seandainya ada om-telolet-om di kolkata


“Clouds come floating into my life, no longer to carry rain or usher storm, but to add color to my sunset sky.”
― Rabindranath Tagore, Stray Birds

Pagi di Kolkata menampilkan sinar mataharinya malu-malu. Sudah empat jam sejak pendaratanku di Bandara Netaji Subhas Chandra Bose dari Kualalumpur tengah malam tadi, yang kuhabiskan dengan berusaha tidur di kursi ruang kedatangan sambil menggigil kedinginan karena AC yang cukup dingin. Usai melewati imigrasi dengan mudah, mungkin karena wajah Asia yang cukup bersahabat ini, serta dokumen-dokumen yang lengkap, resmilah kami menjadi turis di India.

Sesudah menukarkan lembaran 100 dolar dengan 6100 rupee, kami keluar dari bandara dan langsung disambut oleh deretan taksi warna kuning. Wah, taksi ini lucu sekali, seperti yellow cab di New York rasanya. Karena kami sudah membeli tiket taksi seharga 280 rupee hingga Howrah Junction Station, jadi tak ada tawar-tawaran lagi, langsung naik ke taksi yang sudah berbaris rapi.

Akhirnya, India!
Negara ini menjadi wishlist-ku selama bertahun-tahun. Apalagi kalau bukan karena racunnya mas Gola Gong di buku Balada si Roy di tahun 1990-an tentang petualangannya di India. Walaupun aku tidak suka menonton film India, tapi budayanya yang unik dan masih berlangsung sehari-hari walapun sudah zaman modern ini menjadi menarik untuk dikunjungi. Beberapa isu kriminalitas di India tidak mengurangi minatku untuk datang. Aneka buku sastra India dengan cerita tentang kebudayaan dan kehidupan perempuan serta kain sari-nya yang cantik menjadi penarik yang terus memanggil-manggil. Dan akhirnya sesudah bertahun-tahun, berhasil membulatkan tekad (dan menculik partner jalan) untuk berkeliling negeri Mahatma Gandhi ini.

Kolkata di pagi hari tampak lengang, belum banyak orang yang berlalu lalang di jalanan, membuat taksi melaju kencang tanpa hambatan yang berarti. Di kanan dan kiri tampak bangunan-bangunan dengan huruf keriting bahasa Hindi, yang tidak bisa kubaca. Jalan layang dari bandara hingga kota membuat kami berada di atas atap-atap yang bertuliskan nama toko. Warna bangunannya kusam seperti tidak terawat, cenderung pudar.

Dan mulailah ketika masuk kota, si supir taksi terus menerus membunyikan klaksonnya. Tett.. teett…, setiap ada mobil lain, motor, gerobak, bajaj, taksi, yang kebetulan melintas di depannya. Ia pun juga jarang mengerem di persimpangan, pokoknya lanjut terus sambil terus sambil tetap mengklakson. Hiya ampun, Pak, masih jam enam pagi ini, kereta kami kan masih nanti jam satu siang.

Tapi ternyata bukan hanya taksi kami yang hobi mengklakson, mobil-mobil lain yang bersimpangan pun tak henti-henti memperdengarkan suaranya, seakan waktu benar-benar harus terburu dan tak boleh lengah sedikit pun. Kota pun perlahan-lahan mulai bangun, melihat orang mulai berlalu lalang di tepi jalan. Aku mengecek di mana aku berada dari buku Lonely Planet yang sengaja kubawa. Tapi sepertinya tidak mengenali, tapi jalan ini benar menuju Howrah Junction Station, koq.

Benar saja, tak lama kami tiba di depan stasiun Howrah yang sangat ramai. Banyak sekali orang yang duduk-duduk di pelatarannya bahkan masih tidur di dalam emplasemennya. Sepertinya ada belasan atau mungkin puluhan jalur kereta yang dilayani oleh stasiun ini, dilihat dari jalurnya yang berjajar hingga jauh.

Kami mencari tempat penitipan ransel, kemudian mengecek apakah tiket siang nanti statusnya sudah terkonfirmasi. Belasan orang berdiri di depan loket tanpa mengantre, dan mengakibatkan petugas di dalamnya terlihat lelah menghadapinya. Tapi ternyata memang status tiket kami sudah OK, sehingga tinggal datang lagi nanti jam satu siang untuk naik kereta. Sembari menunggu, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di Kolkata sambil mencari sarapan pagi.

Howrah Railway Station terletak di tepi sungai Bhagirathi-Hughli yang membentang sejauh 700 meter dihubungkan dengan jembatan Howrah Bridge dengan konstruksi kantilever suspensi baja dan truss yang rapat, dan membuat jembatan ini sangat ikonik. Sayangnya tulisan ‘no picture’ di mana-mana membuat kami urung untuk mengambil gambar (secara terang-terangan) di sini, hanya dengan ponsel saja (itu pun sembunyi-sembunyi). Mungkin dengan tingginya tingkat kriminalitas publik di sini membuat jembatan yang penting ini bisa-bisa menjadi sasaran ancaman bom atau apa pun. Petugas pun tak segan menegur apabila ketahuan mengambil gambar. Di jembatan ini pun, tak jarang suara klakson berbunyi nyaring dari bis atau taksi atau angkutan lain ketika hendak menyalip. Memang, jembatan ini cukup lebar sehingga bisa dilalui oleh empat jalur kendaraan. Tettt… teetttt….

Agak syok menyusuri jalan-jalan India yang menurut orang-orang yang pernah ke sini agak kotor, dan ternyata benar adanya. Di Jalan Mahatma Gandhi, jalan utama di tengah kota Kolkata, jalur pedestriannya kehitaman akibat air buangan yang langsung ke situ. Bis dan trem yang lewat seperti kendaraan sejenis di Jakarta tahun 80-an. Debu dan becek di mana-mana sepanjang jalur perjalanan ini. Tidak ada bis ber-AC yang kinclong di sini, semuanya berjendela terbuka dan sebagian bahkan tak berkaca. Orang-orang berlalu lalang dan bercakap dalam bahasa Hindi. Agaknya daerah yang kulalui ini adalah semacam pasar (bazaar) yang memulai kehidupannya dengan cukup ramai.

Di sisi utara jalan Mahatma Gandhi terdapat Barabazaar, di mana terjadi kepadatan yang begitu tinggi pada area pasar yang merupakan pusat penjualan aneka bahan kertas, dan terjadi hibrid antara pendatang dari daerah Rajashtan di India Barat dengan penduduk asli Bengali di Kolkata. Pendatang yang disebut Marwari ini mulai membanjiri sejak difungsikannya jalur kereta api jarak jauh dari Delhi hingga Kolkata pada tahun 1860.

Awalnya, pendatang ini tinggal di lapak-lapak sederhana (gaddi) yang juga dipergunakan sebagai tempat usahanya berdagang bawaan yang mereka jual dari daerah asalnya. Seiring dengan pendudukan Inggris ke India dan menyebabkan banyak lagi barang yang harus diperdagangkan, kaum Marwari ini menjadi lebih berkembang dalam bisnisnya. Namun, kesuksesan ini tidak diimbangi dengan baiknya hubungan antara kaum Marwari dan Bengali. Para penduduk asli ini menyatakan bahwa kemajuan kaum Marwaris tidak membawa kebaikan ke Kolkata, karena mereka membawa hasilnya ke tanah Rajahstan. Ditambah lagi kedekatan kaum Marwaris dengan Inggris dituding sebagai penyebab kemiskinan di Kolkata, karena begitu banyak pajak yang dihasilkan justru dikirim ke Inggris, sementara negeri koloninya tetap miskin.

Perkembangan bisnis yang begitu baik di bazaar membuat kaum pedagang ini mulai memilih untuk bertinggal di sekitar tempat usahanya, dengan mendirikan rumah-rumah bertingkat untuk tempat tinggal mereka, di balik gaddi yang merupakan ruang usahanya. Ruang tinggal yang berjarak dekat ini memungkinkan mereka untuk bekerja, makan siang, mandi, dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari ruang bekerjanya, sementara di malam hari mereka masih bisa mengadakan pertemuan-pertemuan bisnis. Bisnis ini berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya seiring dengan tingginya kebutuhan India akan kertas. Namun sayangnya, sebagai bisnis keluarga, kaum Marwaris tidak bisa menyatu dengan lingkungannya dan membuat jarak dengan Bengali. Rupanya bisnis kertas yang bagus ini mungkin menjadikan harga buku di India murah dibanding dengan di Inggris sendiri.

Kami berjalan terus sembari mencari kedai yang cukup bersih (karena aku tak mau makan sembarangan di pinggir jalan), tanpa GPS dan hanya mengandalkan buku Lonely Planet saja. Ternyata mencari titik rekomendasi seperti yang di buku tidak semudah kenyataannya. Tahu-tahu saja kami sudah sampai di sekitar Calcutta University yang jalannya dilalui trem berkali-kali. Mulai banyak sekali kios buku di tepi jalan, namun hampir semuanya bertuliskan aksara hindi yang keriting. Ah, agak lega berada di daerah pendidikan begini, karena berarti akan lebih banyak orang yang bisa berbahasa Inggris. Karena lapar, akhirnya kami berhenti di satu pojokan mengikuti orang-orang yang membeli kudapan yang sepertinya enak. Dua lembar prata dan kentang serta telur hanya seharga Rs 19 (Rp. 3800,-) dihidangkan di piring stainless yang bersih. Lumayan enak untuk mengisi perut di pagi hari.

Aku mengusulkan untuk mengunjungi Museum Rabindranath Tagore yang seharusnya tak jauh dari kawasan Howrah. Usai makan dengan ditemani klakson yang bertubi-tubi dari mobil-mobil, kami sempat mengamati berbagai jenis kendaraan yang lewat di sekitar Calcutta University ini. Sebenarnya ingin mencoba trem panjang itu, tapi karena takut tersesat, kami memilih untuk berjalan kaki saja. Sialnya, hari makin siang berarti udara makin panas. Dan keringat pun mulai bercucuran karena suhu udara yang meningkat dan kelembaban yang rendah membuat gerah, sembari kami tetap mencari dimana museum sastrawan legendaris India ini berada.

Akhirnya di satu belokan di mana kami memutuskan untuk menenggak Coca Cola, pemilik toko menunjukkan arah ke museum yang ternyata bukan pada jalan besar, melainkan jalan selebar 5 meter yang penuh bajaj, mengingatkan pada Galur di Senen, Jakarta. Belasan orang dengan kurta dan sari berlalu lalang di sana, plus tetap bonus klakson yang nyaring.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 lewat ketika kami tiba di pintu museum. Syukurlah, ternyata tempat ini banyak dikunjungi turis (kan, traveler macam apa kami ini malah cari tempat touristy). Baru di sini aku berani mengeluarkan kamera dan memotret setiap sisi museum yang berwarna dominan merah ini.

Jorasankho Thakur-Bari ini adalah rumah tinggal sejak lahir sastrawan Rabindranath Tagore yang hidup pada 7 Mei 1861 hingga meninggalnya di  7 Agustus 1941. Seorang penyair, dramawan, filsuf, juga sastrawan Bengali dari kasta Brahmana, Tagore adalah orang pertama di luar Eropa yang menerima anugerah Nobel Sastra. Salah satu buku karya Tagore yang pernah kubaca diterjemahkan oleh Ayu Utami, berjudul Kisah Masa Kanak dari penerbit KPG. Semasa hidupnya, Tagore mengurus bisnis bersama keluarganya, namun juga mendirikan sekolah-sekolah untuk rakyat. Pada 1921, Tagore bersama Leonard Elmhirst, seorang pakar ekonomi pertanian, mendirikan sekolah di Shriniketan, Surul di sebelah utara Kolkata. Direkrutnya sarjana, penyumbang dana serta pekerja dari berbagai negara untuk menjalankan sekolah ini. Dengan pendidikan, Tagore memiliki visi membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kebodohan termasuk golongan kasta rendahan.

Tagore juga seseorang yang sering bepergian untuk mengembangkan ilmunya. Beberapa kali berliau diundang ke Inggris, serta pernah memberikan kuliah keliling Amerika Serikat dan Jepang. Ia juga mengunjungi lebih dari tiga puluh negara di lima benua untuk mengenalkan karya-karyanya serta ide-ide politiknya kepada kalangan non-Bengali.

Bangunan rumah Tagore ini bergaya kolonial Inggris dengan tiang-tiang ganda membingkai jendelanya, sebagai hadiah dari keluarga Sett yang memiliki usaha ternama di Kolkata, untuk kakek Rabindranath, Dwarkanath Tagore. Turis yang ingin melihat-lihat bisa berkeliling dengan gratis di bagian luar bangunan, namun apabila hendak naik ke lantai dua dan menikmati ruangan-ruangannya, harus membayar tiket sebesar Rs 50. Tapi, di dalam ruangannya yang berisi meja kursi yang digunakan Tagore ketika menulis, ataupun tempat tidur keluarga dan berbagai perabot lain, pun tidak boleh memotret. Mungkin karena barang-barang tersebut memang sudah uzur, ditambah naskah-naskah kuno bertuliskan tangan yang dipajang di meja-meja kaca.

Tidak ada penjelasan mengapa bangunan ini berwarna merah, tapi pada melihat pada bangunan pada masa pendudukan Inggris (seperti di Malacca) juga berwarna merah, sepertinya terpengaruh pada masa itu. Lengkung-lengkung artistik sebagai gerbang penahan bentang, maupun ambang jendela yang berwarna hijau, memberikan kontras yang segar terhadap warna merah. Pada sepanjang koridor atas dilindungi oleh jalusi kayu tinggi yang menahan silaunya sinar matahari. Dengan lebar koridor sekitar 1.5 meter, hujan tidak akan masuk ke bangunan. Di bagian dalam, terdapat teater terbuka tempat murid-murid sekolah seni mempertunjukkan kemampuannya di situ.

Karena sudah menjelang tengah hari, kami memutuskan untuk naik taksi untuk kembali ke Howrah Junction, yang ternyata macet di jalan. Kepadatan jalur di dalam Barabazaar tidak bisa dihindarkan karena memang jalur itulah yang harus kami lalui untuk tiba lagi di Howrah Junction. Untungnya sekarang kuping sudah mulai terbiasa dengan klakson yang gencar ditekan oleh si supir apabila ada yang memperlambat jalannya. Selain itu juga, tentunya kami tak ingin terlambat naik kereta nanti. Ho, ternyata kami masih sempat makan siang dulu, malah mampir KFC dan Pizza yang ada di bagian depan stasiun. Ahahahaha, ternyata rasa KFC dan pizza di sini rasa kari! Khas India banget! Walaupun harganya lumayan murah, hanya Rs 313 untuk pizza seukuran 8 slices, tapi rasanya mengejutkan.

Di India bisa menarik uang tunai dari ATM berlogo Visa (karena aku menyimpan uang di bank Mandiri), dengan biaya sekitar Rs 100 (Rp 20000) setiap kali penarikannya. Kebetulan juga di stasiun cukup banyak ATM dari berbagai bank lokal yang bisa melayani kebutuhan ini. Sesudah sampai di platform untuk menaiki kereta Amritsar Express yang menuju Varanasi, ternyata nama kami ada di kertas cetakan yang ditempel di pintu gerbong kereta. Ya ampun, serasa pengumuman lulus ujian saja. Nah, sah untuk naik kereta di gerbong AC 3 Tier ini.

Accha namaste, Kolkata!!

Lalu, bagaimana seandainya ada om-telolet-om di Kolkata? Yakinlah bahwa kota ini akan semakin nyaring namun lebih merdu. Bisa jadi malah orang-orang India di tepi jalan akan langsung menari ketika mendengar klakson telolet diperdengarkan berulang kali. Mungkin cocok juga kalau membuat video klip om-telolet-om di antara bus, trem, dan bajaj yang berseliweran. Atau bisa saja sesuatu yang melata tiba-tiba keluar dari selokan dan ikut menari seperti mengikuti alunan terompet.


indiasiesta yang lain:

seandainya ada om-telolet-om di india
sensasi varanasi
menyisir jejak budaya muslim dan buddha dari varanasi
serba-serbi berkereta api di india dalam 2804 km

Advertisements

13 thoughts on “seandainya ada om-telolet-om di kolkata

  1. Fauzi Amiruddin says:

    India, meski kotor, kumuh, kemiskinan dimana-mana, angka kriminalitas tinggi, tapi kok tetap saja menarik ya. Pengen ke India juga nih, tapi ke Kota yg ada Taj Mahalnya dulu sih 😊😊

  2. Matius Teguh Nugroho says:

    Menurutku klakson-klakson itu dibunyikan bukan karena saling terburu-buru, tapi karena saling nggak mau mengalah. Warisan kaum terjajah dan penjajah.

    Btw aku baru tahu di Kalkuta ada trem. Kalau ada kesempatan ke Kalkuta, pengen cobain deh 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s