dua senja langit tobelo

“What a grand thing, to be loved! What a grander thing still, to love!” 
― Victor Hugo

Pernahkah bepergian hanya mengandalkan kejutan tanpa ekspektasi, karena rencana yang mendadak saja terjadi atas dorongan orang-orang baik yang ada di sekitar. Tiba-tiba saja rasanya berada di dalam mobil travel menuju Tobelo, dengan tujuan rumah tinggal keluarga ibu Heni dan Indah, sebagai tempat transit sementara sebelum kembali menyeberang, tanpa tahu bagaimana cara kembali ke Ternate lagi.

Mungkin benar ada jika ada yang berkata bahwa Tobelo itu adalah to-be-loved, karena sudut-sudutnya yang indah mengundang untuk bercengkrama sembari menunggu kapal yang berangkat esok hari. Banyak cerita yang terungkap ketika tiba, tentang masa lalu yang tak semua orang tahu.

Tobelo berada di ujung utara Pulau Halmahera, tadinya tidak pernah terpikirkan untuk dikunjungi dalam perjalanan di Maluku Utara, namun karena kota ini adalah tempat transit sebelum ke Morotai, maka singgah sejenak untuk menikmatinya. Apalagi Presiden juga meresmikan Pelabuhan Tobelo sebagai salah satu jalur tol laut simpul transportasi dari pulau-pulau sekitarnya.

Senja pertama

Di tepi laut yang tak jauh dari kota, menghadap ke timur hingga pulau-pulau kecil yang mengelilingi, sembari snorkeling ringan dan bermain air. Senja tidak ditemukan di laut, bukan matahari yang tenggelam lewat cakrawala, namun semburat langitnya mengisyaratkan berakhirnya hari menuju gelap. Bisa memilih antara pantai tenang dengan perahu-perahu kayu yang bersandar, atau menghadap pelabuhan dengan kapal besi dengan kerlip kesibukan di kejauhan. Usai melewati senja di air, menghangatkan diri dengan air guraka dan pisang goreng adalah pilihan yang pasti.

Hibualamo

Rumah adat yang berada di tengah kota, penanda sejarah lampau Tobelo, tempat perlindungan dari cuaca. Dahulu, rumah adat ini dibangun sebagai tempat berdiskusi dan bermufakat dari 10 Hoana (Modole, Pagu, Lina, Towliiko, Boeng, Huboto, Mumulati, Gura, Morodina dan Morodai) di Halmahera Utara. Nama ini berasal dari kata Hibua = Rumah dan Lamo = Besar dengan ciri khusus berbentuk segi 8. Dengan 4 pintu masuk sebagai simbol empat penjuru mata angin, semua orang yang ada didalamnya saling duduk berhadapan, yang mengilhami makna filosofi. “Artinya tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain, dalam kiasan disebutkan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.”

Tak banyak kendaraan umum yang berlalu lalang di Tobelo dan siap mengantar ke mana saja. Beruntunglah salah satu adik bu Heni bersedia menunjukkan tempat-tempat menarik di sekitar Tobelo sebagai penanda kenangan. Karena angkot jarang ke luar kota, maka kami hanya bepergian naik motor saja. Tak banyak polusi, dan tak banyak juga kendaraan berlalu lalang sepanjang perjalanan ke arah utara Tobelo. Menyusuri jalan menuju Galela selalu berteman dengan pohon kelapa di kanan dan kiri.

Pantai Luari

Menghadap timur ke laut lepas, Pantai Luari dipenuhi oleh pasir putih yang menggoda untuk dimainkan sembari beristirahat. Dari percakapan, terdengar bahwa pantai ini ramai di akhir pekan, bukan di siang bolong seperti ini. Tapi tidak menyurutkan keinginan adik-adik dari desa sekitar untuk penasaran terhadap tamunya dari luar pulau ini. Ah, mungkin saja di antara mereka ada yang kelak pergi jauh untuk belajar dan kembali lagi untuk desanya.

Sepanjang jalan di tepi laut yang ditemukan adalah biru bercampur karang atau biru langit tak berawan. Tergoda untuk berhenti sejenak dua jenak, menikmati biru seakan tak berbatas cakrawala. Tak banyak rumah penduduk yang ditemui di sepanjang perjalanan ini, tak ada yang beraktivitas di tepian, dan sedikit kendaraan yang berlalu lalang. Agaknya infrastruktur yang bagus tidak menarik untuk bergerak lebih sering.

Air Panas Mamuya

Sumber air belerang dari pegunungan Mamuya, tidak menyurutkan niat untuk mencebur walaupun tak membawa baju ganti. Sayang rasanya sudah jauh-jauh sampai sini namun tidak merasakan air yang hangat menentramkan usai perjalanan panjang melintas Halmahera kemarin. Yakin bahwa panas matahari akan mengeringkan baju lagi nanti di badan, maka tak ragulah untuk berenang di kolam yang berdasar bebatuan tanpa orang lain kecuali seorang ibu yang sedang merendam kakinya.

Telaga Biru

Tak hanya panas, air dingin dan cantik seperti telaga biru ini pun banyak penggemarnya. Bebatuan, lumut atau mungkin ganggang yang ada pada dasarnya membuat air telaga ini berwarna biru toska lembut. Rupanya cukup banyak yang beraktivitas di telaga ini sambil mencuci atau mandi. Telaga berbentuk lonjong ini mulai dari dasar yang dangkal, hingga terlihat dalam terus ke ujungnya. Masih kedinginan dan basah usai dari Mamuya, aku urung menceburkan badan di sini. Suhu airnya cukup sejuk di siang hari, tak heran masih banyak yang bercengkrama di sini.

Bangsaha Duma

Di salah satu sudut Galela, salah satu tempat untuk memandang Telaga Duma yang luas dari tepi gereja misionaris pertama yang membawa ajaran ke Duma. Hendrik van Dijken, datang pada 4 April 1832 untuk menyebarkan agama Kristen yang dianut oleh sebagian besar warga Maluku Utara. Di tepi danau ini juga masih berdiri gereja tempatnya dahulu, juga pohon yang pernah ditanamnya semasa hidupnya. Pada patung Diken yang didirikan memegang cangkul yang merupakan simbol bahwa selama misinya ia juga memberdayakan perkebunan khususnya tembakau dan kopi.

Telaga Duma sendiri memiliki luas 250 hektar yang pemandangannya bisa dilihat sepotong-sepotong dari tepian jalan, namun bisa dipandang luas dari kawasan Bangsana Duma. Telaga ini dimanfaatkan untuk bertani ikan pada keramba-keramba yang berada di tepian. Di banyak sudutnya banyak eceng gondok yang menutupi sebagian perairan. Di beberapa titik, banyak yang menggunakannya sebagai obyek wisata berperahu keliling telaga.

Dalam perjalanan keluar desa Duma, diceritakan kerusuhan yang terjadi di Duma pada tahun 1999-2000 dan banyak sekali menewaskan rakyat sipil. Kerusuhan berkedok agama ini banyak berjatuhan ribuan korban dari kedua belah pihak Muslim dan Kristen. Tak pernah mendengar kabar ini di waktu lalu, ternyata data yang dicari tentang hal ini di kemudian hari amat membuat masygul. Tampak taman pemakaman untuk korban di gereja dan kapal yang terbakar pada saat itu. Duh negeriku, semoga tidak lagi mudah tersulut oleh api amarah dan saling menyakiti sesama.

Jika punya waktu yang demikian panjang, masih banyak yang bisa ditemui di sekitar Tobelo dan Galela ini. Di dalam hutan-hutan kabarnya ada sepasang air terjun dengan pemandangan indah, namun usai menelusuri hutan hampir satu jam, tak terdengar suaranya menderu meminta penasaran. Sepertinya rahasia keindahan alam itu terlindung rapat oleh dedaunan hijau dan belum mengizinkan kami untuk menengoknya.

Pulau Kakara

Menghabiskan sore di pulau menjadi pilihan sebelum malam kedua di kota ini. Sekembali dari Galela, ditemani dua sepupu Indah, kami bertiga berperahu ke pulau Kakara untuk menikmati bawah laut yang cantik di tepiannya. Tidak lama berperahu dalam air tenang, kemudian bersandar pada satu dermaga yang agak lapuk sebagai penghubung masuk pulau. Masih banyak bangunan-bangunan yang seharusnya digunakan sebagai tempat peristirahatan, namun sudah tak terawat dan sepertinya ditinggalkan lama. Aku memilih berenang di laut dengan snorkel sambil menunggu senja. Dan ketika lembayung itu akhirnya tiba, kata-kata pun tak bisa menggambarkan.


my favorite sunset, is kind of magenta…

Perjalanan Mei 2016, ditulis November 2017.

tentang Maluku Utara lainnya:
orang-orang baik yang ditemui dalam perjalanan
dua senja langit tobelo
kanca, dodola, dan do’a seorang ayah

Advertisements

10 thoughts on “dua senja langit tobelo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s