Tag Archives: lombok

hamparan hijau tembakau lombok

0-cover-tembakau-lombok

After some time he felt for his pipe. It was not broken, and that was something. Then he felt for his pouch, and there was some tobacco in it, and that was something more. Then he felt for matches and he could not find any at all, and that shattered his hopes completely.
― J.R.R. Tolkien, The Hobbit

“Hah, ke Lombok lagi?”
Begitulah kata mama yang baru berulang tahun ke 60 ketika aku mengutarakan undangan untuk ke Lombok. Sepertinya dalam jangka waktu kurang dari 2 tahun aku ke Pulau Seribu Masjid ini sudah tiga kali walau pun tidak ada urusan proyek apa pun. Okelah, namanya juga hobi piknik.

Ternyata, undangan ke Lombok kali ini bukan piknik, bukan ke desa adat, bukan snorkeling ke gili, bukan leyeh-leyeh di resort, apalagi bukan mendaki gunung Rinjani yang jelita, melainkan mengamati dari dekat bagaimana pertanian tembakau menghidupi masyarakat Lombok Timur. Sisi hamparan hijau dari pulau ini yang selalu nampak dari udara adalah kebun tembakau hijau yang mendominasi dari arah timur hingga selatan Pulau Lombok. Bukan hamparan kangkung seperti yang selama ini dibangga-banggakan sebagai ikon kuliner khas pulau (lalu tetiba perut teringat pada plecing kangkung yang pedasnya membuat berkeringat, segar sih!). Tapi karena jalan-jalan ini bareng dengan blogger-blogger lainnya yang sudah cukup terkenal di dunia maya, dan penuh canda tawa, maka sepertinya perjalanan ini mendekati piknik.
Continue reading hamparan hijau tembakau lombok

kenapa harus membayar ketika berkunjung ke desa adat yang bukan desa wisata?

0-bawamataluo

Beberapa waktu lalu, aku tergelitik ketika membaca beberapa keluhan tentang kunjungan ke desa adat yang dianggap ‘komersil’. Tidak satu dua kali keluhan itu muncul ketika sedang mencari data tentang kunjungan ke desa adat. Tuduhan itu semata-mata karena ada harga yang harus dibayar ketika ingin menginjakkan kaki ke dalam desa tersebut. Yang aku ingin tanyakan balik, memangnya definisi ‘komersil’ yang ada di pikiran-pikiran itu? Sembari membuka KBBI daring, ternyata yang ditemukan adalah kata ‘komersial’. Begini artinya :

komersil

Berarti, apabila suatu tempat dikomersialkan, berarti ada keuntungan yang diambil dari uang yang diterima oleh desa adat. Bentuk berupa uang masuk laksana tiket yang mungkin tidak dikenakan pajak ini sering dikeluhkan oleh beberapa pejalan yang tiba-tiba datang ke pintu desa dan ditawari untuk membayar dan diberi penjelasan tentang asal-usul desa. Sayangnya, tak semua rela untuk membayar karena merasa tidak tahu (atau tidak mau tahu) imbal balik apa yang mereka akan terima. Maka aku melihat dari beberapa desa yang pernah aku kunjungi. Desa-desa ini tidak cukup mudah untuk dijangkau, namun tetap banyak orang yang ke sana.
Continue reading kenapa harus membayar ketika berkunjung ke desa adat yang bukan desa wisata?

gili trawangan : living and tourism are coupled

DSC_0275

In any case, a little danger is a small price to pay for ridding a place of tourists.
― Tahir Shah, In Search of King Solomon’s Mines


Aku selalu menyesal memikirkan bahwa beberapa tahun yang lalu aku ke Lombok tapi tidak mampir Gili Trawangan apalagi mencoba snorkeling. Maklumlah dulu masih unyu dan belum banyak traveling (maksudnya, masih jadi traveler tingkat mahasiswa) dan belum bisa berenang. Makanya pas ada kesempatan ke Lombok lagi aku yang berencana tinggal hanya semalam di pulau ini jadi extend jadi dua malam. Tentunya supaya bisa menikmati one day tour snorkeling berkeliling beberapa point yang asyik di laut.

Gili (yang berarti pulau) Trawangan cukup mudah dicapai dari pulau Lombok atau Bali. Dari Lombok bisa menggunakan kapal kayu sedang yang berjalan tiap jam sepanjang hari dari pelabuhan Bangsal dengan tarif 15-20 ribu rupiah (kira-kira sesudah penyesuaian), atau mungkin speedboat dari beberapa operator hotel terkemuka di Lombok. Dari Bali banyak ditawarkan fastboat langsung ke Gili Trawangan melalui pelabuhan Padangbai dan harus mengecek jadwalnya terlebih dahulu.
Continue reading gili trawangan : living and tourism are coupled

little woodstock, pleasant stay at gili trawangan

cover

The human capacity for burden is like bamboo- far more flexible than you’d ever believe at first glance.
― Jodi Picoult, My Sister’s Keeper

Hujan deras di pelabuhan Bangsal menemani awal perjalananku ke Gili Trawangan. Pulau kecil yang sering menjadi destinasi wisatawan mancanegara ini menjadi tujuan istirahatku sesudah turun gunung. Perjalanan lewat air selama tiga puluh menit itu tiba di tepi pantai yang berpasir putih, dan sama sekali tidak hujan!

Aku menelepon pemilik Little Woodstock yang sudah ku-booking beberapa hari sebelumnya untuk menunjukkan arah menuju tempat penginapan tersebut. Tak lama kemudian, muncul satu karyawannya naik sepeda dan membawakan ranselku. Ternyata Little Woodstock tidak berada di tepi pantai seperti banyak penginapan lainnya, namun termasuk di tengah-tengah pulau. Aku memesannya lewat situs booking.com, dan berharap tempatnya secantik gambar-gambarnya.

Sekitar sepuluh menit berjalan kaki kami bertemu gerbang bambu di kanan dan di kiri.”Selamat datang di Little Woodstock..” sapa Pak Reza, pemilik tempat ini yang sedang bersantai-santai di bale-balenya. Bangunan-bangunan bambu berwarna kuning tertangkap mata di tengah taman dengan aneka warna yang cantik. Di sebelah kananku area resepsionis yang merangkap dapur dan tempat tinggal karyawannya. Pak Reza sendiri duduk santai sambil menonton televisi di sofa dan memperkenalkan diri. Keramahan seperti sedang berkunjung ke rumah teman rasanya.
Continue reading little woodstock, pleasant stay at gili trawangan

desa tradisional senaru, kunjungan pasca rinjani

cover

A village is a hive for a glass, where nothing unobserved can pass.
– Charles Spurgeon

Aku melihat gerbang desa ini tengah malam ketika kami turun dari gunung Rinjani di desa Senaru. Keesokan paginya ketika kami sudah beristirahat semalam, aku meluangkan waktu untuk mengunjungi desa yang berada di tengah permukiman biasa, namun dipisahkan oleh gerbang. Seolah ada dunia tersendiri di dalamnya.

Kami diterima oleh salah satu warga desa. Ia mengenakan sarung khas Sasak dan banyak bercerita. Di desa adat Sasak Senaru bangunannya masih menggunakan material maupun bentuk lokal. Hampir seluruh mata pencaharian dari kaum lelaki di sini adalah bertani, karena itu di siang hari suasananya tampak sepi.

Di bagian depan desa terdapat dua bale bersama. Bangunan dengan tiga tonggak utama di tengah ini dipergunakan untuk aktivitas bersama dari empat rumah yang ada di depannya. “Di sini digunakan untuk belajar bersama anak-anak, atau ibu-ibu yang mengobrol sambil bekerja mempersiapkan masakan, atau sering juga digunakan bapak-bapak untuk pertemuan. Duduk-duduk melingkar saja di atas dipannya itu, sambil membicarakan hal-hal yang dianggap penting,” jelas bapak penduduk asli itu.
Continue reading desa tradisional senaru, kunjungan pasca rinjani

renjana rinjani : jalan mengenali diri

cover

    Aku tidak pernah sampai puncak.

    Jam delapan tiga puluh pagi itu, ketika matahari mulai bangun dari balik punggungan puncak, ketika langit memantul di Danau Segara Anak di bawah, ketika tiupan menghantam tubuhku yang terseok-seok di jalur berpasir, aku menyerah.

    “Mas Sopyan, sampai sini saja,” ucapku gemetar sambil menahan tangis dan dingin. Satu jalur pendakian di depanku menuju puncak nampak 45 derajat di depan. Aku tak kuat lagi. Sudah hampir 6 jam kami berjalan dari Plawangan Sembalun, dan belum juga sampai titik pendakian akhir. Kakiku rasanya kaku untuk digerakkan.
    Continue reading renjana rinjani : jalan mengenali diri

renjana rinjani : menuju kabut di hening sang dewi

DSC_0542

Roads go ever ever on,
Under cloud and under star.
Yet feet that wandering have gone
Turn at last to home afar.
Eyes that fire and sword have seen,
And horror in the halls of stone
Look at last on meadows green,
And trees and hills they long have known.
– J.R.R Tolkien, The Lord of the Rings

Kami turun dari mobil Isuzu Panther bak terbuka yang dikemudikan Bang Mamad dari Dinas SAR Rinjani. Angin dingin menerpa wajah-wajah yang hendak mendaki gunung berketinggian 3726 mdpl itu. Di depan kami, lembah desa Sembalun dengan dengan latar belakang pegunungan Rinjani yang berdiri gagah. Aku menghirup udara segar pagi itu. Jay merapatkan jaketnya, dingin rupanya juga menggigit kulitnya yang tebal itu.

Membuka bekal yang kami beli tadi di desa Aikmel, kami bersama-sama sarapan dengan lahap. Untuk mendaki Gunung Rinjani, kami ditemani oleh Budi dan Sopyan yang bertindak sebagai porter dan guide yang akan mengawal perjalanan kami. Sebenarnya kami hendak ditemani oleh Bang Icin, yang menjadi narahubung awalku dari Pancor, Lombok Timur. Bang Icin, pendiri tim SAR Rinjani, sudah mendaki gunung cantik itu lebih dari 100 kali. “Kalau Bang Icin ikut, jalannya cuma 2 jam hingga pos 3,” kata Sopyan. “Memang seharusnya berapa jam?” tanyaku. “Yah, kira-kira 5 jam, lah,” jelas pemuda berperawakan kecil itu.
Continue reading renjana rinjani : menuju kabut di hening sang dewi