graffiti restaurant : meet the hours

DSC_0587

Love, like a chicken salad or restaurant hash, must be taken with blind faith or it loses its flavor.
Helen Rowland

Perlu 15 menit bagiku untuk menyetir dari persimpangan Lebak bulus di depan PoinSquare dan Carefour untuk sampai di Hotel Mercure, tempat restoran Graffiti berada. Menerima undangan dari kak Olyvia Bendon untuk menemaninya bersantap malam di sana, aku tiba di lobby hotel yang ditata hangat dengan lampu bernuansa kuning. Ada satu pembatas unik dari besi yang bernuansa bulat-bulat dengan jarum jam. Wah, banyak waktu di sini.
Continue reading

Advertisements

sejenak di kuala lumpur sentral: berhenti di titik silang ganti

cover

Think of life as a terminal illness, because if you do, you will live it with joy and passion, as it ought to be lived
~ Anna Quindlen

Panas menyengat ketika aku mendarat di bandara LCCT siang itu di hari terakhir bulan Agustus 2013 hampir jam 11 siang waktu setempat. Bermodal tiket promo yang kubeli sembilan bulan sebelumnya, akhirnya aku nekat pergi ke Malaysia seorang diri. Hore! Akhirnya pasporku berstempel juga. Benar, ini perjalanan ke luar negeriku yang pertama. Pikirku, kalau aku survive dengan transportasi Jakarta, kenapa di sini enggak?

Aku menghampiri shuttle bus yang terparkir berderet-deret di luar menuju terminal KL Sentral. Setelah menunjukkan pembayaran, aku memilih satu kursi di tepi jendela. Jalan tol tampak lengang dengan deretan pohon kelapa sawit di tepinya. Uwow, ini toh negeri jiran tempat berbondong-bondong perempuan dari negeriku mengadu nasib. Hampir satu jam di bus ketika memasuki kota Kuala Lumpur, dengan terowongan dan jalan layang di sana sini, dan gedung-gedung apartemen menjulang.

Aku mengecek ke googlemaps untuk tahu posisiku sudah sampai mana. Yes, I’m the googlemaps girl! Sebelum memutuskan untuk get lost ada baiknya mengetahui di mana lokasi terakhirku. Aku mengirim pesan lewat LINE ke seseorang di tanah air. “Udah sampai KL, nih!”

Bis memasuki area bawah tanah KL Sentral. Di sini berderet berbagai bus ke beberapa tujuan di Kuala Lumpur. Sebelumnya Muhidin, salah satu teman kuliah yang sekarang bekerja di Petronas, mengatakan,”Lo nanti turun di KL Sentral, Kuala Lumpur Sentral. Itu terminal keren banget, In. Kayak bandara!”
Continue reading

pancake bersama sahabat

Pancakes-quote

Love is a bicycle with two pancakes for wheels. You may see love as more of an exercise in hard work, but I see it as more of a breakfast on the go.
― Jarod Kintz, This Book is Not for Sale

Sebenarnya aku bisa memasak pancake sendiri di rumah. Aku punya alat khususnya, kok. Mmm, maksudnya, aku punya wajan datar berdiameter 12 cm untuk mengubah adonan telur, terigu, gula dan susu itu berubah menjadi selapis pancake yang tinggal disiram sirup maple atau susu cair untuk dinikmati sendiri. Kalau kamu pernah membaca buku Pippi si Kaus Panjang karangan Astrid Lindgren, selalu ada adegan Pippi memasak pancake (diterjemahkan sebagai panekuk) untuk dimakan bersama Thomas dan Annika. Jika tidak dimakan di Pondok Serbaneka, mereka membawa panekuk ini untuk piknik di hutan.

Kalau akhirnya aku ingin makan pancake bersama Firsta dan kak Olive, masa iya mereka harus jauh-jauh ke rumahku di Depok? Lebih baik kami ketemuan di tengah kota saja, karena harus disadari bahwa DKI Jakarta ini propinsi, yang pasti akan memakan waktu untuk mencapai tempat satu sama lain. Posisi Firsta di Jakarta Timur, dan kak Olive di Jakarta Selatan, sementara kantorku di Jakarta Pusat, membuatku memilih tempat janjian di tengah-tengah. Mumpung Firsta sedang di Jakarta juga. Sesama traveler seperti kami ini, agak sulit mendapatkan janji temu yang agak pas.
Continue reading

mengejar merah di pecinan semarang

cover

If there is beauty in character, there will be harmony in the home. If there is harmony in the home, there will be order in the nation. If there is order in the nation, there will be peace in the world. (Chinese Proverb)

“Aku pernah tinggal lima tahun di kota ini!” begitu selalu kubilang setiap orang bertanya, kenapa aku tahu jalan-jalan kota Semarang. Sejak TK hingga kelas tiga SD, aku tinggal di kawasan Karang Ayu, di Semarang Barat, tak jauh dari bandar udara Ahmad Yani. Masa yang cukup lama tinggal di kota ini, membuatku memiliki banyak kenangan menarik di sini.

Seperti pernah aku baca di beberapa buku sejarah, Semarang adalah salah satu kota pelabuhan yang boleh didarati oleh pedagang dari Cina, selain kota Lasem di sebelah timurnya. Mengawali acara jalan-jalan di kota Semarang untuk mempelajari jejak-jejak Cina di kota ini, bisa diawali dengan mengunjungi Klenteng Sam Poo Kong, yang terletak tak jauh dari Tugu Muda Semarang.

Sewaktu kecil, aku sering diajak ayahku untuk bermain-main di halaman klenteng ini. Aku ingat, dulu aku selalu girang kalau diajak ke Gedung Batu, nama lain dari Klenteng Sam Po Kong. Tempat ini adalah salah satu tempat kenangan masa kecilku. Karena itu, ketika teman-teman dari goodreads Semarang dan Jogja janjian untuk bertemu di klenteng ini pada tahun 2011 lalu, aku senang sekali. Jam 10 pagi terasa panas terik ketika kami mulai berkeliling masuk halaman klenteng ini.

Continue reading

bandara ngurah rai : sudah cukup?

cover

People who meet in airports are seventy-two percent more likely to fall for each other than people who meet anywhere else.
― Jennifer E. Smith, The Statistical Probability of Love at First Sight

Jam sembilan pagi waktu setempat, pesawatku menjejakkan roda-rodanya di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali. Di bandara yang terlihat besar ini, ternyata terminal kedatangan domestiknya tidak terlalu besar, hanya ada 4 conveyor berjalan untuk mengeluarkan barang-barang dari bagasi. Tanpa ada petunjuk yang jelas carousel mana yang akan mengeluarkan dua ransel kami di pesawat Air Asia yang baru saja tiba dari Yogyakarta ini, kami mondar mandir sampai akhirnya terlihat si wortelku yang bersarung hitam dan ransel merah Jay yang tergolek di ban berputar itu.

Aku menanyakan ke petugas transit Merpati, apakah ada bis yang bisa membawa kami langsung ke terminal keberangkatan, karena tadi kelihatannya jauh pikirku.

Continue reading

kuta beachwalk : oase hijau dan air di tepi pantai

cover

If the sky, that we look upon
Should tumble and fall
All the mountains should crumble to the sea
I won’t cry, I won’t cry
No, I won’t shed a tear
Just as long as you stand, stand by me

[Ben E. King – Stand By Me]

“Tiw, pinjam sandal dong buat jalan-jalan.. gue cuma bawa sandal jepit selain sepatu trekking.”
“Hah, buat apa? Di Beachwalk itu, orang dandannya ya kayak elo gitu, Ndri. Celana pendek sama sandal jepit.”

Aku tiba di Bali setelah berkeliling Jawa Timur hampir 4 hari akhir tahun 2012 lalu, naik kapal ferry dari Banyuwangi. Pikirku, daripada kembali lagi ke Surabaya yang memakan waktu hampir 7 jam, lebih baik aku menyeberang ke Bali dan terbang kembali ke Jakarta lewat Denpasar. Cuma sekitar 3 jam jarak antara Gilimanuk-Denpasar. Lagipula, aku bisa mengunjungi sahabatku Tiwi dan beristirahat sejenak sebelum kembali ke kota tempatku mencari uang.

Aku mengajak Tiwi ke Kuta Beachwalk, satu bangunan social hub di Kuta yang baru jadi namun masih soft opening. Bangunan seluas 93.005 m² ini berada di Pantai Kuta, tepat di pusat keramaiannya, sehingga mudah dijangkau orang yang sedang berwisata di pantai yang terkenal sampai mancanegara ini. Didesain oleh Envirotec Indonesia, biro konsultan tempatku bekerja selama 3 tahun ini. Walaupun aku tidak ikut dalam tim desain maupun pelaksanaannya, tapi aku jatuh hati pada banyaknya koridor terbuka pada bangunan ini, juga pola-pola organik yang membuatnya lunak.
Continue reading

green kiwi : a compact fresh

cover

Don’t be afraid to go out on a limb. It’s where all the fruit is.
[Shirley MacLaine]

Akhirnya aku tahu mengapa orang selalu merekomendasikan kawasan Bugis sebagai tempat tinggal sementara di Singapore, tentunya selain China Town. Aksesnya yang mudah dari bandara, dengan ongkos kurang dari 2 SGD, naik MRT kurang dari 30 menit, bisa beristirahat sesudah menempuh perjalanan selama 2 jam udara dari Tanah Air.

Kali ini aku menginap di Green Kiwi Backpacker Hostel, dengan pertimbangan hemat daripada di hotel berbintang. Lokasi hostel ini terletak tepat di Bussorah Street, jalan yang luar biasa cantik dengan ruko-ruko detail melayu peranakan, bebas kendaraan bermotor dan langsung menuju Masjid Sultan, salah satu ikon wisata di titik bernafaskan melayu ini.

Dari depan stasiun Bugis, aku berjalan santai 15 menit sampai ketemu jalan bertegel merah yang banyak dilalui turis asing itu, dengan pohon kelapa dan warna-warna cantik bangunannya.
Continue reading

travel bloggers : double date

cover

So no one told you life was gonna be this way
Your job’s a joke, you’re broke, your love life’s D.O.A.
It’s like you’re always stuck in second gear
When it hasn’t been your day, your week, your month, or even your year, …
[The Rembrandts – OST F.R.I.E.N.D.S]

Apa yang kamu pikirkan jika ada dua cowok travel blogger dan dua cewek travel blogger yang kebetulan harus melakukan perjalanan bersama? Terserah. Ya, terserah adalah jawaban pertama ketika memilih apa yang harus diputuskan. Karena masing-masing dari mereka sudah pernah get lost di kota ini, maka mereka juga bingung mau melakukan apa di acara hari bebas ini. Mereka itu kami, empat orang Indonesia yang baru keluar dari hotel berbintang (karena jatah inap gratisnya habis) sesudah seru-seruan dengan Skyscanner Bloscars Award dan pindah ke hostel di kawasan wisata untuk mendapatkan pengalaman baru.

Baru untukku dan Firsta, yang baru pertama kali menginap di hostel. Kalau Fahmi dan Ariev sih sudah sering dalam perjalanan backpacker mereka. Jadi pilihan hostel direkomendasikan oleh Fahmi, sementara kami (aku) tinggal memilih (setelah 5-7 kali ‘terserah’ muncul di percakapan WA) yang paling cocok. Alasan kami mendarat di Green Kiwi Hostel di kawasan Bugis karena lokasinya yang unik, banyak bangunan menarik, dekat Masjid Sultan yang terkenal, dan tak jauh dari jangkauan transportasi umum. Foto di atas itu, jalanan di depan hostel kami, langsung menghadap Masjid Sultan.
Continue reading

menikmati ibis novena di utara singapore

foto10

 

All my bags are packed, I’m ready to go
I’m standin’ here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye
~ Leaving on a jet plane [Chantal Kreviazuk]

 

Aku tiba di hotel Ibis Novena yang berada di utara pusat kota ini hampir tengah malam. Penerbangan selama 2 jam setelah seharian bekerja di kantor membuatku ingin segera merebahkan diri. Tidak sulit bagi supir taksi menemukan hotel ini. Sekitar 15-20 menit dari Clarke Quay, aku tiba di lobby hotel dengan lampu-lampu yang agak temaram.

Seorang perempuan petugas hotel yang ramah melayaniku tengah malam itu. Setelah menemukan reservasiku sebagai salah satu pemenang (walaupun bonus!) Skyscanner Bloscars Award 2014, ia memberiku kartu kunci dan menjelaskan tentang akses lift dan membuka pintu kamar. Kami naik ke lantai 6 dan masuk ke kamar 635 kemudian ia memberitahu password wifi, dan pamit kembali ke mejanya.

Ada meja tulis yang menghadap jendela langsung. Di atasnya ada sekotak bakpia dan sekotak coklat. Ah, romantisnya (oke, mungkin aku satu-satunya yang menganggap bakpia romantis, tapi kacang hijau kan baik untuk kesuburan, kan.. ah, sudahlah). Juga sepucuk surat dan brosur dari Ibis Novena tentang fasilitas-fasilitas di hotel ini. Aku meletakkan laptop di meja dan mencoba fasilitas wifi yang ternyata lumayan juga. Kubuka tirai menghadap jalanan yang masih ada beberapa mobil yang lalu lalang di dini hari ini. Ah, mulai mengantuk rupanya.
Continue reading

skyscanner said : i’m a lucky girl!

fotocover

“Menurut kamu, siapa yang bakal menang jadi juara Bloscars ini?” sapa Tika Larasati dari Skyscanner ketika aku sedang makan malam di undangan acara pengumuman pemenang di pada tanggal 4 Maret 2014 itu. Dengan keyakinan penuh bak kandidat ketua Senat aku jawab, “Aku, dooong!” sambil nyengir lebar.

Memang di penghujung rangkaian Skyscanner Bloscars Travel Award 2014 tersebut aku tidak keluar sebagai pemenang baik juara kedua, ketiga apalagi juara pertama. Tapi menyenangkan juga mendapati blog-ku termasuk dalam 10 besar blog travel paling banyak dinominasikan untuk memperebutkan hadiah tiket sebesar 13.5 juta rupiah itu. Juara pertama diraih oleh backpackstory.me milik Ariev Rahman dari Jakarta, juara kedua discoveryourindonesia.com milik Firsta dari Jogja, dan juara ketiga oleh fahmianhar.com milik Fahmi Anhar dari Semarang.

Tidak iri sih dengan keberuntungan tiga pemenang yang mendapatkan hadiah jalan-jalan ke Singapore, toh aku sudah pernah mendapatkan tiket dan akomodasi gratis sewaktu keberuntungan datang pada Oktober lalu dan menghadiahiku tiket plus akomodasi di Singapore dari Skyscanner juga. Tapi dewi fortuna belum beranjak dari sisiku rupanya. Dua minggu kemudian Tika meneleponku, “Ndri, karena ada pemenang dari Australia yang tidak bisa berangkat, jadi ada dua kuota lagi, satu Indonesia, satu Filipina. Jadi, karena pemenang keempat dan kelima dari Indonesia tidak bisa berangkat, jadi urutan selanjutnya, kamu.”

SERIUSSSS??????
Continue reading