ruang-ruang sosial di tepi laut ternate

Kevin Lynch mengatakan bahwa terdapat elemen-elemen penting dalam pembentukan imaji fisik suatu kota. Dalam bukunya yang berjudul Image of the City, terdapat pengaruh-pengaruh dari pencitraan yang dilihat secara fisik untuk memperkuat makna kota. Mengacu pada lima elemen, yaitu path, edge, district, node, dan landmark, yang seringkali berulang lagi dalam satu lingkungan, bukan hanya seluas fungsi kota, unsur-unsur ini muncul bukan hanya karena sengaja dibangun oleh manusia, tapi bisa juga memang muncul karena kegiatan manusianya yang membuat unsur ini menjadi berfungsi dengan sendirinya.

Bukan berarti jika elemen-elemen ini tidak dipenuhi, maka suatu tempat tidak layak disebut kota, karena ini hanyalah salah satu tengara fisik yang mudah diamati ketika berkeliling kota, ketimbang harus memahami batas-batas administratif yang ditentukan oleh pemerintahan. Berkeliling pada satu sisi Pulau Ternate di sebelah timur menghadap Laut Jailolo, tempat mayoritas kegiatan bisnis dan sosial berlangsung yang tidak banyak berubah sejak masa perdagangan Portugis hingga VOC. Pola perkotaan yang berbasis pada laut, mengakibatkan orientasi kota tidak mengacu pada pusat tertentu, melainkan pada tepian laut lepas. Karena itu area kegiatan sosial lebih banyak terletak di tepian perairan yang mengelilingi pulau.

“Sultan Ternate dan Tidore pernah tersohor di dunia Timur karena kekuasaan dan kejayaan mereka.Keuntungan yang diperoleh dari perdagangan rempah-rempah sangatlah besar. Saudagar-saudagar Eropa dengan senang hati memberikan emas, perhiasan dan barang-barang buatan Eropa dan India sebagai alat pembayaran. Ternate memiliki jejeran pulau kecil ke selatan hingga Batchian yang menjadi daerah penghasil cengkeh seperti halnya Molucca. Selain cengkeh, Ternate juga menghasilkan pala yang bunganya diperoleh dari New Guinea dan pulau-pulau sekitarnya.
Setelah Belanda datang dan menanamkan pengaruh di Ternate, mereka berusaha mengambil alih perdagangan rempah-rempah dan membebaskan para penguasa setempat dari Portugis. Demi tujuan ini, Belanda memusatkan perkebunan rempah-rempah di daerah-daerah yang langsung berada di bawah kekuasaan mereka.” (Kepulauan Nusantara, Alfred Russel Wallace)

Masjid Raya Al Munawwar Ternate

Secara fisik, masjid ini bisa disebut sebagai bagian dari landmark kawasan, karena cukup mudah ditemukan di tepi jalan dengan menara-menaranya yang tinggi, dan dengan banyaknya kegiatan di halamannya yang luas. Tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, banyak anak-anak muda Ternate yang menghabiskan sore di masjid ini sambil berolahraga, mulai dari remaja yang latihan tinju, hingga anak-anak SD yang main roller skate di sampingnya. Mimbar yang menghadap jalan dan makmum ke arah laut menjadikan ruang sekitarnya menjadi cair perlahan, namun segera menyatu ketika adzan berkumandang.

Taman Nukila dan Pantai Sweering

Di tepi lansekap kota, dua ruang komunal ini menarik banyak orang untuk berkumpul. Meskipun pengertian edge tidak selalu ruang berkegiatan, tapi ternyata dua area linear ini mudah dikenali sebagai pembatas daratan kota dan laut. Tepat di tepi Masjid, dibangun area Taman Nukila sebagai sarana rekreasi warga Ternate dan sekitarnya, yang dilengkapi dengan area permainan anak-anak. Pepohonan peneduh dan jalur pejalan kaki ditata manis sehingga penggunanya merasa nyaman. Cukup banyak juga pasangan muda yang bercengkrama sembari menikmati hembusan angin laut dan senja yang perlahan-lahan turun. Pantai ini memang tidak berpasir dan dibangun tanggul tepinya untuk menahan hantaman gelombang dari laut. Tepian tanggul ini yang difungsikan sebagai ruang santai masyarakat.

Sementara itu di sore hari Pantai Sweering ramai oleh warga yang melakukan kegiatan di tengah laut. Dengan area perkerasan di tepinya, banyak keluarga yang menghabiskan waktunya berkumpuk di daratan, atau segererombolan orang yang dengan berani bermain-main di air sembari menunggu matahari terbenam. Tidak hanya sekelompok saja, namun banyak sekali warga yang turun melalui tangga-tangga yang turun ke air yang sepertinya cukup dangkal ini. Asyik sekali melihat keriaan sehari-hari bebas dari beban sehari-hari, menghabiskan akhir pekan dengan tawa ceria. Sesekali kapal-kapal besar terlihat lewat di lautan sebagai latar belakang. Langit biru maupun awan menggantung tak mengurangi gelak tawa orang-orang Ternate yang tak takut air sebagai bagian dari kehidupan sehari-harinya.

Pelabuhan Ternate

Sebagai salah satu pusat perdagangan rempah di Indonesia baik dari masa dahulu dan masa kini, Pelabuhan Ternate masih ramai disandari oleh kapal-kapal baik dari Papua yang hendak ke Sulawesi atau Jawa, maupun sebaliknya. Setiap hari terlihat aktivitas bongkar muat di situ, baik barang ataupun perpindahan orang sesudah melalui perjalanan panjang via laut. Sangat wajar, karena sebagai salah satu pelabuhan transit dari timur menuju Ambon atau Makassar, pulau Ternate ini sangat strategis karena pusat pemerintahan yang juga berada di sini. Di lepas pantainya, banyak kapal-kapal besar yang melabuhkan jangkarnya, menunggu jadwal berangkat. Di sekitar pelabuhan banyak sekali terdapat penginapan-penginapan sederhana yang mungkin untuk beristirahat satu dua hari sembari menunggu jadwal kapal. Memang kapal jarak jauh dari Ternate tidak berlayar setiap malam, hanya beberapa hari tertentu saja. Gerbang pelabuhan ini sering dianggap sebagai penanda titik tertentu, tempat berkumpul atau tengara penunjuk arah, karenanya bisa digolongkan sebagai node.

Selain pelabuhan utama, juga ada beberapa pelabuhan kecil seperti Pelabuhan Bastion yang melayani pelayaran ke Tidore dan pulau-pulau kecil lainnya, atau pelabuhan Dufa-dufa untuk menyeberang ke Jailolo. Tidak hanya kapal speedboat fiberglass untuk mengangkut penumpang manusia, aneka kapal kayu yuga terlihat mengangkut barang bahkan bentor dan sepeda motor. Biasanya juga terdapat pasar di dekat pelabuhan-pelabuhan ini, sehingga daerah ini pun kerap menjadi node bagi lingkungannya.

Area bisnis dan permukiman

Melihat kota Ternate dari udara bisa dilihat bahwa path-nya grid, peninggalan dari desain kota di zaman Belanda dengan pola-pola teratur sehingga mudah untuk evakuasi. Gunung Gamalama yang beberapa kali meletus menimbulkan beberapa gempa-gempa kecil sehingga penduduk harus cepat keluar rumah untuk ke jalur yang aman. Namun pada masa tenangnya, daerah-daerah jalan utama menjadi kawasan bisnis yang dilalui banyak kendaraan umum dan pejalan kaki. Jalan-jalan utama Ternate didereti oleh pertokoan, hotel, maupun perkantoran sementara bagian dalamnya rimbun oleh rumah-rumah dengan halaman membentuk district.

Di salah satu kawasan permukiman ini terdapat Royal Restaurant, yang menyediakan aneka makanan khas Ternate dengan harga Rp. 45.000,- all you can eat. Mulai dari papeda dengan ikan kuah kuning dengan bumbu pala, gohu ikan, sayur-sayuran, bakwan jagung dan lainnya. Lokasinya agak tersembunyi di tengah rumah-rumah lainnya, namun hampir semua orang Ternate mengenal tempat ini, sehingga mudah diantarkan oleh tukang ojek.

Selain itu, masih di balik kawasan bisnisnya, terdapat gang-gang kecil yang menjadi tempat penjualan aneka baja putih olahan dari Pulau Morotai. Kantong-kantong bisnis ini terletak di tengah kota, namun selalu menjadi tujuan yang harus dihampiri untuk mendapatkan suvenir dari leburan peninggalan Perang Dunia II di wilayah Maluku Utara.

Walaupun hanya sebagai pulau kecil di antara pulau-pulau lain di sekelilingnya, namun keberadaan titik-titik jalur transportasi seperti pelabuhan besar, membuat sisi pulau ini tumbuh menjadi kota yang cukup sibuk. Meskipun sudah tidak lagi dikuasai Portugis, namun kota Ternate ini tetap strategis seiring juga dengan dibangunnya Bandara Sultan Baabullah yang menjadi titik transit sebelum melanjutkan ke pulau-pulau lain dengan jalur laut. Selain memenuhi unsur-unsur ‘image of the city’-nya Kevin Lynch, kegiatan sosial dan bisnis yang bervariasi di penjuru kota membuatnya selalu hidup.

perjalanan Ternate, Mei 2016
ditulis di Bogor, Juli 2017

Advertisements

13 thoughts on “ruang-ruang sosial di tepi laut ternate

  1. Gara says:

    Mungkin kalau teorinya Kevin Lynch ini coba diterapkan di kota-kota yang berbeda baik dari segi ukuran maupun kemetropolitannya, akan menjadi menarik ya Mbak. Suka sih dengan teorinya bahwa unsur-unsur itu nggak harus ada dan manusia akan secara alami membentuknya sendiri, suka atau tidak. Ternate menurut saya memenuhi itu, karena beberapa lokus kota yang penting seperti yang Mbak jelaskan di sini sepertinya belum terlalu banyak berubah dan tidak begitu disengaja untuk jadi simpul berkegiatan. Gejala bergesernya lokasi pusat kegiatan masyarakat pun menarik diamati, karena benteng-benteng yang di masa lalu jadi pusat kolonialisasi sekarang sepi dan ditinggalkan, hehe.

    • indrijuwono says:

      memang teorinya Kevin Lynch ini asalnya dari kota-kota di barat sana, jadi kalau di metropolis pun mungkin pasti ada.
      naah, menarik juga ya membahas gejala bergessernya pusat kota karena benteng sudah ditinggalkan.. Gara kan pernah ke Ternate, pasti suka kota ini ya..

  2. Deddy Huang says:

    Pas balik dari Tidore ke Ternate kemarin, sempat makan di sebelah masjid Al Munawwar ini. Sambil nunggu para lelaki sholat jumat. Kagum sama masjidnya penasaran pengen masuk dan lihat bentuk kubahnya.

  3. helterskelter says:

    aku sukaaa tulisan ini, dan juga suka banget sama Ternate. kemarin kembali kedua kalinya dan betah aja sehari-hari jalan kaki di Nukila dan seterusnya, cuma untuk menikmati suasana kehidupan di sana. Ternate adalah pulau favoritku yang bakal terus kudatangi.

    dan kedai kopinya juga lagi tumbuh, ada namanya Coffeetarian enak banget kopinya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s