pesawatku terbang ke bulan

“When everything seems to be going wrong with you, you must remember the airplane takes off against the wind”
― Sunday Adelaja

Seumur-umur aku nggak pernah ketinggalan pesawat apalagi karena berangkat mepet, hingga aku berpikir bahwa hanya jadwal terbang yang mampu membuatku tepat waktu. Mantan bosku saja mentertawakanku yang selalu bisa tiba jam lima pagi di bandara, tapi tak pernah tepat jam sembilan di kantor. Tapi kemarin, lagi-lagi ada kejadian tidak normal yang membuatku kepingin menuliskan banyak cerita-cerita seputar pesawat ini. Berhubung hampir tiap bulan menuju bandara (bahkan dua bulan belakangan ini sudah lebih dari sepuluh kali aku naik pesawat domestik), jadi banyak cerita yang bisa dibagikan. Continue reading

Advertisements

flores flow #1 : fly to kelimutu

IMG_1505

The reason birds can fly and we can’t is simply because they have perfect faith, for to have faith is to have wings.”
― J.M. Barrie, The Little White Bird

“Dalam beberapa saat, pesawat ini akan mendarat di Bandar udara Komodo, Labuan Bajo..”
Lho? Kok di Labuan Bajo? Tujuanku kan mau ke Ende? Aku melihat gugusan pulau-pulau di laut Flores lewat jendela sambil bertengok-tengok pada pramugari yang sudah duduk manis di kursinya itu dalam posisi mau mendarat.

Drama urusan pesawat ini belum selesai rupanya. Setelah dua hari sebelumnya skedul penerbangan TransNusa Denpasar-Ende dibatalkan sepihak sehingga aku kelimpungan mencari tiket baru, tadi di bandara Ngurah Rai pun gate penerbangan Wings Air pindah dari gate 3 ke gate 5 tanpa pengumuman, sehingga kami berlari-lari pindah gate karena ada petugas keliling menanyakan : Ende? Ende? Dan sekarang pesawat ternyata mendaratnya di Labuan Bajo. Huwow!
Continue reading

air asia dalam rengkuhan mimpi rinjani

cover

Free as a bird | It’s the next best thing to be | Free as a bird
Home, home and dry | Like a homing bird I’ll fly | As a bird on wings
Whatever happened to | The life that we once knew? | Can we really live without each other?
[Beatles]

“Lari, mbak! Pesawatnya sudah boarding!” begitu mas-mas pemeriksa tiket meneriaki kami yang tiba di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta pada pukul 05.50 menit di tanggal 5 Maret 2011 pagi. Pesawat dijadwalkan terbang pada jam 06.15. Tentu saja maskapai yang lebih sering tepat waktu daripada delay-nya ini tidak ingin kehilangan predikatnya hanya karena rombongan konyol seperti kami. Untung saja, Sisil yang mem-booking tiket untuk kami sudah melakukan mobile check-in. Jadi, kami semua tinggal melenggang masuk kabin pesawat.

Seharusnya.

Kejadiannya, aku, Sisil, Ika dan Ayu harus berlari-lari sepanjang terminal 3, dari bawah hingga galeri koridor, lorong hingga naik pesawat. Sepertinya semua penumpang bernapas lega ketika kami berempat masuk pesawat. Muka merah padam sengaja disembunyikan ketika duduk di kursi masing-masing yang terpencar. Demi menghemat biaya, kami tidak me-reserve nomor kursi. Jadilah bebas terpencar begini. Memang asyiknya naik Air Asia itu, dari pemesanan hingga check-in kita bisa lakukan secara online, dengan tambahan berbagai fasilitas yang dibutuhkan saja. Jadi kalau tidak butuh bagasi, tidak beli. Tidak butuh memilih tempat duduk, tidak beli. Tidak butuh makanan di jalan, tidak perlu beli juga. Cocok sekali untuk pengguna jasa yang minimalis seperti aku. Irit, maksudnya.

Tiket AirAsia ini dibeli beberapa minggu sebelum berangkat. Memang bukan tiket promo, namun tetap saja harganya termurah dibandingkan maskapai lain. Dengan armada Airbus A320, harga murah ini tetap didukung kelayakan kualitas penerbangan. Terbukti kami yang langsung tidur begitu lepas landas dan baru sadar kembali karena sinar matahari mulai menerpa jendela-jendela. Yay, hanya 35 menit waktu tempuh Jakarta-Jogja, saatnya untuk menikmati kota budaya ini dan bertemu dengan komunitas Goodreads Indonesia Jogja yang janjian ketemu di Benteng Vredeburg.
Continue reading

sejenak di kuala lumpur sentral: berhenti di titik silang ganti

cover

Think of life as a terminal illness, because if you do, you will live it with joy and passion, as it ought to be lived
~ Anna Quindlen

Panas menyengat ketika aku mendarat di bandara LCCT siang itu di hari terakhir bulan Agustus 2013 hampir jam 11 siang waktu setempat. Bermodal tiket promo yang kubeli sembilan bulan sebelumnya, akhirnya aku nekat pergi ke Malaysia seorang diri. Hore! Akhirnya pasporku berstempel juga. Benar, ini perjalanan ke luar negeriku yang pertama. Pikirku, kalau aku survive dengan transportasi Jakarta, kenapa di sini enggak?

Aku menghampiri shuttle bus yang terparkir berderet-deret di luar menuju terminal KL Sentral. Setelah menunjukkan pembayaran, aku memilih satu kursi di tepi jendela. Jalan tol tampak lengang dengan deretan pohon kelapa sawit di tepinya. Uwow, ini toh negeri jiran tempat berbondong-bondong perempuan dari negeriku mengadu nasib. Hampir satu jam di bus ketika memasuki kota Kuala Lumpur, dengan terowongan dan jalan layang di sana sini, dan gedung-gedung apartemen menjulang.

Aku mengecek ke googlemaps untuk tahu posisiku sudah sampai mana. Yes, I’m the googlemaps girl! Sebelum memutuskan untuk get lost ada baiknya mengetahui di mana lokasi terakhirku. Aku mengirim pesan lewat LINE ke seseorang di tanah air. “Udah sampai KL, nih!”

Bis memasuki area bawah tanah KL Sentral. Di sini berderet berbagai bus ke beberapa tujuan di Kuala Lumpur. Sebelumnya Muhidin, salah satu teman kuliah yang sekarang bekerja di Petronas, mengatakan,”Lo nanti turun di KL Sentral, Kuala Lumpur Sentral. Itu terminal keren banget, In. Kayak bandara!”
Continue reading

bandara ngurah rai : sudah cukup?

cover

People who meet in airports are seventy-two percent more likely to fall for each other than people who meet anywhere else.
― Jennifer E. Smith, The Statistical Probability of Love at First Sight

Jam sembilan pagi waktu setempat, pesawatku menjejakkan roda-rodanya di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali. Di bandara yang terlihat besar ini, ternyata terminal kedatangan domestiknya tidak terlalu besar, hanya ada 4 conveyor berjalan untuk mengeluarkan barang-barang dari bagasi. Tanpa ada petunjuk yang jelas carousel mana yang akan mengeluarkan dua ransel kami di pesawat Air Asia yang baru saja tiba dari Yogyakarta ini, kami mondar mandir sampai akhirnya terlihat si wortelku yang bersarung hitam dan ransel merah Jay yang tergolek di ban berputar itu.

Aku menanyakan ke petugas transit Merpati, apakah ada bis yang bisa membawa kami langsung ke terminal keberangkatan, karena tadi kelihatannya jauh pikirku.

Continue reading

sebuah mimpi ke nusa seribu gelombang : ya’ahowu nias #1

IMG_0948

kalau pernah kamu bertemu dulu, apa yang
kau inginkan nanti? sepi. kalau nanti kau
dapatkan cinta, bagaimana kau tempatkan
waktu? sendiri. bila hari tak lagi berani
munculkan diri, dan kau tinggal untuk
menanti? cari. andai bumi sembunyi saat
kau berlari? mimpi.
[Percakapan Dua Ranting ~ Radhar Panca Dahana]

Yaahowu!
Sapaan halo dari orang Nias apabila bertemu. Bisa juga ini yang membuat imajinasi menari, mengira bahwa pendiri portal Yahoo! pernah berkunjung ke Nias dan memberikan kata sapaan ini pada situsnya. Nias juga terkenal ombak-ombaknya ke seluruh dunia, sehingga menjadi destinasi selancar favorit dari pengendara-pengendara gelombang air top dunia. Surfing, itu istilahnya. Sama dengan istilah yang kemudian populer berarti menjelajah dengan internet. Jangan-jangan, yang mempopulerkan kata itu pun pernah merasakan terpaan gelombang di pantai Sorake di ujung selatan Nias. Barangkali…

Tentu bukan itu yang membuat aku tertarik ke pulau yang berada di tengah samudera seberang barat Sumatera Utara ini. Rumah-rumah tradisional Nias yang disebutkan sebagai salah satu kebudayaan tertua di Indonesia, lokasinya yang berada dari gunung berbukit hingga laut, juga tradisi lompat batunya yang amat terkenal membuatku menetapkan sebagai salah satu tujuan impianku untuk menyusuri jejak-jejak kebudayaan Indonesia. Pulau ini juga pernah menjadi salah satu tujuan ekskursi oleh jurusan Arsitektur UI pada tahun 2000, yang sayangnya tidak kuikuti. Penyesalan itu yang menghantuiku dan bertekad suatu saat harus menjejakkan kaki di sini.
Continue reading