renjana rinjani : jalan mengenali diri

Aku tidak pernah sampai puncak. Jam delapan tiga puluh pagi itu, ketika matahari mulai bangun dari balik punggungan puncak, ketika langit memantul di Danau Segara Anak di bawah, ketika tiupan menghantam tubuhku yang terseok-seok di jalur berpasir, aku menyerah. “Mas Sopyan, sampai sini saja,” ucapku gemetar sambil menahan tangis dan dingin. Satu jalur pendakian di… Read More renjana rinjani : jalan mengenali diri

tourism & community development : mempertahankan lokal

Apakah masyarakat di tempat yang didatangi selalu senang dengan adanya pengunjung? Apakah kehadiran kami mengganggu derap kehidupan mereka? Apakah mereka menganggap kami sebagai penonton saja? Seringkali pikiran demikian ditepiskan ketika melihat senyum mengembang di wajah mereka. Indonesia sangat terkenal sebagai negara yang amat ramah, selalu memberikan wajah ceria untuk pendatang yang mengunjungi daerah mereka. Tidak… Read More tourism & community development : mempertahankan lokal

rumah kayu : mengembalikan kesinambungan yang sesungguhnya

Beberapa hari yang lalu aku membaca di halaman facebook Rumah Intaran mengadakan sayembara desain rumah kayu. Menarik sekali, karena Rumah Intaran yang kukenal sebagai studio arsitektur yang berbasis alam berlokasi di Singaraja, Bali, mengundang mahasiswa arsitektur untuk berkompetisi mendesain Rumah Kayu dengan bahan-bahan kayu bekas berupa kayu bongkaran rumah tua dan kapal yang hendak difungsikan… Read More rumah kayu : mengembalikan kesinambungan yang sesungguhnya

belajar dari sarongge, belajar untuk indonesia

Menunggu kadang-kadang menjadi satu-satunya pilihan. Berkebun adalah menunggu. Setelah biji ditebar, atau bibit ditanam, tak banyak yang bisa kita lakukan. Kecuali merawat, memupuknya. Tak ada yang bisa mempercepat tumbuhnya biji sawi, atau puspa yang kau tanam di ujung kebun kita itu. Semua punya waktunya sendiri-sendiri. [h.273] Satu setengah tahun yang lalu, aku melihat buku ini… Read More belajar dari sarongge, belajar untuk indonesia