menyisir jejak budaya muslim dan buddha dari varanasi


“Those who are easily shocked should be shocked more often.”
― Mae West

Selain dikenal sebagai negara yang penduduknya mayoritas beragama Hindu, di sisi-sisi lain juga kepercayaan lain hidup berdampingan. Di hari kedua kami di Varanasi, Shiva kembali menjemput kami menuju Fatman Road untuk melihat Fatman Mosque, salah satu tempat beribadah umat Islam di kota sungai ini. Panas terik India yang kering mulai terasa ketika kami melangkah masuk ke daerah ini.

Dargah E Fatman ini sebenarnya adalah bangunan makam untuk Imam Ali, Imam Husayn dan Imam Abbas yang dibangun sekitar tahun 1920-1925. Dengan didominasi marmer putih, tampak daerah ini masih dalam masa pemugaran ketika dikunjungi. Gundukan pasir putih masih berada di mana-mana, sementara beberapa orang juga masih datang dan beribadah di bangunan masjidnya. Karena masih berantakan inilah, jadinya bangunan masjid ini jadi kurang begitu menarik. Namun demikian, ketika masuk waktu dhuhur dan adzan berkumandang dari sini, warga sekitar yang mayoritas muslim ini mulai berdatangan ke mari.

Nah, justru pada sisi lain dari Ramakanth Nagar ini yang menarik, karena daerah ini terkenal dengan tenunannya yang halus sekali. Setelah diajak keluar masuk gang pada area pemukiman muslim ini, kami masuk ke sebuah rumah yang di dalamnya berisi aneka mesin tenun berukuran besar, yang sedang mengerjakan aneka tenun berwarna warni. Mesin-mesin ini sudah terlihat tua dengan warnanya yang menghitam, namun masih bekerja dengan baik.

Tapi ternyata di sisi-sisi lain gang juga ditemui yang masih mengerjakan tenun dan motifnya dengan menggunakan tangan. Bahkan di sisi lain juga bisa ditemui membuat pelat cetakan untuk motif-motif saree yang akan dikerjakan. Melihat kami melongok dari jendela, mereka pun tersenyum manis sambil memamerkan senyumnya yang cerah.

Guide kami yang bernama Ali membawa kami ke tokonya dan mempersilakan kami untuk memilih kain-kain saree yang cantik yang dijual di situ. Ia langsung mempromosikan bahwa dengan membeli di sini berarti sudah membantu perekonomian warga Ramakanth Nagar yang mesih setia mengrajin saree untuk keperluan orang India. Duh, rasanya nggak tahan melihat kain-kain itu yang dibentangkan satu demi satu untuk diperlihatkan pada kami. Warna-warna pelangi mendominasi dari scart, selendang, sarung bantal, hingga kain saree yang panjangnya enam meter (kalau tidak ingat ini baru hari kedua kami menjelajah negeri India, bisa-bisa penuh ranselku nanti). Nah, dari Ali ini juga aku belajar cara mengenakan saree yang baik dan benar, dan memang harus pakai berputar-putar dan mancing banget untuk menari.

Usai berpamitan dengan Ali dan merelakan uang 100 USD kami bertukar dengan dua helai kain saree, tuktuk kami mengarah ke sisi barat Varanasi. Rasanya jalanan cukup jauh berdebu yang dilewati berkilo-kilo meter jauhnya hingga terlihat gundukan seperti paduan piramid dan cerobong.  Daerah ini, Sarnath, adalah tempat beribadah umat Buddha di India, dan sering dijadikan sebagai tempat upacara keagamaan.

Setiba di tempat parkir tuktuk, tiba-tiba kami dihampiri oleh seseorang berkulit agak hitam yang mengaku guide lokal dan akan mengantar berkeliling ke tempat-tempat wisata di situ. Ketika kami mengikutinya selama sekitar 15 menit, ternyata ia membawa kami ke sisi pagar yang membatasi kami dengan stupa berwarna terakota yang sangat besar. Karena tertarik dengan ukir-ukiran di situ tersebut, aku bertanya,”How we got there? Inside those area?”. Guide ini hanya berkata, “Ah, nothing special there, only people walk around.” Aku merasa aneh mendengarnya, lho masa iya mengunjungi tempat ini tapi kita nggak boleh masuk sih?

“I want go there. So where is the entrance?” nadaku mulai agak memaksa.
“Okey, okey.. I take you there,” Ia berusaha menenangkanku dan membawa kami menyusuri jalan setapak di belakang kios-kios souvenir dan haaa, tibalah kami di depan satu kuil dengan pohon bodhi di depannya, yang tak jauh dari tempat parkir tuktuk kami tadi. Lah, koq balik lagi ke sini, mana jalan ke big stupa itu?

“This is Bodhi Tree, Buddha Gautama pray under this tree,” jelasnya sambil menunjukkan pohon Bodhi. Kemudian ia menudingkan tangannya ke satu kuil besar yang berisi patung Buddha. Entah karena cuaca panas terik atau kesal karena tak kunjung menemukan jalan ke stupa besar tadi, aku hanya sepintas lalu saja mendengar penjelasannya. Kubiarkan ia berceloteh panjang lebar sampai akhirnya kututup, “You know, our country have the biggest Buddha temple in the earth. Do you know Borobudur Temple? That’s it.” Ia masih menampilkan gestur memohon maaf dengan kepalanya yang bergoyang-goyang sampai keluar dari kompleks temple itu dan aku bertanya lagi, “Where is the entrance?”

Ia menunjukkan loket yang tak jauh dari loket temple. Ealaaahhh, cuma di situ toh. Kenapa juga kami harus diputar-putarkan dulu? Setelah kuberi ia 100 rupee supaya menyudahi pekerjaannya sebagai guide, kami membeli tiket dan masuk dalam kompleks Taman Rusa di Sarnath. Duh, baru deh tahu rasanya kena scam begini, untung hanya 100 rupee.

Sarnath, dari Saranganath, berarti “Pemimpin dari Rusa” dan berkaitan dengan cerita Buddhis kuno lainnya di mana Bodhisattva terlahir sebagai rusa dan memberikan hidupnya untuk seorang raja menggantikan seekor rusa betina yang rencananya akan dibunuh. Raja Benares ini begitu tergugah sehngga ia menciptakan taman sebagai tempat perlindungan bagi rusa, di mana rusa-rusa dapat berkeliaran tanpa gangguan. Disebut juga Migadāya karena diizinkan rusa-rusa itu berkeliaran di sana tanpa gangguan pemburuan.

Di dalam area Taman Rusa terdapat Isipatana, sisa reruntuhan monastery tempat belajarnya biksu-buiksu pada zaman dahulu dengan menunjukkan material terakota sebagai unsur pembangunnya. Terlihat bekas area melingkar pada awalnya, mungkin sebagai tempat berkumpul di zaman dahulu, dan ruang-ruang dengan sekat yang lebih kecil memanjang di atas pelataran pasir. Batu-batu bata terakota yang menyusunnya berukuran cukup besar dan terlihat cukup lama dan kuat. Perang dengan Turki yang membuat hanya terlihat sisanya seperti ini.

Dan di bagian paling ujung, Dhamekh Stupa yang tadi hanya terlihat dibatasi oleh pagar berdiri kokoh dan solid dengan ukiran-ukiran yang tetap terhias rapi di sekelilingnya. Stupa ini mungkin agak mengingatkan pada stupa terbesar di Candi Borobudur, yang merupakan stupa utama. Orang-orang berjalan mengelilingi stupa, ada yang sambil berdoa, atau melihat-lihat saja seperti aku. Di rerumputan sampingnya, beberapa orang yang berpakaian biksu asyik berdiskusi di bawah pohon. Suasananya tenang dan damai sekali di sini, berbeda dengan di luar area pintu masuk tadi yang cukup riuh.

Namun keluar dari rerimbun itu, panas terik jam dua siang tetap tegar menghadang. Kami mengurungkan waktu untuk ke destinasi berikutnya dan memilih untuk kembali saja ke stasiun Varanasi sejauh 13 km lagi, karena status tiket kami yang masih waiting list di nomor 2 & 3. Iya, jarak 13 km itu ditempuh dengan tuktuk yang melaju kencang. Setiba di stasiun dan melapor di tourist information, ternyata kami sudah pasti mendapatkan nomor tempat duduk (dan tidur) di kereta menuju penghentian selanjutnya, Agra.

Oh iya, sepertinya panas hari itu 39-40 derajat Celcius. Pantas saja rasanya darah kami cepat naik ke kepala.

Perjalanan Varanasi 19.03.2016
Ditulis di Jakarta 14.05.2017


indiasiesta yang lain:

seandainya ada om-telolet-om di india
sensasi varanasi
menyisir jejak budaya muslim dan buddha dari varanasi
serba-serbi berkereta api di india dalam 2804 km

Advertisements

28 thoughts on “menyisir jejak budaya muslim dan buddha dari varanasi

  1. Liza Fathia says:

    Ini perjalanan setahun yang lalu kak In? Hehehe. Pantesan pas lihat watermark foto tahun 2016 Btw, salut juga ya masih ada yang menggunakan tangan membuat saree di tengah2 maraknya pabrik tekstil.

    • indrijuwono says:

      Sebenernya bercerita tentang patung-patung Buddha sih, yang katanya paling besar. Tapi berhubung aku dah lihat patung Buddha di mana-mana (apalagi koleksinya Museum di Tengah Kebun yang ciamik itu), jadi aku ceritakan sekalian ke dia tentang Borobudur.

  2. rryrivano says:

    Tuktuk ini semacem Delman yah kak? Insert tips dong kak, kalau traveling menuju ke sini. Aku kok ngeri Guide banyak yg badung gini. *semacam berencana ke India aku ini*

    • indrijuwono says:

      Tuktuk ini semacam bajaj kak. Makanya amazing bangetlah bisa jalan sampai 13 km, bolak balik pula.
      Emang sih, mesti hati-hati aja kalau ketemu guide kayak gini, mesti bawa temen jalan yang galak hihi.

  3. Zelie says:

    Aihhh ngiri! Aku pengin banget beli saree India, bagus2 memang. Waktu itu ada teman pulang India tp aku gak ada duit haha *curcol

    Suka banget sama foto-foto Teh In, apalagi yang terakhir. Bagus amat sih gambarnya 😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s