Family is the most important thing in the world.
– Princess Diana
Ini kota kelahiranku. Selama bertahun-tahun sejak aku kecil, aku selalu belibur ke kota ini ke rumah Mbah Papih dan Mbah Mamih yang berwajah hangat. Mama pernah bercerita kalau keluarga Mbah Papih berasal dari Keraton Kacirebonan. Aku sering tak percaya, karena menurutku kalau orang keraton itu tinggalnya di istana, bukan rumah di kampung seperti kami ini. Tapi ternyata penjelasan tentang asal-usul keluarga kami itu tak pernah aku ketahui dengan pasti hingga sekarang, karena Mbah Papih keburu meninggal dunia ketika usiaku 10 tahun, umur yang belum bisa menampung penjelasan berat. Tapi lama kelamaan itu tak jadi soal bagi kami sekeluarga besar, karena yang lebih kami pentingkan adalah kebersamaan yang tak lupa bertemu setiap tahun sekali.
Banyak orang yang tidak tahu Keraton Kacirebonan, keraton termuda di Cirebon. Keraton ini berdiri sebagai bagian dari Keraton Kanoman yang berdiri terlebih dahulu. Agak terpisah dari kedua keraton sebelumnya, Kacirebonan didirikan tahun 1808 M untuk tempat tinggal Pangeran Raja Kanoman yang kembali dari pengasingannya di Ambon, sementara tahta di Keraton Kanoman sudah diambil alih oleh adiknya, Sultan Anom V. Keraton ini tidak terlalu besar, namun isinya sangat apik dan terawat. Padahal lokasi Keraton Kacirebonan kini malah di tepi Jalan Pulasaren yang cukup ramai dan besar, sehingga mudah dijangkau.


Tidak seperti kedua tetuanya yang memiliki Siti Hinggil, sesudah melewati gerbang pertama, yang ditemui adalah dua paseban di kiri dan kanan. Di paseban sebelah kiri harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 8000 dan mulai berkeliling dengan pemandu yang akan menjelaskan.




Dari sisi luar ke dalam dibatasi oleh dinding tebal berwarna putih dan memiliki pintu berwarna hijau yaitu Lawang Paduraksa Selametengkap untuk laluan tamu-tamu kehormatan Raja, sementara untuk orang biasa dan abdi dalem menggunakan dua lubang yang ada di kiri dan kanannya.



Ternyata, di balik dinding tebal itu terdapat pelataran yang cukup luas, langsung menuju ke bangunan utama keraton, Prabayaksa. Deretan kursi-kursi berwarna kuning keemasan disiapkan untuk menyambut tamu menghadap raja. Ornamen-ornamen cantik di dinding-dinding dicat warna emas, namun warna yang dominan di sini adalah warna hijau.






Masuk ke area Seketeng melalui pintu koboi, koleksi-koleksi antik yang bisa dilihat cukup menarik bagiku. Meskipun tidak sebanyak di Keraton Kasepuhan, namun penataannya yang rapi dan hirarkis, ditambah pemandunya yang manis dan menguasai ilmunya ini, membuat banyak informasi yang didapat. Beberapa barang khas, misalnya topeng Cirebon diperlakukan dengan baik di salah satu sudut.


Beberapa ruangan di dalamnya, dan ruangan besar yang ada di belakang Seketeng, dipergunakan untuk meletakkan koleksi-koleksi. Ruangannya yang tertutup namun cukup terang membuat tidak terlalu mnyeramkan berada di dalamnya. Pemandunya pun cukup ramah menjelaskan berbagai macam peninggalan-peninggalan di sini.








Ketika Hindia berada dalam pimpinan Ā Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles, beliau memerintahkan langsung kepada Cirebon untuk menyingkirkan kekuasaan politik dari para sultannya, sehingga sultan hanya sebagai pemimpin adat dan agama saja. Karena itu hingga kini ada perbedaan kepemimpinan di wilayah Cirebon antara Kesultanan dan pemimpin administratifnya.
Jadi, apakah aku menemukan jejak keluargaku di sini? Rasanya sih aku sempat melihat nama dalam daftar silsilah, namun karena lupa dipotret, jadi tak ada bukti. Ah, tapi nama itu sekarang sudah lebur dalam berbagai profesi, tidak hanya berada dalam lingkup istana. Oh iya, barangkali saja ada yang menjadi kerabat, nama keluarga Mbah Papihku adalah Soeriadiredja.
Catatan tambahan, ternyata selain memiliki putera yang mendirikan Keraton Kanoman, Sultan Anom Badrudin pendiri Keraton KanomanĀ juga memiliki putera yaitu Pangeran Adipati Kaprabon Ā yang mendirikanĀ Kaprabonan pada tahun 1696 sebagai tempat pendidikan agama Islam. Sepertinya tempat ini sempat kulewati juga ketika berjalan kaki ke Kanoman. Mungkin lain kali kuceritakan.
tentang keraton-keraton lain di Cirebon :
keraton kasepuhan: penanda masa cakrabuana.
keraton kanoman :Ā tetap putih di tengahĀ keramaian.
cerita-cerita Cirebon :
cirebon : mudik dan perut yang manja
solo traveling at cirebon | bersendiri di kota udang
[…] tentang keraton-keraton lain di Cirebon : keraton Kanoman, tetap putih di tengah keramaian. keraton kacirebonan, ingatan muda sejarah keluarga. cerita-cerita Cirebon : cirebon : mudik dan perut yang manja solo traveling at cirebon | […]
[…] keraton-keraton lain di Cirebon : keraton kasepuhan: penanda masa cakrabuana. keraton kacirebonan, ingatan muda sejarah keluarga. cerita-cerita Cirebon : cirebon : mudik dan perut yang manja solo traveling at cirebon | […]
[…] tentang keraton-keraton di Cirebon : keraton kasepuhan: penanda masa cakrabuana. keraton kanoman :Ā tetap putih di tengahĀ keramaian. keraton kacirebonan, ingatan muda sejarah keluarga […]
[…] KERATON KACIREBONAN Lokasinya paling mudah dicapai, di tepi jalan raya Pulasaren. Namun ukuran keraton ini dibandingkan dengan yang dua tadi lebih kecil, dan lebih rapi manajemennya. Begitu masuk langsung disambut oleh pemandu yang duduk di salah satu dari dua pendopo, dan diantar berkeliling-keliling sambil menjelaskan mulai dari sejarah, ruangan per ruangan, peninggalan masa lampau, sampai kain-kain batik yang ada di ruang pamer. Suasana di sini cukup nyaman untuk duduk-duduk di pendopo yang didominasi warna hijau. […]
Filsafat pintu utama dan dua pintu kecil di sampingnya setahu saya juga ada di khasanah rumah Bali, Mbak, dengan kori agung dan angkul-angkul. Fungsinya pun sama. Menarik mengetahui bagaimana filsafat yang sama juga ada di Cirebon, ini bukti jalur budaya dari Sunda menemukan milestone-nya di Kacirebonan :hehe.
Akhirnya di sini ada hint tentang keluargamu yang berasal dari keraton, Mbak :hehe. Terus terang saya penasaran sejak pertama kali dirimu menyebut itu (saya agak tertarik dengan genealogi, sih :haha). Keraton yang muda dan indah yak! Lantainya berpoles mengkilat, saya jadi agak was-was kalau menginjaknya, takut menodai kilap itu :haha. Warna hijau dan putih juga mendominasi tembok-tembok yang kokoh berhias piring porselin Tionghoa, membuktikan daerah mana keraton itu berada. Ah, agaknya suatu hari nanti saya harus menapaktilasi jejakmu menjelajah keraton di Cirebon–pasti sangat menarik!
Iya nih, sepertinya aku mesti merunut dengan jelas ke atas nih. Bukan ngincer keratonnya sih, cuma karena memang seneng sejarah, jadi kepingin tahu garis turunannya seperti apa. Barangkali kenal Soeriadiredja yang lain, hehe. Sudah coba google koq, dan beberapa orang yang tertulia memang kerabat.
Jadi di belakang nama Mbak juga ada Soeriadiredja ya? :hehe. Iya, tahu sejarah keluarga biasanya juga membuat kita lebih bangga dengan keluarga besar sendiri (at least that’s what happened to me :hehe).
Enggak, sih. Soeriadiredja itu nama keluarga mamaku. Tentu saja aku ikut ayah, makanya jadi Juwono, hehe. Nggak terlalu masalah dengan nama juga, belum ada pengaruhnya di kehidupan, hihi.
Aah, rupanya dari garis ibu :)).
Doh, pengaruh di kehidupan, ya… hmm…
Meski keraton2 di Cirebon itu keturunan Siliwangi tapi tudak bisa dibenarkan menyebut budaya jeratin2 di Cirebon adalah budata Sunda. Curebon lebih banyak dipengaruhi budaya Jawa dimulai dari jaman jesultanan Demak yang kuat menancapkan pengaruhnya di Cirebon. Dari bahasa, tarian, tradisi di jeraton, nama2 bangunan di keraton semua menggunakan bahasa Jawa.
keraton ini kecil tapi bersih,
Paling terawat malah…
Memang yang paling terawat juga yaa
Btw, ada putri kerajaan disini hehehe
Noted Mba Indri, aku mau eksplore cirebon pas arus balik, beberapa artikel ini tak jadiin panduan š
Sipsipsip.. Ayo jalan2 ke Cirebon..
[…] tentang keraton-keraton di Cirebon : keraton kasepuhan: penanda masa cakrabuana. keraton kanoman :Ā tetap putih di tengahĀ keramaian. keraton kacirebonan, ingatan muda sejarah keluarga […]
Huaaa..kayaknya aku belum pernah ke Cirebon, deh. Jadi pingiiin… Berarti kamu ada kemungkinan berdarah biru dong, Kak? š
Yuk, ikutan! -> GIVEAWAY: Hemat Ongkos dengan Uber http://wp.me/p39Fhn-ps #senjamoktika
Wooiii, uber2an ya? Iya, ada sih kemungkinannya. Semacam puteri gitu deh. Puteri duyung. Hahaha..
ahahahaha iya nih..modal sendiri..ikutan dong. huhu
eh, kalo putri duyung..yuk kita nyelem, kak!!!
hebat ya …. keliatan bener2 bersih dan terawat ….
keraton2 yang di daerah jawa aja kalah bersih dan terawat
mungkin karena ukuran-nya lebih kecil atau banyak dana … atau emanng rajin2 … š
sepertinya memang karena lebih kecil aja sih..
Mba, Suami ku keturuna Cirebon, tp aku lupa dr kerajaan mana. Nama Bapak Mertua ku Raden Badrudin, persis dg nama salah satu Raja Kanoman kalau tdk salah (Sultan Anom Badrudin). Dan nama Suamiku Suryadiningrat (kakek ku sblm tau suami ku dr keturunan mana, sudah bs nebak/keliatan dr nama suami ku yg ada ‘Ningrat2nya’, biasany dr Cirebon katanya, dan itu benar). Seluruh keluargany menggunakan gelar Raden, begitu pula anak laki2 kami. Sebelum menikah, kami agak ‘perang’ budaya, krn aku dr Keraton Pakubuono. Kami sama2 memegang budaya kami. Lbh tepatny sih keluarga ku sangat kuat memegang budaya dr Keraton kami dan keluarga Suami ku meskipun keluarga Raden, tp tdk memakai adat keRadenannya sbg mana seharusny keturunan, melainkan yg digunakan adlh budaya keluarga yg turun temurun dibalik gelar yg diturunkan.. (just share little stories.. Siapa tau ternyata saudaraan.. He999x)
Hallo mbak Happy, mama saya dari Kacirebonan Suriadiredja dan ayah saya sih orang Jawa, jadi aku nggak bergelar lagi sekarang š
Pernah juga ketemu sama orang Cirebon lain dan Suriadiredja lagi, ternyata sodara jauh..
Salam kenal ya mbakk.. š
Salam kenal, kakek saya Peter Suriadiredja..
Boleh info, kalau tau.. silsilah keluarga Suriadiredja bisa lihat dmn ya?
[…] udang keraton kasepuhan : penanda masa cakrabuana keraton kanoman : tetap putih di tengah keramaian keraton kacirebonan : ingatan muda sejarah keluarga tamansari goa sunyaragi, persinggahan sepi cirebon : mudik dan perut yang […]
Aku masih berhutang untuk mengunjungi Keraton satu ini, karena dari dua kunjungan ke Cirebon, aku baru sempat mendatangi Keraton Kasepuhan dan Kanoman saja. Melihat liputanmu ini aku teringat pada Keraton Mangkunegaran di Solo, yang meskipun statusnya hanya sebuah principality dan ukurannya lebih kecil, namun terlihat lebih rapi, tertata dan terawat dibandingkan Keraton Kasunanan Surakarta.
Sebagai induk awalnya, aku melihat kalau Keraton Kanoman Cirebon terlihat kurang terawat dan -maaf- agak kumuh. Waktu aku berkunjung ke sana beberapa minggu lalu, aku merasa prihatin melihat kondisi Keraton Kanoman. Ditambah lagi adanya konflik suksesi yang makin memperparah kondisinya. Dan aku jadi sedikit terhibur setelah melihat liputanmu ini, karena ternyata meskipun usianya lebih muda, Keraton Kacirebonan ini lebih baik kondisinya.
Ah, jadi pengen balik lagi ke Cirebon dan mengunjungi Keraton Kacirebonan š
ku baru sekali kesini
Rumah tinggalnya sultan pertama di kacirebonan berada dibkampung kami. Masih di seputaran kota cirebon.
Hanya bentu fisiknya sudah tidak ada. Tersisa 2 rumah tua yg masih terawat.
Silahkan dikunjungi kampung legenda kami. Terima kasih