travel bloggers : double date

cover

So no one told you life was gonna be this way
Your job’s a joke, you’re broke, your love life’s D.O.A.
It’s like you’re always stuck in second gear
When it hasn’t been your day, your week, your month, or even your year, …
[The Rembrandts – OST F.R.I.E.N.D.S]

Apa yang kamu pikirkan jika ada dua cowok travel blogger dan dua cewek travel blogger yang kebetulan harus melakukan perjalanan bersama? Terserah. Ya, terserah adalah jawaban pertama ketika memilih apa yang harus diputuskan. Karena masing-masing dari mereka sudah pernah get lost di kota ini, maka mereka juga bingung mau melakukan apa di acara hari bebas ini. Mereka itu kami, empat orang Indonesia yang baru keluar dari hotel berbintang (karena jatah inap gratisnya habis) sesudah seru-seruan dengan Skyscanner Bloscars Award dan pindah ke hostel di kawasan wisata untuk mendapatkan pengalaman baru.

Baru untukku dan Firsta, yang baru pertama kali menginap di hostel. Kalau Fahmi dan Ariev sih sudah sering dalam perjalanan backpacker mereka. Jadi pilihan hostel direkomendasikan oleh Fahmi, sementara kami (aku) tinggal memilih (setelah 5-7 kali ‘terserah’ muncul di percakapan WA) yang paling cocok. Alasan kami mendarat di Green Kiwi Hostel di kawasan Bugis karena lokasinya yang unik, banyak bangunan menarik, dekat Masjid Sultan yang terkenal, dan tak jauh dari jangkauan transportasi umum. Foto di atas itu, jalanan di depan hostel kami, langsung menghadap Masjid Sultan.

Double datenya di mana? Ah, sudahlah ikuti saja. Itu juga jebakan judul supaya menarik.

aku dan fahmi
Sementara siang itu Ariev dan Firsta bermain-main dengan kucing di Cat Cafe, aku menjemput Fahmi meninggalkan kenyamanannya di Ibis Bencoolen yang tidak terlalu jauh naik bis, lalu berkeliling pasar belanja oleh-oleh untuk orang-orang sekantornya Fahmi. “Mereka sudah berbaik hati untuk vote,” katanya sambil memilih gantungan kunci. Aku hanya membeli dua bungkus Toblerone untuk yang di rumah. Tak jauh dari situ, kami berjalan sampai hostel yang sudah di-booking Fahmi dan Firsta di sehari sebelumnya. Semilir angin membuat kami agak mengantuk sambil menunggu Ariev dan Firsta datang setengah jam berikutnya. Eh, hanya Fahmi yang mengantuk rupanya, karena agenda ‘terserah’ ini membuat aku berjalan-jalan sendiri di sekeliling kawasan Bugis yang memang menarik ini.

depan green kiwi yang langsung menghadap bussorah rd masjid sultan

depan green kiwi yang langsung menghadap bussorah rd masjid sultan

lobby green kiwi, dan yang tertidur mengantuk

lobby green kiwi, dan yang tertidur mengantuk

the fantastic four
Sementara di lantai dasar hostel adalah ruang bersama, lobby, ruang koper, ruang komputer dan dapur, kamar-kamar semua terletak di lantai dua. “Walk like an angel”, begitu tulisan di bawah tangga untuk mengingatkan supaya kami tidak berisik gedubrakan ketika naik tangga. Apalagi di kamar yang berisi 10 bed susun pasti tidak boleh terlalu berisik, karena bisa-bisa mengganggu penghuni bed lain yang beristirahat (malam nanti). Pada jam kami semua ketemu berempat dan sudah meletakkan barang-barang yang nggak perlu digotong ke mana-mana di hostel, maka tujuan berikut apa yang cocok di siang hari bolong?

makan!

Jadi kami menuju restoran India Zamzam di North Bridge Road sambil bergandengan tangan (yang terakhir tentu fiksi) dan memesan berbagai model nasi briyyani dan martabak rusa. “Wah, martabaknya ini pasti amis besok,” gumam Ariev. “Lha, kok amis?” heran Firsta.
“A mis yu, tomorrow..”

momen #kemudianhening
Lalu semua tertawa dan mencela-cela Ariev.

firsta, ariev, aku, fahmi, menunggu dengan sabar dan lapar

firsta, ariev, aku, fahmi, menunggu dengan sabar dan lapar

Restoran ini terdiri dari dua lantai dan ramai sekali. Kami harus menunggu hampir setengah jam sampai hampir ketiduran saking laparnya. Seluruh dinding di lantai dua berlapis keramik yang mudah dibersihkan dari bahan makanan yang kaya lemak ini. Di tempat kami duduk ada pendingin udara sehingga tidak terlalu gerah. Sekumpulan orang India asyik makan sambil mengobrol di belakang kami. Ada perempuan Asia dan pria bule yang juga menunggu makanan bersama dengan anak balitanya yang lucu dan asyik main robot-robotan. Pegawai yang hampir semua orang India mondar-mandir membawa makanan, minuman, daftar menu, lap, piring kotor, dan akhirnya.. Nasi Briyanni kami!

momen #kemudianhening berikutnya karena kami makan dengan lahap.

nasi briyanni dan martabak rusa

nasi briyanni dan martabak rusa

Lalu, seperti sedang piknik bersama (biasanya juga solo traveling), kami berjalan beriringan menuju halte bis di depan Bugis Junction dan menaiki bis yang lewat sampai depan National Library of Singapore beberapa menit saja. “Lha, kok sebentar? Tahu begitu tadi jalan, kaki saja,” kata Fahmi.

Kami berjalan kaki menyusuri jalan Bain Street, kemudian menyeberang North Bridge Road dan memasuki Seah Street yang tertulis di alamat Mint Museum. Sampai di ujung jalan, tak ada penampakan bangunan yang mirip museum selain Raffles Hotel di seberang jalan. Hmm, ini Singapore, pasti ada sesuatu fungsi bangunan yang tersembunyi di sini. Benar saja, ketika kami berjalan balik menyusuri Seah Street ternyata Mint Museum of Toys berada di atas sebuah cafe.

Museum ini terdiri dari lima lantai. Kami ditunjukkan untuk naik ke lantai 5 baru kemudian turun satu per satu lewat tangga. Aku bersorak girang melihat karakter favoritku, Tintin, ada patungnya setinggi aku, seperti mengajak foto bersama. Tintin, jurnalis yang berkeliling dunia itu adalah salah satu motivatorku berjalan-jalan untuk melihat setting lokasi cerita-ceritanya dibuat.

tintin dan teman-temannya

tintin dan teman-temannya

bersama wartawan penuh keberuntungan

bersama wartawan penuh keberuntungan

Di satu sudut aku juga menemukan boneka Snoopy dan Charlie Brown, mengingatkanku pada seseorang yang menggemari komik Peanuts Avenue ini. Ada juga Batman & Robin, juga tokoh-tokoh karakter Smurf dan Popeye! Di lantai sebelum dasar, kami menemukan boneka The Beatles yang membuat Ariev kegirangan dan mengajak foto bareng.

smurf dan popeye

smurf dan popeye

tangga bertingkat dan batman dan robin dalam etalase

tangga bertingkat dan batman dan robin dalam etalase

beatles!

beatles!

Bagian depan Mint Museum berada di atas koridor kafe dengan lantai kaca. Awalnya kami merasa gamang berdiri di atasnya, namun lama kelamaan kami malah foto-foto selfie dengan pose-pose yoga sok asyik. Asal tidak loncat-loncatan di lantai kaca yang tembus pandang itu, rasanya aman-aman saja.

yoga for balance (fotonya ariev)

yoga for balance (fotonya ariev)

lantai kaca di atas trotoar

lantai kaca di atas trotoar

Tepat di seberang Mint Museum terdapat Raffles Hotel yang didesain di jaman pendudukan Inggris di Singapore ini. Memasukinya serasa bergabung dengan klub mewah yang ada di film-film kuno. Sepertinya kalau aku dan Firsta memakai gaun ala Scarlett O Hara lebih cocok daripada bercelana pendek seperti sekarang ini.

Di sepanjang koridor dalam Raffles hotel itu banyak toko-toko yang menjual merek terkenal. Tapi yang paling menarik dari hotel ini adalah area courtyard-nya! Ada kedai makanan di tengah taman yang dikelilingi oleh koridor tepi yang panjang ini. Kedai dengan tiang-tiang berbahan besi tempa dengan ukiran motif organik yang ditimpa matahari sore ini berkilau menarik. Seandainya bisa ikut minum-minum teh atau koktail bergaya ala bangsawan inggris di sini, pasti jadi pengalaman mengesankan. Pepohonan rimbun juga menutupi sudut-sudut courtyard ini.

courtyard utama dan koridor

courtyard utama dan koridor

arc dan keystone antar kolom bangunan

arc dan keystone antar kolom bangunan

koridor merk terkenal

koridor merk terkenal

cocktail party?

cocktail party?

minum di sore hari, bisa sambil bercengkrama

minum di sore hari, bisa sambil bercengkrama

it’s hard to be travel blogger
Kami menyeberang jalan lagi dan menemukan Chimes, tempat yang dulunya sekolah dan gereja, namun kini menjadi tempat makan yang cukup hits di Singapore. Memasuki halamannya udara jam tiga sore begitu menyengat dan sinar matahari terasa cukup silau menerangi bangunan berwarna putih penuh ukiran gothik itu.

Demi mendapatkan foto menarik untuk blog ini, kami mencoba berbagai posisi memotret. Tahu sendiri kan, gereja itu tinggi, sehingga untuk mendapatkan gambar keseluruhan bangunan, aku harus jongkok, melakukan beberapa percobaan supaya ujung atas bangunan tampak. Bahkan Fahmi bergaya setengah jongkok yang hasilnya bisa dilihat di sini.

chijmes

chijmes

setengah jongkok dan regangkan punggung

setengah jongkok dan regangkan punggung

Melanjutkan acara lalala yeyeye kami berjalan kaki sampai Museum Peranakan yang tidak terlalu jauh. Setelah mendapat stiker untuk ditempelkan di baju, kami mengelilingi satu demi satu ruangan di dalam demi mendapatkan stempel simbol-simbol organik pada lembar warna warni yang kubawa. Museum ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat peranakan, akulturasi budaya melayu, cina dan india. Setiap galeri berisi hasil-hasil budaya seperti makanan, pakaian, arsitektur, furnitur, perkawinan, bahkan upacara kematian.

“Hiiii….” tiba-tiba Fahmi berlari keluar dari ruangan di samping keranda kematian bertabur bunga.
“Ada suara.. Dindingnya ada yang ngomong..”

Ekspresinya kaget bercampur takut. Kami diam sebentar dan diam mendengarkan apa yang mungkin didengar Fahmi. Ada suara merintih dan menangis dari gang di samping galeri kematian. Benar, dindingnya bersuara! Suara yang timbul tenggelam itu menjadi latar suasana kematian di galeri. Kami tersenyum dan tertawa pelan sambil menepuk-nepuk Fahmi. Hebat museum ini, bahkan suasana kesedihan pun ditampilkan lewat rekaman audio. Mungkin petugas keamanan sudah terbiasa dengan pengunjung yang kaget ini. Pengalaman luar biasa juga buat para blogger sepertinya.

makan buah di kala rehat depan museum (fotonya ariev)

makan buah di kala rehat depan museum (fotonya ariev)

river sunset
Karena Firsta perlu membeli sesuatu di Orchard, maka kami berpisah. Ia diantar Ariev ke sana, sementara aku dan Fahmi memburu Asian Civilization Museum di samping Singapore River. Dengan berjalan kaki kami malah menemukan lapangan besar di belakang gedung parlemen yang banyak dinikmati oleh penduduk Singapore untuk leyeh-leyeh di sore hari. Lah, jadi ingat bahwa kami berniat pose di taman, dengan Ariev yang bakal kayang dan perutnya kami jadikan meja. Setengah berlari kami sampai Asian Civilization Museum yang ternyata, sudah tutup! Benar juga sih, sudah hampir jam 6 waktu Singapore dan langit mulai meremang. Jadi kami berdua berkeliling luar museum saja. Tak kehabisan gaya, Fahmi minta difoto selfie di beberapa tempat di tepi sungai itu. Pose yoga andalan tentunya.

tanah lapang untuk mengistirahatkan mata

tanah lapang untuk mengistirahatkan mata

asian civilization museum yang tutup jam 6

asian civilization museum yang tutup jam 6

hotel fullerton dengan latar depan jembatan

hotel fullerton dengan latar depan jembatan

di tepi sungai

di tepi sungai

gaya andalan!

gaya andalan!

Karena janjian jam 8 di Clarke Quay, maka aku dan Fahmi berjalan kaki saja sambil mengisi waktu. Sepertinya memang cocok kalau di Singapore berjalan kaki ke mana-mana. Trotoar yang bersih, jalan tepi sungai yang besar, penerangan yang cukup, dan jarak yang wajar untuk ditempuh dengan jalan kaki. Di tepi sungai ada anak tangga turun sampai menyentuh sungai bila mau main-main air. Masih jam setengah delapan ketika kami tiba di depan pintu masuk mal Clarke Quay sambil menonton Singapore Sling di seberang. Huii, ngeri juga melihat orang dilempar-lempar dengan tali dalam satu kapsul.

Uhu, tiba-tiba Jane, salah satu anak magang di Skyscanner mencolek kami. Wah, agenda selanjutnya jadi nih. Makan kepiting! Tak lama Firsta dan Ariev muncul di meeting point.

menunggu senja

menunggu senja

menikmati sungai di tepi clarke quay

menikmati sungai di tepi clarke quay

singapore sling, siapa mau dilempar?

singapore sling, siapa mau dilempar?

sebelum mengisi perut (fotonya ariev)

sebelum mengisi perut (fotonya ariev)

malam minggu
Keberuntungan kemarin belum berakhir. Walaupun kami sudah tidak tinggal di hotel mewah lagi namun kami masih bisa merasakan makan malam yang lezat. Karena Kak Tika Larasati dari Skyscanner belum puas mengajak kami jalan-jalan keliling Singapore kemarin, malam itu ia mentraktir kami makan kepiting di East Coast. Lumayan jauh juga perjalanannya naik taksi sampai tepian laut Singapore itu dari tengah kota tempat kami berada.

Setelah menunggu hampir sejam, terhidanglah kepiting-kepiting itu di meja kami siap untuk disantap. Tak lupa kami memakai crab bibs untuk alas dada supaya baju kami tidak kotor. Sayang sekali, Fahmi tidak bisa ikut makan kepiting karena alergi. Tapi tak apa, mengurangi persaingan kepiting antara aku, Ariev, Firsta, Jane, dan Tika. Sepertinya kepiting itu bertahan di piringnya lebih sebentar daripada waktu kami menunggunya matang.

kepiting berbagai rasa. enak dan enak banget.

kepiting berbagai rasa. enak dan enak banget.

crab bibs, babe! fahmi, firsta, tika, jane, indri, ariev (fotonya ariev)

crab bibs, babe!
fahmi, firsta, tika, jane, indri, ariev (fotonya ariev)

Selesai malam itu?
Nggak. Kami masih melanjutkan dengan minum-minum di Blue Jazz di Arab Street, dekat tempat tinggal kami malam itu. Tentu saja aku hanya memesan Lassi, karena tidak berani mencoba yang beralkohol. Eh, tapi coba juga sih, sedikit. Jam 2 pagi kami mindik-mindik masuk hostel.

lari bersama ariev
Berhubung dipesankan tiket penerbangan jam setengah 7 malam, maka hari itu jadwal jalanku bersama Ariev keliling-keliling kota. Setelah kiss-kiss bye dengan Firsta yang harus terbang jam 12.00, kami bertiga duduk-duduk di lobby hostel. Aku membujuk-bujuk Ariev untuk mengantarkanku ke Mustafa demi titipan cokelat. Tapi ia mengelak sedemikian rupa dengan mempengaruhiku, “Di Orchard juga ada toko cokelat. Nanti sekalian aku ke Kinokuniya..” Ya, sudahlah. Aku percaya saja.

Sekitar jam setengah sebelas aku dan Ariev berjalan ke Bugis Junction (tentu setelah episode peluk-pelukan dengan Fahmi yang akan pulang jam 12) untuk makan pagi dengan seorang temannya. Eh, ternyata setelah ketemu makannya tetap di Arab Street. Ternyata asyik juga ngobrol-ngobrol jalan begini, jadi menambah teman. Keuntungan banget sempat jalan dengan travel blogger yang terkenal ini, karena jejaringnya bagus. Segera terbuka beberapa kesempatan menarik di Singapore.

“Oke, jadi jam setengah dua sampai Orchard, cari buku sampai jam dua, terus sambil beli cokelat, jam tiga sampai China Town, makan nasi ayam, jam empat sampai Bugis, ambil tas, lalu kita bisa sampai bandara jam lima,” begitu perkiraan Ariev.
“Oke!” karena terdengar wajar.

Sesuai perkiraan, jam setengah dua kami sampai Orchard, setengah berlari masuk Kinokuniya, “Sampai jam dua, yaa!” Lalu kami tenggelam dalam rak-rak buku sambil screening buku-buku keren. Huwah, tempat ini benar-benar surga bagi penggemar literasi. Di tepian ruangannya terdapat ratusan karya sastra yang mudah ditemukan karena disusun di raknya berdasarkan nama pengarangnya urut abjad! Aku ngiler melihat macam-macam karya Isabel Allende, Gabriel Garcia Marquez, Paulo Coelho, Orhan Pamuk, bahkan Alice Munro yang tersusun dengan cantik dengan sampul yang menarik dari berbagai penerbit. Satu per satu aku lihat semua judul penulis favoritku itu sambil membayangkan punya perpustakaan sebagus toko buku ini.

Tepat jam setengah dua, aku sampai di ujung dan menemukan Ariev di depan rak buku traveling. Ia menimang-nimang satu buku karya Bill Bryson dan ditunjukkan padaku. Ah, kok menarik? Setelah mengobrolkan buku ini akhirnya aku tergoda untuk membeli juga buku ini melihat ratingnya di goodreads yang cukup oke. Bisa dipamerin ke editorku, nih.

Wah, sesudah mengantri di kasir ternyata sudah jam setengah tiga. Kami keluar, menuju toko cokelat, dan menemukan bahwa cokelat incaranku ada. Tak sampai lima menit di situ kami sudah keluar lagi dan mencobai Ice Cream Uncle yang ada di sepanjang Orchard demi pamer ke Fahmi. Aku mencoba rasa mint yang rasanya, yah begitulah, agak aneh pedas begitu, tapi cukup enak juga dimakan di siang bolong. Selesai dengan es krim, kami menunggu bis yang akan membawa ke China Town, tempat Nasi Ayam impian Ariev berada.

“Tintin Store dekat sini loh, Ndri. Mau mampir?” ketika kami berjalan kaki turun dari bis.
“Jauh nggak jalannya?”
“Dekat sini kok..”

Aku mengiyakan ajakannya. Kapan lagi dapat kesempatan mampir toko yang menjual karakter tokoh favoritku ini. Lalu kami berjalan, koreksi, kami berlari sampai menemukan toko itu yang lumayan menyempil di antara toko-toko cinderamata. Huwah, benar-benar asyik di sini. Macam-macam replika Tintin dari berbagai petualangan dijual dengan harga yang lumayan,… mahal. Boleh sih, kalau ada yang mau membelikanku sesuatu.

“Kalau beberapa tahun lagi aku lebih kaya, Riev, baru kayaknya aku mau balik lagi dan beli mainan-mainan ini, deh,” kataku dalam perjalanan kembali. “Lagipula toko ini nggak akan tutup dalam beberapa tahun ini kan? Singapore juga nggak terlalu jauh.”

Kembali kami setengah berlari ke foodcourt yang ada di dekat stasiun Tanjong Pagar itu dan memesan nasi ayam yang untungnya nggak pakai mengantri. Dan ternyata benar, enak banget nasi ayamnya. Nggak rugi memang kami lari-lari di panas matahari demi nasi ayam ini (walaupun lelah dan keringatan).

nasi ayam

nasi ayam

Mengingat waktu yang terus berjalan, kami ke stasiun Tanjung Pagar untuk langsung naik MRT ke Bugis, dan berlari-lari ke hostel untuk mengambil tas. Pokoknya hari ini banyak berlarinya, deh. Tentu saja sesudah membawa ransel di punggung, kami tidak bisa berlari cepat lagi, hanya berjalan agak cepat kembali ke stasiun Bugis naik MRT ke Changi Airport. Pantas saja orang senang mengambil tempat tinggal sementara di Bugis karena mudah untuk ke bandara hanya dengan naik MRT saja. Baru di MRT kami bisa melihat lagi tiket dan jadwal penerbangan kami.

Tidak sesuai perencanaan sih, jam setengah enam kami baru menginjakkan kaki di Bandara Changi. Lega?

Belum selesai olahraganya, karena masih harus berjalan ke counter check in yang sekitar 500 m jauhnya dari pintu, lalu ditambah gate menunggu hampir satu kilometer jauhnya dari counter check in, saking besarnya bandara ini. Ah, tapi petualangan ini seru! Capek kan bisa digantikan dengan tidur. Dan begitu masuk pesawat dan memasang sabuk pengaman, kami tertidur.

(terus kenapa foto sama ariev-nya jarang? yah, karena kami sibuk lari-lari, gak sempat foto-fotoan.
lagipula, dia sudah tenar ini.)

terus, bisa juga baca petunjuk Ariev Dua Cara Asyik Keliling Singapura
atau menjelajah pantai bersama Firsta A Guide to The East Coast of Singapore

Advertisements

14 thoughts on “travel bloggers : double date

    • indrijuwono says:

      hahahaa, kalau sedorm isi ber-4 mah nggak berasa hostel, kayak private room aja deh..
      coba ngedorm dan dapet kenalan baru, heuheu…
      yuk jalan lagi bareng kitaaa….!!

  1. Fahmi Anhar says:

    Yak!! bagooss!! itu foto2ku kenapa pas tiduran semua? hahaha
    yoga di boat quay seru juga yak 🙂

    senang bisa jalan bareng kalian
    semoga ada kesempatan untuk mengulang kembali

  2. arievrahman says:

    Ihik! Aku mau tenar kak, mau!
    Highlight: Indri dan Sungai, Fahmi dan Museum Peranakan, Firsta dan Pisang, juga aku dan Marshanda.

    POKOKNYA SEMUANYA AMIS… AMISYUSOMACH!

  3. ainun says:

    cie cie double date :D. Kiwi hostel tempat aku nginap dulu tuh, pokoknya ada kiwi2nya hehe. Mint Museum, ehhmm masuk wish list aja deh itu, baru tau juga sih *telat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s