tugu hotel : tepian lombok utara menatap rinjani

DSC_0325_01

“In, temenin ke Lombok, yuk! Nginep di Hotel Tugu, arsitekturnya bagus, loh..,” ajak Vira, salah satu founder indohoy.com yang kukunjungi malam itu di apartemennya sambil mengembalikan adaptor. Eh, Lombok? Baru 10 bulan yang silam aku mengunjungi pulau itu mendaki gunung Rinjani dan berkeliling. Tapi tawaran Vira amat menggoda iman untuk kembali ke pulau seribu masjid itu. Jaringan Hotel Tugu yang dikenal sebagai heritage boutique hotel dan sering memasukkan unsur budaya di bangunan maupun materialnya, membuatku tertarik untuk melihat bagaimana bahan-bahan kuno masih relevan dimasukkan ke masa kini. Dua hari kemudian aku menyetujui untuk bertemu Vira di Lombok pada awal Oktober.

Pulau Lombok terlihat amat sepi ketika aku tiba hampir tengah malam itu. Seorang supir yang menjemputku, bernama Pak Lalu membawaku ke kompleks hotel Tugu sejauh hampir 2 jam dari Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah. Menuju ke utara, Pak Lalu lincah membawa kendaraannya melalui Monkey Forest, salah satu hutan yang menarik juga di dataran tinggi Lombok. Sebenarnya ada jalan lain ke sini, yaitu melalui tepian pantai Senggigi, namun agak memutar sekitar 15-20 menit.

Kami berkendara terus ke utara sampai Pak Lalu menunjukkan simpang arah Pelabuhan Bangsal, tempat naik kapal menyeberang ke Gili Trawangan. Berbelok ke kanan, tak lama kemudian muncullah patok arah bertuliskan Hotel Tugu. “Pantai ini namanya Pantai Sire, di Lombok Utara” sambil menyetir Pak Lalu memberitahuku. Mobil memasuki jalan desa yang berpasir, melalui satu kampung yang penduduknya sudah tertidur, kemudian melalui satu dinding yang di sampingnya terdapat deretan pohon kayu berwarna putih, baru kami memasuki gerbang berhenti di depan bangunan lobby. Karena mengantuk, aku langsung tidur begitu memasuki kamar yang sudah terisi terlebih dahulu oleh Vira.

Pagi-pagi kami dibangunkan oleh alarm ponsel dan petugas resepsionis yang mengingatkan Breakfast by the Sea. Yes, pagi ini kami akan sarapan di tengah laut dengan perahu naga dan menikmati pemandangan seputaran Gili Air. Setelah berpikir lama memutuskan mau pakai baju warna apa supaya bagus difoto (buat aku dan Vira, hal ini penting banget!), kami berjalan santai ke arah pantai yang berpasir putih. Wah, di pantai terdapat beberapa gazebo bambu untuk memandang laut dengan santai. Memandang ke arah timur, puncak Rinjani berdiri anggun di tengah pegunungan sekitarnya, dengan lautan sebagai latar depan. Semburat lembayung membias menunggu matahari yang masih bersembunyi di baliknya.

perahu naga dan rinjani

perahu naga dan rinjani

Kami disambut oleh Mas Januar yang membawakan minuman pesanan, jus stroberi untukku dan jus semangka milik Vira. Bebarengan dengan mbak Era sebagai Public Relation Hotel Tugu dan dua orang staffnya, kami berlima menaiki kapal kayu dengan hiasan kepala naga yang ada di depannya. Aku naik ke lantai atas beralas datar yang sudah dialasi kasur empuk untuk kami bersantai-santai.

Perahu Naga Mesem ini dibuat terinspirasi oleh kisah cinta antara Dewi Anjani yang turun dari puncak gunung Rinjani untuk berdoa di pantai, namun jatuh cinta pada pangeran Naga Laut yang memikatnya dan tidak kembali ke puncak lagi. Batara Guru yang merasa kecewa, meminta Dewa Surya dan Dewa Bayu untuk memikat sang Dewi untuk kembali ke puncak, namun tidak berhasil. Akhirnya dibuatlah perjanjian untuk menceritakan kisah cinta ini secara turun temurun. Hotel Tugu membuat perahu Naga Mesem ini sebagai perlambang cinta pasangan yang mengendarainya.

bersiap mengarung

bersiap mengarung

Kapal melaju dengan kecepatan rendah dibantu oleh motor tempel yang menderu. Di timur sana, perlahan-lahan matahari mulai naik. Kami berputar memandang Gili Air yang tidak terlalu jauh. Udara pagi cukup berangin menghembuskan kesejukan di geladak datar itu. Tidak terlalu banyak nelayan dari perairan sekitar yang berputar-putar mencari ikan.

Sarapan kami adalah tiga butir telur yang dibuat omelet dipadu dengan roti dan garnis segar. Ketika perlahan matahari mulai menampakkan diri dari balik Rinjani, kami mulai menyantap telur dengan tambahan sedikit merica. Kata orang, udara laut gampang membuat perut terasa lapar. Benar juga sih, tak lama kemudian dua potong roti dan omelet itu sudah berpindah ke perutku.

sarapan di laut

sarapan di laut

dituntun naga

dituntun naga

Kami ditunjukkan Bay Rocks, tempat pembudidayaan terumbu karang yang juga diprakarsai hotel Tugu. Sayang, tempatnya tertutup satu tongkang kecil yang mengapung di atasnya.
“Kami boleh nyemplung ke situ, mas?” tanya Vira. “Nanti sore saja, mbak. Kapalnya ada jadwal mau dipakai lagi,” jawab mas Januar. Okelah, berarti nanti sore kami kembali lagi.

Tiba di daratan, aku dan Vira disambut Hanny salah satu petugas yang bertugas menjelaskan isi hotel Tugu pada kami. Lahan seluas enam hektar itu diisi oleh berbagai macam fungsi bangunan untuk mengakomodasi kebutuhan hotel. “Saat ini kami sedang mengadakan pembangunan di ujung timur, nanti bisa dilihat,” jelas Hanny yang pagi itu mengenakan kebaya berwarna merah.

“Bangunan Lobby Ampenan ini dulu adalah kepunyaan seorang melayu bernama Haji Abdul Kodir, yang direlokasi ke sini. Asalnya dari daerah Ampenan yang berada di pusat kota Mataram. Dulu warga asli maupun pendatang hidup berdampingan sehingga rumah Melayu ini disewa oleh seorang Cina hingga datang Belanda yang mengkotak-kotakkan etnis dan dipisah menjadi Kampung Cina, Kampung Arab, Kampung Melayu. Karenanya, rumah ini rencana dipindahkan sesuai dengan lokasi etnis yang ditentukan, namun entah kenapa tidak jadi pindah. Beberapa tahun yang lalu Pak Anhar pemilik grup hotel Tugu membeli rumah ini untuk dirakit kembali di sini, di Pantai Sire,” Hanny menerangkan asal muasal bangunan etnik ini.

drop off dan lobby ampenan

drop off dan lobby ampenan

jalur menuju lobby ampenan

jalur menuju lobby ampenan

Aku menebak umur bangunan ini pasti sudah lebih dari 100 tahun. Zaman dahulu, orang hanya menebang pohon ketika cukup umur untuk ditebang sehingga kayu yang dihasilkan bisa tahan lama. Sistem pengawetan tradisional pun membuat kayu-kayu tua ini tak mudah lapuk ketika dipindah, dibongkar dan dipasang kembali. Lantai bangunan dari tegel kuno baik polos dan dikombinasikan dengan tegel bercorak. Terdapat beberapa dinding pembatas rendah yang berlapis keramik biru, mengingatkan pada motif cina.

beranda lobby

beranda lobby


tegel yang mendominasi

tegel yang mendominasi

perpustakaan santai

perpustakaan santai

Di depan konter resepsionis ada rantang kaleng yang besar sebagai pajangan. Di depannya ada dua set sitting groups berisi meja dan dua buah bangku. Hanya dua? Ya tentu, karena pasar utama hotel ini adalah pasangan yang mau honeymoon, mencari tempat tersembunyi yang indah dan romantis. Di salah satu sudut terdapat perpustakaan dengan buku-buku berbahasa Inggris baik novel maupun travel guide untuk ke daerah-daerah sekitar.

waiting area

waiting area

koleksi perangkat lawas yang dipajang

koleksi perangkat lawas yang dipajang

kuda-kuda kayu asli direkonstruksi

kuda-kuda kayu asli direkonstruksi

pintu lawas

pintu lawas

Hanny mengajak kami melalui Jembatan Singa Barong, yang menghubungkan area bangunan lobby dengan area hotel. Jembatan ini berdiri di atas kolam besar dengan air mancur dengan material lantainya kayu tersusun. Tiang-tiangnya didominasi warna hijau dengan ukiran barong. Atap jembatan yang berlapis rumbia ini diberi hiasan ujung wuwungan berupa ukiran singa barong dari batu.

singa barong

singa barong

menyeberangi jembatan

menyeberangi jembatan

Kami memasuki bangunan terbesar di kompleks hotel ini, yaitu Bale Kokok Pletok yang difungsikan sebagai restoran. Di tiang-tiangnya dihiasi dengan patung Dewi Sri yang langsing dan anggun. Alkisah, Dewi Sri dan kakaknya dikutuk menjadi ular dan ayam karena tidak mau tinggal di istana. Karena ia berkelakuan baik, Sang Hyang Jagadnata membebaskan Dewi Sri dari kutukan ayahnya dan dijadikan dewi kesuburan. Perlambang ini dianggap cocok untuk menemani pasangan yang berbulan madu di sini. Bale ini tingginya wuwungannya hampir 10 meter dan terbuka langsung ke arah lapangan hijau dan kolam renang yang berada di depan dan sampingnya. Lantainya dari batu bata yang disusun bersilangan. Ada beberapa set kursi di sini, yang paling banyak adalah kursi kayu. Menghadap kolam renang, ada kasur dengan bantal-bantal yang menggoda kami untuk tidur-tiduran bermalasan sambil menikmati jus menghadap kolam renang. Pahatan kepala ayam dan ular yang menutup ujung wuwungan mengingat kisah Dewi Sri ini.

bale kokok pletok

bale kokok pletok

dewi sri perlambang kesuburan

dewi sri perlambang kesuburan

area makan yang hangat

area makan yang hangat

langit-langit tinggi untuk sirkulasi udara yang nyaman

langit-langit tinggi untuk sirkulasi udara yang nyaman

bantal menghadap kolam, hmm...

bantal menghadap kolam, hmm…

Hanny mengajak aku dan Vira ke Loro Jonggrang Bar yang berada di samping Bale Kokok Pletok. Konsep ruangan ini sama dengan Restoran Loro Jonggrang yang di Jakarta. Di sini terdapat banyak gambar-gambar Loro Jonggrang yang berwajah hitam, dan juga Bandung Bondowoso si peminang putri yang gagal. Restoran ini lebih ramai di malam hari, menyajikan masakan nusantara maupun barat. Atapnya juga dari rumbia yang belum diganti sejak tahun 2008. “Kalau di restoran ini atapnya belum pernah diganti, sementara lobby Ampenan sudah pernah diganti sekali tahun kemarin,” kata Hanny. Material tradisional ini memang memberikan udara sejuk di bawahnya, namun juga mengundang binatang-binatang kecil juga. Karenanya untuk area kamar menggunakan atap sintetis. Di depan Loro Jonggrang terdapat area ‘Pasar Malam’ yang kalau tahun baru digunakann untuk acara bakar ikan dan lain-lain oleh tamu-tamunya. Di sampingnya ada dapur kecil yang bisa digunakan sebagai cooking class tamu-tamu hotel yang berminat.

Loro Jonggrang Bar & Pasar Malam

Loro Jonggrang Bar & Pasar Malam

Jonggrang yang berwajah hitam

Jonggrang yang berwajah hitam

sudut bandung bondowoso

sudut bandung bondowoso

Kami masuk ke villa pertama, Bhagavad Gita yang berarti nyanyian surga. Dari lorong dibatasi dengan gerbang berpintu kayu dan halaman sepanjang 8 meter, baru sampai pintu bangunan eksklusif ini. Di depannya ada teras kecil dengan bangku pendek yang sengaja diletakkan untuk mengingat masa kecil di situ. Pintunya ganda dengan material kayu dicat duco putih dengan krepyak di bagian atas. Uniknya, engsel yang dipakai pun berukir cantik! Kami memasuki ruangan besar itu dengan tempat tidur kayu besar berbentuk ambin dan tiang-tiang dengan kelambu putih melengkung yang digantung pada kuda-kuda.

Kamar mandinya memanjang dengan bathub batu di ruang terbuka dan pancuran bambu. Dinding-dinding kamar mandi pun terbuat dari bambu yang berjajar. Di dalamnya didominasi warna hijau untuk dinding dan marmer putih untuk meja lavatory. Tempat ini sangat cocok untuk menyendiri dan menikmati kedamaian untuk pasangan yang berbulan madu tanpa terganggu lingkungan sekitar.

gerbang bhagavad gita

gerbang bhagavad gita

halaman depan villa

halaman depan villa

empat tiang dan kelambu

empat tiang dan kelambu

ruang duduk

ruang duduk

cermin besar

cermin besar

kamar mandi terbuka

kamar mandi terbuka

Villa kedua yang kami masuki dinamakan Aloon-Aloon. Areanya mengitari satu tanah lapang sesuai dengan nama villanya. Karena areanya di dalam, di setiap villa ini terdapat private tropical garden yang bisa dinikmati tanpa terganggu orang lalu lalang. Setelah memasuki gerbangnya ada daybed dan meja kayu untuk duduk-duduk di luar. Tempat tidurnya berupa dipan rendah dengan kelambu yang digantung. Ada cermin kayu ukir juga untuk memacak diri, juga sitting groups dan televisi. Kamar mandinya didominasi warna hijau dengan bathub bulat dari bahan tembaga.

beranda aloon-aloon

beranda aloon-aloon

ruang duduk dan cermin besar

ruang duduk dan cermin besar

dipan tanpa tiang

dipan tanpa tiang

kamar mandi hijau

kamar mandi hijau

Kami berjalan ke arah tengah melintasi tanah lapang besar di samping bangunan spa. Ada bale pertemuan yang sedang dibangun untuk event-event pernikahan. “Bangunan ini berasal dari Cakranegara, baru direkonstruksi di sini,” kata Hanny menunjukkan Sang Hyang Barong Temple. Dilihat dari kayunya yang cukup tua, tampak pekerja sedang menghaluskan beberapa bagiannya. Ada meja makan yang diset rapi lengkap dengan segala peralatan makannya. Kursi-kursi kayu tua pun berjajar di belakangnya.

sang hyang barong temple

sang hyang barong temple

kuda-kuda berukir asli direkonstruksi

kuda-kuda berukir asli direkonstruksi

persiapan jamuan makan

persiapan jamuan makan

Di belakangnya ada koridor dengan villa-villa berjajar yang kami masuki salah satunya. Rupanya villa ini untuk keluarga, karena selain satu bed besar pada ruang utama, ada juga sepasang bed di kamar di baliknya. Cocok untuk berlibur bersama-sama di sini. Antara kamar anak dan kamar utama dihubungkan dengan kamar mandi yang menghadap area terbuka. Tepat di belakangnya ada beranda untuk duduk-duduk sekadar minum teh.

tempat lilin di atas batangan

tempat lilin di atas batangan

tempat tidur utama

tempat tidur utama

tegel cap dan tempat tidur anak

tegel cap dan tempat tidur anak

ruang duduk dan lemari gantung bertirai

ruang duduk dan lemari gantung bertirai

Di ujung dekat villa ada beberapa kamar lagi yang sedang dibangun dan belum difungsikan. “Pak Anhar menyimpan banyak koleksi dari Kampung Cina di Ampenan di sini,” kata Hanny sambil menunjukkan beberapa barang yang dipajang di situ. “Kampung Ampenan ini dikonsepkan seperti rumah-rumah Cina, dengan koridor penghubung di bagian depannya untuk sirkulasi. Gawangan bulat ini juga terinspirasi oleh lokasi di Lombok.”

perangkat dari daerah ampenan

perangkat dari daerah ampenan

Kamarnya tidak terlalu besar dibanding villa sebelumnya, dengan dinding didominasi warna biru laut. Dipan kayu dengan kelambu berada di tengah ruangan dengan meja dengan ukiran khas Cina. Kamar mandi masih menggunakan bathub bulat dengan keramik warna hijau. Warna merah yang digunakan sebagai aksen memberikan pengaruh kuat untuk ruangan ini.

gawangan bulat

gawangan bulat

kelambu gantung

kelambu gantung

Villa terbesar yang kami lihat adalah Sang Hyang Jagadnata. Terletak di tengah-tengah di samping Sang Hyang Barong Temple, gerbangnya adalah sepasang tiang tinggi berwarna putih di depan patung Mahesa Sura. Kami disambut patung Buddha tidur di dalam ruangan dan satu bed besar dengan aksen warna merah. Terasa sekali sentuhan Cina di sini. Tempat tidur besar itu menghadap ke satu private pool yang besar dan menghadap langsung ke laut. Kelambu biru yang menggantung mengingatkanku pada the blue lotus di komik Tintin karya Herge. Di satu sudutnya ada patung Rama dan Sinta berduaan yang diyakini bisa meningkatkan kemesraan pasangan. Furnitur di kamar ini cukup indah. Ada satu kursi kayu penuh dengan ukiran yang rumit sengaja dihadirkan di sini. Walk-in closet dengan partisi kisi-kisi berwarna merah memberi aksen suasana temaram.

pintu masuk

pintu masuk

tempat tidur menghadap kolam

tempat tidur menghadap kolam

kursi ukir

kursi ukir

kolam renang privat

kolam renang privat

Kembali ke luar, kami menemukan ukiran besi bermotif Lembu pada pintu masuk gerbang area President Suite ini. Selera Pak Anhar terhadap kekayaan budaya nusantara ini diterapkan di berbagai lokasi, tidak hanya sebagai ornamental belaka. Lampion-lampion besar pun bergantungan di lapangan sekeliling area villa ini.

pintu lembu sura

pintu lembu sura

Kami kembali ke kamar tempat kami beristirahat di Kampong Lombok Bungalows. Bangunan dengan dua bed ini dilengkapi dengan furnitur unik. Kayu bulat untuk tempat tidurnya yang tinggi dan disusun acak untuk headboardnya. Pertama melihatnya di malam sebelumnya, aku jatuh cinta pada bentuk bed ini. Kami berlompatan ke tempat tidur masing-masing untuk beristirahat menunggu aktivitas sore nanti yang pasti tidak kalah seru. Hmm, tempat ini selain cocok untuk honeymoon, juga cocok untuk melarikan diri sejenak dari aktivitas sehari-hari. Apalagi di malam purnama seperti sekarang.

kamar duo

kamar duo

bathub mandi

bathub mandi

beranda luar

beranda luar

HOTEL TUGU LOMBOK
Location : Sire Beach, Lombok
Jl. Pantai Sire, Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung,
West Lombok –INDONESIA

Telephone : (62 – 370) 6120111
Facsimile : (62 – 370) 6120444
E-mail : lombok@tuguhotels.com
Website : www.tuguhotels.com
GPS point : 8°21’50.18″ S 116°06’37.91″ E elev 12 ft

lombok 7-9 oktober 2014 | ditulis 17 oktober 2014 | 00:30
cerita Tugu selanjutnya : pantai matahari hingga purnama

Advertisements

14 thoughts on “tugu hotel : tepian lombok utara menatap rinjani

  1. mumun indohoy says:

    Cerita detail hotelnya seru banget ya. Gua selalu kagum sama integritas grup Tugu untuk mempertahankan budaya Indonesia dan barang-barang antik. Haduh hotel itu seru banget ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s