momen-momen tetirah mama

indri-mama

Mother, how are you today?
Here is a note from your daughter
~ Maywood, 1980

Momen di atas adalah salah satu waktu yang aku sempatkan bersama mama, di antara waktu-waktuku yang teramat padat ini (foto Agustus 2015 ini di Bandung, dan sejam berikutnya aku kembali ke Jakarta karena urusan kampus). Sering sekali aku iri dengan teman-teman yang sering mengajak ibunya jalan-jalan, yang meluangkan waktu bersama, karena kami jarang melakukannya akibat sama-sama sibuk tetirah.

Yes, I can say that my mother is a traveler.
(atau pikniker juga boleh..)

Mama adalah tempatku bertanya ketika pertama kali aku ke luar negeri, karena beliaulah yang lebih dulu berkeliling Singapura, Malaysia, hingga Hatyai, di saat ku baru lulus kuliah dulu. Katanya begini, “Kamu kan sudah bekerja, beban agak ringan, jadi mama mau jalan-jalan dulu.” Maktub.

Jadi aku bantu beliau mengurus travel agent yang membawanya pergi. Aku ingat kami berdua naik kereta ekonomi ke Mangga Besar lalu menuju kawasan di belakang Glodok untuk mendatangi kantor travel agent yang iklan barisnya ada di koran. Kami bertemu dengan travel guide-nya yang memamerkan paspornya yang ketiga. Walaupun nama biro jasa ini agak lucu, Asoy travel, tapi percakapan kami meyakinkanku untuk melepas mama tetirah sendiri tanpa keluarganya. Dan ternyata beliau happy-happy sampai pulang bahkan bercerita banyak karena punya teman-teman baru dari group tour.

Mama adalah seseorang yang gampang sekali bepergian, teringat juga sewaktu aku pulang sekolah SMA di Surabaya, tahu-tahu mama bilang, “Nanti sore mama ke Cirebon ya, kak. Langsung ke pool Ezri nih, mungkin besok malam sudah balik lagi, jadi Kamis pagi sudah di rumah.” Karena Cirebon adalah kampung halaman kami, dan urusan orang dewasa belum cukup kucerna, jadi aku mengiyakan saja. Mungkin mama kangen mbah mamih, pikirku.

Selain itu mama juga yang mengingatkan untuk ke Pantai Air Manis ketika aku keliling Padang, atau jangan lupa mampir istana Maimoon kalau di Medan. Tak heran sih, sewaktu beliau baru menikah dengan ayah, (emm, lebih dari tiga dasawarsa silam, sih) memang tinggal di kota-kota itu karena tugas ayah. Bahkan sewaktu tahun lalu aku iseng kepengin lihat gajah ke Way Kambas, Lampung, mama menyeletuk, “Mama sudah ke sana koq, sama ibu-ibu senam.” Ealaaahh..

Memang mama ini aktif sekali dan temannya banyak. Beliau juga referensiku sewaktu aku ke Palembang karena pernah main ke sana untuk menghadiri pernikahan anak teman SMA-nya jadi tetirah bareng sembari reunian. Karena aktif di PKK juga kader Posyandu, jadi sering ada gathering yang mengikutsertakan mama. Sumber air panas di Kamojang, Garut, atau jalan-jalan di kebun teh Gunung Mas Puncak, sudah disambangi dengan ibu-ibu kompleks (lupa, apakah ibu pengajian atau ibu PKK). Pernah reuni SMA di Cirebon, mereka ke sumber air panas Guci yang belum pernah aku datangi juga, padahal masih di pulau Jawa, nih.

Bukan, mamaku bukan wanita karir yang jalan-jalan untuk mencari jati diri (seperti aku sekarang, hihi). Beliau ibu rumah tangga lulusan SMA, yang menikah dengan ayahku di umur 22 tahun, kemudian harus mengikuti ayah untuk tugas di berbagai kota di Indonesia. Ini membuat keluarga kami sigap untuk pindahan, karena tahu kira-kira selama dua tahun pasti pindah kota lagi. Mama harus menahan keinginannya untuk punya barang pecah belah yang lucu-lucu, karena pasti kerepotan kalau dipacking. Kami harus cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru supaya cepat akrab dengan sekitar.

Karena di kota-kota yang kami tinggali itu kami agak sering piknik, jadi daerah-daerah sekitar kota sering kami tandangi. Namun ketika aku kuliah dan kami menetap di Depok, mama jarang pergi karena sibuk mengurusku kuliah dan adikku yang dulu masih SD. Tapi beliau tetap menabung sedikit-sedikit untuk jalan-jalan entah kapan. Karena itu, selepas aku lulus, sesekali beliau rehat dari kesibukan sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga, mengunjungi berbagai belahan kota. Ketika adikku akhirnya kuliah di Bandung, mama sering bolak balik ke Bandung naik bis, namun akhirnya tinggal juga di rumah kami di Riung Bandung.

Dan kini, ketika aku mau berlibur dengan adikku ke Makassar, tentu saja mama memberi rekomendasi, “Kamu ke Toraja juga kan, Kak? Nanti naik mobilnya delapan jam, lho. Kamu naik apa? Kalau mama dulu kan bareng sama ibu Neneng teman Depok Utara diantar ke sana.” Oh, baiklah. Mama juga yang kalau ke satu kota selalu mengontak temannya yang tinggal di sana. Entah teman SMA dulu, atau teman Dharma Wanita kantor ayah, atau kenalan lainnya.

Setiap bepergian ke mana pun, aku selalu meminta ijin mama dan dilepas dengan tenang karena ia percaya. Mama tak punya banyak kata-kata wejangan, pesannya selalu : hati-hati di jalan dan jangan banyak-banyak beli oleh-oleh. Ya, mama tak mau membebaniku dengan titipan yang memberatkan (isi ransel) perjalananku. Mama adalah orang yang selalu kutelpon sebelum terbang dan begitu mendarat supaya beliau tidak khawatir.

Jadi, aku bangga sekali dengan ibuku dan masih kepingin jalan-jalan sama mama selama beberapa hari seperti beberapa postingan teman-teman. Iri juga karena sewaktu aku SMA dulu di Surabaya, mama mengajak mbah mamih jalan-jalan ke Bali naik bis tour dari Surabaya selama 3 hari, dan bercerita kalau penyeberangan di Gilimanuk itu antrinya bukan main.

Kapan, ya? Mama bilang ia kepingin ke Lombok, sementara aku sudah ke pulau itu lima kali. Semoga segera.

Selamat Hari Ibu! Selamat menjadi perempuan luar biasa.
p.s. Karena foto mama yang sedang piknik terpampang bufet ruang tamu di rumah, jadi post ini akan kuedit nanti sore untuk tambahan fotonya.

Tulisan bertema Ibu ini memperingati Hari Ibu 22 Desember 2015 bareng teman-teman Travel Blogger Indonesia.

Boleh tengok tulisan teman-teman lain
Danan Wahyu – Dua Belas Kisah Bunda dan Buah Hati
Olive Bendon – Perempuan Pengutip Kerang
Parahita Satiti – Mama
Titiw Akmar –
Fahmi Anhar – Traveling Bersama Ibu
Albert Ghana – Pulang ke Kampung Ibu
Arie Okta

Advertisements

17 thoughts on “momen-momen tetirah mama

  1. Danan Wahyu Sumirat says:

    mamaku ngga mau jalan2 dia lebih sayang dengan kucing dan ayam peliharaannya. Jadi kalau ditawari ke luar kota. “Mengko ayamku piye? Kucing siapa yang kasih makan. Halah!!!”

    Padahal di jaman aku manja2nya , paling seneng jalan2 dg si mbok. Dia yg ngatur semuanya nyaman, aku cuma tahu tidur dan makan di bus. Sangking manjanya , pas kuliah di luar kota aku sempet protes dengan mama pas dapet bus ngga nyaman.

    Dan lalu sejak itu emak kalau nengokin ke Bogor ngga pernah nginep. Lampung-Bogor berangkat malem, beberapa jam aja di Bogor . Lalu pulang, katanya biar aku ngga manja.

    *duh jadi curhat

    • indrijuwono says:

      whaaaa, mamaku sih nggak punya peliharaan kak. tapi ya kegiatannya banyak, jalan santai lah, kondangan akikah, kondangan nikahan, pilkada, senam, dll. tapi sih kalo jalan2 sama aku susah. ntar kali yaa..

  2. Gara says:

    Like mother, like daughter!
    Pasti senang punya ibu yang sangat mendukung kegiatan traveling, soalnya bisa jadi tempat bertukar pikiran dan pengalaman soal destinasi yang dikunjungi *eh, saya mencegah diri untuk curhat :haha*. Eh iya, ajakin deh Mbak ibunya ke Lombok, saya yakin pasti suka, kalian bisa bertualang ke tempat-tempat yang seru buat didatangi berdua :)).
    Selamat hari Ibu!

  3. fanny fristhika nila says:

    mamaku sayangnya walo sering bepergian, tp bukan dlm rangka liburan… jd tiap aku tanya referensi dr tempat2 yg prnh dia datangin, malah jawabannya, “mama lupa.. pas kesanakan krn tugas.. mana sempet jalan2” -__-

    Skr, krn nikah ama suami yg berasal dr keluarga diplomat, otomatis mrk srg bgt jalan, dan pindah2 negara, aku jd keikut suka traveling.. sampe skr, aku kepengin nularin virus traveling ke anakku mba :).. jd kelak kalo dia udh gede ntr, dia bisa jatuh cinta dgn traveling sama gedenya seperti ortunya, dan kita bisa saling nanya ttg tempat2 yang mau didatangi :)..Itu sih impianku sebagai ibu.. Malah ga kepikiran ankku harus juara kelas dan bla bla bla.. ;p pokoknya cuma pgn dia bisa ngeliat sbnyak mungkin tempat di dunia.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s