a museum walk in singapore

cover

After all, isn’t the purpose of the novel, or of a museum, for that matter, to relate our memories with such sincerity as to transform individual happiness into a happiness all can share?
[Orhan Pamuk, The Museum of Innocence]

Museum! Itu yang aku pilih untuk menghabiskan hari di Singapura. Rasanya tak cukup sehari menjelajahinya. Negeri kecil ini sangat pandai memamerkan kebudayaan yang merupakan akulturasi Cina, Melayu dan India. Cara men-display yang menarik, materi yang bisa kita dapat, semuanya diolah dengan manajemen rapi yang memanjakan pengunjungnya. Aku iri dengan museum-museum di sini. Masih lebih bagus dari museum paling bagus pernah kukunjungi di Indonesia, Museum Bank Indonesia.

Pagi itu aku menghabiskan waktu liburan dari Skyscanner di Singapura dengan sengaja berjalan-jalan sendiri ke pusat kota Singapura untuk mengunjungi beberapa museum yang menarik di sana. Dari hotel Grand Mercure Roxy Square hanya satu kali naik bis sampai National Museum of Singapore. Tapi, seperti hari kemarinnya, aku turun beberapa saat sebelumnya karena menemukan bangunan-bangunan yang menarik.

St. Andrew Cathedral
Aku bukan pemeluk Kristiani, namun bangunan bernuansa putih bergaya Neo Gothic yang dibangun tahun 1857 ini menarik minatku untuk melihat arsitekturnya. Dari depan pagarnya melalui pekarangan hijau yang luas, aku berputar sampai bagian depan dan melihat lengkung besarnya dengan kaca patri menghias jendelanya. Bangunan ini merupakan salah satu kebanggaan arsitektur Singapura dan ditetapkan sebagai monumen nasional pada tahun 1973.

sunken plaza, menara katedral

sunken plaza, menara katedral

pintu masuk utama

pintu masuk utama

Jembatan Elgin Bridge
Dalam 10 menit berjalan kaki di sesudah melalui Gedung Parlemen Singapura, sampailah aku ke Jembatan Elgin Bridge yang sudah kulihat malam sebelumnya dari Boat Quay. Sebenarnya ini tidak sengaja, karena aku mengarah ke barat karena mencari pulsa di 7-eleven untuk kartu Singtelku. Tapi ternyata memang seluruh jaringan down, sehingga aku memutuskan untuk get lost saja dan berjalan hanya dengan peta kertas di tangan.

tepian sungai yang bersih dari jembatan

tepian sungai yang bersih dari jembatan

jalan yang dilintasi jembatan

jalan yang dilintasi jembatan

Old Hill Street Police Station Singapore
Usai menyusuri sungai ke arah utara, ternyata aku menemukan bangunan warna-warni di seberang jalan yang ternyata adalah Kantor Polisi. Dengan dinding berwarna putih bergaya kolonial, seluruh jendela kayunya dicat berwarna-warni merah, kuning, hijau, biru, sehingga meninggalkan kesan seram yang biasanya didapatkan ketika berada di kantor polisi. Jangan salah, hukum di sini amatlah ketat.

kantor polisi warna warni

kantor polisi warna warni

Central Fire Station
Menyeberang Old Hill Street, ada bangunan merah bata yang bertuliskan Central Fire Station. Aku langsung teringat pada temanku Pra Vlatonovic dari Semarang yang tergila-gila mobil blangwir. Untunglah, di dalam gedung ini ada Museum of Civil Defence yang gratis tiket masuknya. Hembusan air conditioner dari ruang pamernya menyejukkan badan yang sudah mulai berkeringat ini. Gedungnya berlantai dua dengan pencahayaan cukup temaram, menyimpan koleksi mobil-mobil pemadam kebakaran sejak jaman dulu.

central fire station dengan pintu merahnya

central fire station dengan pintu merahnya

mobil pemadam kebakaran dengan mesin uap

mobil pemadam kebakaran dengan mesin uap

mobil pemadam kebakaran di masa perang dunia

mobil pemadam kebakaran di masa perang dunia

salah satu mobil pemadam kebakaran yang pernah digunakan

salah satu mobil pemadam kebakaran yang pernah digunakan

peralatan di dalam mobil pemadam kebakaran

peralatan di dalam mobil pemadam kebakaran

plakat dan peringatan

plakat dan peringatan

Peranakan Museum
Ini tempat yang paling direkomendasi oleh Tika. Ternyata tak salah karena isinya cantik sekali. Sesudah membayar S$ 10 sebagai tiket masuk juga ke National Museum of Singapore dan Singapore Art Museum, aku mulai memasuki ruangan-ruangan yang disusun rapi dan berwarna di dalam Museum Peranakan ini. Di sini dikisahkan tentang budaya Singapura yang kebanyakan merupakan paduan dari Melayu dan Cina. Terdapat enam ruangan di sini yang menjelaskan berbagai hasil budaya. Baik tangga maupun lantainya masih menggunakan lantai kayu yang dilapis ulang. Dinding-dinding berlapis wallpaper berwarna dengan motif cerah. Museum ini tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang dalam satu ruangan yang ikut mengamat-amati.

bangunan bernuansa hijau telur asin lembut dengan gaya kolonial

bangunan bernuansa hijau telur asin lembut dengan gaya kolonial

arcade di samping dan depan bangunan

arcade di samping dan depan bangunan

pintu dobel gaya kaca dan panel masif

pintu dobel gaya kaca dan panel masif

tiket masuk dan lobby utama

tiket masuk dan lobby utama

sejarah nonya di singapura

sejarah nonya di singapura

bangsal, lukisan dan pakaian pernikahan

bangsal, lukisan dan pakaian pernikahan

sejarah motif fashion

sejarah motif fashion

thia besar, beranda utama penerima tamu, anak-anak dan perempuan tidak boleh masuk

thia besar, beranda utama penerima tamu, anak-anak dan perempuan tidak boleh masuk

void 4 lantai, dengan railing kayu dan lantai kayu

void 4 lantai, dengan railing kayu dan lantai kayu

National Museum of Singapore
Sesudah makan siang di sebuah taman menghabiskan bekal roti, aku berjalan kaki ke Museum ini. Di depan juga ada satu instalasi bambu karya Eko Prawoto, seorang perupa Indonesia. Setelah menunjukkan tiket masuk, aku menaiki tangga granit hitam menuju lantai dua yang berisi tiga museum dengan penataan yang bagus. Sayangnya karena di sini kita tidak bisa memotret, maka aku hanya merekamnya dalam ingatan. Ada tiga Living Gallery di atas lobby utama tadi, yaitu Culture, Photography, Food and Cuisine.

tampak depan museum

tampak depan museum

bagian dalam masih terawat baik

bagian dalam masih terawat baik

Karena aku sudah melihat sebagian besar materi Culture di Museum Peranakan, makan aku tak lama masuk sini. Di Photography Living Gallery dipamerkan foto-foto kebudayaan dan biodiversity Singapura. Yang menyenangkan adalah Food and Cuisine Living Gallery, di sini dipamerkan jajanan khas Singapura, yang sebagian rupanya juga menjadi jajanan di Indonesia juga. Uniknya sebagai museum, di sini dipamerkan gerobaknya, imitasi bahan-bahan pembuatnya, juga satu layar besar yang menggambarkan proses pembuatannya sebagai latar belakang. Jadi aku seperti menikmati nuansa penjual Laksa, Prata, atau Satay itu di depanku. Di bagian belakang, ada bumbu-bumbu khas asia yang dimasukkan di dalam botol dan beberapa bisa dibaui keharumannya. Denting suara perkakas dapur menjadi latar suara ketika berkeliling living gallery ini.

tangga dengan granit hitam

tangga dengan granit hitam

living gallery di atas lobby utama dengan railing besi motif organik

living gallery di atas lobby utama dengan railing besi motif organik

Menyeberang glass passage, ada dua living gallery lagi yaitu fashion dan film history. Di bagian fashion aku mencuri-curi potret dengan ponsel dan melihat model-model baju yang tren di masa lalu. Menurutku, model sederhana itu masih bagus kok dipakai di masa sekarang, untuk dipakai sehari-hari. Begitu juga di film history. Di situ diputar film-film melayu-cina lama dengan proyektor kuno. Ada banyak murid sekolah menengah yang beramai-ramai menonton di sini.

glass passage dan satu instalasi gagang pembersih

glass passage dan satu instalasi gagang pembersih

bagian depan living gallery

bagian depan living gallery

Paling besar dari museum ini adalah Singapore History Gallery. Setelah dibagikan tablet untuk mendengarkan penjelasan di dalam nanti, aku menuruni ramp spiral masuk ke basemen. Di tablet itu ada petunjuk angka yang harus diketuk mengikuti angka yang ada di awal pintu setiap bagian museum. Lewat earphone, akan terdengar penjelasan tentang isi segmen yang aku lalui. Mulai dari berkembangnya Singapura dari sebuah pulau kosong, hingga perang dan perkembangan pembangunan negara menjadi semaju dan seteratur sekarang. Sequence yang disajikan begitu menarik, dalam satu basemen besar itu berputar mengikuti alur cerita yang disajikan. Walaupun ada beberapa bagian yang diulang-ulang dari beberapa living gallery yang sudah aku kunjungi. Melalui History Gallery ini sebenarnya menghabiskan waktu hampir 2 jam jika tekun mengikuti dan mendengarkan semua keterangan. Namun karena aku ingin ke tempat lain, beberapa bagian aku skip, apalagi jika cerita sejarah yang tak jauh beda dengan Indonesia, jadi satu jam sepuluh menit aku sudah keluar dari museum ini.

pintu masuk dan tablet yang digunakan untuk mendengarkan penjelasan di dalam

pintu masuk dan tablet yang digunakan untuk mendengarkan penjelasan di dalam

ramp spiral turun ke basement museum

ramp spiral turun ke basement museum

Karena ingin lekas ke National Library of Singapore, aku menyeberang jalan dan hanya melewati Singapore Art Museum. Bentuk bangunannya tak jauh beda dengan National Museum, dan juga dibangun pada masa Raffles berkuasa. Aku menuju ujung jalan dan naik bis ke gedung perpustakaan besar itu. Eih, belum juga satu halte, gedung itu kelewatan juga. Mengecek peta, aku berpikir, object is closer than map. Iya, kota ini kecil sebenarnya, keliling tengah kota masih sejangkauan jalan kaki.

instalasi Eko Prawoto di depan museum

instalasi Eko Prawoto di depan museum

water garden di depan singapore art museum

water garden di depan singapore art museum

singapore art museum

singapore art museum

white night. 25 des 2013.
perjalanan 23 nopember 2013

another step :
a sunset walk in singapore
a library walk in singapore

13 thoughts on “a museum walk in singapore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s