melanglang wangi rumah atsiri

“Penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia. Dunia ini sesungguhnya dunia aroma.”

Dewi Lestari, Aroma Karsa

Apakah kamu termasuk orang yang punya impian untuk bahagia di tengah padang bunga, berlari-larian sambil menghirup wangi bunga yang menguar? Kemudian dihempaskan tubuhmu pada padang ilalang, sembari menunggu senja menjelang. Di Rumah Atsiri, perasaan bahagia itu muncul begitu lekas, seperti pemantik akan hormon oksitosin untuk bekerja dalam tubuh, memberikan rasa nyaman dan bahagia.

Masuklah dalam area aromatic garden, di mana aneka wewangian dapat dicium dan diraba bukan dari hasil olahannya, melainkan langsung dari tanaman aslinya. Mungkin tidak hanya Jati Wesi dan Tanaya Suma dalam novel Aroma Karsa yang bisa memilah wangi base hingga top dari sebuah parfum yang diciptakan, tetapi paling tidak ada aroma-aroma khas yang diciptakan untuk dikenali oleh indera kita.

Sebut pertama lavender di pojokan luar aromatic garden. Nuansa ungu dan baunya yang bernuansa misterius dipercaya selain bisa menghindarkan serangga. Aroma bunga ini juga dikatakan membantu mengurangi stres, kecemasan, dan bahkan mungkin rasa sakit ringan. Juga terdapat rosemary yang juga berada di sekeliling dinding green house yang kelak akan bergerumbul. Selain di aromatherapy, rumpun rosemary ini juga bagus untuk pertumbuhan rambut dan menurunkan kadar gula dalam darah.

Di dalam green house, yang berjalur dengan jalur kayu naik turun dengan berbagai harum menyergap seketika ketika memasukinya. Bunga-bunga melati belanda, aroma kayu pinus yang segar mawar yang mewangi juga berbagai semerbak yang sulit diurai satu-satu oleh indera penciuman ini.

Arsitektur bangunan green house ini juga tergolong unik. Alih-alih berbentuk kotak dengan satu bubungan seperti rumah seperti persemaian lainnya,malah dibuat bentuk arsitektur seperti jengki. Dengan struktur baja dan ditutup dengan lapisan polikarbonat, green house ini bisa memasukkan sinar matahari ke dalam dan membuatnya hangat, namun tetap terlindung angin. Dengan celah di antara tumpukan polikarbonat, bisa mengalirkan udara luar, juga melindungi dari hujan. Kelak jika tanaman di sini sudah kuat, bisa dipindahkan ke media yang ada di untuk berkembang sebagaimana mestinya.

Selasar kayu yang juga menjadi focal point, memiliki node di beberapa tempat, berhiaskan juga dengan aneka bunga dengan wewangiannya sendiri. Katanya kalau malam hari, area ini bisa dipesan untuk dinner romantis. Pastinya akan jadi tempat indah untuk mengutarakan lamaran. Untung kami sudah menikah ketika mengunjugi tempat ini, jadi tinggal melanjutkan hidup saja.

Tanaman-tanaman di rumah atsiri tidak selalu dalam kondisi bergerumbul dan rimbun. Beberapa tempat juga masih baru keluar dari persemaian, sehingga tidak mirip di brosur. Hal ini amat wajar, karena tanaman memiliki umur kapan ia harus diperbaharui.

Keluar dari sini, tidak menjejak tanah melainkan melalui selasar gantung panjang menuju bangunan utama, yaitu bekas pabrik Citronella yang kini menjadi galeri. Di antara gedung dan selasar terdapat ruang besar untuk berkumpul. Gedung lama ini tidak besar, namun memiliki bentuk ventilasi unik dari penyusunnya yang membuat di dalamnya hanya perlu pengudaraan alami.

Singgah di ruang di mana terdapat banyak produk dari Rumah Atsiri yang ditata cantik dalam rak-rak, seperti sabun, lilin, essential oil yang menguarkan aroma-aroma sedap menenangkan. Barang-barang ini adalah hasil dari kebun milik Rumah Atsiri yang berada di balik kompleksnya.

Dahulu, bangunan ini adalah pabrik penyulingan citronella atau sereh yang tapaknya berada di Desa Plumbon Tawangmangu ini dan merupakan salah satu kerja sama ekonomi Indonesia dengan Bulgaria.

Tahun 2015, PT Rumah Atsiri Indonesia mengambil alih lahan tersebut dan menghidupkannya kembali menjadi kompleks edu-rekreasi yang juga mencakup fasilitas MICE, penelitian & pengembangan, dan pasar minyak esensial.

Aku menuruni tangga yang berada di balik toko tersebut, melewati beberapa ruang-ruang workshop pada area mezanin. Sayangnya, karena kami datang terlalu sore, semua kelas workshop sudah berakhir. Interiornya didominasi kayu yang apik, sehingga memberi kesan hangat pada Tawangmangu yang dingin.

Voila, ternyata di ujung tangga terhampar taman marigold yang indah. Puluhan petak tanaman tertata tapi, bunga-bunga berwarna kuning keemasan tertata rapi di antara batang-batang pohon pinus yang sudah eksis berada di situ belasan tahun lamanya.

Memasuki Marigold Plaza tak hanya tumbuhan bunga kekuningan itu saja yang tampak, tapi juga deretan bunga kenop berwarna ungu pada sisi lainnya. Tentu saja, bunga ini juga bermanfaat sebagai penyembuh sakit batuk dan pilek, juga bisa dicampurkan ke dalam teh.

Meskipun kami  tidak bisa masuk ke museumnya karena kuota sudah penuh, eksterior luarnya masih indah untuk dinikmati. Kolam cermin  yang berada di samping lorong museum, menjadi batas antara taman dan bangunan. Bangunan pabrik yang masih asli dengan detail ventilasinya yang unik, yang sekarang digunakan sebagai museum yang bercerita tentang proses penyulingan di dalamnya. Aku berjanji kelak aku akan kembali untuk menikmati masuk museum yang cantik ini.

Berdiri bangunan baru di sebelahnya, yang difungsikan sebagai kafe pada bagian dasar, juga punya beberapa private room. Di lantai dua, juga terdapat ruang-ruang pertemuan yang bisa digunakan untuk gathering. Dan berlanjut ke lantai tiga, ruang terbuka besar yang beratapkan tenda. Yang unik dari sini adalah pada fasade yang menghadap ke Marigold Plaza, keseluruhannya menggunakan jendela nako. Bahkan pada tangga putarnya pun juga menggunakan sistem yang sama. Nako ini tentu memberikan pertukaran udara yang alami ketika dibuka, juga memberikan facade unik di depannya.

Jika ingin pengalaman lebih, bisa menjajal glamping di bagian belakang, dengan semua paket experience di Rumah Atsiri. Tentu saja dengan perjanjian terlebih dahulu yang bisa dilihat di rumahatsiri.com.

Sudah hampir gelap ketika kami meninggalkan Rumah Atsiri, yang berangin dan menguarkan wangi lavender pada bagian parkirnya. Area ini tutup pukul 17.00 dengan suasana sepi.

Catatan :

Kami menggunakan petunjuk google map dari pintu tol Karanganyar-Solo untuk sampai di sini, karena kami memilih alternatif 1, yang ternyata melewati Astana Giri Bangun dan jalannya kecil cukup berliku-liku. Ketika pulangnya lewat jalan raya Tawangmangu menuju Solo, ternyata jalannya cukup besar dan nyaman. Untuk kemudahan sepertinya lebih baik ambil alternatif Jl Raya Tawangmangu saja.

Perjalanan  8 Januari 2022

Ditulis di Solo-Surabaya dan akhirnya Tangerang 13 Februari 2022

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.