Category Archives: the architect

categories about my feeling about being architect

kenapa harus membayar ketika berkunjung ke desa adat yang bukan desa wisata?

0-bawamataluo

Beberapa waktu lalu, aku tergelitik ketika membaca beberapa keluhan tentang kunjungan ke desa adat yang dianggap ‘komersil’. Tidak satu dua kali keluhan itu muncul ketika sedang mencari data tentang kunjungan ke desa adat. Tuduhan itu semata-mata karena ada harga yang harus dibayar ketika ingin menginjakkan kaki ke dalam desa tersebut. Yang aku ingin tanyakan balik, memangnya definisi ‘komersil’ yang ada di pikiran-pikiran itu? Sembari membuka KBBI daring, ternyata yang ditemukan adalah kata ‘komersial’. Begini artinya :

komersil

Berarti, apabila suatu tempat dikomersialkan, berarti ada keuntungan yang diambil dari uang yang diterima oleh desa adat. Bentuk berupa uang masuk laksana tiket yang mungkin tidak dikenakan pajak ini sering dikeluhkan oleh beberapa pejalan yang tiba-tiba datang ke pintu desa dan ditawari untuk membayar dan diberi penjelasan tentang asal-usul desa. Sayangnya, tak semua rela untuk membayar karena merasa tidak tahu (atau tidak mau tahu) imbal balik apa yang mereka akan terima. Maka aku melihat dari beberapa desa yang pernah aku kunjungi. Desa-desa ini tidak cukup mudah untuk dijangkau, namun tetap banyak orang yang ke sana.
Continue reading kenapa harus membayar ketika berkunjung ke desa adat yang bukan desa wisata?

anambas, mimpi indonesiaku

anambas1

Anambas. Seketika gugus kepulauan itu yang menempel di kepalaku ketika harus menjawab di mana tempat di Indonesia yang paling kepengin didatangi. Pertama kali mendengar nama kepulauan ini dari celotehan Yudi Febrianda ketika kami masih mengobrol-obrol saja dahulu sewaktu ia masih tinggal di tanah Jawa.

“Anambas, yuk!” begitu sering ajaknya. Mulanya aku tidak tahu di manakah itu? Namun nama Anambas terdengar begitu cantik diucapkan, seperti mengingatkan pada pulau kelapa pujaan bangsa sejak dulu kala. Maka aku percaya begitu saja apa kata Yudi, yang sudah kuanggap abang itu, yang menyatakan bahwa Anambas itu cantik. Kan Uda Yudi sudah bepergian ke mana-mana, jadi kalau ada saran bahwa sesuatu pulau itu indah, pasti benar adanya, demikian telanku mentah-mentah.
Continue reading anambas, mimpi indonesiaku

ramadhan itu istimewa

masjid istiqlal

Malam ini, seperti kebiasaanku di tahun-tahun sebelumnya sejak 12 tahun yang lalu mengadu nasib di ibukota, aku pulang terburu-buru untuk menunaikan ibadah sholat tarawih pertama bersama keluarga. Buatku pribadi, sholat tarawih pertama menjadi penting sebagai penanda masuknya bulan Ramadhan yang menjadi bulan yang istimewa.

Sejak pertama kali diperkenalkan dengan bulan Ramadhan sewaktu kecil, aku merasa bulan ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya sepanjang tahun. Pikiran anak kecil yang sederhana ini hanyalah kalau bulan puasa, mama tak akan ribut menyuruh aku makan (itulah kenapa badanku kecil). Setiap sore selalu ada penganan dan minuman segar lezat yang dihidangkan. Kami sekeluarga akan menunggu adzan magrib untuk berbuka bersama dan sholat magrib bersama-sama. Lalu aku akan bergerombol dengan teman-teman menuju masjid untuk (niatnya) sholat isya dan tarawih, walaupun kadang lebih sering bermain-main ketika orang dewasa sholat, dan hanya menghampiri penceramah untuk meminta tanda tangan dan cap masjid. Jika tidak lengkap, bisa-bisa nilai agamaku jatuh.
Continue reading ramadhan itu istimewa

gramedia central park : guilty pleasure

cover-logo-gramedia

Books loved anyone who opened them, they gave you security and friendship and didn’t ask for anything in return; they never went away, never, not even when you treated them badly.
― Cornelia Funke, Inkheart

Aku tercenung mendengar penjelasan mas Adit di Restoran Penang Bistro Central Park siang itu di acara peluncuran Gramedia Konsep Baru, Inspirasi yang Menghidupkan Ide Kamu. Gramedia Central Park tak lagi menjadi Toko Buku Gramedia, melainkan berubah konsep menjadi Toko Gramedia. Zaman yang telah berubah membuat gaya hidup masyarakat pun berubah. Gramedia kini tak lagi sekadar toko buku, namun juga mengembangkan suasana yang mendukung untuk menarik pengunjung lebih banyak lagi. Isi Gramedia pun dibuat selain menarik pembeli buku, juga produk-produk lain yang berkaitan dengan buku.

Dulu aku pernah membaca satu cerita di majalah Bobo, tentang seseorang yang membuka usahanya dengan menjual buku. Lama-lama ia juga menjual alat-alat tulis, keperluan lain-lain, hingga tokonya penuh dan jarang menjual buku. Pada suatu hari datanglah seseorang ke toko buku itu dan menanyakan satu buku tertentu. Penjualnya mengatakan ia tidak menjual buku itu, sehingga pengunjung tadi mempertanyakan, kenapa ia masih menamakan tokonya toko buku?

Cerita ini begitu kuat ada di benakku sampai-sampai langsung terlintas di pikiranku ketika Toko Buku Gramedia akan berubah konsep menjadi Toko Gramedia. Akankah nasibnya menjadi seperti ini? Pikiranku menjadi semacam tidak rela mendengar toko ini menjual panci di samping buku memasak, atau sepeda di samping buku-buku olahraga.
Continue reading gramedia central park : guilty pleasure

lima tahun tindak tanduk arsitek

cover-tindak-tanduk-arsitek

Katanya angka lima ataupun kelipatan lima itu mudah diingat. Lima dikali dua menjadi sepuluh, dan kelipatannya banyak dijadikan angka nominal yang berulang di mata uang. Lima menjadi setengah dari sepuluh, yang menjadi angka sempurna. Peringkat pun dihitung sampai lima besar. Masa emas anak-anak dan harus dipantau tumbuh kembangnya, lima tahun, ditandai dengan program posyandu dan balita. Maka dari itu, sebagai media tulis pribadi, blog yang ternyata mencapai angka lima tahun ini, dengan 160 post, ratusan komentar dan puluhan ribu pengunjung, sebenarnya masih harus belajar banyak lagi dari blog-blog yang lebih konsisten.

Awalnya membuat blog ini untuk menampung kegemaranku me-review. Karena sebelumnya aku suka sekali me-review buku di goodreads, berkaitan dengan profesiku, kenapa tidak aku mencoba me-review bangunan bukan seperti tulisan ala majalah, tapi lebih ke opini pribadi dan pendekatan personal. Karena itu yang menarik dari blog, pribadinya itu, ala-ala Indri begitu. Maka lahirlah Tindak Tanduk Arsitek ini. Meluas ke opini tentang ruang kota dan kegiatannya, juga transportasi umum yang menjadi moda berpindah sehari-hari, aku menemukan passion untuk menulis tentang hal-hal yang memang menarik perhatianku ini, karena bertahun-tahun aku pelajari.
Continue reading lima tahun tindak tanduk arsitek

peduli budaya lokal untuk pariwisata indonesia

DSC_0586

Hujan gerimis sejak sore mengiringi akhir hari pergantian tahun, kecipuknya ditingkahi oleh lari anak-anak yang bermain di lapangan. Suara petasan pun beradu dengan nyala kembang api, yang menerangi langit malam yang tak berbintang tertutup awan. Aku baru pulang dari pulau seberang, mengingat banyak hal yang kulalui di tahun ini, di mana aku sering melawat baik luar maupun dalam negeri.

Selamat malam Bapak Arief Yahya, Wakil Indonesia untuk mengembangkan potensi-potensi wisata di negeri ini, kepadanya aku titipkan surat untuk pariwisata Indonesia yang lebih baik di tangan anda, Menteri Pariwisata.

Halo Indonesia,
Perkenalkan aku Indri Juwono, seorang arsitek yang hobi berjalan-jalan menyusuri kota dan desa, mengamati lingkungan bangunan dan manusia, mengamati keistimewaan satu-satu daerah, bercerita lewat tulisan tentang tempat-tempat yang dilaluinya.
Continue reading peduli budaya lokal untuk pariwisata indonesia

gaya etnik di hari sabtu

image

Dress shabbily and they remember the dress; dress impeccably and they remember the woman.
― Coco Chanel

Buat freelance arsitek sepertiku, kadang-kadang memilih baju untuk bepergian di untuk suatu acara cukup memakan waktu. Maklum, namanya juga cewek, baju-baju yang mau dipakai harus menyesuaikan tempat, acara, dan jalur yang akan dilalui. Kalau acaranya santai-santai hore, aku suka memakai gaya santai juga namun tetap rapi. Kalau kita terlihat rapi dan oke, tentunya (calon) klien juga (semoga) percaya bahwa bangunannya akan dikerjakan dengan rapi pula olehku.

Mood hari itu menentukan pilihan warna yang akan dipakai. Sebenarnya tidak terlalu masalah bagiku karena mood warnaku untuk pergi hanya berkisar antara pink dan turunannya atau jingga dan turunannya. Jadi karena hari ini aku berniat memakai sepatu kedsku yang berwarna pink keunguan, jadi aku memilih padanan yang sesuai. Hari ini memang bukan acara bertemu klien, tapi mengikuti CampaignBlogger#4 yang diadakan oleh Campaign.com di sekitar Sudirman Jakarta. Dengan jarak yang lumayan ditempuh dari Depok, ditambah naik kendaraan umum pula, kuputuskan memakai gaya yang cukup nyaman dan santai.

Continue reading gaya etnik di hari sabtu