elegi fatumnasi

0-cover-fatumnasi

Di jalanan ini aku banyak bertemu dengan orang hebat,
salah satunya adalah Mateos Anin, seorang bijak bestari dari Fatumnasi.
Ia mengajariku tentang arti sebuah ketulusan, ia juga yang menerima kehadiranku seperti anaknya sendiri.
~ Tekno Bolang : Kembara [2014]

Kami terantuk-antuk di bak belakang Toyota Fortuner yang kunaiki bersama Firsta dan Dea, serta tim dari ASITA NTT yang mengundang kami menjelajah pulau Timor. Dari kota Soe yang merupakan ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan itu, jalanan yang mula-mula berupa aspal mulus, lalu berubah menjadi agak kasar dengan tanjakan-tanjakan curam yang membuat kami harus berpegangan pada tepi bak mobil. Bukannya kami tak muat duduk di dalam kabin, tapi rasanya lebih asyik di luar dan merasakan angin menampar-nampar pipi dan meniup rambut, melihat hamparan tanah-tanah kering di sekitar sepanjang jalan.

km 12

Satu padang besar dengan lembah menghijau di kejauhan menyergap mata. Ah, pasti harus berhenti di sini. Jangan sampai pesona bentang alam di bawah langit biru lazuardi ini tidak sempat kami nikmati karena waktu yang tak terganti. Dari ujung kiri hingga kanan ilalang lembut menghampar agak hijau, dan satu dua pohon muncul malu-malu di tengah-tengah, sementara hembusan angin sepoi-sepoi mempermainkan rambut hingga acak-acakan. Tak ada pohon besar yang meneduhi.

1-kupang-soe-fatumnasi-km-12

2-kupang-soe-fatumnasi-km-12

Tepi lembah ini berujung jauh ke sana dengan karang-karang sebagai struktur tanahnya ikut muncul di permukaan. Pepohonan yang masih berdaun hijau tegak berdiri, layaknya berani menyambut musim penghujan. Namun sejauh menudungkan mata, lebih didominasi oleh warna coklat kemarau. Pak Mesakh, pemandu kami bercerita, “Di musim penghujan atau awal Mei, area ini berubah hijau. Cobalah tengok lagi nanti ke sini.”

Aku memejamkan mata. Memang amat mungkin dataran ini menjadi hijau dan indah. Pepohonan berdaun akan menari mengikuti arah matahari, kupu-kupu akan berlompatan riang, dan mungkin juga bunga-bunga akan muncul di sela-sela ilalang. Tajuk-tajuk pohon akan bermunculan diantara embun, dan ditimpa bias-bias cahaya matahari.

3-kupang-soe-fatumnasi-km-12

Pemukiman warga setempat bermunculan di kiri dan kanan dalam satu kawasan. Rumah-rumah kayu yang berdiri di atas tanah keras, beratap rumbia atau sebagian sudah berganti dengan seng. Di bagian belakang terdapat rumah kerucut yang difungsikan sebagai dapur. sebagai pasangan rumah utama. Ah, rasanya aku kepengin turun dan bercengkrama dengan penghuninya, cuma bisa penasaran dari bak mobil. Bilakah aku berinteraksi dengan mereka?

bola palelo

Dari kejauhan tampak satu bukit di ketinggian dengan lembah yang mungkin berseberangan dengan lembah pertama tadi. Saat berhenti, orang-orang berloncatan dari mobil dan berlomba-lomba sampai ke puncak bukit untuk menemukan lembah. Satu tanjung menjorok tempat Bobby, Hartadi, dan Shabrina bergantian diambil gambarnya. Warna masih didominasi warna cokelat kemarau dan bebatuan karang dengan gunung batu di kejauhan sebagai latar. Dan angin di ketinggian seperti ini lebih kencang dari titik sebelumnya. Berdiri pada ketinggian membuatku harus waspada supaya tidak tergelincir jua.

4-kupang-soe-fatumnasi-bola-palelo

5-kupang-soe-fatumnasi-bola-palelo

7-kupang-soe-fatumnasi-bola-palelo

Tidak lagi melintasi pemukiman, rupanya savana yang kami lewati di depan adalah tempat penggembalaan sapi-sapi. Mamalia tersebut asyik mengunyah rumput yang ditemukan di lereng-lereng bukit. Ketika memasuki hutan-hutan berkayu tinggi, kami menemukan beberapa kuda di lahan-lahan berpagar kayu. Ah, ingin rasanya berhenti dan mengelus-elus surai binatang berkaki empat yang anggun itu. Sayang mobil harus terus melaju karena jalanan menanjak dan tidak bisa berjalan pelan-pelan supaya tetap kuat. Kondisi jalan yang berpasir berbatu-batu membuat setiap pengemudi mobil harus berhati-hati mengendalikan laju kendaranya. Jalanan benar-benar sudah tidak mulus lagi sehingga kami harus berpegang erat-erat pada tepi bak mobil agar tidak terlempar.

11-kupang-soe-fatumnasi-rumah-desa

10-kupang-soe-fatumnasi-jalan

“Jadi, kalau penduduk di sini naik turun naik apa, ya?” tanyaku.
“Mungkin mereka naik motor untuk ke Soe,” kata Pak Yohannes yang ternyata baru pertama kali juga naik ke Fatumnasi. Tapi mungkin juga ada kendaraan semacam truk yang bisa naik hingga ketinggian ini dan berubah menjadi kendaraan angkutan. Dengan medan jalan yang seperti ini, diperlukan kendaraan yang cukup tangguh untuk menjelajah jalan-jalannya.

9-kupang-soe-fatumnasi-transport

fatukolen

Padang terbuka rumput savana dan ilalang luas dengan bongkahan bebatuan terpapar di depan mata. Melihat warna dan kekokohannya, aku menduga bebatuan itu pasti granit keras. Segera terlintas di pikiran satu celetukan seorang teman, “Kamu itu kan penggemar batu, In!”. Dan syukurlah, mobil paling depan menghentikan jalannya di depan salah satu bongkahan batu, sehingga aku bisa melompat turun dan mendekat. Takjub.

“Ini Fatukolen, dan batu-batu di sini memang batu granit atau marmer yang keras,” jelas Pak Mesakh. Di padang savana luas, di mana anak-anak kecil berlarian bermain-main di tengah hembusan angin yang cukup kencang. Lansekap bergelombang dan berbukit-bukit namun semuanya dalam tona warna yang sama. Coklat kemarau. Suasana padang seperti ini khas tanah Nusa Tenggara yang cenderung kering, apalagi bumi Timor yang berbatu-batu. Tumpukan andesit ini begitu kokoh berdiri membuat tanya dalam pikir, apakah ini muntahan gunung atau jalur lava sedimentasi? Dimensinya membuat kami merasa kecil.

12-kupang-soe-fatumnasi-fatukolen-batu

13-kupang-soe-fatumnasi-fatukolen-granit

14-kupang-soe-fatumnasi-fatukolen-granit

15-kupang-soe-fatumnasi-fatukolen-batu

15-kupang-soe-fatumnasi-fatukolen-batu-anak-perempuan

 

fatumnasi

Aku masih menduga-duga berapa jauh Fatumnasi berada, karena sudah lebih dari dua jam kami di dalam mobil, ketika mobil berhenti di dalam desa di depan sekumpulan orang-orang berpakaian adat. Pak Mateos Anin, menyambut kami dengan asesoris lengkap yang berwarna-warni cerah. Anak-anak berkeliling di sekitarnya melakukan acara tari-tarian penyambutan diiringi beberapa ibu-ibu yang memukul perkusi tradisional dengan irama-irama yang riang. Keahlian tari pasti diajarkan turun temurun untuk menjaga tradisi suku desa ini.
16-kupang-soe-fatumnasi-desa-tarian-adat

17-kupang-soe-fatumnasi-desa-tarian-adat

18-kupang-soe-fatumnasi-desa-tarian-adat

19-kupang-soe-fatumnasi-desa-mateos-anin

Pak Mateos mengucapkan kata-kata penyambutan dalam bahasa Timor yang tidak aku pahami, namun dari raut mukanya yang tersenyum hangat, kami tahu bahwa kehadiran kami diterima dengan baik. Warga Fatumnasi melanjutkan menari berkeliling terus masih berpakaian adat yang berwarna warni, dilengkapi dengan gelang-gelang kaki yang bergemerincing riuh. Tiba-tiba mereka menarik kami untuk ikut menari berkeliling sebagai penjalin akrab. Senyum, berbagi, dan menjadikan kami bagian dari Fatumnasi. Di penghujung prosesi penyambutan ditutup dengan pengalungan kain tenun pada Lenny, Richo dan Pak Abed Frans, ketua ASITA NTT mewakili kami.

20-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat

23-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat

24-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat

25-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat

26-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat

Ketika yang lain berangkat ke Hutan Bonsai raksasa, aku memutuskan untuk tetap tinggal di desa. Aku memilih untuk memerhatikan arsitektur rumah yang unik itu selagi masih ada cahaya. Kebetulan, Valentino Luis juga berniat tinggal karena ia hendak mengambil beberapa gambar. Ia sudah pernah bertandang ke Fatumnasi selama beberapa hari dan jatuh cinta pada tempat ini.

Aku terpesona pada Fatumnasi.

Sebuah rumah besar tempat bapak Mateos Anin tinggal berisi banyak barang-barang yang dipakai untuk upacara. Kami melanjutkan terus ke belakang tempat tujuh rumah bundar berdiri. Seorang ibu dan anak-anaknya yang tersenyum ramah menghampiri kami. “Mama, tinggal di sini juga? Apa rumah-rumah ini jumlahnya harus tujuh?” Ia menggeleng dan mengatakan akan dibangun lagi bangunan seperti ini di tanah yang masih luas di belakang. Rupanya rumah yang berbentuk dome ini difungsikan sebagai homestay untuk tamu-tamu yang akan bermalam.

53-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo-rumah-mateos-anin

Aku harus merunduk setengah jongkok untuk memasuki rumah yang disebut lopo ini yang berpintu lengkung. Di dalamnya terdapat rangka dari kayu yang menyusun lopo ini hingga meruncing ke atap. Terdapat tiga dipan beralaskan bambu di dalamnya, dibatasi oleh empat rangka utama yang menahan atap. Sekeliling dinding bangunan terbuat dari bambu, dengan bahan atap seperti yang jamak ditemukan di kawasan Nusa Tenggara, susunan ilalang. Ukuran lopo tidak terlalu besar, hanya berdiameter 3 meter, dengan tinggi yang kurang lebih 3 meter juga, sehingga ukurannya tegak proporsional. Mungkin ada filosofi proporsi lingkaran tentang dimensi lopo ini, yang harus aku cari tahu lebih lanjut.

Rumah ini sendiri tidak beralas permanen, sehingga dari luar ke dalam tetap tanah di bawah kaki. Dengan dinding-dinding bambu, udara sejuk di luar menyelusup ke dalam, walaupun sudah dihangatkan oleh untaian ilalang atap. Katanya, kalau bermalam di sini harus menyiapkan pakaian hangat, karena desa Fatumnasi ini berada di kaki gunung Muntis, sehingga iklim lokalnya sejuk cenderung dingin. Duh, aku jadi kepengin menghabiskan malam di sini sambil melihat langit bertabur ribuan bintang.

31-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo

40-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo

44-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo

43-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo

42-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo

41-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo

34-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo

Di sekitar pemukiman penduduk banyak terdapat pohon bambu dan pohon kayu yang dipergunakan untuk membangun ulang rumah apabila telah lapuk. Ilalang-ilalang kering juga tersedia di sekitar padang savana. Beginilah ruang tinggal berkelanjutan, ketika alam selalu bisa menyediakan pengganti karena alam itu tumbuh dan hidup. Manusialah yang harus memanfaaatkan alam namun tetap setimbang.

Anak-anak riang bermain-main di pelataran yang ditumbuhi aneka pepohonan itu. Seorang pemuda yang merawat kuda di samping lopo bercerita, “Datang saja nanti di musim penghujan, di sini penuh buah-buahan.” Ia menunjukkan pohon lemon yang berada tepat di tengah desa, yang katanya akan banyak berbuah tahun depan. “Nanti musim bunga, kemudian musim buah, indah sekali di sini,” sambil mengelus-elus surai kudanya. Ia biasa membawa kuda ini berkeliling, juga ke hutan-hutan.

32-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo

36-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo

45-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo

38-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo

Di sore hari, mama-mama menenun di halaman ini membuat beberapa kain untuk dijual sebagai cinderamata. Harganya bermacam-macam tergantung bahan benangnya. Benang dari kapas lebih mahal daripada benang biasa, dan untuk pewarnanya mereka menggunakan bahan alami. Tak heran kain tenun Timor harganya mahal karena ketekunan membuatnya.

30-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-tenun

29-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-tenun-2

Rumah-rumah di Fatumnasi tidak hanya lopo ini saja, namun banyak juga rumah-rumah dari kayu yang berbentuk kotak. Ketika Luis pamit untuk mengambil foto di bukit, aku memutuskan untuk berjalan santai sekeliling desa yang lebih besar. Ternyata di desa Fatumnasi juga dilengkapi dengan sekolah dasar yang cukup besar dengan halaman yang luas, juga gereja yang berdiri megah dan sedang diperluas. Rumah-rumah penduduk di sekitar rumah Pak Mateos terdiri dari dua bangunan, rumah utama dan lopo sebagai dapur.

Anak-anak berjalan di jalan desa yang berbatu-batu desa tanpa takut kedinginan, sementara aku mulai merasa hawa menggigit kulitku. Mereka malu-malu ketika aku minta fotonya, mungkin karena masih muda dan belum terbiasa pada orang asing. Tapi di halaman-halaman rumah yang lain, anak-anak melambaikan tangannya dengan gembira, berteriak kemudian bersembunyi di balik lopo-nya.

Ah, seandainya bisa lebih lama di sini. Sepertinya aku akan kembali lagi, pikirku sambil memandang langit yang mulai menggelap. Mungkin di musim yang lain.

49-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo

48-kupang-soe-fatumnasi-desa-adat-lopo

46-kupang-soe-fatumnasi-desa-sekolah

47-kupang-soe-fatumnasi-desa-gereja

50-kupang-soe-fatumnasi-desa

51-kupang-soe-fatumnasi-desa-anak

Fatumnasi, 21 November 2015
ditulis di Bogor, 17.12.2015
#ExploreTimor #ExploreTheDiversity
Perjalanan bersama DPD ASITA NTT

cerita lainnya di pulau timor :
12 jam keliling kupang
cerita senja tablolong

elegi fatumnasi
rumah-rumah yang berlari dalam perjalanan menuju kolbano
cerita dari batu-batu di pantai kolbano
semau, satu bukit dan sekian pantai

Advertisements

22 thoughts on “elegi fatumnasi

  1. Gara says:

    Desa yang tetap asli dengan kearifan lokal yang otentik. Hm, serasa dibawa jalan ke sana dengan membaca ini, Mbak, dan rasanya sangat menggetarkan. Apalagi dengan setting alam yang luas dan seindah itu, wow, memang banyak sekali kekayaan Indonesia timur yang masih tersembunyi. Apa ya… kombinasi manusia, alam, budaya dan produknya itu unik banget. Dengan berada di sana saja pasti bisa merasakan energi kehidupan mereka yang benar-benar hangat, ya.
    Ditunggu cerita selanjutnya!

    • indrijuwono says:

      aku suka sekali berada di sini, rasanya kepingin agak lama dan mengobrol dengan penduduk, atau ikut mengajar anak-anak SD sambil bercengkrama. rumah-rumahnya dan alami. dan mereka terlihat bahagia tidak mengeluh.

      • Gara says:

        Berarti mereka adalah orang-orang yang sangat pandai bersyukur ya Mbak… :hehe. Mudah-mudahan kita juga bisa jadi seperti mereka, bahagia dan bersyukur dengan apa yang ada :)).

  2. sutiknyo says:

    Bapakku Mateos Anin, saya dulu kesana ketika ibu beliau baru saja meninggal. Dengan berbicara serius di samping perapian pada malam hari “anak jangan kamu pandanh ini dari harganyanya, tapi ini dari nenek yang harus saya sampaikan”- demi apa saya gemetar, menerima sebuah tempat sirih pinang yang biasa almarhumah pakai, yang harganya tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah, Tapi disana saya mendapatkan kehangatan keluarga baru. Terimakasih kak Indro, ceritanya keren. Membacanya seolah saya sedang berada di sana, dinsamping tungku perapian mama Mateos Anim yanh senantiasa ngebul.

    • indrijuwono says:

      wah, mas. jadi kehadiranmu semacam sudah ‘ditunggu’ gitu ya sampai mendapat tempat sirih itu? aku dengar cerita kalau kamu sampai fatumnasi tengah malam hujan-hujanan dan naik rio di jalan berbatu-batu itu, whuaa. pantesan bela-belain.. desanya keren dan hangat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s