bekerja bersama wujudkan impian #UbahJakarta

“…what thrills me about trains is not their size or their equipment but the fact that they are moving, that they embody a connection between unseen places.”
― Marianne Wiggins

Sebagai seseorang yang bertinggal di selatan Jakarta, kebutuhan untuk menggunakan transportasi publik sangat mutlak untuk menunjang kegiatan sehari-hari menuju maupun di ibukota. Bayangkan saja apabila harus menggunakan kendaraan pribadi, selain boros oleh bahan bakar padahal hanya dipergunakan oleh satu orang, namun juga harus berebut jalan dengan ratusan bahkan ribuan pengguna jalan lainnya demi bisa beringsut-ingsut tiba di tempat bekerja. Karena itu transportasi umum massal menjadi pilihan utama, dengan daya tarik pada kecepatan mencapai pusat kota.

Memang menggunakan transportasi publik memerlukan sedikit pengorbanan, karena tak jarang harus berdesakan masuk yang membuat baju tak lagi licin ketika tiba. Atau kadang barang di saku berpindah tangan tanpa diketahui. Yang paling sial apabila ada gangguan teknis, yang mengakibatkan beberapa perjalanan terganggu dan penumpang menumpuk di terminal atau stasiun.

Berada di ibukota dengan segala karut marutnya juga tetap membutuhkan mobilitas untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun yang sering terjadi adalah jalanan begitu padat dengan kendaraan pribadi sehingga tidaklah lagi nyaman berada di tengah keramaian di siang hari dan terasa membuang-buang waktu belaka. Apalagi yang pergi sendiri, sangat tidak efektif untuk menggunakan kendaraan pribadi apalagi ternyata jalur yang dilalui hanyalah jalur protokol. Continue reading

Advertisements

terang merdeka gunung sangar

 

“Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari.”
– Sukarno

Pekik ceria dari anak-anak yang mengikuti lomba makan kerupuk di kegelapan malam Desa Gunung Sangar itu memecah keheningan yang biasanya hanya ditimpali oleh suara tonggeret dan kodok yang bersahut-sahutan. Malam itu menjelang 17 Agustus 2017, di desa yang terletak di balik gunung gemunung Citeureup-Hambalang-Jonggol, namun hanya sekitar 40 km dari Jakarta itu diadakan berbagai lomba-lomba seperti acara-acara meriah di daerah lain di Pulau Jawa. Sengaja lomba-lomba ini diadakan di malam hari, untuk merasakan keriaan desa ini yang sudah memiliki listrik mandiri dengan tenaga mikro hidro beberapa bulan sebelumnya.

Desa Gunung Sangar ditempuh dengan perjalanan mobil selama dua jam dari Citeureup, yang berlanjut dengan berjalan kaki melewati jalan setapak selama 1-2 jam melalui beberapa punggungan hijau yang melingkupinya. Terdapat 18 rumah di sini dengan mata pencaharian sebagai petani, dengan tingkat pendidikan yang minim akibat kurangnya akses dari desa menuju titik-titik sosial di sekitarnya. Sebelumnya, penerangan di malam hari hanya menggunakan lampu minyak di rumah-rumah warga.  Continue reading

nagasaki, kebangkitan kota pelabuhan

“You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one”
Imagine-John Lennon

Ternyata Nagasaki memberi kesan yang tidak sama dengan Hiroshima. Kota ini jauh lebih tenang dan manis menyambutku dengan penuh keakraban. Mendung pagi menggelayut ketika aku menyusur tepi pelabuhan yang berangin cukup kencang. Kapal-kapal kayu dan besi yang bersandar di dermaga membuatku enggan beranjak dari papan-papan kayu yang berderak. Aku berkeliling di bagian luar bangunan pelabuhannya yang bertema gelombang, dengan lengkung-lengkung material zincalum sebagai dinding. Terasa sekali tempat ini sudah begitu modern, namun tetap berpadu cantik dengan perairan.

Seorang bapak tua yang sedang berolahraga pagi menyapaku ramah, “Ohayou gozaimasu. Good morning.” Aku membalasnya dengan senyuman dan kata-kata serupa. Udara berangin tak mengendurkan semangatnya untuk melakukan gerakan-gerakan ringan di tepi laut. Uh, semoga tidak hujan hari ini, pikirku melihat langit pagi yang kelabu. Sepanjang sisi pelabuhan banyak restoran-restoran dan kafe yang menghadap kapal-kapal yang parkir di situ. Tidak tercium bau amis seperti biasanya di tepi laut. Nagasaki menjadi kota pelabuhan yang cantik dan strategis dengan berbagai obyek wisata andalannya. Continue reading

half day: miyajima

Karena tidak ingin tinggal lebih lama lagi di Hiroshima, paginya aku langsung check out dari J-Hoppers, menitipkan ransel jinggaku dan hanya menenteng daypack hijau untuk mengunjungi Pulau Miyajima. Untunglah malam sebelumnya aku sempat mencicip okonomiyaki, hidangan olahan telur khas kota ini.

Dari stasiun Dobashi, aku naik streetcar hingga stasiun Hiroden-Nishi Hiroshima. Tak jauh dari situ, aku berjalan kaki ke stasiun Nishi-Hiroshima untuk berganti dengan kereta yang masuk jaringan JR. Untunglah, sehingga aku tak perlu membeli tiket lagi, hanya menunjukkan tiket JR Pass-ku untuk naik kereta ke Miyajima-guchi. Dari situ aku tinggal naik ferry selama 15 menit ke pulau Miyajima. Continue reading

mengheningkan cipta di hiroshima

Udara panas menyengat ketika aku turun di stasiun Hiroshima siang hari itu. Aku bergegas mencari pusat informasi untuk memperjelas cara menuju hostel dari stasiun. Sebenarnya aku sudah mencari tahu sebelumnya melalui google map, tapi tetap saja untuk lebih yakinnya, aku bertanya di kantor mungil itu. Karena aku tidak bisa berbahasa Jepang sama sekali, maka tourist information centre adalah salah satu tempat untuk mengorek keterangan menuju lokasi hingga sejelas-jelasnya. Dan di Jepang, fungsi ini selalu berada dekat atau di stasiun.

Keluar dari stasiun, aku menaiki streetcar (tram) jalur kuning tujuan Dobashi. Kuhitung ada 13 stasiun hingga streetcar ini akan berhenti di tempat aku aku turun. Peta di tanganku bertuliskan huruf kanji buta kubaca, namun juga dilengkapi dengan tulisan latin. Peta ini cukup lengkap informasinya, termasuk cara transit streetcar antar jalur, cara menukar uang kecil di mesin, sampai beberapa lokasi wisata favorit. Untunglah, di setiap perhentian diumumkan nama stasiun yang lamat-lamat kucocokkan dengan tulisan di peta. Ransel jinggaku kuletakkan di lantai trem sehingga agak menghalangi orang lewat. Berkali-kali aku bilang ‘sorry’ sambil menundukkan kepala.

Ting! “Dobashi!” seru pengeras suara di dalam streetcar. Continue reading

Harum Pala Banda yang menguar hingga Eropa [review film Banda: The Dark Forgotten Trail]


Beta pattiradjawane, menjaga hutan pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.
[Cerita buat Dien Tamaela-Chairil Anwar]

Aku pertama kali mendengar nama Banda mungkin ketika SD atau SMP di tengah buku-buku pelajaran sejarah yang harus dilahap ketika itu, sebagai salah satu pulau di kawasan Maluku. Tapi tidak pernah terbersit untuk mempelajarinya lebih jauh, hanya mendengarnya sebagai salah satu penghasil rempah-rempah yang menjadi awal kolonialisme di Indonesia. Namun kepulauan Maluku memang memiliki daya tarik yang kuat untuk membaui harumnya rempah-rempah yang lebih berharga dari emas, sampai-sampai aku sempat melakukan perjalanan ke Ternate dan Tidore untuk melihat jejak-jejak kolonialialisasi. Karena belum sempat ke Banda, maka ajakan ILUNI UI untuk menonton bareng film BANDA: The Dark Forgotten Trail karya sutradara Jay Subyakto pantang kulewatkan.

Continue reading

jalan asia afrika: nuansa kolonial masa lampau bandung

Jalan raya Asia Afrika menjadi salah satu destinasi favorit sejak kecil di Bandung. Ketika bertinggal di Jalan Lengkong di masa kanak-kanak, kerap kali ayah dan ibu membawaku untuk menyusuri jalan ini hingga alun-alun Bandung untuk melatih langkah kakiku yang mungil. Dahulu jalan Asia Afrika adalah salah satu ruas Groote Postweeg atau Jalan Pos yang diinisiasi oleh Gubernur Jenderal Daendels yang dimaksudkan sebagai jalan utama yang mendorong pertumbuhan kota dan pusat bisnis di sekitarnya. Berbagai bangunan memiliki fungsi sama sejak seabad yang lalu, hanya nama institusi kepemilikannya yang berubah-ubah. Namun tak sedikit juga yang beralih fungsi walaupun tetap mempertahankan bentuk aslinya.

“Bandung, ibukota Priangan, semasa era kemerdekaan nasional juga mashur di dunia, sebagai ibukota Asia-Afrika, karena di sinilah untuk pertama kali diselenggarakan Konferensi Asia-Afrika, 1955. Bahwa Bandung terkenal juga sebagai ibukota Asia-Afrika memang bukan suatu kebetulan. Setelah usai Perang Dunia II, Vietnam dan Indonesia tampil sebagai pelopor Asia-Afrika yang membebaskan diri dari kolonialisme. Vietnam pada 15 Agustus 1945 dan Indonesia dua hari setelah itu, 17 Agustus 1945. Vietnam dan Indonesia telah membuktikan, bangsa jajahan bisa memerdekakan diri dari kekuasaan kolonial Dunia Utara. Maka sejak itu Asia-Afrika bergolak untuk memerdekakan dirinya. Tanpa keberhasilan dua negara pelopor ini sulit dibayangkan gerakan-gerakan kemerdekaan di Dunia Selatan bisa sukses.”
Pramoedya Ananta Toer – Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Continue reading

liburan di holiday inn pasteur

After all, the best part of a holiday is perhaps not so much to be resting yourself, as to see all the other fellows busy working.

Kenneth Grahame

Buat orang Jakarta sepertiku, Bandung selalu menjadi tempat menarik untuk berakhir pekan. Suasana kota yang lebih sejuk, udara yang lebih bersahabat, taman-taman indah yang menarik untuk disambangi, juga aneka tempat wisata baik alam maupun yang baru di sekitar kota Bandung. Bayangkan untuk duduk-duduk di cafe di bawah pohon sambil menyesap olahan minuman ringan di Dago, makan bakso Enggal di Palasari, mengantri batagor Kingsley di Veteran, rasanya cuma bisa dinikmati di Bandung.

Apalagi dengan adanya tol Cipularang yang mempercepat perjalanan dari Jakarta ke Bandung, pasti memudahkan perjalanan singkat ke kota kembang itu. Walaupun tol Cikampek sekarang banyak macetnya, tapi tetap tidak mengurangi minat warga ibukota untuk bertandang ke Bandung, yang dahulu sering dijuluki Parijs van Java. Continue reading