janji kelak menuju dieng

cover


Hai, Ra.
Aku tahu, kamu sedang tidak dekat sekarang, sehingga aku tidak bisa langsung menceritakan padamu. Aku pun tak tahu di mana alamatmu, sehingga aku tak bisa merangkai kata dalam surat dan kutitipkan pada pak pos. Aku hanya tahu bahwa kamu pasti baik-baik saja, ketika kamu bisa membaca tulisanku ini.

Ra, kamu ingat cerita tentang negeri khayalan yang pernah kita imajinasikan sembari menghitung bintang? Kali ini aku berada di sini, bersama teman-teman yang mungkin juga kau kenal lewat dunia maya. Bersama mereka kami merangkai beberapa kisah yang bersama-sama dituliskan.

Ra, negeri ini bernama Dieng, senantiasa berkabut pagi yang bisa kita hembuskan perlahan membentuk gumpalan tipis dari nafas kita. Di sini kita bisa melihat tetes-tetes embun yang berkilau di ujung-ujung daun, sebelum menguap ketika mentari mekar sejenak. Sesudah matahari melewati ujung kepala, udara dingin kembali menyelimutinya, terkadang bercampur dengan tetes-tetes air hujan yang menggenang di mana-mana. Mungkin kamu pernah ke sini, mungkin juga tak sekali.

Dua tahun lalu aku mengunjungi tempat ini di bulan Desember, di mana hujan turun deras sejak aku naik dari Wonosobo, hingga dataran tinggi tempat menginap. Kali ini juga aku ke kembali di bulan Desember, masih dengan suasana yang sama, dengan hujan yang sama, dan awan dan kabut yang sama.

Ra, maukah kau berjanji padaku, ketika hari cerah kelak kau akan menemaniku nanti ke pelataran candi Arjuna? Bukan, aku tidak hendak mengajakmu berfoto dengan teletubbies atau dengan hanoman yang banyak mondar-mandir disitu. Aku juga bukan memintamu membaca sejarah candi seperti biasanya kuamati. Aku ingin mengajakmu melihat pemotongan rambut. Kamu pasti heran, apa istimewanya acara itu?

Begini ceritanya, Ra. Di Dieng ada banyak anak berambut gimbal yang dipercaya adalah keturunan Kiai Kolodete, sesepuh negeri di masa lalu. Anak-anak ini mulai berambut gimbal sekitar umur 2 tahun setelah mengalami masa demam tinggi. Rambut kusut tumbuh begitu saja di bagian bagian kepala mereka. Aneh kan? Mulanya, mereka terbiasa dengan rambut yang tidak bisa disisir itu. Namun lama kelamaan ketika umurnya bertambah dan rambut gimbal menjadi bahan olok-olok teman-temannya, anak-anak ini minta pada orang tuanya supaya rambutnya dipotong.

Kamu past iri, Ra, karena sebelum rambutnya dipotong mereka boleh mengajukan satu permintaan. Dan apa pun permintaan mereka harus dikabulkan sembari dipotong rambutnya, karena jika tidak maka untaian gimbal-gimbal itu akan tumbuh kembali. Untung saja permintaan mereka tidak aneh-aneh, ada yang sekadar minta dibelikan es lilin oleh tetangganya, minta sepeda mini, minta pelihara kambing atau keinginan-keinginan biasa dari seorang anak desa. Memang pernah ada satu anak yang meminta sepeda motor yang dibelikan oleh Kapolsek. Hehe, unik ya, Ra?

Kemarin aku sempat bertemu dengan dua orang anak, yang satu masih gimbal, namun satu lagi sudah dipotong rambutnya. Kami bertemu mereka di Pendopo Whitlam, yang terletak tak jauh dari area candi Arjuna. Kedua anak itu tampak malu bertemu dengan kami yang datang beramai-ramai. Aku jadi berpikir, apakah sejak mereka menjadi gimbal mereka sudah diberitahu bahwa mereka akan menjadi pusat perhatian? Apakah mereka bisa bermain bebas tanpa sesekali dicegat untuk diminta foto? Apakah mereka tahu maksudnya ketika diperkenalkan pada kami?

DSC_0036

DSC_0074-x

Ra, tidak ada yang tahu apa penyebab rambut mereka menjadi gimbal. Tak ada orang tua yang rela memberikan contoh rambut anak gimbalnya pada peneliti untuk diamati sebab ilmiah kenapa rambut jenis ini tumbuh. Mereka percaya bahwa rambut kusut ini sudah suratan takdir yang semestinya hanya dilarung di telaga usai pemberkatan di upacara potong rambut.

Aku ingin mengajakmu ke sini tahun depan, Ra. Semoga kamu bebas dari kesibukanmu pada tanggal 1-2 Agustus 2015. Jadi kita bisa menghabiskan waktu seminggu sebelumnya di sini, berkeliling desa-desa, mengobrol dengan penduduk, bermain-main dengan anak gimbal, atau naik ke puncak Sikunir seperti dulu. Di penghujung kita bisa sama-sama ikuti Dieng Culture Festival, sembari mengamati prosesi pemotongan rambut gimbal.

DSC_0077

DSC_0079

Mungkin kamu akan bertanya, kenapa harus ada festival untuk peristiwa ini? Ritual ini sebenarnya bisa dilakukan sendiri di antara keluarga saja. Tetapi memakan biaya yang tidak sedikit untuk setiap upacara. Apalagi untuk memenuhi macam-macam permintaan anak-anak. Rambut gimbal tidak pandang bulu, ia bisa tumbuh di kepala anak-anak pemilik tanah atau buruh kebun biasa. Akan ada beberapa anak yang akan dipotong rambut gimbalnya di acara ini. Di sini juga akan dibantu untuk memenuhi keinginan masing-masing anak.

Tapi aku tak mau kita hanya menjadi turis sesaat yang memenuhi hasrat keingintahuan untuk datang ke sini. Toh kita tidak akan bisa berada di depan pada saat pengguntingan itu. Biarlah acara ini menjadi sakral untuk mereka, dan kita sebagai orang luar berada pada batas yang mereka izinkan. Akan ada beberapa lapis pengamanan supaya prosesi tetap berjalan dengan tenang. Kali ini prosesi akan dilakukan juga di kompleks candi Arjuna yang tak jauh dari sini.

Aku mendapat cerita bagaimana tahun lalu ada ratusan tenda di luar area candi yang ikut memeriahkan acara. Aku juga melihat bagaimana panitia berusaha tidak juga supaya prosesinya berjalan lancar, namun juga mengantisipasi bagaimana mengatur pengunjung yang membludak di saat acara. Benar, sebagai orang luar kita akan ditempatkan di lingkaran paling luar. Tidak apa-apa buatku, bukankah acara ini adalah ritual masyarakat sini dan harus dihormati? Jangan sampai perhatian mereka terpecah oleh keramaian turis-turis yang sekadar ingin menonton.

IMG_1873

IMG_1875

2

Ra, karena itu aku memintamu datang seminggu sebelumnya, agar kita bisa merasakan suasana desa yang biasa sebelum festival. Kita bisa bersama-sama merasakan denyut kehidupan sebuah desa yang dihembus kabut, mengenal anak-anaknya dengan ramah, bercerita dan mendongeng, bermain sambil belajar, seperti hal-hal yang suka kita lakukan dengan anak-anak.

Terlalu singkat perjumpaanku kemarin dengan mereka, yang hanya dipajang digendong di depan tanpa aku bisa mengenal lebih jauh tentang keseharian mereka, tanpa aku dengar jerit polos anak-anak sambil bermain. Aku ingin melihat mereka di gerak lincahnya sehari-hari, genit pagi ketika hendak berangkat sekolah, tawa riang sambil berlarian, senyum malu tapi penasaran yang sering kulihat di mata anak-anak di belahan lain negeri. Ingin merasakan menghangatkan diri di depan tungku-tungku sambil mengobrol dengan ayah ibu mereka, sambil menyeruput teh manis dan mengemil kentang goreng.

Kamu mau menemaniku lagi, kan? Aku janji akan mengajakmu ke tempat-tempat yang belum kamu datangi dulu. Mungkin kalau ada, kita bisa bersepeda keliling Dieng. Hm, rasanya lebih menarik kalau ada sepeda yang bisa disewa untuk mengelilingi area luas ini ya? Kita bisa lihat beberapa kawah-kawah vulkanis yang masih aktif, kita bisa tengok beberapa telaga batu kapur di sini juga, atau menjelajah sampai tepi-tepi punggungan, melihat kabut jatuh di bawah sana.

Satu lagi, di malam hari kita bisa menerbangkan lampion bersama-sama dengan ratusan pengunjung lainnya. Pasti indah ketika langit temaram itu tiba-tiba diterbangi oleh titik-titik cahaya emas yang dilambangkan sebagai harapan yang diterbangkan tinggi. Kamu pasti memprotes keinginanku yang kamu anggap hanya menyebarkan sampah saja, kan? Ra, lampion tidak terbang terlalu jauh, ia tetap akan turun di sekitar desa-desa ini saja, sehingga sampah sisanya bisa dibersihkan.

Pasti ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sini. Tiba-tiba aku tak sabar untuk tiba di tengah tahun depan, kembali menyusuri jalan-jalan berbatu, berlarian di pematang kebun kentang, menghirup udara pagi yang sejuk, dan berbagi senyum dan tawa dengan anak-anak di sini, seperti yang kita lihat di film Negeri di bawah Kabut beberapa tahun silam.

Ra, aku banyak mendapat teman baru selama perjalananku ke sini. Ada orang-orang yang selama ini hanya bertemu di dunia maya saja, namun ketika bersua bisa saling ringan menyapa. Dengan mereka aku bertukar cerita sehari-hari. Berbagi juga tentang pengalaman selama menjalani dua hari bersama. Ceritaku tidaklah cukup di sini, sehingga aku ingin juga berbagi cerita mereka yang juga mendapat undangan dari Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Tengah, supaya kau tak canggung lagi juga bila kelak kuperkenalkan. Jawa Tengah juga menyimpan potensi-potensi lain yang cantik untuk dikunjungi.

Alid Abdul – Empat Kuliner Wajib Wonosobo
Andika Awan – Keseruan #FamTripJateng 2014
Ari Murdiyanto – Pondok Wisata Tambi, Tempat Bermalam di Tengah Kebun Teh
Dzofar – Wisata Jawa Tengah: Keajaiban Rambut Gimbal di Dieng
Fahmi Anhar – Kumpul Travel Bloggers di Wonosobo
Firsta – From Plant to Pot : Tambi Tea Plantation
Idah Ceris – Bonus Plus-Plus Dari Bukit Sidengkeng
Krisna KS – Carica?? Ya Dieng!!
Oryza – Kisah Kyai Kolodete dan Rambut Gimbal di Kalangan Masyarakat Dieng
Putri Normalita – Visit Jateng : Anak Gimbal dan ‘Warna’ di Telaga Warna
Rijal Fahmi – Kisah Perjalanan Teh Tambi
Rinta Dita – Mencari Hangat dalam Semangkok Mie Ongklok
Wihikan Wijna – Mengenal Jawa Tengah Bareng Travel Blogger
Yofangga Rayson – Ayo Piknik, Jangan Kaya Orang Susah
Yusmei – Rambut Gembel, Antara Rezeki dan Cobaan

Tak sabar ingin bertemu denganmu lagi dan menunggu kisahmu yang baru. Tak tahu juga apakah kita akan bertemu di waktu dekat atau baru sempat pada Dieng Culture Festival di 1-2 Agustus 2015 mendatang? Pikirkan tawaranku, ya. Sambil terus kita bertukar catatan di sini, halaman yang mungkin kamu buka setiap hari. Terima kasih sudah membacanya, Raya.

Salam hangat,
In.

IMG_3690

Advertisements

54 thoughts on “janji kelak menuju dieng

  1. ndop says:

    Wah aku lagi mampir ning blogmu pisan iki langsung seneng moco kalimat2e. Rapih sekali. Ra kui sopo ya mbak? Hahaha dewa matahari ya? Wehehe *kudu ngubek2 disik cari tahu sendiri haha*

    Sip sip, nek agustus mau nonton, koling koling kita kita yaaa.. Sopo ngerti iso liburan ber 20 lagi haaaaaaaaa…

  2. Sugih says:

    Wah ini tulisan tentang anak berambut gimbal. Sebelum baca postingan ini rasanya ko De Javu, pernah baca tulisan Mbak Yusmei di blognya tentang topik ini juga. Mbak teman Mbak Yusmei ya? Salam kenal dari Kalimantan ya Mbak 🙂

      • Sugih says:

        Amin. Ayo Mbak ke Kalimantan bulan Mei nanti ada acara Festival Budaya Kalimantan Tengah di Palangka Raya lho. Rencananya Mbak Yusmei juga mau ke sana 🙂

      • Sugih says:

        Rumah panjang adanya di desa-desa Mbak. Di Kota Palangka Raya kebanyakan perumahan penduduk biasa seperti di kota-kota kebanyakan. Tapi acaranya seru lho Mbak, ada berbagai lomba kebudayaan : tarian daerah khas Dayak (banyak menggunakan unsur api) dan Melayu pesisir, lomba mendayung perahu panjang, lomba perahu naga, lomba gasing, lomba menangkap ikan dengan tangan, lomba menyumpit, pawai mobil hias, pemilihan putra-putri pariwisata, dan masih banyak kegiatan lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s