mudik bersama kereta tegal bahari

“[…] its small squares of fast-passing light, the early evening windows of the lives of hundreds of others.”
Ali Smith, The Whole Story and Other Stories

Lebaran tahun ini aku memutuskan untuk mudik ke Cirebon dengan kereta api. Sebenarnya sih tidak ada yang istimewa di sini, karena toh memang setiap tahunnya aku mudik ke kota udang ini pun dengan kereta dengan berbagai jenis kereta. Memang, hampir semua kereta menuju Jawa Tengah dan Timur pasti melewati Cirebon, sehingga bisa dipilih kelas apa saja yang bisa dinaiki, tergantung dengan kemampuan kantong. Mulai dari kelas Argobromo Anggrek yang eksekutif terbaik hingga Matarmaja ekonomi 3-2 (dalam gerbongnya berbanjar bangku isi 3 dan 2 orang), berhenti di Cirebon.

Kali ini aku (tepatnya mama karena tahu-tahu saja tiketnya sudah ada) memilih untuk naik kereta Tegal Bahari yang berangkat dari Gambir tujuan Tegal namun kami akan turun di Cirebon. Sebenarnya karena Cirebon tidak terlalu jauh dari Jakarta, hanya tiga jam saja, maka naik kelas ekonomi pun tidak terlalu bermasalah bagi kami. Memang terkadang bangku yang tegak itu bisa membuat pegal-pegal sampai tujuan. Tapi ternyata begitu kami masuk ke kereta Tegal Bahari yang kelas ekonomi ini, waw.. Interiornya bagus banget, seperti kereta bisnisnya Cirebon Express.

Tempat duduknya berbanjar dua-dua dengan sandaran jok single dan pemisah di tengah sehingga kalau tidak nyaman kenal dengan sebelahnya bisa menurunkan sandaran kursi di tengah. Berlapis kulit sintetis kombinasi cokelat tua dan muda, warnanya menyatu dengan interior body kereta yang berwarna cream. Seperti kereta lain, di sini juga dilengkapi dengan sepasang stopkontak dan meja kecil. Nah lucunya, terdapat tempat menahan botol di belakang jok kursi depannya.

Eh, kok ada jok depannya? Nah itu bedanya. Kereta Tegal Bahari Ekonomi ini tempat duduknya tidak berhadap-hadapan langsung seperti kereta ekonomi lainnya, tapi separuh gerbong hadap depan dan separuh gerbong hadap belakang. Gitu deh. Sstt, bagian istimewa itu di lajur 11 dan 12 (makanya cek nomor tiket, ya) karena mereka saling berhadapan dan ruang di depannya jadi terasa lega. So, buat kamu yang berkaki panjang cocok banget untuk duduk di bagian ini.

Tidak perlu khawatir lapar di dalam kereta, karena mbak-mbak pramugari cantik ini mondar-mandir sambil menjajakan aneka makanan yang bisa disantap dalam perjalanan. Tidak seperti di dalam KRL Commuter Line, di kereta jarak jauh ini boleh koq mengisi perut dalam perjalanan, sehingga tiba di tempat tujuan dengan perut kenyang. Tentu saja, membawa bekal sendiri pun tidak dilarang. Tepat di belakang gerbong-gebong ekonomi, terdapat gerbong restorasi yang dilengkapi dengan microwave dan bangku-bangku beserta meja makan. Tetiba mengingatkanku pada film Before Sunrise, kalau ketemu seseorang di bangku restorasi gitu kan kenalannya?

Jarak antara Jakarta-Cirebon sekitar kurang lebih 200 kilometer sejajar dengan jalur pantai utara Jawa yang menjadi favorit pemudik dari Jakarta juga. Dilengkapi dengan toilet yang cukup bagus dan bersih, juga ruang antara untuk sekadar meluruskan kaki dengan pintu-pintu nuansa jingga, menjadikan bagian ini fotogenic sekali. Di antara kursi dengan kursi, jaraknya juga cukup lega sehingga anak-anak bisa berlarian dengan asyik.

Meskipun berada di jalur pantura, jangan bayangkan kalau dari dalam kereta ini bisa melihat laut. Masih cukup jauh laut Jawa yang berada sekitar 20 km di sebelah utara jalur kereta ini. Namun di jalur ini pun bisa dilihat pemandangan khas Indonesia banget yaitu sawah yang membentang luas bak permadani dengan warna tergantung musimnya. Selain itu terdapat beberapa titik menarik untuk diamati khusus, seperti Cikarang Dry Port, lokomotif lawas di Stasiun Cikampek, atau tumpukan gerbong kereta di Stasiun Subang.

Kereta berhenti di stasiun Haur Geulis, Jatibarang dan Cirebon Kejaksan sebelum lanjut ke timur hingga Tegal satu jam kemudian. Karena kereta ini bergandeng dengan kereta eksekutif, jadi berhenti di Stasiun Kejaksan, sementara kereta ekonomi lainnya berhenti di stasiun Prujakan. Pas sekali kereta ini untuk berjalan-jalan di tengah kota Cirebon, karena stasiun besar ini yang dekat dengan alun-alun Cirebon.

Jakarta-Cirebon 27 Juni 2017. Ditulis di Pamitran, Cirebon.

Advertisements

20 thoughts on “mudik bersama kereta tegal bahari

  1. Matius Teguh Nugroho says:

    Aku dulu pernah naik kereta ini waktu kerja di Cirebon dan pacar di Jakarta #eaaa. Tapi dulu keretanya belum sebagus itu meski udah nyaman.

    Mudik kali ini aku naik Lodaya Eksekutif dan Bisnis. And guess what? Keretamu nampak lebih nyaman dan mahal, mbak. Hahahaha 😂

  2. Johanes Anggoro says:

    Minggu lalu aku baru nyobain gerbong baru ini mbak.
    Memang sih kesannya bagus, dan cocoknya buat jarak menengah sih.
    Krn ruang kaki cukup sempit, apalagi untuk prjalanan diatas 6 jam bakal pegel.
    Awal peluncurannya dipake buat kereta senja/fajar utama jogja dan mutiara selatan, sbg pengganti kelas bisnis.
    Tapi setelah diprotes dikembalikan lagi, dan gerbong baru ini di pake untuk jarak menengah. Seperti jakarta- bandung/cirebon.

  3. Liza Fathia says:

    cieee sempat-sempatnya ngetik pas di kereta. itu lagi buat thesis atau ngeblog kak indri? aku pinginlah sekali2 naik kereta api. belum pernah naik KA di Indonesia. Di Aceh tak ada KA, adanya odong2

  4. kopertraveler says:

    wah, ternyata naik kereta kelas ekonomi nggak ancur ancur banget ya Kak, nyaman juga dan ini memang bias jadi pilihan buat kita yang ingin bepergiaan dengan budget yang bersahabat. kapan kapan harus dicoba nih

  5. yofangga says:

    Ini pasti tulisan buat posbar yang mendadak ga ada kabar ya kak In 😅
    Oya, jadi penasaran. Kenapa posisi duduknya dibuat gitu ya? Kok gak sekalian aja ngadep depan semua, malah setengah2 gitu

    • indrijuwono says:

      nah itu. aku juga penasaran kenapa gitu. kayaknya kalau ekonomi emang standarnya bangkunya gak bisa diputer depan belakang yah. tapi mungkin karena orang sekarang nggak suka duduk hadap-hadapan lagi jadi separoh hadap depan dan separoh hadap belakang saja. jadi kalau balik tinggal lokomotifnya yang pindah, bukan gerbongnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s