Category Archives: plaza piazza

kuta beachwalk : oase hijau dan air di tepi pantai

cover

If the sky, that we look upon
Should tumble and fall
All the mountains should crumble to the sea
I won’t cry, I won’t cry
No, I won’t shed a tear
Just as long as you stand, stand by me

[Ben E. King – Stand By Me]

“Tiw, pinjam sandal dong buat jalan-jalan.. gue cuma bawa sandal jepit selain sepatu trekking.”
“Hah, buat apa? Di Beachwalk itu, orang dandannya ya kayak elo gitu, Ndri. Celana pendek sama sandal jepit.”

Aku tiba di Bali setelah berkeliling Jawa Timur hampir 4 hari akhir tahun 2012 lalu, naik kapal ferry dari Banyuwangi. Pikirku, daripada kembali lagi ke Surabaya yang memakan waktu hampir 7 jam, lebih baik aku menyeberang ke Bali dan terbang kembali ke Jakarta lewat Denpasar. Cuma sekitar 3 jam jarak antara Gilimanuk-Denpasar. Lagipula, aku bisa mengunjungi sahabatku Tiwi dan beristirahat sejenak sebelum kembali ke kota tempatku mencari uang.

Aku mengajak Tiwi ke Kuta Beachwalk, satu bangunan social hub di Kuta yang baru jadi namun masih soft opening. Bangunan seluas 93.005 m² ini berada di Pantai Kuta, tepat di pusat keramaiannya, sehingga mudah dijangkau orang yang sedang berwisata di pantai yang terkenal sampai mancanegara ini. Didesain oleh Envirotec Indonesia, biro konsultan tempatku bekerja selama 3 tahun ini. Walaupun aku tidak ikut dalam tim desain maupun pelaksanaannya, tapi aku jatuh hati pada banyaknya koridor terbuka pada bangunan ini, juga pola-pola organik yang membuatnya lunak.
Continue reading kuta beachwalk : oase hijau dan air di tepi pantai

kota di kuta

cover

I’m moving
I’m coming
Can you hear, what I hear
It’s calling you my dear
Out of reach
(Take me to my beach)
I can hear it, calling you
I’m coming not drowning
Swimming closer to you
[Pure Shores ~ All Saints]

Siapa di sini yang pernah berfoto di depan Hard Rock Bali yang berlokasi di Kuta? Sebagian anak muda sepertinya pernah melakukannya, pertanda ia sudah sangat eksis liburan di pantai terpopuler di Indonesia ini. Aku? Belum pernah. Hehehe.. Ketika November 2012 kembali ke pantai Kuta bareng Tiwi, sahabatku ini mengancam,”Awas ya, kalau lo minta gue moto-motoin di depan Hard Rock!” Aku tertawa geli,”Ya enggak lah, kan semua orang sudah foto-foto di situ, masa gue ikut-ikutan?”.

Sombong banget jawabanku. Seperti kalau bepergian ke tempat-tempat lain tidak tergiur untuk berfoto di salah satu ikon sculpture-nya. Lalu memamerkannya di social media supaya orang lain tidak tertarik. Lha, ini Kuta! Everybody was here! Hampir semua teman yang suka bepergian pernah mampir di tepi pantai ini. Terus apa istimewanya kalau aku pamer sedang berada di sini?

Pantai Kuta berada di kabupaten Badung, Bali, sangat populer di kalangan turis mancanegara. Dari udara, sebelum mendarat di bandara Ngurah Rai, bisa dilihat garis pantai berpasir putih yang membentang sejauh kira-kira 1500 m. Ke utara, pantai ini terus sampai Legian dan Seminyak, yang masih giat membangun cottage dan hotel di sana sini demi memenuhi kebutuhan turis (bah!).
Continue reading kota di kuta

a sunset walk in singapore

cover

What strange phenomena we find in a great city, all we need do is stroll about with our eyes open.
Life swarms with innocent monsters.
[Charles Baudelaire]

Ke Singapura untuk belanja? Sepertinya itu bukan tipeku. Pertama memang karena aku nggak terlalu suka belanja, dan juga masih banyak yang bisa dilakukan di Singapura tanpa belanja. Bahkan untuk berburu buku yang menjadi favoritku, kali ini kulewatkan karena memang lebih tertarik untuk mencoba hal yang lain.

Aku mendapatkan kesempatan ke Singapura ini di sebuah acara pesta blogger Be Inspired to Inspire yang diadakan oleh Skyscanner Indonesia, satu situs web pencarian tiket pesawat yang berkedudukan di Inggris, sewaktu merayakan ulang tahunnya cabang Indonesianya yang pertama di Jakarta bulan Oktober lalu. Mendapatkan undangan dengan memasukkan satu judul perjalananku ke Nias, ternyata aku beruntung memenangkan satu perjalanan ke Singapura selama 3 hari 2 malam ketika penarikan undian. Bukan itu saja, di acara tersebut tulisanku juga menang sebagai pemenang tulisan terbaik. Wah, rasanya malam itu beruntung sekali. Kebetulan kedua, aku belum pernah ke Singapura sebelumnya. Hi, norak ya, ketika temen-teman sudah wira-wiri ke negara yang dulu bernama Tumasik itu, aku malah belum pernah.

Karena kupikir di Singapura banyak bangunan yang bagus, maka aku menjadikan perjalanan ini sebagai wisata arsitektur. Apalagi negara ini juga digadang-gadang dengan sistem transportasinya yang nyaman dan informatif, makin semangatlah aku menjajal kendaraan umum di sana nanti.
Continue reading a sunset walk in singapore

rendang minang #5: keliling hari di bukittinggi

cover

kepada singgalang bertanya aku
wahai gunung masa kanakku
di lututmu kampung ibuku
kenapa indahmu dari dahulu
tak habis-habis dalam rinduku?

kepada merapi berkata aku
wahai gunung masa bayiku
di telapakmu kampung ayahku
kenapa gagahmu dari dahulu
tak habis-habis dalam ingatanku?

:dua gunung kepadaku bicara ~ Taufiq Ismail

cerita sebelumnya : rendang minang #4: air sungai, air manis, air terjun, air hujan

Setiap aku bilang akan berkunjung ke Minangkabau, pasti semua orang menyarankan untuk berkunjung ke Bukittinggi. Kota dengan ketinggian sekitar 900 m dpl ini, yang diapit oleh Gunung Singgalang dan Gunung Marapi, terkenal dengan banyaknya penulis, pemikir, penyair yang berasal dari sini. Salah satu proklamator Indonesia, Moh. Hatta, lahir di kota bertingkat ini. Juga ada Tan Malaka, juga seorang politikus yang banyak membuat tulisan-tulisan pandangan kerakyatan dan kenegaraannya. Kota ini juga pernah dijadikan Ibukota negara sementara dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai presidennya selama 207 hari.

Marco Kusumawijaya, seorang ahli tata kota pernah menuturkan dalam satu kuliah umumnya, bahwa pusat kota Bukittinggi itu seluas Lapangan Merdeka di tengah Jakarta Pusat dengan Monas sebagai aksis tengahnya. Jika di Lapangan Merdeka di bidang datar dengan aktivitas tidak berarti kecuali di hari-hari tertentu ketika diadakan acara, pusat kota Bukittinggi dengan konturnya yang bertingkat naik turun, riuh oleh berbagai aktivitas manusia. Perbedaan yang bukan hanya jarak melainkan ketinggian tetap membuat suasana kota ini hidup dan berwarna. Di Lapangan Merdeka yang datar hanya ramai di seputaran Monas saja, sementara Bukittinggi ramai dengan aktivitas niaga di sepanjang jalan, pelancong di seputar Jam Gadang, Pasar Atas dengan kegiatan jual belinya, atau celah-celah pandang untuk sekadar bersantai melihat bagian bawah kota.
Continue reading rendang minang #5: keliling hari di bukittinggi

rendang minang #2: ber-google maps raun-raun padang

coverFB

A map such as that one is worth many hundreds, and as luck will have it, thousands of dollars. But more than this, it is a remembrance of that time before our planet was so small. When this map was made, I thought, you could live without knowing where you were not living.
― Jonathan Safran Foer, Everything is Illuminated

cerita sebelumnya : rendang minang #1: mengurai pantai di sikuai

Hari telah gelap ketika kami meninggalkan Muaro Batang Arau. Dengan berpedoman pada google map, aku dan Felicia berjalan kaki sampai penginapan. Kenapa kami memilih berjalan kaki? Melihat jarak tempuh yang diperkirakan google map hanya 21 menit, berjalan kaki akan memperkaya pengalaman lokasi dan orientasi kota. Selain itu, entah kenapa kami selalu berpikir positif bahwa semua orang itu baik, dan akan menunjukkan jalan yang benar.

dua versi dari google map, by car and by foot
dua versi dari google map, by car and by foot

Continue reading rendang minang #2: ber-google maps raun-raun padang

ruang luas, ruang sempit

pejalan kaki

ruang luas menjauhkan, ruang sempit mendekatkan.

Pernahkah kamu mengalami ketika kamu mengambil jalan memutar tetapi lebih terasa dekat karena ruang yang kamu lalui lebih sempit? Pernahkah kamu diharuskan ke suatu tempat melintasi lapangan yang nyata-nyata lebih dekat, namun kamu memilih untuk menyisir koridor kelilingnya padahal lebih jauh secara jarak? Pernahkah kamu merasa bahwa lambat itu berharga?

Ada pengalaman yang kemudian membuat aku berpikir tentang ini. Malam itu aku pulang dari ITC Depok, seperti biasa mencari angkutan kota nomor 04 di dekat stasiun yang berada di belakang ITC Depok tersebut. Di tengah jalan kakiku di lorong sempit antara tukang-tukang jualan itu aku berpikir, lho, bukannya kalau lewat depan ITC lalu ke lampu lalu lintas sesudah terminal di samping ITC lebih dekat ya? Hanya melipir tepi jalan Margonda di depan terminal saja. Terus kenapa aku selalu lewat lorong ini? Padahal kalau dihitung langkah kaki, pasti perjalananku lebih panjang.
Continue reading ruang luas, ruang sempit

trotoar untuk pejalan kaki, bukan motor!

“Yang naik mobil berasa yang punya jalanan, yang naik motor berasa serigala jalanan, yang pejalan kaki berasa gak punya jalan.” 1)

Begitulah kondisi di banyak jalur pejalan kaki di Jakarta. Contoh di atas adalah di depan Stasiun Gambir Jakarta Pusat, salah satu titik silang ganti antar moda transportasi di Jakarta. Selain taksi dan bis, ojek motor adalah salah satu moda transportasi yang dominan di tempat ini.

Di lokasi ini, motor bebas berlalu lalang di atas trotoar yang menghadap ke Jl Medan Merdeka Timur ini. Tak sedikit orang yang merasa terganggu dengan kehadiran motor-motor ini di trotoar. Padahal di tempat khusus pejalan kaki ini, banyak orang yang sedang menunggu bis ke tempat tujuannya masing-masing. Motor dengan seenaknya naik trotoar dan menawarkan jasa ojek. Setengah memaksa dan mengganggu.

Padahal, Stasiun Gambir adalah Stasiun terbesar di Jakarta, yang terbaik (katanya). Depan Tugu Monas, dekat Masjid Istiqlal yang terbesar, bahkan tak jauh dari Istana Kenegaraan. Seharusnya, depan Stasiun Gambir bisa menjadi contoh ketertiban. Tapi lihat saja, malah menjadi contoh ketidak tertiban yang ditiru oleh wilayah-wilayah lain di Jakarta.

Pejalan kaki hanya mengambil tempat kurang dari seperdelapan badan jalan. Dan lokasi mangkal ojek sudah disediakan di ujung stasiun Gambir. Tapi mereka masih saja asyik mondar-mandir di trotoar mencari penumpang pejalan kaki yang putus asa karena angkutan umumnya tak muncul-muncul. Sering, sebagai pejalan kaki, kesal karena mereka seenaknya lewat, membunyikan klakson lagi. Kalau ditegur hanya senyum kecil, tidak merasa bersalah. Kalau sudah begini mau apa? Apa harus dipasang patok-patok di trotoar supaya tidak bisa dilewati motor seperti di Jl Wahid Hasyim?

Tentunya tidak bisa dengan sikap nerimo saja atau ‘orang kayak gitu nggak bisa dibilangin’. Peraturan yang jelas-jelas melarang pengendara motor naik ke trotoar, dan pejalan kaki yang kompak mengusir motor dari trotoar. Fasilitas itu untuk kepentingan bersama, ada porsinya masing-masing. Pejalan kaki yang hanya meminta sedikit dari pembangunan super ibukota, seharusnya mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Di banyak tempat, di tempat-tempat yang jauh lebih tidak tertib daripada stasiun Gambir, sangat mudah ditemukan motor yang naik trotoar, alasan menghindari macet atau ingin cepat sampai. Tak ada sanksi yang jelas untuk pengendara-pengendara nakal ini. Efek domino dari tingginya kepemilikan motor dan tetap sedikitnya jalan yang bisa mereka lalui. Mestinya mereka berpikir, yang buat macet kan ketidaktertiban mereka sendiri, jadi jangan suka menyalahkan macet.

Mari kita berteriak, “Turun lo, motor! Ini tempat pejalan kaki!”

depok. white room. 10-12-11. 01.48.

1) Dari twitter @AbimantraP