ujung selatan teluk dalam, selancar lagundri dan sorake : ya’ahowu nias #6

cover

kupetik bintang, untuk kau simpan..
cahayanya terang, beri kau perlindungan..
sebagai pengingat teman, juga sebagai jawaban, semua tantangan..

[melompat lebih tinggi : So7]

laut indah di tepi : bawomataluo, lompatan di atas bukit : ya’ahowu nias #5

Tempat favoritku melihat bintang adalah di tepi laut. Tengah malam setiba di pantai Sorake di Teluk Dalam, Nias Selatan, alih-alih tidur, aku mengajak Lanny, Fadi, dan Sansan untuk nongkrong di tepi pantai. Sayangnya lampu-lampu penginapan tetap menyala cerah berderet-deret sepanjang pantai Sorake itu.

Kami duduk di tanggul penahan air laut sambil menggantung kaki. Bintang bertaburan di angkasa. Aku dan Sansan memandangi gugusan rasi bintang sambil menebak-nebak zodiak. Tapi pengetahuan kami hanya sebatas menemukan rasi bintang Pari, atau Gubuk Penceng, sehingga ribuan yang lain hanya ditunjuk-tunjuk saja.

Tiba-tiba, PET!
Gelap gulita dan suara genset berhenti di sepanjang pantai Sorake. Kami memandang bintang dan melihat semua kilaunya tampak jelas di angkasa. Listrik mati ini membuat langit bercahaya gemintang dalam gelap yang melatarinya. Sejenak kami terdiam dan memandang langit yang tetiba indah diiringi suara debur ombak di lautan. Angin lembah terdengar di kejauhan, tersisa semilirnya di pantai.
Continue reading

Advertisements

bawomataluo, lompatan di atas bukit : ya’ahowu nias #5

cover

Jendela adalah sebuah alternatif. Dengan ukurannya, ia adalah sebuah lubang besar yang membuka dunia dalam terhadap luar dan sebaliknya. Tapi dengan posisi perletakannya, ia juga membatasi lalu lintas fisik antar keduanya itu. Ada sedikit usaha yang harus dikerahkan kalau kita ingin keluar atau masuk lewat jendela. Jendela lalu jadi sebuah terobosan, tapi juga batas. Ia adalah lubang yang “bingung”. Ambigu. Tapi justru di sinilah asyiknya.
[Avianti Armand ~ Arsitektur yang Lain]

usai bermain air di : kecup pantai gawu soyo dan ture loto : ya’ahowu nias #4

Di rumah-rumah tradisional, sering kita tak menemukan jendela terkunci. Lubang lebih sering terbuka dan penghuni di dalamnya bisa bercengkrama dengan mudah dengan di luar. Interaksi terjadi dengan hangat tentang hal sehari-hari dalam publik. Walau terkadang jendela juga sebagai tempat mengintip sepotong kondisi di dalamnya. Satu wajah khas Indonesia yang dalam budaya asli yang ramah.

Jendela menghadap ke satu ruang sosial bersama untuk bersosialisasi, tidak hanya sekadar untuk menerangi ruangan atau mengalirkan udara menukar kesegaran di luar ke dalam. Ruang sosial untuk berbagai kegiatan, melakukan hal bersama, atau mempertunjukkan sesuatu. Di Nias Selatan, ruang bersama ini berada di depan Omo Sebua, yang terkenal dengan pertunjukan lompat batu di depannya, bisa dilihat dari jendela-jendela rumah desanya.

Semenjak pertama kali melihat gambar pada uang jajanku kala SMP, sebenarnya tak pernah terpikir akan berada dan menyaksikan langsung lompat batu yang tersohor itu. Akhirnya kesempatan itu ada! Bukan cuma satu dua kali, namun enam kali dalam sehari kami menyaksikan lompatan di atas batu setinggi dua meter itu.
Continue reading

kecup pantai gawu soyo dan ture loto : ya’ahowu nias #4

cover

Akankah aku memilih untuk hidup di bumi setelah mengetahui dengan pasti bahwa aku tiba-tiba akan dicabut dari sana, dan barangkali di tengah-tengah kebahagiaan yang memabukkan? Atau, akankah aku, bahkan pada tahap yang paling awal, dengan hormat menolak untuk ikut dalam permainan ini?
[Gadis Jeruk – Jostein Gaarder]

terbangun dari tidur di : ketika museum pusaka nias bertemu debur samudera : ya’ahowu nias #3

Aku selalu suka melihat laut. Debur ombak selalu memberikan kedamaian pada hati. Apalagi diterpa angin sambil merentangkan tangan dan membaui asin yang meruak ke udara. Tak cuma pantai, pelabuhan dengan kapal dan laut tidak biru pun bisa membuang efek negatif yang mungkin kebetulan sedang hinggap. Mungkin karena aku dilahirkan di tepi laut di Cirebon sehingga selalu akrab dengan perbatasan darat dan perairan ini. Kapal, ombak, dan batas cakrawala selalu menarikku untuk kembali.

Seusai segar mandi, kami dijemput Java dan supirnya untuk menjelajah ke Nias Utara. Sepertinya hari kedua ini tema petualangan kami adalah air, karena sesudah berenang-renang di laguna tadi pagi, siang ini kami menuju Pantai Gawu Soyo yang berpasir merah dan snorkeling di Pantai Ture Loto.

Perjalanan ke utara melalui jalan-jalan yang cukup mulus sesudah diperbaiki LSM paska gempa. Setelah satu jam jalanan mendatar, mobil berbelok ke arah barat. Karena hari ini hari Jumat, masih banyak pelajar berseragam yang kami temui di jalan baru saja pulang sekolah. Di Nias utara ini kami mulai menemukan masjid berada di tengah pemukiman warga yang rata-rata berdinding kayu. Menurut Java, di sini banyak perantau yang berasal dari Aceh.
Continue reading

ketika museum pusaka nias bertemu debur samudera : ya’ahowu nias #3

cover

Real museums are places where Time is transformed into Space.
[Orhan Pamuk, The Museum of Innocence]

sesudah menghabiskan siang di : omo niha di keramahan desa tumori : yaahowu nias #2

Beberapa tahun terakhir ini jika berkunjung ke suatu daerah, museum selalu menjadi salah satu tujuanku untuk mempelajari daerah tersebut. Jika tidak bisa mencapai pelosok-pelosok, setidaknya terwakilkan dengan mengunjungi museum, yang banyak menceritakan sejarah tempat. Sering kali hobiku ini mendapat pandangan aneh dari orang-orang dekat yang mengenalku. Tapi tetap museum menyenangkan, karena sering mendapat banyak ilmu dengan bertandang ke dalamnya.

Museum Pusaka Nias terletak tak jauh dari pusat kota Gunungsitoli. Uniknya, museum ini terletak di tepi laut sehingga pelatarannya sering menjadi area wisata penduduk sekitar yang mencari hiburan di sore hari. Di sini terdapat dua bangunan rumah adat, satu kantor pengelola, satu bangunan museum utama, satu bangunan kegiatan bersama, area kebun binatang mini, dan gazebo tepi laut untuk memandang samudera di kejauhan.

Continue reading