Tag Archives: depok

kelas inspirasi depok, bandelnya anak-anak setahun kemarin

0-kelas-inspirasi-depok-pancoran-mas-4-cover

Langkah menjadi panutan. Ujar menjadi pengetahuan. Pengalaman menjadi inspirasi.

Aku suka mengajar anak-anak. They are some magnificent creatures that always happy and ‘want-to-know’ face that made me love them so much. Sayangnya, aku tak punya cukup waktu (dan kerelaan) untuk mengajar terus menerus sepanjang tahun. Makanya, ketika ada penawaran ikut Kelas Inspirasi Depok Oktober tahun 2014 lalu (iya, tahun lalu, saking sibuknya baru ditulis sekarang), kenapa tidak? Pasti dekat dengan tempat tinggalku, nih.

Mengajar juga sebagai pembuktian sebagai perempuan yang baik, sanggup menghadapi tantangan dan kodrat, yaitu mendidik anak-anak. Yakinlah bahwa banyak sekali yang berpendapat bahwa isi kepala dan tingkah laku anak-anak dibentuk oleh pendidikan yang mereka terima di masa kecil. Apalagi mengajar di kelas yang tidak dikenal, ketika anak-anak yang tidak bertemu setiap hari, dan kita harus memberi suatu motivasi, hendak seperti apa mereka kelak. Continue reading kelas inspirasi depok, bandelnya anak-anak setahun kemarin

ruang luas, ruang sempit

pejalan kaki

ruang luas menjauhkan, ruang sempit mendekatkan.

Pernahkah kamu mengalami ketika kamu mengambil jalan memutar tetapi lebih terasa dekat karena ruang yang kamu lalui lebih sempit? Pernahkah kamu diharuskan ke suatu tempat melintasi lapangan yang nyata-nyata lebih dekat, namun kamu memilih untuk menyisir koridor kelilingnya padahal lebih jauh secara jarak? Pernahkah kamu merasa bahwa lambat itu berharga?

Ada pengalaman yang kemudian membuat aku berpikir tentang ini. Malam itu aku pulang dari ITC Depok, seperti biasa mencari angkutan kota nomor 04 di dekat stasiun yang berada di belakang ITC Depok tersebut. Di tengah jalan kakiku di lorong sempit antara tukang-tukang jualan itu aku berpikir, lho, bukannya kalau lewat depan ITC lalu ke lampu lalu lintas sesudah terminal di samping ITC lebih dekat ya? Hanya melipir tepi jalan Margonda di depan terminal saja. Terus kenapa aku selalu lewat lorong ini? Padahal kalau dihitung langkah kaki, pasti perjalananku lebih panjang.
Continue reading ruang luas, ruang sempit

depok – manggarai : PP

stasiun manggarai

“Time goes faster the more hollow it is.
Lives with no meaning go straight past you, like trains that don’t stop at your station.”
― Carlos Ruiz Zafón, The Shadow of the Wind

Ada banyak faktor yang membuat aku lebih memilih naik KRL daripada transportasi umum lainnya. Faktor utamanya adalah kecepatan. Faktor kedua adalah ekonomis dan murah. Faktor ketiga adalah, karena memang aku lebih menyukai naik kendaraan umum yang dapat dimuati lebih banyak orang, sehingga ada kemungkinan untuk bertemu orang-orang baru. Dengan kepadatan perpindahan kaum komuter yang tak sebanding dengan panjang jalan, kereta sebagai moda transportasi massal memang seharusnya dijadikan pilihan utama jika kepraktisan dan kecepatan menjadi faktor penentu.

Beberapa jalur kereta di Jabotabek sudah ada sejak tahun 1925. Tahun 1976 PJKA mendatangkan sejumlah kereta rel listrik dari Jepang, yang beberapa merupakan hibah dari pemerintah Jepang. Beberapa tempat yang mobilitasnya tinggi pun lama kelamaan berkembang tak hanya satu jalur saja, namun menjadi dua jalur sehingga intensitas kereta yang lewat pun menjadi semakin sering. Karena itu, daerah-daerah yang dilalui kereta menjadi pesat perkembangannya. Permukiman-permukiman baru tumbuh di sekitar stasiun. Makin banyak juga orang Jakarta yang pindah ke pinggiran dan memanfaatkan akses kereta untuk menuju tempat bekerjanya di Jakarta setiap pagi. Mungkin Jakarta sudah sedemikian sumpeknya untuk ditinggali, sementara di pinggiran masih ada area hijau dengan udara yang sejuk untuk mengawali hari.

Aku mulai rutin naik KRL sejak bekerja di kawasan Manggarai tahun 2004. Continue reading depok – manggarai : PP

jumpa Jakarta dan KRL Jabotabek

Takdir UMPTN mengatakan kalau aku harus kuliah di kampus beringin di Depok, bukan di kampus Ganesha cita-citaku. Meskipun diterima di beberapa perguruan tinggi swasta di Bandung, namun aku tetap memilih Depok, dengan pertimbangan sama-sama universitas negeri.

Kunjungan pertamaku di Depok, menginap di rumah salah satu kerabat di situ, yang kemudian mengajakku berjalan-jalan ke kota Jakarta naik… KRL alias Kereta Rel Listrik! Awalnya sempat ngeri juga naik KRL yang kondisinya penuh dan kita harus sigap untuk naik dan turun di stasiun yang dituju. Beda dengan kebiasaanku naik kereta api luar kota dengan jeda waktu naik turun yang santai, KRL ini mengejutkanku. Seperti di film-film luar negeri yang kutonton ketika orang berebutan di stasiun untuk naik kereta cepat, seperti ini juga yang kusaksikan di peron. Bedanya, kalau di film atau komik Kobo-chan itu KRLnya bersih dan pintunya selalu menutup otomatis, di KRL Jabodetabek ini agak kotor, pintunya tak bisa tertutup, dan penumpangnya berjubelan sampai atap.

Sudah menjadi kebiasaanku jika tinggal baru tinggal di satu kota, maka aku akan mencoba seluruh jalur kendaraan umumnya sampai ujung dan kembali lagi. Tak terkecuali naik KRL. Aku mencoba naik KRL ini sampai stasiun Kota, balik lagi ke Depok, atau ke arah stasiun Bogor, balik lagi ke Depok. Selain untuk mengenali kota Jakarta, juga untuk menghafalkan semua stasiun yang aku lalui.
-baca kelanjutannya->

transportasi ‘khusus’ wanita

di dalam gerbong

Hampir sebulan yang lalu, PT Jakarta Commuter meluncurkan layanan baru mereka, Gerbong Khusus Wanita. Setiap rangkaian KRL AC, di ujung-ujung rangkaiannya dikhususkan untuk penumpang wanita.

Pada hari-hari pertama beroperasi, banyak kaum adam yang masa bodoh dengan pengkhususan ini, dan memaksakan masuk ke gerbong khusus dengan alasan yang bermacam-macam. Terkadang pria-pria ini pindah gerbong kalau ditegur. Ada juga yang ‘tambeng’ dan tetap saja berdiri di antara 80-an wanita di sekitarnya, walaupun sudah diteriaki sindiran-sindiran nyinyir (ah, mulut wanita!).

Lama kelamaan, jenis pria yang bodoh bisa membaca namun tidak paham ini pun berkurang, karena ada petugas di dalam yang siap mengusir penumpang pria yang ikut. Rupanya, selain persuasif lewat tulisan dan seruan pengeras suara, masih perlu sosok untuk bertindak langsung. Hmm, begitu sulitkah bangsa kita ditertibkan tanpa penertiban fisik?

Hal yang mirip terjadi di jalur Transjakarta. Seiring dengan maraknya pelecehan seksual di dalam bis transjakarta, di halte-halte alumunium itu dipasang jalur antrian yang ditempel dengan selembar kertas, di kiri laki-laki, di kanan wanita. Namun lagi-lagi hal ini tidak berlaku sama sekali. Yang mengantri, siapa kuat ia dapat maju, apalagi di halte-halte padat seperti Dukuh Atas.

Apakah di halte-halte kecil lebih bisa ditertibkan? Ternyata sama saja, tempelan tulisan itu lebih seperti hiasan tanpa makna, tanpa penetrasi petugas untuk mengarahkan, hampir sulit untuk mengarahkan pemisahan antrian berdasarkan gender dengan kesadaran sendiri dari pembacanya. Mungkin juga karena ruang halte yang berbentuk memanjang dengan bukaan samping, jadi menyulitkan antrian.

Sebenarnya, apa alasan dari penyedia jasa transportasi untuk menyediakan layanan ‘khusus’ ini?

Kalau dilihat apa yang terjadi di kendaraan umum, mungkin yang paling ditakuti adalah terjadinya pelecehan seksual di dalam kereta. Tindak kejahatan lain, jambret, copet, dan sejenisnya mengancam baik kaum adam maupun kaum hawa. Beberapa teman kuliah saya, perempuan pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan ini di KRL. Meskipun ditegur, pelaku tetap saja tidak merasa bersalah.

Jaman sekarang, dimana kaum perempuan juga banyak beraktivitas di luar rumah, dan potensi kejahatan terhadap mereka pun meningkat. Memang, perempuan butuh dilindungi, tapi ada ketakutan bahwa pengkhususan ini malah memperlihatkan bahwa perempuan itu lemah dan butuh dilindungi. Bisa-bisa ada sindiran dari laki-laki, bahwa perempuan yang minta emansipasi dan disetarakan, tapi koq tidak bisa melindungi diri, masih butuh pengkhususan begini.

Pelecehan seksual dalam kendaraan umum, sejauh ini yang saya dengar, hanya dialami perempuan, hampir tidak ada laki-laki yang melaporkannya. Karena itu, penyedia layanan transportasi menyediakan ‘pengkhususan’ baik jalur maupun ruangnya.

Tentunya yang diharapkan bukannya hanya dengan adanya pemisahan ini maka pelecehan akan berkurang drastis. Seharusnya sanksi bagi pelaku pelecehan yang diterapkan dengan maksimal, tidak hanya dengan hanya disoraki atau dipelototi, tapi juga tindakan hukumnya yang jelas, sehingga membuat jera. Sehingga perempuan tidak harus hidup dalam bubble perlindungan semu seperti ini.

depok, 12.09.10

sulitnya mengatur di perumahan

deretan di perumahan

Ketika memutuskan tinggal di lingkungan perumahan, saya punya pertimbangan, lingkungan yang homogen, area yang diatur, ditata, sehingga membuat saya tidak kesulitan menyesuaikan diri di lingkungan tersebut baik secara fisik maupun sosial.

Perumahan, biasanya dibangun mengikuti langgam tertentu, yang diaplikasikan oleh pengembang menjadi rumah-rumah yang dibangunnya dalam beberapa tipe. Untuk saya yang menyukai keteraturan dan lingkungan yang terkontrol, kerapihan wajah jalan menjadi pertimbangan saya.

Namun, lagi-lagi saya kecewa oleh pengembangnya. Ternyata, walaupun sudah mengklaim dirinya sebagai pemukiman real-estate, tapi tetap saja ada adu wajah rumah yang membuat koridor jalan yang tadinya rapi dengan rumah-rumah bermodel serupa, rusak oleh sempilan langgam-langgam yang diterapkan tidak pada tempatnya. Beberapa rumah bahkan di boulevard utama, berlanggam sangat menyimpang dari langgam standar ini. Rasanya aneh bukan melihat bangunan bergaya klasik, mediteran, atau modern minimalis, tiba-tiba muncul di jalan utama yang tadinya berirama minimalis tropis ini.

model tropis, tropis, mediteranian
model bangunan standar, modern minimalis, mediteran

Saya tidak berusaha memaksakan kehendak pada orang-orang pemilik rumah-rumah tersebut. Tapi saya pikir, mereka mestinya mikir dong, kalau mau tinggal di perumahan, ya harus mau diatur, karena ini kan lingkungan yang dibuat terencana, jadi jangan memaksakan untuk membangun seperti daerah yang tumbuh begitu saja. Lagipula isi rumah bisa bermacam-macam menurut selera dia, tapi untuk wajah rumah bukannya lebih enak dipandang kalau senada (tidak harus sama), karena wajah rumah bukan milik si pemilik sendiri, tapi juga milik lingkungan yang memandangnya.

Pernah saya ngobrol dengan salah satu pemilik rumah bergaya mediteran yang tidak menyisakan ruang hijaunya di halaman depan sama sekali. Katanya, loh, tanah dan rumah ini kan sudah saya beli, jadi terserah saja mau saya apakan, developer nggak usah sok ngatur-ngatur. Duh, egoisnya, pikir saya. Mending kalau jadinya bagus atau mbagus-mbagusin lingkungan. Yang minimalis setidak-tidaknya cukup dekat dengan gaya tropis minimalisnya. Tapi kalau mediteran kan jauh sekali. Ini jadi menonjol dan aneh sendiri bagaimana?

Saya cukup salut dengan perumahan Pesona Khayangan, Depok, di mana developernya cukup ketat mengawasi soal wajah rumah ini, tidak hanya di boulevard, tapi sampai jalan-jalan lingkungan dalamnya juga. Setiap renovasi bangunan harus sepersetujuan pengembang, terutama wajah rumah harus senada, tidak harus sama, tapi  tidak melenceng dari  langgam semi mediteran tropis yang diusungnya. Pengembang berani galak dan menegur penghuni apabila melanggar ketentuan ini. Yang terjadi adalah lingkungan yang asri tertata, tidak ada lomba wajah rumah dan pagar yang aneh-aneh. Dengan harga jual kaplingnya yang cukup tinggi dibanding perumahan di kota yang sama, lingkungan yang terjaga rapi membuatnya memiliki nilai investasi yang tinggi bagi pemilik kapling di sini. Aturan yang menguntungkan toh?

Mungkin, untuk perumahan baru, seperti perumahan tempat saya tinggal yang baru berumur 4 tahun, pengembangnya tidak berani galak karena takut kehilangan pembeli. Padahal, dengan lokasi perumahan yang sangat strategis dan harga jual yang bersaing, ia tidak perlu takut akan hal itu. Kalau perlu bisa menolak pembeli yang mau aneh-aneh dengan bangunannya. Seandainya mau berpikir panjang, nilai investasi bangunan akan bernilai lebih tinggi dalam lingkungan yang tertata, apalagi jika masing-masing tidak egois dan mau kontekstual dengan lingkungan, sebenarnya kita sendirilah sebagai pemilik kapling/rumah yang akan diuntungkan. Langgam apa yang menjadi guide line, itulah yang menjadi gaya yang diikuti. Pun pengembang seharusnya menyediakan arsitek untuk diajak konsultasi oleh pemilik bangunan. Karena tidak semua orang mengerti mengenai gaya, yang memperlihatkan selera pribadinya.

jalan utama deretan rumah

rumahbintang, 08.07.10