kenapa harus membayar ketika berkunjung ke desa adat yang bukan desa wisata?

0-bawamataluo

Beberapa waktu lalu, aku tergelitik ketika membaca beberapa keluhan tentang kunjungan ke desa adat yang dianggap ‘komersil’. Tidak satu dua kali keluhan itu muncul ketika sedang mencari data tentang kunjungan ke desa adat. Tuduhan itu semata-mata karena ada harga yang harus dibayar ketika ingin menginjakkan kaki ke dalam desa tersebut. Yang aku ingin tanyakan balik, memangnya definisi ‘komersil’ yang ada di pikiran-pikiran itu? Sembari membuka KBBI daring, ternyata yang ditemukan adalah kata ‘komersial’. Begini artinya :

komersil

Berarti, apabila suatu tempat dikomersialkan, berarti ada keuntungan yang diambil dari uang yang diterima oleh desa adat. Bentuk berupa uang masuk laksana tiket yang mungkin tidak dikenakan pajak ini sering dikeluhkan oleh beberapa pejalan yang tiba-tiba datang ke pintu desa dan ditawari untuk membayar dan diberi penjelasan tentang asal-usul desa. Sayangnya, tak semua rela untuk membayar karena merasa tidak tahu (atau tidak mau tahu) imbal balik apa yang mereka akan terima. Maka aku melihat dari beberapa desa yang pernah aku kunjungi. Desa-desa ini tidak cukup mudah untuk dijangkau, namun tetap banyak orang yang ke sana.
Continue reading

Advertisements

harris hotel bekasi : temporary living at the junction

0-harris-bekasi-cover

Panas, macet, jauh, rasanya selalu diidentikkan dengan Bekasi. Kotamadya yang terletak di sebelah timur Jakarta ini memang berkembang begitu saja seiring dengan tingkat perkembangan industri di sini, yang mengakibatkan kota ini memiliki aktivitas yang tinggi, dan juga intensitas yang tak kalah padat. Bekasi menjadi primadona sebagai kota penunjang kegiatan industri. Karena itu, tak heran jika jaringan Hotel Harris melirik Bekasi sebagai pasar potensial penunjang kegiatan bisnis sebagai fungsi akomodasi.

Lokasi Hotel Harris Bekasi ini tidak terlalu jauh dari stasiun Bekasi. Cuma 10 menit dari stasiun melalui Jalan Raya Perjuangan, lewat halaman belakang dan tiba di hotel cantik ini. Kalau lewat bagian depan stasiun, bisa naik taksi melalui gerbang depan kompleks Summarecon yang ditandai dengan jembatan layang melintasi jalan jendral Sudirman. Eh, kompleks? Iya dong, Hotel Harris Bekasi ini berada di tengah kompleks Summarecon. Lebih asyiknya lagi, di samping Mal Summarecon persis.

Tentu saja, area di jantung kota Bekasi ini menjadi strategis, karena mudah dijangkau dari Kawasan Industri Cakung, atau Kawasan Industri MM 2100. Daripada tinggal di kawasan hotel yang agak sepi, setidaknya di sini lebih banyak kehidupan. Malnya cukup ramai juga, loh.
Continue reading

anambas, mimpi indonesiaku

anambas1

Anambas. Seketika gugus kepulauan itu yang menempel di kepalaku ketika harus menjawab di mana tempat di Indonesia yang paling kepengin didatangi. Pertama kali mendengar nama kepulauan ini dari celotehan Yudi Febrianda ketika kami masih mengobrol-obrol saja dahulu sewaktu ia masih tinggal di tanah Jawa.

“Anambas, yuk!” begitu sering ajaknya. Mulanya aku tidak tahu di manakah itu? Namun nama Anambas terdengar begitu cantik diucapkan, seperti mengingatkan pada pulau kelapa pujaan bangsa sejak dulu kala. Maka aku percaya begitu saja apa kata Yudi, yang sudah kuanggap abang itu, yang menyatakan bahwa Anambas itu cantik. Kan Uda Yudi sudah bepergian ke mana-mana, jadi kalau ada saran bahwa sesuatu pulau itu indah, pasti benar adanya, demikian telanku mentah-mentah.
Continue reading

berburu kasih sayang di camp leakey, tanjung puting

0-tanjungputing-camp-leakey-jetty

Seperti manusia, setiap individu orangutan memiliki kepribadian unik. Orangutan punya kompleksitas dan kerentanan emosi seperti manusia. Mereka juga bisamenunjukkan trauma, gangguan jiwa, juga afeksi terhadap yang dicinta. Itu yang selalu diceritakan orang-orang di sini tentang orangutan, dan meskipun baru empat hari melihat langsung, aku melihat kebenarannya.
Dewi ‘Dee’ Lestari – Supernova : Partikel

Apa sih yang dipikirkan Zarah Amala ketika ia melintasi jalur kayu di Camp Leakey ini? Pasti ia tidak berpikir apa-apa, masih menghitungnya sebagai pengalaman baru. Sepertiku, yang berjalan dengan santai, sambil menengok kaki-kaki kayu adakah orangutan di sana sedang bergelantungan?

Dan di ujung jalur kayu itu. Ada.

Continue reading

pondok tanggui, cerita tanjung puting dan tapak hijau

5-tanjungputing-pondok-tanggui-JALAN

Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuanmu bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh. Jangan pikirkan kamu akan sampai di mana dan kapan. Tidak ada yang tahu. Your strength is simply your will to go on.
Dewi ‘Dee’ Lestari, Supernova: Partikel

Diiringi cericit burung dan teriakan bekantan dan owa, pagi di tepi sungai itu pun gaduh. Tak seorang pun dari kami yang berniat bermalas-malasan dengan menunda bangun. Di pojok depan, Felicia membuka buku kitabnya tentang burung-burung tropis sambil berdiskusi dengan Indra tentang seekor spesies yang baru lewat. Lanny membaca buku sembari menanti sarapan siap, sementara aku, Putri dan Ima terpesona dengan primata pohon di seberang sungai yang sedang beraktivitas pagi.

Kelotok belum bergerak, namun gerakan-gerakan penghuninya sudah membuatnya bergetar. Di belakang, dua orang tukang masak menyiapkan pengganjal perut kami, sementara seorang kru mengisi air kamar mandi. Sayangnya tak satu pun dari kami yang berniat mandi. Indra berteriak menunjukkan burung King Fisher yang menclok di batang pohon tak berdaun. Cantik sekali, warnanya biru dan kuning terlihat nyata di depan langit berawan.
Continue reading

tanjung puting, lintas alam demi orangutan

0-cover-orangutan

“Jangan pisahkan dirimu dari binatang.”
“Biar apa, Ayah?”
“Biar kamu tidak sombong jadi manusia,” ujarnya sambil tersenyum.”
Dewi ‘Dee’ Lestari, Supernova: Partikel

Suara motor kapal mengiringi perjalanan kami meninggalkan Pelabuhan Kumai. Sejujurnya, aku lebih suka jika tidak ada suara menderu-deru di belakang itu. Rasanya lebih asyik jika pengarungan ini cuma ditemani semilir angin, kemerisik dedaunan dan kicau burung yang beterbangan. Tapi jika begitu, pasti butuh tenaga ekstra untuk mendayung sekuat tenaga. Kapal ini dinamakan kelotok, karena suara mesinnya yang berisik berbunyi klotoklotoklotok itu bertingkat dua, bagian bawah kabin, dan bagian atas ruang bebas tempat kami bisa duduk-duduk bercengkrama memandang sungai.
Continue reading

tanjung puting, sebuah mimpi dari partikel supernova

cover-tanjung puting partikel supernova

    “Kenapa kamu di sini, Zarah?”
    Dadaku seperti dihunjam. Pertanyaan final itu harus kujawab.
    “Saya mencari rumah, Bu,” jawabanku meluncur begitu saja, “Mungkin bisa saya temukan di sini.”
    Bu Inga lurus menatapku, mencari sesuatu yang perlu ia konfirmasi. “Saya percaya, rumah itu ditemukan di dalam,” katanya lembut sambil menempelkan tangan di dada. “Kalau di dalam damai, semua tempat bisa jadi rumah kita.”
    Partikel – Dee (h.213)

Mendengar kata Tanjung Puting, seketika ingatanku melayang pada Partikel. Di situlah Zarah Amala menemukan ‘rumah’-nya, tempat di mana ia dirindukan. Bukan oleh keluarganya, namun oleh kekuatan yang begitu mencintainya. Dan aku menggumam dalam hati, harus ke sana.

Tanjung Puting bukan destinasi wisata yang populer seperti banyak tempat lain. Banyak yang bertanya, “Di mana itu?” ketika aku bercerita tentang lokasi yang ingin kukunjungi karena sebuah buku itu. Aku sendiri awalnya tidak tahu dengan pasti, di mana Tanjung Puting berada. Aku pikir hutan tropis ini berada di tengah pedalaman Kalimantan, di aliran sungai tempat orangutan bisa berkeliaran dengan bebas, hutan yang masih terjaga dengan cara menuju ke sana yang tidak mudah dan tidak murah. Karena menurut informasi, cara menuju Tanjung Puting hanyalah menyewa kapal, dan seketika hal itu yang membuatku gentar, takut dengan biayanya.
Continue reading

stempel di jepang, pengingat perjalanan

DSC_0831

Every man bears the whole stamp of the human condition.
Michel de Montaigne

Menurut beberapa berita yang pernah kubaca, orang Jepang suka sekali mengumpulkan stempel. Makanya di hari pertama aku sampai di sana dan menemukan stempel lucu di Osaka Castle, aku langsung mencari buku notes untuk tempat mengumpulkan koleksiku ini. Daripada koleksi pin, boneka, perangko, suvenir, magnet kulkas, gantungan kunci, atau barang-barang yang dibawa, sepertinya ini lebih murah (dan lebih ringan).

Di banyak tempat, di stasiun, di museum, di titik-titik menarik selalu ada stempel sebagai kenang-kenangan pengingat tempat. Bisa didapatkan dengan gratis di satu sudut awal, atau pun sesudah berkeliling museum atau taman sekali pun. Di stasiun, lokasi stempel biasanya di dekat gate masuk, atau di dekat pusat informasi, dengan ukuran yang cukup besar, sekitar diameter 6 cm. Gara-gara ini, setiap sampai di stasiun baru aku selalu celingukan mencari lokasi bak stempelnya.

Continue reading

menyusuri trotoar jepang demi manhole cover

DSC_0278

“If I collected dust, I wouldn’t mind if I got dust on it. My collection would grow and accumulate naturally. Probably my love would blend in with it as well, since I haven’t used it in so long.”
Jarod Kintz, This Book is Not FOR SALE

Ada foto yang menarik untuk dikoleksi selama menyusuri jalan-jalan di kota-kota Jepang. Jika orang-orang lain mengoleksi foto landmark, foto kuil, plang atau tempat-tempat lain sebagai penanda, aku mencari sesuatu yang lebih mudah ditemukan dan khas.

Jadi aku mengoleksi foto manhole cover (lubang untuk turun ke saluran bawah tanah) yang mudah ditemukan ketika berjalan kaki. Benda ini paling mudah ditemukan di trotoar. Bentuknya bundar dengan diameter sekitar 60 cm. Biasanya terbuat dari besi baja yang bergambar lambang-lambang yang berkaitan dengan kota. Ada yang berwarna, ataupun monokrom. Aku sendiri tidak tahu apakah di bawah sana ada berbagai macam fungsi untuk utilitas kota mengingat kota-kota di Jepang itu multi layer, tapi mengamati tutup di permukaan tanah ini sangat menarik.
Continue reading

traveling ke jepang : bawa koper atau ransel?

3-ninenzaka-kyoto

Jujur aku agak sulit memutuskan sewaktu bepergian ke Jepang mau bawa koper atau ransel. Tapi berhubung aku hanya punya ransel 35+10 liter itu plus daypack 25 liter, jadi benda itu saja yang kubawa. Untuk mewadahi kebutuhanku selama 12 hari, jaket, pakaian, tripod, tongsis, kamera, dan alat-alat lain memenuhi tasku. Rencananya ransel akan kutinggal di hotel, sementara daypack dibawa jalan-jalan.

Tapi ternyata ada lokasi-lokasi yang membuatku kepengin bawa koper karena, hmmm.. sakit juga punggung bawa ransel yang berat ini di akhir musim panas yang membuat keringat bercucuran ini. Tetapi setiap kondisi memang ada perbandingan-perbandingannya, koq.
Continue reading