sinjang lawang : sungai dalam goa

DSCN0738

Percaya tidak, dulu aku sering menjelajah goa? Sewaktu zaman kuliah dulu, hampir tiap bulan aku keluar masuk goa. Baju coverall, helm boom, sepatu boots, senter, webbing, carabiner, selalu menemani ranselku. Baju basah, bau dan berlumpur selalu menjadi oleh-oleh dari perjalanan yang bisa dilakukan siang atau malam itu. Bebas! Di goa kan gelap, jadi tidak ada masalah tentang waktunya.

Sebenarnya aku cuma mengelilingi goa-goa di Jawa Barat, mulai dari kawasan goa di Citeureup, kawasan goa di Buniayu, Sukabumi, sampai goa-goa di area Bayah pun pernah kujelajahi keluar masuk selama berhari-hari. Kalau ingat masa-masa itu rasanya asyik sekali. Sayang, ketika waktu penjelajahan ke Luweng Jaran Jawa Timur dan sampai ke Maros Sulawesi, aku harus kembali lagi berkutat dengan modul kuliah yang memaksaku lulus. Bakti terhadap orang tua ternyata lebih besar dari ambisi masuk goa.

Continue reading

Advertisements

janji kelak menuju dieng

cover


Hai, Ra.
Aku tahu, kamu sedang tidak dekat sekarang, sehingga aku tidak bisa langsung menceritakan padamu. Aku pun tak tahu di mana alamatmu, sehingga aku tak bisa merangkai kata dalam surat dan kutitipkan pada pak pos. Aku hanya tahu bahwa kamu pasti baik-baik saja, ketika kamu bisa membaca tulisanku ini.

Ra, kamu ingat cerita tentang negeri khayalan yang pernah kita imajinasikan sembari menghitung bintang? Kali ini aku berada di sini, bersama teman-teman yang mungkin juga kau kenal lewat dunia maya. Bersama mereka kami merangkai beberapa kisah yang bersama-sama dituliskan.

Ra, negeri ini bernama Dieng, senantiasa berkabut pagi yang bisa kita hembuskan perlahan membentuk gumpalan tipis dari nafas kita. Di sini kita bisa melihat tetes-tetes embun yang berkilau di ujung-ujung daun, sebelum menguap ketika mentari mekar sejenak. Sesudah matahari melewati ujung kepala, udara dingin kembali menyelimutinya, terkadang bercampur dengan tetes-tetes air hujan yang menggenang di mana-mana. Mungkin kamu pernah ke sini, mungkin juga tak sekali.
Continue reading

rasa desa di villa soegi jogja

cover

Kira-kira jam delapan pagi waktu Solo, aku membuka aplikasi HotelQuickly di ponsel untuk mendapatkan deal terbaik hari itu di Jogja, kota tempat aku menginap malam hari nanti. Kenapa baru pesan? Iya, karena aplikasi HotelQuickly hanya untuk pemesanan pada hari ini dan keesokan harinya. Dan jam delapan pagi adalah jam dibuka deal untuk hari itu, makanya harus buru-buru booking sebelum kehabisan kamar di hotel favorit. Nah! Harus quick, kan? Apalagi aku punya voucher IDR 300.000 ketika acara press conference-nya, nggak salah kalau dipakai, nih!

Aku menjatuhkan pilihan pada salah satu chain hotel yang berlokasi di Kusumonegaran, yang saat itu memasang harga sekitar IDR 80.000 (tentunya harga tercantum setelah dipotong voucher). Widiihh, murah banget kan? Langsung aku klik hotelnya dan ‘book a room’. Aah, tapi karena sinyal di perjalanan kereta Solo dan Jogja yang putus sambung, ketika akhirnya mendapatkan kepastian, didapat pesan ‘your room already taken by another user’. Ouch, gigit jari, deh.
Continue reading

Toyota Rush menantang jalur selatan Pulau Jawa

1809266_lowres1

Sejak aku memperoleh SIM pertamaku belasan tahun lalu (iya, SIM di dompet ini yang ketiga), cita-citaku cuma satu, touring keliling Jawa pakai mobil ala tokoh-tokoh di film Cinta Dalam Sepotong Roti (maaf kalau referensinya jadul banget, tapi dulu nggak ada film Indonesia yang keren). Jadi, setelah bertahun-tahun tinggal di tanah Jawa tercinta ini, ternyata banyak tempat yang belum sempat aku jelajahi dengan alasan, medannya berat. Itu kata ayahku yang sama sekali tidak mengijinkan puteri semata wayangnya ini berkendara ke luar kota sekalipun. Tapi saking anaknya ini agak bandel, setiap kali bepergian ke luar kota selalu ngumpet-ngumpet meminta gantian menyetir mobil teman supaya skill mengemudi bertambah. Oh, untuk diketahui, aku adalah pengemudi dengan persneling manual dan sedang berusaha belajar menggunakan transmisi Automatic. Namanya juga cewek jadul, pasti bisanya manual.
Continue reading

the dream way to kerala, india

DSCN0615-EDITED2

India or Hongkong?
INDIA of course!
(click above to vote me)

Begitu kalau ditanya orang mana destinasi luar negeri yang ingin kudatangi. Kenapa India? It’s such a reason, karena India adalah negeri yang sangat ingin kudatangi sejak zaman kuliah. Terutama sih sejak baca petualangan-nya mas Gol A Gong di India dalam Balada si Roy jilid 9 dan 10. Keinginan untuk menapaktilasi jejaknya begitu kuat, namun sayangnya bukan uang yang menghalangi, karena uang kan bisa dicari, yaa.. Tapi teman jalan! Hm, terus terang aku tidak berani ke India sendirian seperti perjalananku solo traveling ke negeri-negeri lain (sebenarnya baru tiga negara, sih) karena banyak pemberitaan di media bahwa harrashment di India begitu besar, apalagi untuk perempuan yang berjalan sendirian. Perempuan selalu menjadi topik menarik untuk diperbincangkan di India, begitu juga dalam beberapa buku karya sastra yang ditulis oleh novelis-novelis perempuan India ternama, Chitra Banerjee Divakaruni, Kiran Desai, Jhumpa Lahiri atau Arundhati Roy.
Continue reading

satu cerita dari pasar malam sekaten jogja

cover

Tebak apa yang kamu pasti temukan di pasar malam. Kincir, komidi putar, tong setan. Semua yang berputar. Semua untuk bermain-main.

“Gerimis begini, In. Jadi kita pergi?” tanya Jay di teras rumahnya pada hari Sabtu sore di bulan Januari. Aku mengangguk. Lha, bukannya dia yang semangat empat lima mengajakku dan beberapa teman untuk menyaksikan acara Sekaten yang digelar di bulan Maulud dan kebetulan jatuh pada akhir tahun hingga awal tahun di alun-alun keraton Jogjakarta. Mendung memang menggantung sejak pagi aku tiba di kota pelajar ini hingga turunlah titik-titik air di genting. Ah, gerimis sedikit ini, tak apalah.

Tak mengindahkan gerimis halus itu, kami tetap naik motor menuju alun-alun yang tak terlalu jauh dari rumah Jay. Setiba di sana, Jay memarkir motornya di salah satu tempat parkir di sebelah timur alun-alun, kemudian mengajakku memasuki area pasar malam Sekaten. Ia sempat masuk anjungan Pemda DIY untuk menyerahkan beberapa berkas, lalu keluar melihat-lihat sekeliling.

“Katanya kamu mau naik kincir? Itu ada beberapa,” katanya sambil menunjuk beberapa kincir besi yang tersebar di alun-alun. Kincir memang salah satu wahana yang selalu ditemui di area pasar malam, sepaket dengan perahu ayun, ontang anting, komidi putar, atau permainan anak lainnya. Aku tertarik naik kincir itu karena kupikir bisa melihat pemandangan alun-alun Sekaten dari atas sana. Warna-warni lampunya pasti menarik, kataku waktu itu pada Jay.
Continue reading