ke laut, siapa takut?

Menghabiskan akhir pekan yang panjang ke Kepulauan Togean di Teluk Tomini Sulawesi, adalah salah satu titik impianku di Indonesia. Hidup di antara pulau-pulau, transportasi dengan kapal ke mana-mana, dan menghabiskan hari di bawah sinar matahari yang melimpah ruah, mensyukuri negeri bahari yang indah ini. Apa saja sih hal favoritku di Togean? Continue reading

Advertisements

7th blogversary & javasiesta

Ternyata lama-lama tindaktandukarsitek memasuki usianya yang ke-7 tepat di 20 Mei 2017 ini. Kalau anak sekolah di Indonesia, ini saat yang pas untuk masuk SD untuk belajar calistung. Walau lebih banyak juga yang masuk SD di umur 6 tahun, sih. Setahun belakangan ini sepertinya blog ini agak banyak cobaannya sehingga jarang ada tulisan baru. Soalnya si penulis yang kece ini ternyata tahun lalu memutuskan untuk kuliah lagi, jadi kuota waktu yang selama ini dialokasikan untuk menulis blog, jadinya untuk mengerjakan tugas kuliah yang segambreng itu. Presentasi tiap minggu, paper yang menumpuk menuntut untuk berkonsentrasi penuh, membaca setumpuk buku setiap minggu untuk materinya, dan banyak lagi.

Jadi, traffic untuk tindaktandukarsitek ini kadang-kadang turun, kadang-kadang naik kalau ada tulisan baru yang ditulis. Rupanya tingkat kerajinan menulis menentukan ramai tidaknya blog ini dikunjungi oleh pembaca, ya. Buat evaluasi diri saja bahwa menjaga konsistensi menulis ini berpengaruh pada banyak kunjungan. Walaupun nggak terlalu memperhatikan traffic, tapi membaca stats kalau lagi membuka blog bikin senang juga. Kayak lagi buka beranda dan menemukan tamunya banyak. Tapi tenang saja, masih banyak cerita perjalanan dan dunia arsitektur budaya yang bakal dibagikan dalam cerita-cerita di blog ini. Continue reading

dua puluh empat jam di Palu

Sebelum memulai petualangan di lautan Sulawesi Tengah, aku tiba di Palu, ibukota propinsi yang selama ini hanya tahu dari buku geografi saja. Mendarat di sini pada jam setengah sebelas WITA, rasanya seperti sudah tengah hari saja, karena kota ini memang berada dekat dengan garis khatulistiwa dengan posisinya di 0,35 – 1,20 LU dan 120 – 122,90 BT.

Dilihat dari udara, kota ini didominasi oleh atap seng gelombang yang menjadi penutup bangunan-bangunan dengan berbagai warna. Ketika mengobrol dengan supir yang menjemput kami, memang di Palu tidak banyak ada tanah liat sehingga tidak umum mengubahnya menjadi genting. Kalauppun ada, pasti hanya digunakan sebagai bata saja.

Kota Palu berada di tengah teluk Palu, berbentuk memanjang dari timur ke barat, sehingga garis pantainya memanjang berbentuk huruf U. Di tengahnya, terdapat Sungai Palu yang dihubungkan dengan jembatan Palu berwarna kuning yang cukup terkenal. Area pusat kota lebih banyak pada Palu di sisi timur teluk, termasuk area perdagangan dan pusat pemerintahan, sementara yang arah ke barat relatif lebih sepi. Namun, di sisi selatannya, kota juga berkembang dengan pesat dengan jalan-jalan aspal yang bagus dan lebar.  Continue reading

serba-serbi berkereta api di india dalam 2804 km

“The trains always arrive at your station. The question is which one to take?”
― Mehmet Murat ildan

Buat yang sering menyimak berita-berita transportasi India, pasti tahu bahwa kereta api adalah transportasi utama yang menjadi favorit banyak warga di negeri ini. Jalur kereta membentang dari dataran rendah Kerala hingga Darjeeling di atap dunia. Yang paling umum digunakan turis adalah Kolkata-Varanasi-Agra-Delhi, jalur yang sudah berfungsi sejak tahun 1860. Atau bisa juga melipir ke sisi-sisi lain dari ujung-ujung kota, hampir selalu bisa dicapai dengan kereta.

Kereta di India ditarik sebagian besar dengan lokomotif diesel dan menggunakan gerbong jenis broad track gauge dengan lebar rel 5 ft 6 in/​1,676 mm seperti yang digunakan untuk BART system di San Fransisco, lebih besar daripada yang biasa digunakan di Indonesia. Karena itu, lebar gerbongnya cukup besar untuk diisi dengan susunan kursi yang cukup besar dalam semi kompartemen dalam gerbongnya.
Continue reading

menyisir jejak budaya muslim dan buddha dari varanasi


“Those who are easily shocked should be shocked more often.”
― Mae West

Selain dikenal sebagai negara yang penduduknya mayoritas beragama Hindu, di sisi-sisi lain juga kepercayaan lain hidup berdampingan. Di hari kedua kami di Varanasi, Shiva kembali menjemput kami menuju Fatman Road untuk melihat Fatman Mosque, salah satu tempat beribadah umat Islam di kota sungai ini. Panas terik India yang kering mulai terasa ketika kami melangkah masuk ke daerah ini.

Dargah E Fatman ini sebenarnya adalah bangunan makam untuk Imam Ali, Imam Husayn dan Imam Abbas yang dibangun sekitar tahun 1920-1925. Dengan didominasi marmer putih, tampak daerah ini masih dalam masa pemugaran ketika dikunjungi. Gundukan pasir putih masih berada di mana-mana, sementara beberapa orang juga masih datang dan beribadah di bangunan masjidnya. Karena masih berantakan inilah, jadinya bangunan masjid ini jadi kurang begitu menarik. Namun demikian, ketika masuk waktu dhuhur dan adzan berkumandang dari sini, warga sekitar yang mayoritas muslim ini mulai berdatangan ke mari. Continue reading