candi kalasan yang kesepian, candi sambisari yang anggun

cover

Ini, Candi Kalasan. Candi ini kebetulan saja terlewat dalam perjalanan pulang dari Istana Ratu Boko. Entah bagaimana hari itu jalan-jalanku sangat berbudaya sekali. Candi Kalasan cukup mudah dicapai dari tepi jalan raya menuju Solo. Cuma membayar parkir pada penjaganya, dan donasi secukupnya, aku mengelilingi candi tunggal ini.

Semuka kupikir candi ini adalah candi Hindu karena bentuknya yang tinggi menjulang. Tapi ternyata, agak mirip dengan candi Mendut di sekitar Borobudur, candi Kalasan adalah candi Buddha. Memiliki empat sisi dengan ukiran yang cukup rumit, beberapa bagian candi ini sudah tidak sempurna lagi. Seperti Istana Ratu Boko, candi ini pun dibangun pada masa Rakai Panangkaran di abad ke-8.
Continue reading

Advertisements

mencari sepi di istana ratu boko

cover

… Segala yang rupa ini membantu kita mencapai yang tanpa rupa. ― Ayu Utami, Lalita

Membayangkan hanya punya satu hari santai di Jogja di tengah liburan pendekku, aku memilih untuk mengunjungi situs-situs budaya di jalur jalan menuju Solo. Jogja merupakan salah satu kota yang sering kukunjungi, dipermudah dengan adanya layanan Traveloka yang membantu dalam mendapatkan tiket penerbangan dan juga hotel budget dengan cepat, seperti Zodiak dan Whiz Hotel di kota Jogja. Kunjungan ke Jogja ini sebenarnya sudah beberapa kali, tapi banyak alasan ingin terus berkunjung ke sana. Mungkin karena kota ini kental dengan peninggalan kebudayaannya, karena setelah kenal Borobudur dan Prambanan di kunjungan beberapa tahun sebelumnya, aku ingin mengunjungi Istana Ratu Boko yang ternyata masih dalam pengelolaan Borobudur Park.

Pada waktu itu, motor yang kunaiki merayap pelan menaiki tanjakan di jalan aspal menuju kompleks istana Ratu Boko. Aku membayangkan cerita beberapa teman yang bersusah payah mengayuh sepedanya dari tengah kota Jogja sampai tiba di gerbang masuknya. Lokasi Situs Istana Ratu Boko terletak di (Dusun Samberwatu, Desa Sambirejo) dan (Dusun Dawung, Desa Bokoharjo) Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kira-kira 3-4 km sebelah selatan candi Prambanan, menuju jalan raya ke Piyungan. Petunjuk jalan membuat belokan jalan kecil ke tempat ini mudah dikenali. Continue reading

gaya etnik di hari sabtu

image

Dress shabbily and they remember the dress; dress impeccably and they remember the woman.
― Coco Chanel

Buat freelance arsitek sepertiku, kadang-kadang memilih baju untuk bepergian di untuk suatu acara cukup memakan waktu. Maklum, namanya juga cewek, baju-baju yang mau dipakai harus menyesuaikan tempat, acara, dan jalur yang akan dilalui. Kalau acaranya santai-santai hore, aku suka memakai gaya santai juga namun tetap rapi. Kalau kita terlihat rapi dan oke, tentunya (calon) klien juga (semoga) percaya bahwa bangunannya akan dikerjakan dengan rapi pula olehku.

Mood hari itu menentukan pilihan warna yang akan dipakai. Sebenarnya tidak terlalu masalah bagiku karena mood warnaku untuk pergi hanya berkisar antara pink dan turunannya atau jingga dan turunannya. Jadi karena hari ini aku berniat memakai sepatu kedsku yang berwarna pink keunguan, jadi aku memilih padanan yang sesuai. Hari ini memang bukan acara bertemu klien, tapi mengikuti CampaignBlogger#4 yang diadakan oleh Campaign.com di sekitar Sudirman Jakarta. Dengan jarak yang lumayan ditempuh dari Depok, ditambah naik kendaraan umum pula, kuputuskan memakai gaya yang cukup nyaman dan santai.

Continue reading

gili trawangan : living and tourism are coupled

DSC_0275

In any case, a little danger is a small price to pay for ridding a place of tourists.
― Tahir Shah, In Search of King Solomon’s Mines


Aku selalu menyesal memikirkan bahwa beberapa tahun yang lalu aku ke Lombok tapi tidak mampir Gili Trawangan apalagi mencoba snorkeling. Maklumlah dulu masih unyu dan belum banyak traveling (maksudnya, masih jadi traveler tingkat mahasiswa) dan belum bisa berenang. Makanya pas ada kesempatan ke Lombok lagi aku yang berencana tinggal hanya semalam di pulau ini jadi extend jadi dua malam. Tentunya supaya bisa menikmati one day tour snorkeling berkeliling beberapa point yang asyik di laut.

Gili (yang berarti pulau) Trawangan cukup mudah dicapai dari pulau Lombok atau Bali. Dari Lombok bisa menggunakan kapal kayu sedang yang berjalan tiap jam sepanjang hari dari pelabuhan Bangsal dengan tarif 15-20 ribu rupiah (kira-kira sesudah penyesuaian), atau mungkin speedboat dari beberapa operator hotel terkemuka di Lombok. Dari Bali banyak ditawarkan fastboat langsung ke Gili Trawangan melalui pelabuhan Padangbai dan harus mengecek jadwalnya terlebih dahulu.
Continue reading

little woodstock, pleasant stay at gili trawangan

cover

The human capacity for burden is like bamboo- far more flexible than you’d ever believe at first glance.
― Jodi Picoult, My Sister’s Keeper

Hujan deras di pelabuhan Bangsal menemani awal perjalananku ke Gili Trawangan. Pulau kecil yang sering menjadi destinasi wisatawan mancanegara ini menjadi tujuan istirahatku sesudah turun gunung. Perjalanan lewat air selama tiga puluh menit itu tiba di tepi pantai yang berpasir putih, dan sama sekali tidak hujan!

Aku menelepon pemilik Little Woodstock yang sudah ku-booking beberapa hari sebelumnya untuk menunjukkan arah menuju tempat penginapan tersebut. Tak lama kemudian, muncul satu karyawannya naik sepeda dan membawakan ranselku. Ternyata Little Woodstock tidak berada di tepi pantai seperti banyak penginapan lainnya, namun termasuk di tengah-tengah pulau. Aku memesannya lewat situs booking.com, dan berharap tempatnya secantik gambar-gambarnya.

Sekitar sepuluh menit berjalan kaki kami bertemu gerbang bambu di kanan dan di kiri.”Selamat datang di Little Woodstock..” sapa Pak Reza, pemilik tempat ini yang sedang bersantai-santai di bale-balenya. Bangunan-bangunan bambu berwarna kuning tertangkap mata di tengah taman dengan aneka warna yang cantik. Di sebelah kananku area resepsionis yang merangkap dapur dan tempat tinggal karyawannya. Pak Reza sendiri duduk santai sambil menonton televisi di sofa dan memperkenalkan diri. Keramahan seperti sedang berkunjung ke rumah teman rasanya.
Continue reading

desa tradisional senaru, kunjungan pasca rinjani

cover

A village is a hive for a glass, where nothing unobserved can pass.
– Charles Spurgeon

Aku melihat gerbang desa ini tengah malam ketika kami turun dari gunung Rinjani di desa Senaru. Keesokan paginya ketika kami sudah beristirahat semalam, aku meluangkan waktu untuk mengunjungi desa yang berada di tengah permukiman biasa, namun dipisahkan oleh gerbang. Seolah ada dunia tersendiri di dalamnya.

Kami diterima oleh salah satu warga desa. Ia mengenakan sarung khas Sasak dan banyak bercerita. Di desa adat Sasak Senaru bangunannya masih menggunakan material maupun bentuk lokal. Hampir seluruh mata pencaharian dari kaum lelaki di sini adalah bertani, karena itu di siang hari suasananya tampak sepi.

Di bagian depan desa terdapat dua bale bersama. Bangunan dengan tiga tonggak utama di tengah ini dipergunakan untuk aktivitas bersama dari empat rumah yang ada di depannya. “Di sini digunakan untuk belajar bersama anak-anak, atau ibu-ibu yang mengobrol sambil bekerja mempersiapkan masakan, atau sering juga digunakan bapak-bapak untuk pertemuan. Duduk-duduk melingkar saja di atas dipannya itu, sambil membicarakan hal-hal yang dianggap penting,” jelas bapak penduduk asli itu.
Continue reading

mengulik adlienz : si gadis pelarian laut

adlien

You did not kill the fish only to keep alive and to sell for food, he thought. You killed him for pride and because you are a fisherman. You loved him when he was alive and you loved him after. If you love him, it is not a sin to kill him. Or is it more?
― Ernest Hemingway, The Old Man and the Sea

Hah, dapat jatah mereview blognya Adlienz! Asyik! Buat aku, perempuan bernama lengkap Atrasina Adlina ini amat istimewa, karena ialah satu-satunya dari teman-teman di Travel Bloggers Indonesia, yang pernah sampai di rumahku di Depok! Biasanya kan orang suka malas karena rumahku jauh di selatan sana, tapi malam itu sepulang aku kerja ia yang sedang berlibur mengunjungiku di Depok.

Pemilik blog Adlienerz.com ini kukenal dari jejaring TBI ketika ia masih bekerja di Maumere, ujung Nusa tenggara Timur. Sekarang ia ditugaskan di Ambon, Maluku untuk mengawasi perdagangan ikan di Indonesia yang akan dikapalkan ke luar negeri. Sementara itu sebelumnya ia kuliah di Makassar, Sulawesi Selatan. Keren bukan? Tempat-tempat di mana ia tinggal adalah tempat-tempat yang super pengen aku singgahi di Indonesia.

Adlienz sangat mencintai laut. Kecintaan ini yang membawanya memilih untuk belajar Kelautan di Universitas Hasanuddin Makasar, alih-alih belajar di Depok, tempatnya berasal. Makassar yang telah membawa berkeliling laut-laut Indonesia untuk bertugas membuatnya lebih mencintai dunia kemaritiman Indonesia seperti diceritakan dalam tulisan Just Follow your Travelling Passion, guys!!
Continue reading

renjana rinjani : jalan mengenali diri

cover

    Aku tidak pernah sampai puncak.

    Jam delapan tiga puluh pagi itu, ketika matahari mulai bangun dari balik punggungan puncak, ketika langit memantul di Danau Segara Anak di bawah, ketika tiupan menghantam tubuhku yang terseok-seok di jalur berpasir, aku menyerah.

    “Mas Sopyan, sampai sini saja,” ucapku gemetar sambil menahan tangis dan dingin. Satu jalur pendakian di depanku menuju puncak nampak 45 derajat di depan. Aku tak kuat lagi. Sudah hampir 6 jam kami berjalan dari Plawangan Sembalun, dan belum juga sampai titik pendakian akhir. Kakiku rasanya kaku untuk digerakkan.
    Continue reading