Tag Archives: hotel

the ONE legian: meet the orange

0-the-one-legian-hotel-bali-cover


“If I’d chosen never to the foot inside the great fairytale, I’d never have known what I’ve lost. Do you see what I’m getting at? Sometimes it’s worse for us human beings to lose something dear to us than never to have had it at all.”
― Jostein Gaarder, The Orange Girl

Apakah yang dipikirkan ketika berjalan sepanjang jalan Legian? Riuh ramai bule berlalu lalang, aneka toko suvenir, cafe, restoran, dan kios-kios yang menawarkan jasa spa untuk meringankan beban kaki yang mungkin sudah penat berpesiar seharian. Legian pernah diingat sebagai tempat meledaknya bom di Paddy’s Club, yang hingga kini masih saja meriah berdentam-dentam, sambil dipenuhi orang-orang yang ingin menikmati hiburan malam di situ. Monumen peringatan yang berdiri tak jauh dari situ berulangkali disinggahi orang-orang sambil berfoto, entah mengenang penanda waktu atau sekadar memberi jejak pernah berlalu di seputaran Legian. Mobil-mobil yang berjalan satu arah melaju tersendat karena menunggu taksi yang berjalan lambat sembari mencari penumpang ke suatu tempat. Continue reading the ONE legian: meet the orange

staycation hotel vila lumbung: meet the green

0-hotel-villa-lumbung-seminyak-bali-cover

Pagi mendung yang menyambutku di Hotel Vila Lumbung ini tidak mengurangi keceriaan pagi ketika tiba di tempat tinggalku selama dua hari ke depan di kawasan Petitenget, Seminyak, Bali. Walaupun gerimis kecil menghalangi niatku untuk main-main ke pantai, tapi berada di seputaran resort ini sudah bisa membuatku betah.

Resort yang berada di tengah lahan luas ini lokasinya tidak terlalu tersembunyi, tetapi deretan pepohonan yang melingkupinya membuat suasana di dalamnya tenang seolah tanpa gangguan untuk beristirahat di Pulau Dewata. Dilengkapi dengan pekarangan yang besar, kolam renang, area bermain anak, restoran, gymnasium, gedung pertemuan, spa, menjadikan tempat ini pilihan menarik di kawasan Seminyak, Bali. Continue reading staycation hotel vila lumbung: meet the green

semalam di la hasienda, kupang

1-la-hasienda-kupang

Aku tak terlalu berpikir banyak untuk tempat tinggal manakala harus tinggal sehari di Kupang. Atas rekomendasi seorang teman, kami menuju Hotel La Hasienda yang tidak terlalu jauh dari bandara sebagai tempat bermalam sebelum terbang ke Jakarta keesokan harinya. Ketika memasuki halaman hotel yang berada di depan jalan penuh flamboyan, aku langsung jatuh hati.

Fasade hotel bernama ala Spanyol ini memang didesain ala negeri Andalusia ini. Warna merah marun yang mendominasi bangunan, ditambah dengan sulur-sulur tanaman merambat di dindingnya, membuatku merasa nyaman di tengah panasnya Kupang pada sore hari itu. Sepertinya desain bangunannya memang untuk mengingatkan pemiliknya pada panasnya negeri matador itu. Jika di negeri aslinya hacienda berarti tanah pertanian, maka di lokasi ini lebih diisyaratkan pada ‘rumah yang nyaman di tanah tersebut. Continue reading semalam di la hasienda, kupang

ivory by ayola hotel, menangkup rindu pada bandung

IVORY-AYOLA


Katanya, Bandung itu tempat melabuhkan rindu.

Kota ini selalu memberikan aura kangen yang begitu kental, pada jalan-jalan di bawah pohon, udara sejuk berhembus, tukang somay hokkie dan es krim durian di trotoar, senyum manis mojang priangan dari sudut-sudut toko, kafe-kafe kopi yang hangat, percakapan santai di taman berteman bajigur, celoteh sunda yang penuh canda, hingga teriakan aceh merdeka dari dalam angkot.

Dan pusat seputaran rindu itu adalah poros Dago-Merdeka-Riau-Supratman, pusat kota yang menjadi riuh oleh penduduk asli maupun pendatang, pusat kemacetan di kala akhir pekan, namun juga tempat strategis menghabiskan kenangan, terlingkungi oleh kanopi-kanopi pohon yang romantis, seakan memanggil-manggil untuk pulang. Continue reading ivory by ayola hotel, menangkup rindu pada bandung

harris & pop hotel kelapa gading, strategis di jakarta utara

cover-pop-harris-hotel-kelapa-gading

Somethings in life aren’t as easy as drinking orange juice, see?
― William Astout

Kelapa Gading dikenal sebagai daerah yang berkembang sangat pesat dalam tiga dasawarsa ini. Berawal dari lahan kosong yang kemudian berkembang menjadi tanah permukiman, lambat laun Kelapa Gading menjadi area bisnis yang mumpuni untuk orang-orang yang bertinggal di situ. Daripada harus memulai usaha di tempat yang lebih jauh, dekat tempat tinggal menjadi satu alternatif pilihan.

Karena itu juga, ruko-ruko yang berderet di sepanjang Jalan Boulevard Raya tidak pernah sepi, seakan apa pun yang dijual di situ pasti laku. Aneka toko kue, restoran Cina, toko bangunan, biro jasa, bank, apotik, karaoke, atau bidang-bidang bisnis lainnya sukses menangguk untung di kawasan Jakarta Utara ini.

Pertokoan menjamur mulai dari sepanjang jalan Boulevar Raya, hingga berubah menjadi pusat bisnis yang diperhitungkan. Tak heran, lokasi Kelapa Gading yang berada dekat dengan kawasan industri Pulogadung, atau kawasan industri Sunter, maupun pelabuhan dagang terbesar yaitu Tanjung Priok membuatnya menjadi kawasan penunjang yang strategis. Puluhan perumahan terus tumbuh, juga gedung-gedung apartemen sebagai hunian.
Continue reading harris & pop hotel kelapa gading, strategis di jakarta utara

semilir nauli, bungalow di kaki rinjani

11-nauli-bungalow-sembalun-lombok-pekarangan

Aku tidak bisa menggambarkan seperti apa perasaanku ketika tiba di Nauli Bungalow tengah malam itu, selain perasaan yang campur aduk antara Rinjani, Sembalun, dan kenangan-kenangan tentangnya beberapa tahun sebelumnya. Sebenarnya aku tidak pernah berpikir untuk kembali ke kaki Rinjani selama sehari semalam untuk memandangi gunung yang pernah gagal kudaki sampai puncak itu.

Namun tempat ini manis, dan teramat sayang untuk dilupakan. Di tengah hembusan angin, aku merasakan kehangatan tuan rumah yang membuatku nyaman. Tidak ada konter resepsionis atau lounge besar seperti halnya hotel berbintang, hanya satu bangunan ruang bersama dengan meja-meja makan dan televisi yang menyambut. Dingin gemerutuk seketika terasa ketika turun dari mobil. Kami duduk-duduk dulu di situ sambil bertemu mas Teguh yang sudah menanti perjalanan kami. Tanpa jendela kaca yang melindungi, angin menelusup lewat sisi-sisi bangunan.

“Lihat keluar sana, itu Rinjani sudah kelihatan,” kata mas Teguh, induk semang kami selama di Lombok.
Continue reading semilir nauli, bungalow di kaki rinjani

tugu sri lestari hotel blitar, old-fashioned romantic

0-tugu-hotel-blitar-cover-y

Though we travel the world over to find the beautiful, we must carry it with us, or we find it not.
― Ralph Waldo Emerson

Hampir jam delapan malam ketika aku memasuki halaman Hotel Tugu Sri Lestari di Blitar, kota yang pernah kutinggali di awal tahun 90-an. Sebenarnya aku sudah tiba di Blitar sejak jam 4 sore, tetapi karena tiba-tiba aku kepengin ke Tulung Agung, satu kabupaten di sebelah barat Blitar tempat tinggal eyang kakung dan eyang putriku dulu, jadi aku membelokkan mobil dulu menuju kota yang berjarak satu jam dari Blitar itu.

Kota Blitar masih sepi dan tenang seperti kuingat 25 tahun silam. Bahkan ketika lampu lalu lintas berubah hijau dan aku belum bersiap menekan pedal gas, tidak ada pengendara di belakang yang gelisah dan mengklakson seperti di kota besar. Tak heran kota ini berulang kali menerima penghargaan sebagai kota berlalu lintas terbaik se-Jawa Timur.

Continue reading tugu sri lestari hotel blitar, old-fashioned romantic