Tag Archives: stasiun

stasiun solo jebres tengah malam

Mengakhiri perjalanan di kota Solo, adalah naik ojek hingga Stasiun Solo Jebres menjelang tengah malam. Meskipun melewatkan nasi liwet di tepi jalan, tiba di stasiun tengah kota itu pada jam sebelas menimbulkan perasaan haru.

Aku jatuh cinta.
Stasiunnya cantik.

Lengkungnya tersenyum dengan gaya aristokratnya, memberi tanda kelahirannya di masa lalu 1844. Entah berapa banyak noni dan sinyo yang melalui pintu ini untuk bertandang ke kota sebelah, mungkin ke Semarang sebelum berlayar kelak dahulu. Suara gamelan dari radio yang diperdengarkan tukang soto membawa ke masa lalu. Continue reading stasiun solo jebres tengah malam

serba-serbi berkereta api di india dalam 2804 km

“The trains always arrive at your station. The question is which one to take?”
― Mehmet Murat ildan

Buat yang sering menyimak berita-berita transportasi India, pasti tahu bahwa kereta api adalah transportasi utama yang menjadi favorit banyak warga di negeri ini. Jalur kereta membentang dari dataran rendah Kerala hingga Darjeeling di atap dunia. Yang paling umum digunakan turis adalah Kolkata-Varanasi-Agra-Delhi, jalur yang sudah berfungsi sejak tahun 1860. Atau bisa juga melipir ke sisi-sisi lain dari ujung-ujung kota, hampir selalu bisa dicapai dengan kereta.

Kereta di India ditarik sebagian besar dengan lokomotif diesel dan menggunakan gerbong jenis broad track gauge dengan lebar rel 5 ft 6 in/​1,676 mm seperti yang digunakan untuk BART system di San Fransisco, lebih besar daripada yang biasa digunakan di Indonesia. Karena itu, lebar gerbongnya cukup besar untuk diisi dengan susunan kursi yang cukup besar dalam semi kompartemen dalam gerbongnya.
Continue reading serba-serbi berkereta api di india dalam 2804 km

traveling ke jepang : bawa koper atau ransel?

3-ninenzaka-kyoto

Jujur aku agak sulit memutuskan sewaktu bepergian ke Jepang mau bawa koper atau ransel. Tapi berhubung aku hanya punya ransel 35+10 liter itu plus daypack 25 liter, jadi benda itu saja yang kubawa. Untuk mewadahi kebutuhanku selama 12 hari, jaket, pakaian, tripod, tongsis, kamera, dan alat-alat lain memenuhi tasku. Rencananya ransel akan kutinggal di hotel, sementara daypack dibawa jalan-jalan.

Tapi ternyata ada lokasi-lokasi yang membuatku kepengin bawa koper karena, hmmm.. sakit juga punggung bawa ransel yang berat ini di akhir musim panas yang membuat keringat bercucuran ini. Tetapi setiap kondisi memang ada perbandingan-perbandingannya, koq.
Continue reading traveling ke jepang : bawa koper atau ransel?

terminal : titik silang ganti yang gagal di depok

terminal1

Cab Driver: Where you wanna go?
Viktor Navorski: I am going home.
~ The Terminal [movie-2004]

Dulu, tahun 2002, ketika aku masih rutin sebagai pengguna bis Patas AC 84, hampir setiap hari aku memasuki Terminal Depok. Ketika itu, terminal Depok dibagi menjadi dua, bagian depan dan belakang. Bagian depan untuk tujuan antarkota, bagian belakang untuk tujuan dalam kota. Karena Depok bukan bagian dari Jakarta, maka berbagai bis dari beberapa tujuan terminal di Jakarta akan memasuki terminal Depok di bagian depan. Penumpang yang sampai terminal Depok bisa turun di pelataran terminal kemudian berjalan kaki ke terminal belakang untuk naik kendaraan umum dalam kota Depok ke tempat tujuannya.

Kendaraan umum ini yang biasa disebut angkot, akan keluar melalui pintu terminal yang sebelah utara. Di sini sering terjadi titik macet yang luar biasa. Rute-rute angkot ke arah Depok bagian timur akan berbelok kanan memotong jalur jalan Arif Rahman Hakim untuk menuju persimpangan Ramanda. Sedangkan rute-rute angkot yang ke arah Depok bagian Barat akan berbelok kiri dan langsung dihadang oleh persimpangan kereta KRL yang tertutup hampir setiap 5 menit sekali. Dengan kemacetan ini, orang lebih suka naik angkot di ujung dekat persimpangan kereta, atau yang ke arah Timur akan menunggu di seberang jalan sesudah angkot tersebut menyeberang jalan Arif Rahman Hakim. Praktis fungsi terminal sebagai titik silang ganti gagal karena tidak ada kegiatan menaikkan penumpang di dalam terminal, karena menunggu penumpang akan tertahan lama di dalam angkot untuk berusaha keluar dari terminal.
Continue reading terminal : titik silang ganti yang gagal di depok

kartu pos dari tanah abang

“Life is the train, not the station” ~ Aleph
Paulo Coelho

Stasiun Tanah Abang adalah silang ganti jalur ke Barat (Merak-Rangkasbitung-Serang-Serpong-Parungpanjang-Tanah Abang), dengan jalur Selatan (Tanah Abang-Manggarai-Pasar Minggu-Depok-Bogor), juga bisa menuju jalur Kota Jakarta (Tanah Abang-Duri-Angke-Pasar Senen-Jatinegara), juga sebagai jalur Kereta Ekonomi jarak jauh, apalagi dengan lokasi Tanah Abang dengan tingkat kepadatan penduduk amat tinggi di Jakarta, tingkat bisnis dengan omzet miliaran sehari, menjadikan pergerakan manusia di dalamnya sangat tinggi.
Continue reading kartu pos dari tanah abang

ruang luas, ruang sempit

pejalan kaki

ruang luas menjauhkan, ruang sempit mendekatkan.

Pernahkah kamu mengalami ketika kamu mengambil jalan memutar tetapi lebih terasa dekat karena ruang yang kamu lalui lebih sempit? Pernahkah kamu diharuskan ke suatu tempat melintasi lapangan yang nyata-nyata lebih dekat, namun kamu memilih untuk menyisir koridor kelilingnya padahal lebih jauh secara jarak? Pernahkah kamu merasa bahwa lambat itu berharga?

Ada pengalaman yang kemudian membuat aku berpikir tentang ini. Malam itu aku pulang dari ITC Depok, seperti biasa mencari angkutan kota nomor 04 di dekat stasiun yang berada di belakang ITC Depok tersebut. Di tengah jalan kakiku di lorong sempit antara tukang-tukang jualan itu aku berpikir, lho, bukannya kalau lewat depan ITC lalu ke lampu lalu lintas sesudah terminal di samping ITC lebih dekat ya? Hanya melipir tepi jalan Margonda di depan terminal saja. Terus kenapa aku selalu lewat lorong ini? Padahal kalau dihitung langkah kaki, pasti perjalananku lebih panjang.
Continue reading ruang luas, ruang sempit

depok – manggarai : PP

stasiun manggarai

“Time goes faster the more hollow it is.
Lives with no meaning go straight past you, like trains that don’t stop at your station.”
― Carlos Ruiz Zafón, The Shadow of the Wind

Ada banyak faktor yang membuat aku lebih memilih naik KRL daripada transportasi umum lainnya. Faktor utamanya adalah kecepatan. Faktor kedua adalah ekonomis dan murah. Faktor ketiga adalah, karena memang aku lebih menyukai naik kendaraan umum yang dapat dimuati lebih banyak orang, sehingga ada kemungkinan untuk bertemu orang-orang baru. Dengan kepadatan perpindahan kaum komuter yang tak sebanding dengan panjang jalan, kereta sebagai moda transportasi massal memang seharusnya dijadikan pilihan utama jika kepraktisan dan kecepatan menjadi faktor penentu.

Beberapa jalur kereta di Jabotabek sudah ada sejak tahun 1925. Tahun 1976 PJKA mendatangkan sejumlah kereta rel listrik dari Jepang, yang beberapa merupakan hibah dari pemerintah Jepang. Beberapa tempat yang mobilitasnya tinggi pun lama kelamaan berkembang tak hanya satu jalur saja, namun menjadi dua jalur sehingga intensitas kereta yang lewat pun menjadi semakin sering. Karena itu, daerah-daerah yang dilalui kereta menjadi pesat perkembangannya. Permukiman-permukiman baru tumbuh di sekitar stasiun. Makin banyak juga orang Jakarta yang pindah ke pinggiran dan memanfaatkan akses kereta untuk menuju tempat bekerjanya di Jakarta setiap pagi. Mungkin Jakarta sudah sedemikian sumpeknya untuk ditinggali, sementara di pinggiran masih ada area hijau dengan udara yang sejuk untuk mengawali hari.

Aku mulai rutin naik KRL sejak bekerja di kawasan Manggarai tahun 2004. Continue reading depok – manggarai : PP