kemudian berpindah ke kota yang lain. Tapi orang-orang ini pun juga sering membuatku rancu dengan gelandangan yang juga berkeliaran di sekitar stasiun.

Karena kota-kota yang kami lalui termasuk kota destinasi wisata, layanan tourist information centre-nya cukup baik dengan petugas yang bisa berbahasa Inggris dengan fasih. Sebenarnya untuk kereta juga ada Indian Rail Pass untuk turis, hanya saja harganya yang cukup mahal. Selain itu untuk mengantisipasi, ternyata juga ada kuota naik untuk turis yang bisa dicek di kantor ini juga. Tapi sih, memang aku lebih merasa aman jika tiket sudah di tangan.

Sebelum masuk peron, pemeriksaan barang cukup ketat di beberapa stasiun, sehingga semua bawaan kami harus diperiksa dengan mesin X-ray. Tidak mengherankan sih, karena beberapa kasus bom yang meledak di India berlokasi di stasiun. Titik ini dianggap mampu mengumpulakan banyak orang dalam satu waktu tertentu.

Dalam stasiun besar biasanya terdiri dari beberapa platform dengan banyak orang menunggu di situ dengan bawaan yang cukup banyak. Tak ada vending machine minuman di situ, hanya kios-kios dan orang-orang yang beredar menjajakan chai (teh susu). Jika sedang menunggu kereta, entah berapa gelas chai sanggup kami habiskan.

Sebenarnya, hampir semua stasiun besar yang kami lalui memiliki fasilitas wifi, hanya saja kode pengaktifannya dikirim ke nomor telepon lokal India yang tentu saja tidak kami miliki. Jadi kalau sedang menunggu kereta tidak bisa check in atau update status karena ketiadaan jaringan ini.

memilih kursi dan kelas kereta serta klasifikasi tiket

Kereta di India cukup unik dan asyik, karena jarak perjalanannya yang begitu panjang dan lama, maka tak heran jika di perjalanan yang lebih dari 12 jam ini selalu kursinya bisa diubah menjadi tempat tidur. Maka tak heran separuh dari perjalanan kami yang dua minggu itu dihabiskan dengan bermalam di kereta. Hemat ongkos penginapan juga bukan? Berhubung juga kami backpacker pas-pasan tapi gaya (ke India saja nunggu tiket promo dulu), makan kami tidak pernah memilih AC First Class, karena harganya yang cukup wow! Tapi tiga kelas lainnya sempat dicoba sih.

1. Kelas AC 3 Tiers

Pertama kali naik kereta dari Howrah Junction di Kolkata hingga Varanasi, naik Amritsar Express yang berangkat jam 13.50 dan akan tiba jam 08.25 di hari berikutnya dengan jarak 773 km. Menurut tiket yang sudah statusnya ‘confirmed’ kami mendapat berth side lower dan middle. Padahal, dengan jarak yang sama di Indonesia hampir sejauh Jakarta-Solo, dicapai paling lama 12 jam. Kenapa lambat banget di India, ya?

Ternyata, satu lokomotif menarik sekitar 25-30 gerbong di belakangnya, sehingga larinya pun bisa dibilang lambat-lambat manja. Pohon berlarian tak terlalu kencang, mobil di seberang masih melaju kencang, hingga platform stasiun yang benar-benar panjang sekali sampai kami lelah untuk menemukan gerbong yang seharusnya kami naiki apabila kebetulan dapat di ujung.

Karena kelasnya AC 3 tiers, maka sepanjang perjalanan siang kami akan duduk bertiga berjejer, dan di malam hari kursi yang diduduki akan jadi side lower, sementara sandaran akan jadi middle. Bagian atas menggantung sendiri dan bisa dicapai dengan tangga yang harus dipanjat. Kalau siang hari, tentunya enak duduk di bawah karena bisa melihat pemandangan luar, tapi kalau malam hari di paling atas sepertinya paling nyaman karena tidak terganggu orang berlalu lalang. Kursinya terbungkus kulit dan diberikan bantal untuk menemani tidur di malam hari.

Sisi yang sebelah lagi lebih enak lagi, karena hanya terdiri dari dua susun, sehingga di siang hari bisa dibaringkan dan bersantai-santai sambil menikmati pemandangan di jendela yang lebar. Disediakan juga colokan listrik, sehingga tidak perlu khawatir mati bosan karena tak bisa menyalakan peralatan elektronik sepanjang perjalanan.


2. Kelas AC 2 Tiers

Ini adalah kelas termewah yang kami sanggup naiki (karena tiket yang lebih murah habis dan ini pun masih termasuk waiting list ketika membelinya). Entah kenapa, jalur Varanasi dan Agra yang cukup ramai dilalui kereta ini tidak memberikan kesempatan bagi kami untuk berbiaya lebih murah. Dengan naik kereta Marudhar Express dan tiket dengan status ‘waitlisted’ membuat kami harus bolak balik mengecek status tempat duduk kami apakah sudah tersedia atau belum (apabila ada yang membatalkan, kami akan dapat seat tersebut).

Tapi tenang saja, setiap saat (setiap ada koneksi wifi) status ini bisa dicek dari apps Cleartrip di ponsel dengan memasukkan kode PNR yang ada pada tiket. Nah, sewaktu berangkat kami ada di WL no 8-9, pas kami tiba di Varanasi ternyata sudah WL2-3, syukurlah sewaktu melapor di tourist information centre, sudah terkonfirmasi bahwa kami mendapat tempat duduk. Petugas yang memberitahu nomor gerbong pun menyuruh kami untuk melihat nomor tempat duduk di daftar nama penumpang yang ditempel di luar gerbong. Yah, seperti lihat pengumuman kelulusan ujian saja!

Sebenarnya kelas AC 2 Tiers ini hampir sama dengan AC 3 Tiers, hanya di sini kami dapat seprai dan selimut bersih untuk menemani perjalanan malam yang dingin. Namun berth-nya hanya terdiri dari dua susun tempat tidur, serta sekelilingnya ditutup dengan tirai. Sangat nyaman untuk perjalanan di malam hari yang panjang, apalagi kami juga mendapat makan malam di sini berupa nasi kari dan teman-temannya.

Sekalipun judulnya kereta Express, tetapi kereta ini pun tetap lambat jalannya karena ditarik bebarengan dengan 25 gerbong lainnya bersama dalam satu lokomotif. Jadi kecepatannya pun sama saja dengan gerbong AC 3 Tier (yang lebih murah) di rangkaian di depan. Menurut janjinya pada tiket, kereta yang bertolak pada jam 17.25 ini akan tiba pada pukul 06.10 keesokan harinya dengan jarak tempuh 650 km.

Sebenarnya sudah agak bertanya-tanya dengan perbandingan jarak dan waktu tempuhnya, karena kemarin yang 773 km saja ditempuh 18 jam 25 menit, masa sekarang 650 km hanya 12 jam 45 menit sih? Kan bedanya saja 123 km, jika kecepatannya sama sebesar 41,97 km/jam (mengacu pada Amritsar Express) semestinya waktu tempuhnya jadi selisih lebih cepat 2 jam 55 menit. Jadi mestinya jarak 650 km itu harus ditempuh selama 15 jam 30 menit.

Jika kecepatannya sama.

Karena kami pikir kereta Marudhar Express yang lebih mahal tiketnya ini bakal lebih cepat jalannya. Ternyata sama saja lambatnya dengan kereta yang kemarin kami naiki. Ketika jam setengah enam pagi kami bangun dan bersiap-siap untuk turun di Agra, seseorang di kompartemen sebelah mengatakan kalau Agra masih 3 jam lagi. Hah, tiga jam? Terus di mana kami sekarang? Berhubung google map tidak berfungsi dan stasiun-stasiun yang dilewati juga beraksara keriting semua, jadi kami hanya berharap-harap cemas bahwa kota Agra tidak akan terlewat. Selama tiga jam beneran.

Hm, mungkin seperti ini rasanya orang-orang di Jawa dulu kalau pulang kampung, nggak tahu ada di mana, belum ada google maps, belum ada pemberitahuan perkiraan waktu kereta akan tiba di tujuan jam berapa, dan jelas terlambat. Jadilah aku menyelesaikan membaca Supernova jilid terakhir yang akhirnya tamat juga di kereta itu (bayangkan, baru hari ketiga dan bacaan setebal bantalku sudah selesai).

Akhirnya seperti diperkirakan oleh penumpang di sebelah-sebelah, kereta baru masuk stasiun Agra Fort hampir pada jam sepuluh. Rencana kami untuk jalan-jalan di Benteng Agra pagi-pagi gagal sudah.


3. Kelas Sleepers

Alasan utama untuk memilih kelas sleepers ini terutama karena murah, selain itu jarak tempuhnya yang relatif dekat. Di perjalanan selanjutnya dari Agra ke Jaipur, kami naik Ald Jp Express yang jarak tempuhnya 327 km yang berangkat jam 07.15 pagi dan tiba jam 12.50. Tidak ada keterlambatan berarti untuk kereta ini dan juga tidak perlu deg-degan kelewatan, karena kereta ini pemberhentian akhirnya di Jaipur.

Tapi ternyata memang kelas sleepers ini minimalis sekali, mirip dengan AC 3 tiers, hanya saja menggunakan kipas angin sebagai pengalir udara. Tidak ada seprai, bantal, apalagi selimut (iyalah, gerah gitu). Suara-suara dari sekat sebelah pun jelas terdengar, pemuda pemudi menyalakan ponselnya sambil berdendang lagu India. Petugas pun agak jarang memeriksa karcis kami. Jendela yang berjeruji mengalirkan angin sepoi-sepoi dari luar. Dan karena kereta tepat waktu, maka aku tak perlu repot-repot lagi membuat perhitungan perkiraan. Setiap henti di stasiun, banyak pedagang makanan yang masuk dan menjajakan berbagai makanan kecil, sehingga aku bisa mencobai beberapa jajanan.

Kembali dari Jaipur menuju Udaipur kami naik kereta di gerbong sleeper lagi dengan jarak 434 km, tapi agak membuat deg-degan juga karena sewaktu membeli tiket, statusnya RAC (Reservation Against Cancellation), berarti sebenarnya bisa naik kereta tersebut, tapi belum mendapatkan tempat duduk. Nah, berhubung kami berangkat dari Jaipur malam hari jam 23.00, jadi kami harus berkeliling loket untuk menanyakan status tiket RAC yang harusnya sudah naik ke ‘confirmed’. Karena tourist information center sudah tutup, jadi kami harus berusaha menanyakan lewat loket biasa, yang sering sekali ditinggal-tinggal petugasnya. Selain itu, orang India jarang ada yang mau mengantri sambil berbaris, jadi siapa dekat ia dapat, jadi agak riweuh lah. Syukurlah sebelum kereta tiba, sudah dapat kepastian nomor gerbong dan tempat duduk kami.

Dalam perjalanan ke Udaipur ini kami bertemu dengan Amey Tso, seorang beretnis Cina yang berkebangsaan Spanyol serta kuliah di Inggris, sedang mengadakan perjalanan tour the world-nya. Ia bercerita bahwa ia membeli tiket tanpa tempat duduk karena mengejar hari perayaan Holi di Pushkar. Woah, seru juga mendengar ceritanya berani berjalan seorang diri di India sini. Setelah mengobrol-obrol dengan riuh dengan bahasa Inggris di berth paling atas, kami membantunya untuk istirahat di bawah lorong tengah kompartemen kami. Sepertinya ia cuek saja ketika diperiksa petugas, karena ia merasa punya karcis, dan bersedia duduk di lantai asal terangkut. Sekitar jam tiga pagi, rupanya ia sudah berlalu ketika kereta berhenti di satu kota di mana ia akan melanjutkan naik bis hingga tujuannya. Ternyata kami sukses saja tidur di kereta sleepers kelas tiga ini hingga tiba di Udaipur yang dingin pada jam 06.45.

Dan ketika akhirnya kereta terakhir yang kami naiki adalah juga kelas Sleepers dari Jodhpur ke Delhi pada jam delapan malam, rasanya sudah tidak terkejut lagi. Berhari-hari keluar masuk stasiun, naik turun tangga dengan menggendong ransel setinggi kepala, mendengarkan bahasa India di sepanjang perjalanan, tukang chai (teh susu) yang membangunkan di tengah malam sambil menjajakan dagangannya, mengingatkan pada perjalanan kereta yang sering aku lalui di masa kecil dulu. Riuh rendah suara di tengah malam dari jendela, suara klakson kereta yang bersahutan ketika berhenti di stasiun-stasiun kecil, suara peluit pelepasan kereta, pohon-pohon yang berlari, sudah tidak lagi menggangguku.

Aku tertidur pulas hingga melalui 620 km menjelang Delhi dengan berbungkus sarung. Jarak ini ditempuh dalam waktu 10 jam 45 menit. Loh, ternyata bisa cepat juga kereta ini, tidak seperti jarak yang mirip dari Varanasi-Agra dengan gerbong mahal itu. Sayangnya di Delhi kami salah turun, bukannya di New Delhi, tapi malah keterusan ke Old Delhi. Yah, lumayanlah jalan-jalan.

Bonus cerita

Selain kereta, sebenarnya kami juga sempat mencoba sleeper bus juga dari Udaipur ke Jodhpur, karena mendadak harus berpindah kota secepatnya dan tidak ada jejaring kereta antar dua kota tersebut yang cukup praktis. Bis ini cukup unik bertingkat juga, dengan tiket tempat duduk pada lantai satu, dan tiket sleeper pada lantai dua. Walaupun tidak ber-AC, tapi deru angin dari jendela cukup dingin juga di perjalanan malam hari. Cerita lebih lanjutnya nanti di Udaipur, yaa.

Sebenarnya kami tidak melulu tidur di jalan setiap hari, karena tiap kota didatangi rata-rata dua hari, sehingga bisa bergantian sehari tidur di kereta, sehari di hostel, jadi punya waktu istirahat yang lumayan cukup. Perjalanan dengan kereta di India benar-benar sangat menghemat ongkos apabila bepergian dalam kelompok kecil sekali atau sendirian.

Seru kan, naik kereta di India? Cuma kalau mencari yang gantengnya kayak Shahruh Khan atau secantik Aishwara Rai, sepertinya memang agak sulit ditemukan di kereta. Tapi masih boleh koq, tanya-tanya soal berkereta di India atau membeli tiketnya.

Perjalanan Maret 2016
ditulis di Perpustakaan UI Depok, 14.05.2017


indiasiesta yang lain:

seandainya ada om-telolet-om di india
sensasi varanasi
menyisir jejak budaya muslim dan buddha dari varanasi
serba-serbi berkereta api di india dalam 2804 km

Advertisements

18 thoughts on “serba-serbi berkereta api di india dalam 2804 km

  1. jonathanbayu says:

    Kalau dibandingkan dengan kereta di Indo sepertinya masih lebih bagusan punya kita ya. Hanya saya suka dengan konsep ruangnya, ada tempat tidur yg lumayan nyaman utk perjalanan jauh. Kalo disini kan kursi semua..pegel dah hehe

    • indrijuwono says:

      bener banget, kualitas gerbong dan lokonya jauh lebih bagus kereta di Indonesia. cuma emang tertarik dengan tempat tidurnya yang bisa selonjoran beneran ini looh.

  2. Johanes Anggoro says:

    Menarik mbak ulasannya. 1860 ya, hmm berarti selisih bbrp tahun dg kereta di indonesia. Dengan lebar segitu memang memungkinkan untuk menarik lebih banyak gerbong.
    India dg daratannya yg bgitu luas memang transportasi kereta paling efektif.

  3. puputs says:

    ampun.. detail banget ceritanya 🙂 niat abis ngasih tau pernak pernik naik kereta di India, kalo aja aku pergi ke India dan mau naik kereta.. pasti bakal balik lagi ke blog ini..

    tapi kapan ya.. bisa jalan2 ke India, mau liat yang kayak Aiswara Rai.. walaupun sulit ditemukan di kereta yak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s