flores flow #8 : wae rebo, melestarikan arsitektur dengan tulus

wae rebo cover

kadang-kadang aku hanya ingin melangkahkan kaki,
menjauh dari deru dan menemukan sepi,
namun lebih daripada itu, ternyata yang kutemukan adalah ramai di hati,
senyum yang tulus, percaya kepada negeri.

Malam sudah bertabur bintang ketika Pak Blasius Monta menyambut kami dengan ramah di rumahnya di Denge. Ini adalah titik terakhir yang bisa dilalui dengan mobil. Kami langsung disuguhi kopi setelah perjalanan panjang dari Bajawa tadi pagi. “Besok pagi, mulai jalan ke Wae Rebo jam tujuh saja. Kalau di atas itu nanti panas pas sebelum masuk hutan,” jelasnya. Aku sudah mengenal namanya dari buku Pesan dari Wae Rebo yang dieditori oleh Pak Yori Antar seorang arsitek sealmamaterku, yang kubaca sejak setahun yang lalu. Karena rekomendasi teman-teman juga aku menginap di Denge supaya dekat dengan start point berjalan kaki.

Ada dua titik menginap di desa bawah yang direkomendasikan sebagai tempat istirahat sebelum mulai pendakian ke Wae Rebo. Selain di homestay milik Pak Blasius, ada juga Wae Rebo Lodge yang berada di Dintor, desa di bawah Denge. Lokasi penginapan milik Martinus Anggo ini cukup indah, berada di tengah sawah dan menghadap laut. Tapi karena aku ingin yang lebih dekat dengan start point, maka aku memilih Denge. Tarif menginap di rumah Pak Blasius sebesar Rp. 175.000,- per orang per malam termasuk makan malam dan sarapan. Di depan rumah Pak Blasius juga terdapat Pusat Informasi Wae Rebo yang berisi data-data tentang desa itu, juga perpustakaan yang bisa diakses oleh warga sekitar. Namun sayang ketika aku ke sana, perpustakaan ini tutup, dan tidak banyak juga anak-anak yang beraktivitas di situ.
Continue reading

Advertisements

flores flow #7 : 14 tindak tanduk asyik di wae rebo !

IMG_2114

Apa yang bisa kamu lakukan di satu pemukiman adat yang berjarak 3 jam berjalan kaki dari desa terdekat? Perjalanan ditemani desau angin, riuhnya burung-burung bernyanyi, gemericik air, ditemani patok-patok jarak yang membuat perjalananmu terasa makin dekat? Wae Rebo, harmoni pemukiman di atas bukit, di mana keselarasan dijaga, kehidupan yang tersembunyi, adalah salah satu kekayaan budaya Indonesia. Tidak menyia-nyiakan kesempatan berada di sana, jauh dari penatnya kehidupan kota sehari-hari, hirau dari bising kendaraan bermotor, ketika semua hal di sini berjalan begitu lambat.

Perjalanan ke Wae Rebo dilakukan kira-kira 2 hari sebelum Festival Penti dimulai. Sebenarnya menarik juga untuk tetap tinggal sampai ketika festival berlangsung, tapi melihat persiapan mereka juga merupakan satu pengalaman tersendiri. Karena festival ini, penduduk Wae Rebo bisa naik turun sampai dua kali sehari! Jika pendatang seperti aku membutuhkan empat jam untuk naik dan tiga jam untuk turun, warga asli Wae Rebo bisa naik sambil membawa beban bahan makanan satu hingga dua jam, dan turun hanya satu jam! Bahkan kami naik bebarengan dengan satu anak kecil berumur dua atau tiga tahun yang tidak digendong sama sekali. Hebat sekali!

Berjalan ke Desa Wae Rebo harus ditemani pemandu supaya kami tidak tersesat dan salah melangkah ke daerah terlarang. Mereka juga bercerita tentang desa dan kebiasaan-kebiasaan setempat. Sembari berjalan selama tiga jam, dapat banyak sekali cerita tentang desa.
Jadi, tindak tanduk apa yang asyik di Wae Rebo?
Continue reading

flores flow #6 : dingin bajawa, panas aimere, dan hujan ruteng

DSC_0600

“Aku mau bangun setiap pagi dan melihat anak-anak berangkat sekolah di Flores.”

Niat itu sudah kucetuskan, karena aku akan bangun pagi di tempat-tempat yang berbeda setiap harinya dalam perjalanan keliling pulau ini. Senin pagi di Bajawa, usai menikmati sarapan lezat buatan kak Vita di rumah yang aku tinggali malam itu, aku nongkrong di depan rumah, menunggu tunas-tunas bangsa ini menyongsong hari cerahnya.

Udara Bajawa pagi itu sejuk dan dingin, sebenarnya agak enggan untuk keluar dari selubung jaket. Satu demi satu anak-anak ini lewat, ada yang juga memakai jaket sepertiku, ada yang berseragam putih merah saja, ada yang diantar ibunya, ada yang berombongan dengan teman-temannya. Mereka berjalan kaki ke arah sebelah barat dari rumah kak Vita. Jalanannya mendaki, sehingga mereka tidak berjalan dengan cepat. Continue reading

flores flow #5 : loka, batu dan bena

DSC_0849

    Pernahkah kamu berbicara pada batu? Pernahkah kamu tanya bagaimana rasanya menjadi tumpuan, menjadi sesuatu yang dikuatkan, menjadi tahanan agar beban di atasnya tidak runtuh?

Barangkali kau perlu bertanya pada bebatuan di kampung Bena, yang bisa dicapai dalam satu jam perjalanan dengan kendara bermesin dari Bajawa, sejak kapan mereka berada di sana. Di sini batu tidak hanya diperlakukan sebagai tumpuan, namun juga sebagai pelindung. Bukan sekadar batu kecil untuk melempar anjing, tapi bongkahan sesuatu yang melingkari, mengitari.

Melihat kampung Bena dari ketinggian gerbang masuk, yang tampak adalah dua garis lengkung yang saling bertemu seperti daun, dengan pinggiran meliuk dan tulang tengah yang kuat, demikian, seperti sehelai daun yang menggeliat di genggaman tangan. Tepian itu adalah rumah-rumah yang berderet rapi, tempat kehidupan sehari-hari dijalankan, untuk pulang setiap petang dari ladang.
Continue reading

flores flow #4 : luba, do’a dari kaki gunung inerie

cover

Apa yang kamu harapkan dari menjejakkan kaki di sebuah tanah berbentuk persegi, di bawah sinar matahari yang cerah pagi hari, dikelilingi rumah-rumah yang tidak bisa berbicara kepadamu?

Maka kamu akan melangkah pada rumah terdekat di mana ada seorang lelaki tua dengan tenun-tenun berwarna warni bergelantungan di depannya. Ia bertanya dari mana asalmu, dan menawarkan seplastik kopi untuk dibawa pulang sebagai buah tangan. Sembari tersenyum wajahnya menjelaskan bahwa ia tertinggal di sini sementara yang berbadan lebih kuat darinya berada di kebun untuk merawat apa yang mereka tanam beberapa saat sebelumnya.

“Kopi ini takarannya satu cangkir. Harganya lima ribu.”

Tanpa bahasa yang cakap, tak perlu penjelasan banyak bahwa selendang-selendang berwarna-warni yang terhampar bisa ditukar dengan beberapa rupiah yang tidak sedikit untuk dibawa pulang. Pertanda juga bahwa ada kegiatan yang dilakukan di sela-sela hari untuk menghasilkan satu karya yang indah.
Continue reading