ketika museum pusaka nias bertemu debur samudera : ya’ahowu nias #3

Real museums are places where Time is transformed into Space. [Orhan Pamuk, The Museum of Innocence] sesudah menghabiskan siang di : omo niha di keramahan desa tumori : yaahowu nias #2 Beberapa tahun terakhir ini jika berkunjung ke suatu daerah, museum selalu menjadi salah satu tujuanku untuk mempelajari daerah tersebut. Jika tidak bisa mencapai pelosok-pelosok,… Read More ketika museum pusaka nias bertemu debur samudera : ya’ahowu nias #3

omo niha di keramahan desa tumori : ya’ahowu nias #2

Masih ada sebuah rumah di sana yang tak pernah mengharap seseorang datang mengunjunginya. Masih ada dinding-dinding kusam, ruang bersih terang, jendela-jendela putih tempat senja berpendaran dengan rambutnya yang keemasan. Masih ada si kecil lagi asyik menggambar pada tembok penuh coretan. [Ziarah~Joko Pinurbo] menuju Nias : sebuah mimpi ke nusa seribu gelombang : yaahowu nias #1… Read More omo niha di keramahan desa tumori : ya’ahowu nias #2

sebuah mimpi ke nusa seribu gelombang : ya’ahowu nias #1

kalau pernah kamu bertemu dulu, apa yang kau inginkan nanti? sepi. kalau nanti kau dapatkan cinta, bagaimana kau tempatkan waktu? sendiri. bila hari tak lagi berani munculkan diri, dan kau tinggal untuk menanti? cari. andai bumi sembunyi saat kau berlari? mimpi. [Percakapan Dua Ranting ~ Radhar Panca Dahana] Yaahowu! Sapaan halo dari orang Nias apabila… Read More sebuah mimpi ke nusa seribu gelombang : ya’ahowu nias #1

catatan waisyak dari tepi-tepi candi

Light is more important than the lantern, The poem more important than the notebook ― Nizar Qabbani Tahun ini memutuskan melihat Perayaan Tri Suci Waisyak 2555 BE. Kenapa? Karena ada teman yang mengajak. Sebenarnya ini bukan trip budaya yang direncanakan, namun kok banyak peminat ya? Gara-gara membaca twit Wenny Gustamola dari Bandung yang dapat tiket… Read More catatan waisyak dari tepi-tepi candi

rendang minang #8: bukan menjadi raja sehari di pagaruyung

“Above us our palace waits, the only one I’ve ever needed. Its walls are space, its floor is sky, its center everywhere. We rise; the shapes cluster around us in welcome, dissolving and forming again like fireflies in a summer evening.” ― Chitra Banerjee Divakaruni, The Palace of Illusions cerita sebelumnya : rendang minang #7:… Read More rendang minang #8: bukan menjadi raja sehari di pagaruyung

rendang minang #7: cadas batu lembah harau

“Adieu to disappointment and spleen. What are men to rocks and mountains?” ― Jane Austen, Pride and Prejudice cerita sebelumnya : rendang minang #6: rumah gadang di tepi jalan Salah satu tempat akhir yang aku dan Felicia datangi di Sumatera Barat adalah Lembah Harau. Jujur saja, sebelumnya tak ada ekspektasi apa-apa dengan tempat ini. Ketika… Read More rendang minang #7: cadas batu lembah harau

rendang minang #6: rumah gadang di tepi jalan

Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah, dan hanya sembilan yang menemui jalan masuk, yang kesepuluh tidak harus mengatakan, Ini sudah takdir TUHAN. Ia harus mencari di mana kekurangannya. ~ Rumi cerita sebelumnya : rendang minang #5: keliling hari di bukittinggi Satu hal yang paling menarik hatiku untuk berkunjung ke Ranah Minangkabau adalah Rumah Gadang.… Read More rendang minang #6: rumah gadang di tepi jalan