[giveaway] kalender tintin 2016

   

 

“Sejuta topan badai!”

Tahu dong kalimat di atas kata-kata siapa? Yes, itu Kaptain Haddock, sahabat wartawan petualang kesayanganku, Tintin. Betul, topan badai adalah salah satu fenomena alam yang sering ditakuti pelaut walaupun sudah mengarungi banyak lautan. Dan termasuk si nahkoda baik hati yang suka menyumpah-nyumpah ini. Apalagi penggemar Tintin, pasti tahu kalau di petualangannya, Tintin kerap kali menggunakan kapal.

Entah kenapa, walaupun aku nggak bisa-bisa banget berenang, tapi aku senang sekali naik kapal. Mau kapal ferry, kapal kayu besar, kapal kayu kecil, jukung, atau bahkan getek pun aku suka. Asyik rasanya bergoyang-goyang di atas air sambil merasakan hembusan angin yang mengacak-acak rambut keritingku dan membuyarkannya.

Nah, karena itu sehubungan dengan pergantian tahun, seperti tahun lalu aku akan bikin giveaway kalender Tintin! Kalender ini penuh dengan ilustrasi dari komik Tintin yang legendaris itu, dan bisa dipakai juga sebagai kartu pos. Ada satu kalender Tintin 2016 limited edition yang bisa dimenangkan oleh pembaca blog Tindak Tanduk Arsitek ini, beserta satu pin menemani, dan kotak merah seperti gambar di atas.

Mau?

Pertama :
Follow blog Tindak Tanduk Arsitek (bisa melalui tombol follow bagi pengguna wordpress atau submit lewat email di kolom sebelah) dan follow twitter @miss_almayra dan instagram @miss_almayra atau like fanpage di facebook Tindak Tanduk Arsitek.

Kedua :
Beri komentar di bawah ini dengan bercerita tentang pengalamanmu dengan kapal, baik di laut maupun sungai, menunggu kapal, menanti di dermaga, atau pengalaman terkait lainnya, yang senang dan susah, tapi jangan sedih.

Tulis dengan format :
Nama – akun twitter atau facebook
Email
Cerita pengalaman

Ketiga :
Pengguna twitter – Share link postingan giveaway ini lewat social media dan ajak serta mention temanmu untuk ikut bergabung. Jangan lupa mention @miss_almayra dan tagar #KalenderTintin2016 (pastikan kamu sudah follow @miss_almayra ya!)
Pengguna facebook – Share post dari fanpage Tindak Tanduk Arsitek atau share link postingan giveaway ini di timeline kamu (setting audience Public), dengan menyertakan tagar #KalenderTintin2016 di kalimat pengantarnya.

Giveaway ini akan ditutup pada hari Selasa 5 Januari 2016 jam 23.57 dan akan diumumkan pada tanggal 6.01.2016 di antara jam 21.27-23.59 WIB.

Good luck!

Maros, Sulawesi Selatan, 29 Desember 2015. 04:53 [Indri on vacation]

  

Advertisements

36 thoughts on “[giveaway] kalender tintin 2016

  1. dessy says:

    ikutan giveaway kalender tintin ah
    twitter: [at]dessytab
    Email: zuperdzigh[at]yahoo[dot]com

    sejujurnya gue jarang naik kapal, naik kora-kora di dufan aja ngga pernah (tapi aku ingin kalender Tintin!!!!)
    Mamaku dari dulu takut banget naik kapal, anaknya tidak pernah diijinkan main di laut. jadi tentu saja gue ngga bilang-bilang waktu pergi ke Karimun Jawa bahkan sempat ketinggalan kapal :p
    maap ceritaku ngga serame film Titanic (ya iyalah, kalau serame film itu, gue udah “ngambang”).

  2. noerazhka says:

    noerazhka โ€“ @noerazhka (Twitter) โ€“ Nur Azizah Eka Wardhani (FB)
    noerazhka@gmail.com

    Pengalaman perihal kapal ya, Mba Indri? Hmm, lumayan banyak, walaupun saya bukan pecinta laut sejati. Hehehe. Paling berkesan sih pas LOB di TN Komodo tahun lalu. Hidup di atas kapal sederhana selama 3 hari 2 malam, dengan 10 teman seperjalanan, plus 3 awak kapal dan 1 guide. Kebayang gimana riweuhnya, secara ya, Mba, logistik dan air bersih terbatas, akses menuju peradaban nyaris tidak ada, kenyamanan beristirahat juga seadanya, goyang-goyang pula. Hahaha. Udah deh, ketauan semua gimana aslinya. Yang egois, yang pengalah, yang ngga peduli sama orang lain, yang mau berbagi dan lain sebagainya.

    Gila ya, Mba, hidup di kapal sebentar efeknya kaya ikut tes psikologi. Membuka kepribadian orang. Hihihi. Lebih dari itu, saya beryukur banget deh, bisa liat keajaiban TN Komodo dari dekat. Mengeksplorasinya dengan lumayan mendetail. Alhamdulillah .. ๐Ÿ˜€

    Jadi, kalender Tintin-nya buat aku kan ya, Mba Indri? Hahaha .. :*

    Sukses selalu buat Tindak Tanduk Arsiteknya ya, Mba ..

  3. Gara says:

    Gara – @gara_pw
    garo@mencarijejak.com

    Pengalaman di kapal? Saya cuma naik kapal sejauh ini dari rute Ketapang–Gilimanuk atau Padangbai–Lembar, jadi jangan harapkan saya punya pengalaman hebat di atas kapal laut :haha. Tapi ya, di atas laut saya belajar kalau saya kecil. Saya belajar kalau horison bisa bertemu dengan mutlak menjadi satu lingkaran penuh. Saya belajar kalau di atas laut juga bisa ada pelangkiran (pelinggih kecil untuk sembahyangnya orang Hindu :hehe). Terus saya belajar mengejar senja dan fajar, menunggu selama 4 jam, terus bagaimana dataran Bali atau Lombok perlahan-lahan membesar (atau mengecil), mendekat (atau menjauh).
    Saat-saat yang menyenangkan sih kalau menurut saya :haha.

  4. Atti Primaranti says:

    Pengalaman naik kapal laut yang besar udah lama banget, mungkin waktu balita dari Surabaya-Ambon… yang lumayan sering naik kapal feri dari Ambon-Poka hampir setiap weekend saya ke Poka nengok Tante dan sepupu saya yang tinggal di Poka, itu sekitar tahun 1981-1984… terakhir naik kapal feri tahun 2001, Banyuwangi-Gilimanuk… sesudah itu tidak pernah naik kapal lagi, selain memang nggak ada kesempatan untuk berpergian dengan kapal, saya juga selalu mabuk laut kalau naik kapal… bisa-bisa saya mingkem sepanjang perjalanan karena kalau ngomong langsung kepingin muntah…

  5. Dita says:

    ohhh kirain sejuta Topan Gio *dicubit*
    tahun ini pokoknya aku harus dapeeet!

    aku jarang sih naik kapal, yang berkesan mungkin naik kapal speedboat dari Dumai ke pulau Rupat. Asli yaaa itu pulau yang belum pernah terbayang sebelumnya kayak apaan. Manalah waktu itu Dumai juga kena asap dari pekanbaru, jadinya kayak berlayar menuju antah berantah gitu gak tau mau kemana. Sepanjang jalan cuma bisa berdoa dan ngemil biar gak stress. Dan tau gak cemilanku apa? lontong gantino khas dumai, sejenis lontong sayur dengan kuah gulai bersantan isinya daun singkong dan nangka muda. Untung gak jackpot di kapal ya ๐Ÿ˜€

  6. Pungky says:

    Mamiiiihhhhhh.. Pevita dataaaaangs ๐Ÿ˜€

    Pungky Cantik – @pungkyprayitno
    pungkyprayitno@gmail.com

    Cerita pengalaman:
    Aku ini mabuk laut level parah, bener-bener enggak bisa ngapa-ngapain kalau udah di atas kapal. Sama sekali gak ada yang bisa aku nikmatin dari atas kapal. Nah, waktu ke Lombok kemarin, aku tau aku harus banyak jeprat jepret untuk keperluan blog, tapi aku gak sanggup karena mabuk.

    Tiba-tiba mbak Lutfi bilang “Lakukan apa yang bikin kamu seneng..”. Sekalimat, tapi itu betul-betul mengubah perjuanganku akan laut. Aku tau, aku akan seneng kalau aku diam atau tidur aja di kapal. Memotret bersama goyangan air laut, akan bikin aku sempoyongan dan sangat bisa merusak perjalananku seharian. Jadi aku memutuskan menyimpan kamera dan diam.

    Ternyataaaa… kehilangan banyak momen di atas kapal, sama sekali gak bikin blogpost aku tentang Lombok jadi jelek. Aku masih sangat puas sama hasilnya, sekalipun pemandangan di atas laut gak bisa banyak aku suguhkan untuk pembaca. Tapi pilihan untuk melalukan apa yang bikin kita senang, adalah pilihan yang selalu tepat. Karena kita gak bisa membahagiakan orang lain, kalau kita sendiri gak bahagia.

    Cium mami dari jauh,
    :*

  7. maisya says:

    Asyiiiik.. wajib ikutan nih, mami.

    Icha Maisya โ€“ Twitter @ichamaisya
    Email: maisya_f[at]yahoo[dot]com

    Buat aku tahun dengan pelayaran kapal tersering adalah 2011 – 2012 saat aku tinggal dan mengajar di Pulau Bawean, Gresik. Semua kelas udah pernah dicobain dari ekonomi yang sandaran kursinya cuma setengah punggung sampai eksekutif yang tempat duduknya nyaman gak ruangannya gak terlalu ramai. Salah satu perjalanan yang paling berkesan adalah waktu mendampingi murid2 nyeberang ke Jawa untuk mengikuti lomba sains. Ternyata PR banget ya nemenin anak2 itu. Apalagi yang kelas rendah (1-3), anaknya macem2 ada yang mandiri ada juga yang gelisah karena baru pertama naik kapal. Ada yang tidur ada jg yang mual pengen muntah. Biar gak rewel semuanya dikasih minum antimo pas br berangkat. Alhamdulillah abis itu pada anteng tidur. Eh sampai Gresik ada yang susaaaah bgt bangunnya. Ternyata dia minum antimo dewasa satu biji padahal anak2 lain cuma minum setengah tablet doang. ๐Ÿ˜„ *over dosis*
    Overall semuanya senang bisa menginjak pulau Jawa. Kapal adalah satu-satunya moda transportasi saat itu yang menghubungkan Bawean dengan pulau-pulau lain di sekitarnya seperti, Jawa, Madura, dan Kalimantan.

  8. Zahra Madany says:

    Hayati mau ikut :*

    Zahra Rabbiradlia – @ijahzahra
    zahra.rabbiradlia@gmail.com

    Puji syukur saya bisa nyaman saat berada di tengah laut. Jarang mabuk dan sangat suka bau air laut. Seneng snorkeling dan pernah diving. Tapi karena satu kejadian di Gili Sunut, saya takut diving lagi.

    Oktober 2013 adalah titik dmn pd akhirnya saya tidak berani lagi diving. Saya trauma, oleh karena tenggelam di Gili Sunut. Pada saat itu saya dan teman2 memberanikan diri untuk snorkeling tanpa membawa pelampung sama sekali. Sayangnya pd saat sdg asyik2nya snorkeling, tiba2 saja sy melihat lautan dalam berwarna biru pekat yang mencekam. Sy panik dan pd akhirnya tenggelam…

    Untung saja ada petugas yg menyelamatkan sy. Sy beruntung, msh diberi wkt menghirup nafas hgg saat ini. Tapi untuk mencoba diving kembali, sy msh harus berfikir matang2.

    Orang bilang bhw utk melawan rasa takut adlh dengan menghadapi rasa takut itu. Baiklah, sy harus mencoba utk menyelami lautan lagi. Harus.

    Doakan aku biar ga takut nyelem lg mamiii *cium*

    • indrijuwono says:

      Aku juga takut nyelem Hayatiii…
      Makanya nggak belajar-belajar. Sama, kalau lihat laut dalam terus panik.. Tapi moga-moga kita sama2 bisa yaa..
      Btw, nyelem kan pakai pelampung juga ๐Ÿ˜—

  9. rumahijaubelokiri says:

    Ikutan ya mbak. Selama ini saya silent reader, giliran ada giveaway baru deh nongol :))

    Twitter: @yuliayulijo
    Email: yuliayes7(at)gmail(dot)com

    Sejak kecil aku seneng banget sama laut. Kalo mudik wajib banget deh mampir ke pantai supaya lihat pasir dan kapal. Pokoknya cita-cita banget deh naik kapal besar. Sampe akhirnya kesampaian pertama kalinya naik kapal ferry ke Lampung tahun 2007. Huaaa kapal belum berangkat rasanya mau pulang ajaa. Mana nggak bisa berenang. Sepanjang kapal belom berangkat baca doa aja deh komat-kamit. Alhamdulillah lancar-lancar nyeberangnya.
    Nah, kalau perjalanan naik kapal paling romantis ya waktu honeymoon nyeberang ke Pulau Weh hihi. Senyam-senyum aja deh sepanjang nyeberang. Udah gitu ke Sabang juga cita-cita dari jaman dulu :p.
    Alhamdulillah dapet suami yang arti namanya lautan, nggak jauh-jauh dari kapal. Eh pas ada bayi nongol dikasi nama pula yang artinya samudera. Ealaah nggak jauh-jauh :p.

    Plis, semoga saya yang menang ๐Ÿ˜„

  10. Hendi Setiyanto says:

    Hendi Setiyanto – @hendisetiyanto
    setiyantohendi@gmail.com

    Sebagai anak yang terbiasa tinggal di daerah pegunungan Banjarnegara, kata laut seakan begitu mistis dan penuh dengan tanda tanya. Sejak kecil sudah terdoktrin jika laut itu penuh bahaya, ombak yang besar, penguasa laut selatan dll. Memori “negatif” tentang laut tadi seakan tersimpan dengan rapat di otak.

    Namun beranjak dewasa, pergi ke laut bukan cuma sekali-dua kali akan tetapi ya karena memori “negatif” tadi jadi cuma bisa menikmati laut dari pinggiran saja. Sama sekali tidak kepikiran nyemplung atau berenang (selain tidak bisa renang). Hingga pada tahun 2014 akhir kami berombongan pergi ke pantai Pangandaran-menyeberang ke pantai Pasir Putih. Itu adalah momen pertama kali merasakan gimana rasanya menaiki kapal/lebih tepatnya perahu kecil bercadik.

    Deg-degan, takut ada tsunami yang tiba-tiba bisa datang, ombak besar, kapal terbalik kemudian tenggelam, seakan menjadi momok yang menakutkan bagi saya. Namun berkat dukungan teman-teman saat itu (selain disediakan penampung juga) akhirnya saya bisa merasakan pertama kali menaiki kapal menyeberang lautan menuju pantai Pasir Putih di umur yang sudah banyak ini.

    Rasanya? sangat syok saat kapal berusaha menaklukan ombak di pinggir pantai, itu merupakan saat-saat yang kritis menurut saya. Campur aduk antara senang, tidak menyangka hingga was-was. Namun semua ketakutan itu sirna saat kapal sudah berada di tengah laut dan ombaknya tenang. Saya bisa melihat terumbu karang yang sangat cantik serta aneka macam biota laut yang bisa dilihat dengan mata telanjang dari atas kapal.

    Cerita lengkapnya bisa dibaca di link ini https://ndayeng.wordpress.com/2015/11/04/mencari-susi-pudjiastuti-dari-pantai-pangandaran-hingga-pasir-putih/

    • indrijuwono says:

      Pertama kali naik jukung itu memang endesss seremnya sih. Aku pernah tuh di Kiluan dan kena ombak naik turun. Tapi setelah pernah nyemplung laut buat snorkeling atau apa, nggak pernah takut lagi naik kapal ๐Ÿ™‚

  11. melmarian says:

    Ikutan ya mbak, pengen kalendernya! ๐Ÿ™‚
    Melisa – twitter @melmarian
    Email: elsa_maran at yahoo dot com

    Wah, aku belum pernah naik kapal laut nih mbak. Kapal ferry termasuk nggak sih? Tapi aku juga udah lupa pengalaman naik kapal ferry, hahaha.
    Ada satu pengalaman yang aku ingat waktu masih SMA dulu, aku pernah nonton konser Dewa (waktu itu vokalisnya Once) dan Audy di Monumen Jalesveva Jayamahe, di Mako Armatim, Ujung, Surabaya. Konser itu berkesan sekali karena selain dapet tiket gratis, lalu disuguhi performance band sekelas Dewa di kaki Monjaya dan di sebelahnya ada kapal perang sedang sandar. Unik kan buat sebuah konser musik? ๐Ÿ˜‰ Aku nggak tahu setelah itu apa pernah diadakan konser lagi disana, seingatku kok nggak pernah lagi ya. Karena utk masuk Mako Armatim utk lihat Monjaya susah sekali, harus ngajukan ijin berkunjung dulu dan harus rombongan. Beberapa minggu lalu dibuka utk umum di acara Naval Base Open Day, tapi aku nggak bisa datang, hiks. Moga2 tahun ini aku punya kesempatan utk mengunjungi Monjaya lagi!

  12. melmarian says:

    Ikutan ya mbak, pengen kalendernya! ๐Ÿ™‚
    Melisa – twitter @melmarian
    Email: elsa_maran at yahoo dot com

    Wah, aku belum pernah naik kapal laut nih mbak. Kapal ferry termasuk nggak sih? Tapi aku juga udah lupa pengalaman naik kapal ferry, hahaha.
    Ada satu pengalaman yang aku ingat waktu masih SMA dulu, aku pernah nonton konser Dewa (waktu itu vokalisnya Once) dan Audy di Monumen Jalesveva Jayamahe, di Mako Armatim, Ujung, Surabaya. Konser itu berkesan sekali karena selain dapet tiket gratis, lalu disuguhi performance band sekelas Dewa di kaki Monjaya dan di sebelahnya ada kapal perang sedang sandar. Unik kan buat sebuah konser musik? ๐Ÿ˜‰ Aku nggak tahu setelah itu apa pernah diadakan konser lagi disana, seingatku kok nggak pernah lagi ya. Karena utk masuk Mako Armatim utk lihat Monjaya susah sekali, harus ngajukan ijin berkunjung dulu dan harus rombongan. Beberapa minggu lalu dibuka utk umum di acara Naval Base Open Day, tapi aku nggak bisa datang, hiks. Moga2 tahun ini aku punya kesempatan utk mengunjungi Monjaya lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s