pemandu lokal dari tidore

“We have all a better guide in ourselves, if we would attend to it, than any other person can be.”
― Jane Austen, Mansfield Park

Namanya Iki. Aku mengenalnya tepat ketika turun dari kapal yang membawaku menyeberang dari Pelabuhan Bastion ke Tidore. Ia langsung mengenali penampilanku yang ‘turis banget’ dan menawarkan jasanya untuk mengantarkanku berkeliling pulau rempah ini. Badannnya hitam dengan perawakannya tinggi besar. Semula aku agak takut, tapi ia cukup ramah apalagi sesudah menyepakati harga sebesar seratus dua puluh ribu hingga tiba lagi di pelabuhan. “Nanti foto-fotoin saya di spot-spot bagus, ya, Bang,” pintaku.

“Kalau turis memang biasanya lebih suka naik motor, kak. Lebih segar katanya,” ceritanya di awal perjalanan. Aku menyepakati perkataannya. Dengan naik motor, menikmati pemandangan langsung tanpa penghalang kaca jendela, mengatur cepat lambatnya perjalanan jika melihat sesuatu yang menarik.

Bagaimana bisa tidak jatuh cinta pada lautan biru di sisi kanan, bukan hanya selayang pandang namun sepanjang perjalanan. Pulau Maitara dengan perbukitannya dipeluk laut dan langit biru dalam bayangan tipis awan-awan. Perahu nelayan tanpa layar melaju di laut tenang, semantara angin berkesiur sejalan dengan motor yang melaju santai. Hmm, aroma laut yang segar meruak di pesisir yang masih hijau. Sebuah monumen berdiri di tepi jalan, namun pelat besi yang menyertai keterangannya menghilang. “Sepertinya ini monumen batas area,” ujarnya malu ketika kutanya apa sebenarnya titik ini.

Ia berhenti sejenak di depan stadion Gurabati, menunjukkan tempat indah untuk melihat gunung Kie Matubu. Bagian puncaknya di ketinggian 5900 kaki ini tertutup awan tebal, mungkin pertanda hari akan hujan nanti sore. Sebenarnya aku penasaran akan perjalanan ke kaki gunung itu, tetapi kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan berkeliling saja.

Rumah-rumah penduduk berlarian di antara pekarangan lebar. Buah-buah pala yang dijemur di tepi jalan tiba-tiba mencolok mataku yang penasaran ini. Kami berhenti dan merapat dan mengobrol dengan pemilik rumah yangmemiliki kebun-kebun pala di pegunungan sana. Buah berkulit cokelat ini memang menjadi primadona kepulauan Maluku Utara ini sejak zaman VOC dahulu untuk diperdagangkan ke Eropa. Khasiatnya sebagai bahan pengawet menjadikannya komoditas unggulan.

Hari semakin siang ketika kami tiba di kaki benteng Tahula. Iki menunjukkan tangga tinggi yang harus kami daki hingga puncak menara tanpa ragu. Beberapa anak sekolah duduk-duduk di tangga sambil bercengkrama. Sepotong sisi pulau Tidore mulai nampak dari ketinggian yang didaki perlahan-lahan. Dinding batu di atas sana menarik perhatian untuk terus dicapai, hingga akhirnya kaki berhasil menapak di tepinya.

Oh, betapa birunya laut memeluk pulau rempah ini di seputaran pandang. Rumah-rumah di tepian sana berderet dengan kapal-kapal bersandar di dermaga kecilnya. Titik benteng ini berdiri tepat untuk mengawasi keluar masuknya kapal ke kerajaan Tidore ratusan tahun lalu. Hanya menara bentengnya saja yang masih berdiri utuh, sementara area lain sudah tidak terlihat dindingnya. Bekas-bekas pondasi batu menandakan beberapa ruangan yang pernah berfungsi di sini.

Sebuah tangga besi membantuku untuk naik hingga puncak menara, di mana atap-atap Istana Tidore tampak di sisi sebelah kiri dengan latar belakang batu-batu benteng lagi di kejauhan. Matahari yang mulai tinggi menyatu dengan kerasnya batu mulai membuat peluh mengucur di kening, namun semilirnya angin menahan untuk berlama-lama di titik ini.

Karena penasaran, usai turun dari tangga benteng kami langsung menuju benteng yang tadi terlihat dari puncak. Benteng Torre yang berdiri pada tahun 1578 berada di belakang Istana Tidore tepat di atas area pemakaman kerabat kerajaan. Tangga untuk menaikinya cukup landai dan panjang hingga ke puncak bentengnya yang berupa halaman luas dan kini ditumbuhi banyak tanaman yang asri. Udara terik tidak menghalangiku untuk mengamati benteng peninggalan VOC yang sudah banyak runtuh di beberapa bagian.

“Kakak suka baca buku, ya?” tanyanya usai ia mengambilkan gambarku dengan pose andalan. Saat itu aku membawa buku Ajip Rosidi yang berjudul Anak Tanah Air. Aku mengangguk, “Iya, kemana-mana aku membawa buku. Buat teman di kala senggang.” Ia melihat-lihat buku yang kupegang,”Kalau aku juga suka membaca, kak. Penulis favoritku Che Guevara. Kakak tahu?” Tentu saja aku mengenal cerita dokter yang berkeliling negerinya naik motor itu. Mungkin Iki ingin menjelajah dunia juga dengan motornya.

Sisi paling luar benteng masih berdiri tegak dengan beberapa sekat ruang di baliknya, namun melongok ke dalam tampaklah sisa dinding dengan denah persegi dengan tumpukan bebatuan di tengah, seakan setiap kepingan masa lalu tetap disimpan di situ untuk kelak dibangun kembali. Jika melihat jauh ke atas, mungkin guncangan gunung Tidore yang membuat benteng yang terlihat kokoh ini runtuh di beberapa bagian.

Kota Tidore sendiri tidaklah ramai seperti Ternate. Di siang hari tak terasa hiruk pikuk orang maupun lalu lalang bentor mengantar penumpang. Seakan di sini orang lebih cocok untuk beristirahat saja di keteduhan ketika panas matahari berada di ubun-ubun. Masih tersisa satu rumah masa lalu Tidore di tengah kota. Gayanya mirip dengan ciri rumah kolonial di Jawa, mungkin juga dulu bekas rumah pejabat.

Karena sudah masuk waktunya, Iki membawaku makan siang di pasar. Memang pas jika terik begini kami beristirahat dulu untuk sementara waktu. Ia bercerita, jika sehari-hari ia adalah seorang guru SD. Haa, tak kusangka dengan perawakannya yang sangar itu ia mengajar di depan kelas.

“Saya juga masih kuliah di Ternate, Kak,” ujarnya sambil menyantap ikan goreng teman makannya. Wah, ternyata dia memang cukup produktif sehingga hari libur begini dihabiskannya dengan mengojek mengantar turis sepertiku.

Kami melanjutkan perjalanan ke desa-desa dengan pemandangan yang memanjakan mata. Pembatas antar desa hanyalah gapura sederhana, namun setiap desa menggunakan pagar yang sama sebagai penanda. Dalam satu larik desa kami menemukan semua pagar berwarna kuning, berpindah lagi dengan pagar bambu berwarna hijau, hingga pagar-pagar berwarna merah jambu. Ah, rupanya pembatas ini untuk mengantisipasi supaya anak-anak tak begitu saja berlari ke jalan tempat kendaraan bermotor melintas. Karena mereka sebenarnya lebih suka bersenda gurau tak berbatas dengan tetangga.

Setengah jam kemudian, kami tiba di titik yang disebut Iki sebagai air panas. Semula kupikir itu hanyalah kolam di tepi pantai, namun pengelolanya ternyata sudah menambahkan dinding batu di sekelilingnya. Karena tidak membawa pakaian ganti, aku hanya merendam kakiku saja yang memang agak pegal berjam-jam di atas motor. Namun ternyata pemandangan anak yang bermain-main di tepi laut cukup mencuri hatiku. Belasan anak kecil menjelang remaja asyik bermain air walaupun cuacanya terik. Mereka saling menciprati temannya, sambil bersenda gurau riang. Orangtuanya berkumpul di tikar di keteduhan, sambil memperhatikanku.

“Dari mana, kak?” tanya mereka ingin tahu.
“Saya dari Jawa, Bu,” sambil minta izin memotret anak-anak mereka sebelum berangkat lagi.

Melintasi hutan pala, membuatku penasaran dan berhenti untuk melihat dari dekat rempah ini. Pohon-pohon pala ini sudah berumur kira-kira 4-5 tahun dengan ketinggian hingga 20 meter. Ranting-rantingnya mudah dipanjat dengan daun yang tak lebih besar dari kepalan tangan. Buah yang sudah siap dipetik akan dikeringkan dan diperjual belikan melalui kapal dagang yang akan mengarung hingga belahan negeri yang lain. Hutan pala ini cukup rimbun menaungi jalan. Di beberapa tempat berseling dengan hutan cengkeh.

Tak bosan ditemani sisi-sisi laut yang hilang dan tampak lagi dalam pandangan, lingkup biru yang menyejukkan mata hingga pada satu tampak, pelabuhan Tidore tempatku datang tadi ada di depan mata. “Itu sudah sampai pelabuhan lagi!” teriak Iki sambil menunjuk kapal-kapal di depan. Rupanya kami sudah berkeliling pulau Tidore yang mengharu biru ini, dengan laut selalu berada di sisi kanan. Kuucapkan selamat berpisah pada Iki, yang kembali menunggu penumpang dari penyeberangan. Kapalku pun menjauh dari Tidore, penghasil pala primadona masa yang tak lekang oleh zaman.

Sebagian tulisan ini pernah dimuat di Koran Tempo, Agustus 2016.
perjalanan Mei 2016, ditulis di Depok Juli 2017.

solo traveling maluku utara:
kepingan lingkar ternate
ruang-ruang sosial di tepi laut ternate

Advertisements

16 thoughts on “pemandu lokal dari tidore

  1. DongengTravel says:

    wihhh beliau suka Che Guevara lohh!! hebat pengetahuannya.. btw mba cerita dan bahasa sangat enak buat dibaca mungkin karena mba senang baca buku kali ya jadi pilihan katanya banyak hehehe

    mba coba main ke blog aku ya (klik di nickname)

  2. Liza Fathia says:

    sekilas pemandangannya mirip Sabang ya kak, kalau kak Indri mau jelajah rempah, aku rekom ke Aceh selatan juga, disana banyak banget kebun pala. btw, jalan-jalan pake motor emang lebih seru ya, kak. aku pun lebih suka naik motor walau agak pegal2

  3. jonathanbayu says:

    Jalan-jalan jauh seperti ini memang senang banget ya kak kalau dapat pemandu yang pas dan baik. Pengalaman dulu keliling di Sulteng, kenalan sama orang bajo yang baik, bahkan sampai sekarang masih berhubungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s