flores flow #3 : debu lintas trans ende – bajawa

DSC_0482

This is a roadside attraction,’ said Wednesday. ‘One of the finest. Which means it is a place of power.’
― Neil Gaiman, American Gods

Kadang-kadang keberuntungan itu memang begitu saja datangnya. Tiba-tiba saja aku ditawari supir yang kendaraannya kosong seusai mengantar tamu ke Maumere dan akan kembali lagi ke Labuan Bajo. Dengan harga lumayan miring, aku deal satu mobil dan supir yang akan mengantar kami siang ini ke Ende dan menginap di Bajawa hingga Denge start point Wae Rebo, besok. Naik mobil sewaan menaikkan budget kami menjadi dua kali lipat daripada rencana naik kendaraan umum, tapi perjalanan menjadi lebih santai dan bisa mampir tempat-tempat menarik yang dilewati.

Aku duduk di samping mas Agus, supir kami yang mengendarai mobilnya dengan tangkas. Seperti biasa di perjalanan, aku selalu suka duduk di depan, supaya pandangan mata lebih luas juga sambil mengobrol macam-macam dengan supirnya. Aku memang cerewet.
“Jalanan di Flores sudah lama bagus seperti ini, Mas?” tanyaku.
“Ini sudah kira-kira lima tahunan. Jalannya sendiri sudah sejak tahun 1925,” ceritanya. Ia menunjukkan batu yang dipasangi penanda pembangunan jalan Trans Flores ini selepas bukit-bukit batu dari Moni.

penanda jalan trans flores. 31.08.1925

penanda jalan trans flores. 31.08.1925

jalan dengan tebing batu yang bisa longsor ketika hujan

jalan dengan tebing batu yang bisa longsor ketika hujan

desa di tengah hutan kemiri

desa di tengah hutan kemiri

Mas Agus membawa kami ke kota Ende, yang sudah kami lalui ketika datang ke Pulau Flores ini kemarin. Karakter kota Ende yang berbukit-bukit mungkin membuat kota ini cukup memakan energi jika dikelilingi sambil naik sepeda. Karena tidak punya tujuan di Ende dan aku tidak berhasil menghubungi kak Tuteh (yang banyak direkomendasikan untuk ditemui jika berkunjung ke sini), aku hanya mampir ke Rumah Pengasingan Bung Karno yang ternyata sudah tutup. Sayang sekali, padahal aku ingin sekali melihat rumah bapak bangsa ini ketika diasingkan selama bertahun-tahun.

pagar rumah pengasingan bung karno

pagar rumah pengasingan bung karno

tempat tinggal sang proklamator di ende

tempat tinggal sang proklamator di ende

Rasanya pasti menyenangkan tinggal di Ende, ya. Bisa melihat pantai setiap hari, ombak bergulung-gulung, memililih tepian yang indah sambil melamun. Duh, rasanya ingin berhenti dan melukis atau sekadar menulis puisi di sini. Aku membuka jendela dan membiarkan angin memberantakkan rambutku. Udara laut yang tercium asin segar menyeruak masuk ke dalam mobil. “Nggak usah pakai AC dulu, Mas. Enak suasananya di sini,” pintaku pada mas Agus.

Kemarin aku sudah melihat tengah kota dari udara dan kini di sisi tepinya dengan tebing di sisi kanan dan pantai di sisi kiri. Pepohonan yang meranggas di tepi memberi siluet yang indah sebagai latar depan laut di belakangnya. Jalanan masih mulus di tepi laut itu tanpa guncangan berarti. Mas Agus banyak bercerita, “Kalau jalan dari Labuan Bajo sampai Maumere memang lewatnya jalan ini. Biasanya perjalanan 2-3 hari sampai sana. Tapi pernah ada tamu yang minta satu hari 24 jam sampai Maumere.”
“Hah? Apa nggak capek menyetir 24 jam begitu? Sendiri menyetirnya?”
“Iya, sendiri. Kalau balik dari Maumere juga biasanya lanjut terus sampai Labuan Bajo. Kalau sekarang sama dengan tujuan Indri. Istirahat dulu di Bajawa.”
Jalanan di depan kami tidak terlalu ramai. Kendaraan umum juga tidak tampak sama sekali.
“Kenapa jarang kendaraan umum di sini?,” tanyaku.
“Biasanya kalau dari Maumere memang ramainya pagi, karena ada kapal mendarat. Jadi yang lewat jam segini memang tinggal kendaraan pribadi saja,” sambungnya. Saat itu sudah sore, hampir jam empat dan suasana jalanan memang lumayan sepi.

tepi pantai ende

tepi pantai ende

ingin melukis di sini

ingin melukis di sini

Tiba-tiba Mas Agus menghentikan mobilnya, “Ini pantai Batu Biru.”
Aku keluar dan melihat banyak bebatuan bulat yang menghampar begitu saja di tepi pantai. Ada beberapa gundukan batu biru di tepi dengan berbagai tonaliti warna biru telur asin. Batu-batu itu ditumpuk berdasarkan ukuran dan (mungkin) kualitasnya. Turun ke pantainya, lebih banyak lagi batu-batu yang menghampar. Aku melihat ke arah barat. Langit biru, laut biru dan batu-batu biru ini seperti tidak berbatas. Jika saja tidak ada pasir kelabu, sepertinya warna bebatuan ini akan menyatu dengan laut.

batu biru yang sudah disortir

batu biru yang sudah disortir

pekerja pengumpul batu di pantai

pekerja pengumpul batu di pantai

hamparan batu di pantai

hamparan batu di pantai

Mobil berjalan lagi. Di tepi jalan kami melihat naungan sederhana tempat orang menyortir batu-batu ini. “Biasanya orang ambil batu ini untuk hiasan taman, atau untuk di hotel-hotel,” cerita Mas Agus. Aku teringat pada pengumpulan pasir merah di Nias, juga bulir-bulir pasir sebesar merica di Kuta, Lombok. Apakah batu-batu ini akan menjadi barang komoditi? Aku menunjuk ke tebing di sebelah kanan kami. Tebing itu sewarna dengan batu-batu yang tadi menghampar, biru yang menyejukkan mata. Apakah lama kelamaan tebing itu akan berubah menjadi butiran-butiran segenggaman tangan?

tebing yang kelak menjadi batu bulat

tebing yang kelak menjadi batu bulat

batu menjadi komoditas?

batu menjadi komoditas?

Mobil terus melaju ke arah barat. Di satu persimpangan, Mas Agus menunjukkan jalan, “Ini Mbay. Kalau mau ke Riung, jalannya ke sana, arah utara.” Duh, sewaktu mencari info tentang transportasi di Flores, Kak Wisnu, Kak Bolang, Kak Tuteh menyarankan untuk mampir ke Riung juga. Tapi setelah menghitung-hitung waktu perjalanan kami, sepertinya aku tidak cukup kalau harus mampir ke sana juga. Dan ketiga orang tersebut mengatakan, sayang sekali nggak mampir Riung, tanggung lho.

Jalanan yang tadinya mulus lama kelamaan berubah menjadi jalan tanah merah. Kering sekali iklim di sini, beda dengan daerah Moni yang dingin. Hutan pohon kemiri memenuhi kiri dan kanan, potongan tebing tanah merah membuat jalanan ini berdebu tebal.
“Apa nama tempat ini, Mas?”
“Ini Aigela. Sebentar lagi kita istirahat di warung depan.”
Di tepi jalan banyak teronggok beton-beton saluran yang akan ditanam. Mungkin saluran ini untuk mengalirkan hujan supaya tidak menggenangi jalan. Tebing-tebing tanah merah itu tidak disangga talud apa pun, sehingga aku khawatir apabila musim hujan nanti, tanah merah itu bisa longsor ke jalan.
“Kalau hujan di sini pasti licin sekali, ya?”
“Kalau hujan harus hati-hati sekali. Jalannya berlekuk-lekuk, kalau malam ketemunya truk.”
“Aman? Ada penodongan gitu, nggak?”
“Nggak sih. Jalanan di sini cukup aman. Cuma memang kalau jalan malam harus hati-hati, kalau mobilnya ada apa-apa jarak ke desa-desa cukup jauh.”

jalanan di Aigela

jalanan di Aigela

rumah di tepian tanah merah

rumah di tepian tanah merah

Aku masih memperhatikan jalanan ini. Di kota-kota kecil dengan hanya ada satu jalan raya begini, pola kotanya akan menjadi linier. Pemukiman akan dibangun mendekati jalan raya, berderet di tepiannya, lalu beberapa menerus ke belakang mendekati kebun-kebun. Pemukiman di tepi jalan memudahkan transportasi apabila ingin berpindah kota atau mengangkut barang hasil kebun mereka. Di atas tebing-tebing tanah merah, ada rumah-rumah yang berderet, sementara di tepian lembah juga demikian. Sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintahan juga dibangun di sepanjang jalan ini. Jika dilihat dari udara, tampak sekali pola bermukim yang linier.

kantor pemerintahan di tepi jalan

kantor pemerintahan di tepi jalan

Kami berhenti di satu warung makan, yang hanya satu-satunya di jalan berdebu ini, kata mas Agus. Karena aku lelah dan pusing, aku hanya memesan segelas teh manis untuk menghangatkan perut. Lucunya, di sini kami menemukan saos merk Sanjaya. Tentu saja yang punya nama kegirangan dan berusaha mengabadikan botol saos itu. Mas Agus hanya meminum kopi, katanya supaya ia kuat menyetirnya sampai Bajawa.

Di sekitar warung banyak sekali terdapat pohon kemiri. Sejak kemarin, aku penasaran sekali dengan hutan kemiri yang bertebaran mulai dari Moni hingga Aigela ini. Pohonnya tinggi besar seperti pohon mangga dan berbunga putih kekuningan yang cantik. Jika melihat jauh ke bawah lembah pohon kemiri tampak seperti gerumbul perdu dan bebungaan. Mas Agus mengeluarkan seplastik buah kemiri dari laci dashboard-nya, “Kalau mau, ambil saja. Kalau sudah matang, buah kemiri kulitnya keras. Kalau nanti sempat lewat satu desa di sebelum Labuan Bajo, ada penduduk yang membuka kemiri dengan cara membungkus biji kemiri dengan daun pandan, lalu dipukulkan ke batu. Pecah itu kulit, bijinya bisa diambil.” Oh, begitu rupanya buah kemiri dihasilkan.

buah kemiri yang belum dikupas

buah kemiri yang belum dikupas

hutan kemiri menggerumbul

hutan kemiri menggerumbul

pohon kemiri yang berdiri gagah di tepi jalan

pohon kemiri yang berdiri gagah di tepi jalan

Di sekitar warung ada seekor babi gemuk yang berkeliaran. Aku agak takut melihat babi itu yang berjalan agak gontai tapi perlahan-lahan mendekat. Si anak pemilik warung yang masih balita malah berjalan dengan berani ke arah anak-anak babi yang berlarian lucu seperti kucing. “Euu, kalau di tanah Jawa kita mainan sama kucing, di sini sama babi, ya?” heranku. Babi memang merupakan peliharaan pokok di sini. Sekali beranak bisa 6-8 ekor. Memberi makannya pun tidak sulit, bisa makan apa saja termasuk sisa-sisa makanan kita. Jika sudah besar bisa dijual, atau dipotong sendiri pada perayaan-perayaan tertentu.

babi yang malas

babi yang malas

anak-anak babi

anak-anak babi

Hari semakin gelap ketika kami meninggalkan Aigela menuju Bajawa. Menjelang rembang petang, langit bersemburat jingga dan menbuat semua benda di sekitar kami menjadi siluet yang indah. Perbukitan yang jauh di belakang memberi latar lansekap yang mempesona. Jam setengah tujuh malam jalanan menurun, ketika mas Agus akhirnya berkata, “Ini Bajawa. Udaranya akan dingin nanti malam.” Kami menuju rumah seorang teman yang kebetulan bersedia menampung.

Perjalanan : 09.11.2014
ditulis : 27.01.2015 : 00.34

DSC_0587

DSC_0596

cerita sebelumnya :
flores flow #1 : fly to kelimutu
flores flow #2 : maria, gadis pemandu sa’o ria koanara

cerita sesudahnya :
flores flow #4 : luba, doa di kaki gunung inerie
flores flow #5 : loka, batu, dan bena

Advertisements

33 thoughts on “flores flow #3 : debu lintas trans ende – bajawa

  1. Rullah says:

    Dulu ada temanku orang sini, bahkan anak Adonara pun ada. Disuruh main tapi belum ada waktu.
    Oya kak Tuteh itu yang sesepuh Blogfam ya? temannya man Indah Juli dan Maknyak Labibah? 🙂

  2. Gara says:

    Damai dalam dekapan siluet dan jingga senja. Keren, Mbak.
    Berarti tujuan selanjutnya, saya mesti ke Ende. Semoga bisa tercapai 🙂
    Btw, salam kenal ya 🙂

  3. Rifqy Faiza Rahman says:

    Membaca tulisan dengan foto-foto pendukung saat mbak Indri melintas trans Ende-Bajawa, sangat mengaduk-aduk perasaan saya hahaha 😀
    Apalagi dipungkasi dengan sajian foto senja di bagian akhir, so sweet! 🙂

  4. Lili Kristanti says:

    Halo Indri, salam kenal. Aku & teman-teman juga mau overland Flores, kalau masih simpan contact no. Mas Agus apa bisa diemail? Thanks in advance, ya. Nice blog, membantu banget untuk susun itinerary 😀

  5. Lili Kristanti says:

    Halo Indri, salam kenal. Aku & teman-teman juga mau overland Flores, kalau masih simpan contact no. Mas Agus apa bisa diemail? Thanks in advance, ya. Nice blog, membantu banget untuk susun itinerary 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s