gaya etnik di hari sabtu

image

Dress shabbily and they remember the dress; dress impeccably and they remember the woman.
― Coco Chanel

Buat freelance arsitek sepertiku, kadang-kadang memilih baju untuk bepergian di untuk suatu acara cukup memakan waktu. Maklum, namanya juga cewek, baju-baju yang mau dipakai harus menyesuaikan tempat, acara, dan jalur yang akan dilalui. Kalau acaranya santai-santai hore, aku suka memakai gaya santai juga namun tetap rapi. Kalau kita terlihat rapi dan oke, tentunya (calon) klien juga (semoga) percaya bahwa bangunannya akan dikerjakan dengan rapi pula olehku.

Mood hari itu menentukan pilihan warna yang akan dipakai. Sebenarnya tidak terlalu masalah bagiku karena mood warnaku untuk pergi hanya berkisar antara pink dan turunannya atau jingga dan turunannya. Jadi karena hari ini aku berniat memakai sepatu kedsku yang berwarna pink keunguan, jadi aku memilih padanan yang sesuai. Hari ini memang bukan acara bertemu klien, tapi mengikuti CampaignBlogger#4 yang diadakan oleh Campaign.com di sekitar Sudirman Jakarta. Dengan jarak yang lumayan ditempuh dari Depok, ditambah naik kendaraan umum pula, kuputuskan memakai gaya yang cukup nyaman dan santai.

Karena aku baru pulang dari Flores minggu lalu, tentu aku kepengin memakai salah satu barang khas sana yang sengaja kubeli untuk melengkapi penampilan, dong. Selembar syal tenun bermotif dari desa Wae Rebo, Flores menemani padanan T-shirt polos ungu yang kukenakan. Syal ini ditenun oleh ibu-ibu kelompok PKK di desa tersebut, untuk dijual kepada tamu yang datang dan menginap di desa itu. Satu perjuangan yang agak lumayan ke sana, karena harus terbang ke Flores, naik mobil, dan jalan kaki selama 4 jam.

image

Syal dengan warna dasar biru dengan jalur-jalur oranye, coral, pink, ungu, magenta, dan sedikit warna hijau ini dikalungkan di leher, lalu diikat sederhana dengan satu ujung dijatuhkan ke bawah, dan ujung lainnya ‘dibuang’ ke belakang. Warna coral, pink dan oranye yang mendominasi menjadi kontras yang manis di atas t-shirt ungu ini. Dipacu dengan celana jeans dan sepatu keds pink, aku melangkah keluar rumah dengan pede sambil memanggul ransel hijau kesayanganku. Yes, kenapa aku pilih ransel? #WhatsinMyBag ? Karena hari ini aku membawa cukup banyak bawaan, termasuk laptop, tab, satu buku yang mau dikembalikan, dan satu buku yang mau dibaca. Dan ransel merupakan teman sehati sepatu keds kan?

Dan ternyata, untuk gaya-gaya sehari-hari ini ada kompetisinya yaitu Campaign #OOTDID alias Outfit Of The Day Indonesia. Campaign ini diinisiasi oleh website khusus untuk mempertemukan produk-produk dengan penggunanya yang mereka sebut superfans, yang bisa dilihat di macam-macam campaign ini. Kebetulan dengan syal kece ini juga, aku ikut berfoto ala-ala Giring #Nidji buat mendapatkan tiket meet and greet mereka. Semoga, gaya-gaya mirip ini bisa membuatku ketemu pelantun lagu Di Atas Awan itu. Doakan, ya!

image

Advertisements

8 thoughts on “gaya etnik di hari sabtu

  1. ainun says:

    Aku juga beli syal khas flores, kebetulan beli di kampung bena. Seneng bisa bantu mereka dan bangga make syal hasil kerja keras mereka menenun secara tradisional gitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s