menilik ketinggian korowai lewat arsitektur

Papua, sang mutiara dari timur ini menyimpan rahasia yang disembunyikan dalam jalur-jalur yang sulit dilalui, perjalanan berhari-hari yang membuat banyak bagian dari pulau ini terisolasi dari perhatian negeri. “Dari Jayapura kami terbang ke Dekai, kemudian naik kapal selama 2 hari hingga Bumama, lalu berjalan kaki menembus hutan selama 2 hari hingga desa Yafufla, titik sebelum memasuki hutan tempat tinggal suku Korowai, yang masih harus ditempuh 2 jam perjalanan,” jelas Kevin Aditya Geovanni, ketua pelaksana Ekskursi Arsitektur ke pedalaman Korowai dalam pembukaan pameran dokumentasi arsitektur Menggapai Tonggak Cakrawala, di Museum Nasional 14-20 Maret 2016.

Siapa yang tak ingin tahu Papua, pulau besar di ujung timur nusantara, yang menyimpan aneka pesona, mulai dari hutan lebat, bawah laut yang indah, puncak-puncak gunung bersalju, penduduknya yang misterius, hingga perut-perut buminya berisi kekayaan yang mengundang decak serakah segelintir orang negeri.

Arsitektur tradisional sebagai salah satu karsa pembentukan ruang tinggal menjadi hal yang berusaha didokumentasikan sebagai warisan khazanah arsitektur nusantara, adalah program tahunan dari Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang berlangsung sejak tahun 2000 mulai ke Sumba, NTT hingga saat ini sudah berkeliling berbagai provinsi di Indonesia. “Saya deg-degan memantau kabar dari para mahasiswa yang melakukan perjalanan ke Korowai ini. Sering sekali mereka tak mengirim pesan karena kurangnya jaringan telepon di sana. Alhamdulillah mereka kembali dengan selamat,” kata Prof. Dr. Ir. Yandi Adi Yatmo, ketua Departemen Arsitektur FTUI yang memberikan izin ekskursi ini.

Aku mengobrol dengan Monica, salah satu anggota tim yang ikut dalam perjalanan selama 45 hari, termasuk ikut menginap di salah satu kekhasan dari suku Korowai ini, rumah pohon. Tak kusangka, gadis berperawakan mungil ini termasuk salah satu tim advance yang memanggul ranselnya sendiri membelah bumi Papua yang indah. “Nggak pakai porter, semua bawaan kita harus dibawa sendiri,” jawabnya sembari memperlihatkan buku Ekskursi Korowai yang juga bisa dipesan selama pameran.

Pameran diawali dengan peta Indonesia yang terbuat dengan kayu, berisi titik-titik rekam jejak perjalanan ekskursi arsitektur yang sudah dilakukan oleh Departemen Arsitektur UI selama ini. Hall besar yang mengikutinya menceritakan beberapa dokumentasi singkat tentang beberapa perjalanan, seperti ke Takpala Alor, Suku Anak Dalam Jambi, Kampung Bajau Wakatobi, dan banyak tempat lagi.

Memasuki lorong selanjutnya, diawali dengan palu batu yang menjadi salah satu senjata suku Korowai, Kevin melanjutkan penjelasannya tentang budaya mereka. “Karena mereka hidupnya berladang, jadi tinggalnya berpindah-pindah. Dusun atau boluf adalah tempat tinggal sekelompok dengan marga tertentu, yang biasanya dibatasi oleh kali atau sungai kecil,” jelas Kevin. Tim advance sempat tinggal Wahonom, salah satu desa yang penduduknya membangun rumah di atas pohon. Penduduk ini hanya hidup dari hasil hutan yang kemudian dikumpulkan untuk hidup, berladang di sekitarnya, lalu berpindah. “Sagu adalah makanan pokok dari suku ini, yang pohonnya bisa dimanfaatkan lagi untuk berbagai keperluan,” sambungnya.

Kanya, salah satu peserta tim advance yang pergi lebih dulu sebelum tim besar juga membantu menjelaskan tentang rumah tinggi, salah satu kekayaan vernakular negeri Indonesia ini. “Rumah tinggi dibangun karena tapak lokasi yang masih rawa-rawa, ketakutan akan binatang buas, juga sebagai tempat perlindungan di saat perang antar suku,” jelasnya. Banyaknya pohon tinggi yang menaungi hutan menjadi salah satu cara bertinggal menyesuaikan kebutuhan ruang, sebagai pelindung kehidupan.

“Rumah tinggi ini dibangun di atas satu pohon Matoa dengan tinggi sekitar 7-9 meter, dengan alas melebar di antara batang-batang pohonnya. Sementara untuk alas, tiang, bahkan atap rumah, mereka menggunakan bahan pohon sagu, yang isinya menjadi bahan makanan sehari-hari. Pohon-pohon sagu ini begitu mudah tersebar di sekeliling hutan, sehingga mereka tinggal menggunakannya saja,” jelas Kevin sambil memperlihatkan maket rumah Korowai. “Tungku-tungku yang ada di dalamnya menandakan bahwa di situ ada satu keluarga,” sambungnya. Dalam setiap rumah tinggi, dihuni oleh satu keluarga besar di mana terdapat beberapa keluarga kecil juga yang masing-masing memiliki tungku sendiri. Hal ini agak mirip dengan rumah di Badui dalam yang juga setiap keluarga kecil ditandai dengan tungku.

Rumah beratap model pelana ini dibagi juga menjadi dua bagian, timur barat yang memisahkan area perempuan dan laki-laki. Seperti juga dalam banyak rumah di Indonesia Timur, sosok perempuan menjadi penting menjiwai rumah, menjaga lumbung dan bahan makanan. “Pembangunan rumah tinggi ini dilakukan selama 4-6 hari sambil bergotong royong oleh penduduk laki-laki, sementara penduduk perempuan yang mencari bahan pembangun rumah,” Krystle menceritakan kunjungannya ke rumah ini. “Mereka tinggal di situ sampai lapuk, atau bahan makanan habis, lalu pindah daerah membangun rumah baru lagi. Tak ada upacara atau pemilihan waktu tertentu secara khusus sebelum memulainya.”

Aneka sketsa yang menjelaskan detail-detail rumah pohon ini terpampang cantik dengan instalasi kayu yang menarik. Di tengah ruangan tergeletak satu batang kayu yang sudah ditatah menjadi takik-takik yang dipergunakan sebagai tangga naik. Foto-foto dan video pembuatan rumah ini pun bisa dilihat selama pameran ini.

Di tepi sungai terdapat kampung Yafufla yang juga dihuni oleh orang Korowai. Setiap hari orang-orang yang tinggal di rumah tinggi juga menuju sungai untuk mencari ikan dan air untuk kebutuhan sehari-hari. Di kampung ini pemukiman juga tumbuh namun tidak di atas pohon, melainkan berderet linier mengikuti aliran sungai. Mungkin kemudahan mendapatkan air ini yang membuat pola hidup di pohon berangsur-angsur pindah ke sungai.

Aku jadi berpikir, jika aku kelak sempat melakukan perjalanan ke sana, apakah rumah-rumah tinggi ini nanti masih ada? Atau kebutuhan dan persinggungan dengan orang-orang asing akan cepat membuat mereka berubah? Atau rumah ini tetap ada demi memenuhi kebutuhan turisme dan eksotisme? “Penduduknya bisa-bisa terlalu cepat menyerap apa yang datang dari luar dan menganggap lebih maju dan lebih baik,” aku berdiskusi dengan Krystle. Memang ini selalu menjadi pertanyaan dilematis, akankah “kemajuan pembangunan” membuat penduduk lokal merasa tersisih, atau mereka bisa menjaga kebudayaannya atas kesadaran sendiri?

Jalur pameran  ditutup dengan sketsa rumah tinggi yang diwarnai bersama oleh anak-anak Korowai, yang menghasilkan aneka warna imajinatif, bukan hanya coklat dan hijau seperti warna yang menjadi pola tertanam selama ini. Biarkan mereka melepaskan imaji dengan warna cerah, secantik cenderawasih.

  

Pameran : Menggapai Tonggak Cakrawala
Ekskursi Arsitektur Korowai Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Museum Nasional 14-20 Maret 2016
Jakarta Pusat

foto ke-12 : Monica dan Kevin
foto ke-36 : bersama Krystle dan Kanya


semua foto diambil dengan kamera tablet di lokasi pameran, ditulis di kereta tidur dari Kolkata menuju Varanasi, India.

jumat, 17.03.2016. 05:07 IST.

Advertisements

14 thoughts on “menilik ketinggian korowai lewat arsitektur

  1. Gara says:

    Wah Mbak Indri lagi ada di India… hati-hati di jalan ya Mbak.
    Menarik sekali mempelajari suku-suku di Indonesia timur yang eksposnya masih sangat kurang. Kadang-kadang di balik anggapan terhadap mereka yang dikata masih sangat primitif, ada kearifan yang tinggi banget yang justru tidak ada di masyarakat modern. Saya pikir kita bisa belajar tentang bagaimana semestinya hubungan antara manusia dengan alam dalam wujudnya yang paling murni dari budaya suku-suku seperti ini. Hm, ini jadi penyemangat bagi saya untuk menyelesaikan membaca sebuah buku tentang pertanian sebuah suku di Pulau Seram. Terima kasih, ya :)).

  2. alrisblog says:

    Pertama salut buat anak-anak muda mahasiswa arsitektur UI yang ikut kegiatan ekskursi itu. Pembelajaran langsung dari sumber alami.

    Rumah tinggi jadi alternatif suku-suku di nusantara sejak zaman baheula untuk menghindari serangan binatang buas. Mungkin inilah juga mungkin secara tidak langsung yang bisa melestarikan binatang buas atau hewan lainnya. Karena mereka tidak mencari perkara dengan binatang buas, tapi menghindari. Beda dengan sekarang, buka lahan untuk kebun sawit misalnya, ketemu binatang langsung dipateni 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s